Rumah Idaman

Alhamdulillah, akhirnya proyek renovasi rumah orang tua saya akan segera rampung. Ya, selama kurang lebih 2 bulan terakhir, rumah kami ditingkat menjadi 2 lantai. Secara historis, saya belum pernah merasakan tinggal di rumah tingkat sebelumnya. Jadi, hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk saya.

Mengapa merenovasi rumah? Alasan pertama dan terutama, karena di bulan Februari akhir lalu, saya baru saja tukar tambah mobil menjadi Nissan Evalia dari sebelumnya Toyota Agya. Dengan body mobil yang jauh lebih besar membuat garasi rumah kami tak lagi muat sehingga terpaksa parkir mobil di jalan depan rumah tetangga (yang sudah sepas-pasnya). FYI, rumah saya adalah rumah kavling bersama 4 rumah lainnya dengan jalan mobil yang ngepas. Kami nggak mau terus terusan parkir di jalan tetangga meskipun mereka semua pada dasarnya ya boleh boleh saja.

Rencana awalnya, hanya memindahkan kamar saya ke atas. Namun di tengah perjalanan, ikut memindahkan kamar Mama ke atas sehingga ruang tamu menjadi lebih besar. Perubahan rencana ini karena saya berpikir ke depannya keluarga ini akan bertumbuh setelah saya berkeluarga. Akan ada suami dan anak anak yang ikut meramaikan rumah ini. Jika pun saya harus tinggal terpisah setelah berkeluarga, setidaknya keluarga kecil saya akan merasa nyaman mendatangi rumah orang tua saya di akhir pekan 🙂

Kata orang, merenovasi rumah bisa jadi lebih mahal daripada membangun rumah dari awal. Kata orang juga, meningkat rumah bisa menghabiskan biaya seperti membangun rumah. Tapi daripada dengar sana sini “katanya”, yasudah niatkan saja, bismillah, dimulailah renovasi rumah sejak awal Maret.

Dalam pengerjaan renovasi ini, saya berperan sebagai funding, sedangkan Mama sebagai eksekutor alias mandor. Hehehe. Saya serahkan sepenuhnya pengerjaan pada Mama. Hanya beberapa hal terkait desain Mama komunikasikan dengan saya. Alhamdulillah, saat ini pengerjaan sudah 90% menuju selesai.

Bisa dibilang, pengorbanan untuk renovasi ini secara materi cukup besar. Tabungan saya terkuras habis, gaji setiap bulan pun sebagian besar kesana. Bahkan untuk mengencangkan ikat pinggang, saya terpaksa berubah jadi #bekalsquad di kantor. Hahaha. Syukur, saya dan Mama terlepas dari godaan untuk meminjam uang pada bank (serius, godaan ini besar sekali).

Rumah saya sekarang. Finishing luar insya Allah dilanjutkan setelah lebaran.

Hikmahnya, saya jadi lebih memahami makna pengorbanan untuk mendapatkan rumah idaman. Dan bagi setiap orang berbeda beda tingkat kesulitan dan jalan yang ditempuh. Ada sebagian orang yang bekerja keras dari pagi sampai malam untuk melunasi cicilan rumah. Ada pula yang memiliki rumah begitu mudahnya bahkan bisa memiliki beberapa sekaligus. Ada juga yang tak punya cukup uang sehingga terpaksa tinggal di bantaran sungai atau di pemukiman kumuh. Nah, itu hanya pengorbanan untuk mendapatkan sebuah rumah di dunia…gimana mendapatkan sebuah rumah di surga? 🙂

“Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”.(QS. At Tahrim:11, doa Asiyah istri Firaun)

Rumah di surga adalah hal yang diidamkan Asiyah istri Firaun. Sebagai istri dari seorang raja yang sudah tentu tinggal di istana mewah, Asiyah masih menginginkan sebuah rumah lagi…tak tanggung-tanggung…di surga! Apakah Asiyah kurang bersyukur? Tidak. Tetapi Asiyah menurut saya adalah manusia yang benar benar memahami perbedaan ‘house’ dan ‘home’. Istana Firaun dengan segala kemewahannya adalah ‘house’. Namun definisi ‘home’ juga bukanlah ‘rumah yang hangat dengan suami yang penuh kasih sayang dan anak anak yang lucu lalu mereka bercengkrama bersama ditemani teh manis dan biskuit’. Standar ‘home’ bagi Asiyah jauuuh melampaui itu semua. ‘Home’ yang hakiki, yang kekal, dimana kebahagiaan akhirnya menjadi tiada akhir. Sebuah rumah di surga.

Jadi, bagaimana dengan rumah idamanmu?

Advertisements

Gampang Curhat

Apakah kamu punya teman yang berkarakter “senggol curhat”? Gak bisa ‘kesenggol’ dikit soal masalah yang dialaminya…ia langsung curhat panjang lebar. Padahal kamu pun gak begitu minat mendengar kisahnya. Adakah temanmu yang begitu? Saya juga kenal orang seperti ini..tidak jauh jauh, saya sendiri orangnya 🙂

Saya menyadari kebiasaan gampang curhat ini barangkali berangkat dari pribadi saya yang ekstrovert, juga tidak lepas dari latar belakang saya sebagai anak tunggal. Saya tidak punya kakak atau adik yang bisa dijadikan tempat curhat, akhirnya lari ke teman. Dan karena saya orangnya tergolong supel (cieee),jadilah saya cukup punya banyak teman sejak sekolah sampai sekarang. Nah, filter saya untuk teman curhat tergolong longgar. Hanya kalau sudah ketemu teman yang ‘nyambung’ diajak ngobrol…suatu hari pasti kapan-kapan saya curhat. Husnudzon saja semua orang peduli pada curhatan saya hahaha. Tidak seperti orang orang yang untuk sampai tahap curhat saja paling tidak harus memenuhi sekian waktu pertemanan, harus bisa dipercaya dulu, harus satu inner circle, satu sosialita, dan sebagainya. Monmaap, memang standar pertemanan saya ini agak receh saudara-saudara :’)

Parahnya, kebiasaan gampang curhat ini tak hanya di kehidupan nyata, tapi suka terseret ke dunia maya. Memang sih, saya tidak sampai menceritakan secara gamblang apa yang terjadi, tapi update status, caption dan stories cukup menyiratkan. Begitu juga blog ini. Apalagi di blog yang ibaratnya adalah ruang setiap orang untuk menuangkan pikirannya…saya bisa curhat dengan jor-joran. Meski saya tidak secara jelas menyebutkan siapa saja tokoh yang terlibat dalam curhat saya, tapi tetap saja judulnya…curhat.

Segala sesuatu yang berlebihan tentunya tidak baik. Saya sadari itu. Setelah beberapa kali ter-encourage dari kajian Ustadz Khalid Basalamah mengenai penting tidaknya menceritakan atau berbagi masalah pada orang lain, saya pun berniat untuk pelan-pelan mengurangi kebiasaan ini. Bagi kalian yang juga ingin mengurangi kebiasaan ini, saya ingin berbagi alasan saya yang mudah-mudahan bisa jadi motivasi kita-saya dan kalian-untuk berhenti gampang curhat.

Alasan pertama, saya merasa semakin berjalannya waktu, teman teman yang bisa saya curhati pun semakin sedikit. Mereka juga memiliki kehidupan sendiri dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Saat ini, masalah saya mungkin bisa didengarkan. Tapi pada akhirnya, mereka hanya akan benar benar peduli pada masalah mereka sendiri.

Kedua, mungkin, agar sajadah saya bisa lebih lembab dari biasanya karena tumpahan air mata sewaktu sujud. Tsaahhh…jadi lembab atau apek Sar? 😀 Saya bisa lebih serius benar benar menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan bergantung. Dan, bukankah tak ada yang bisa memberikan solusi terbaik untuk semua permasalahan hidup selain Allah?

Ketiga, pentingnya menjaga nama baik diri. Saya memang belum pernah merasakan pengkhianatan semacam kisah pribadi saya diumbar oleh pihak lain dan dijadikan bahan nyinyir. Tapi sebelum sampai kejadian, tidak gampang curhat adalah langkah preventif yang sangat baik untuk menghindari drama pertemanan.

Jadi ketika menuliskan ini, saya sudah memindahkan banyak konten blog ini yang berisi curhat tidak berfaedah ke dalam folder trash. Begitu juga aktivitas di social media mulai dibatasi. Semoga ke depannya blog yang sudah saya tulis sejak beberapa tahun lalu ini bisa menuliskan sesuatu yang lebih bermanfaat 🙂

Akhir Pekan

Assalamualaikum.

Setelah sekian lama, nama blog ini berubah menjadi Akhir Pekan, bukan lagi Annisarah 🙂 Saya menyadari banyak inspirasi yang muncul di kepala saya ketika akhir pekan tiba. Akhir pekan adalah saat yang selalu saya tunggu tunggu, bukan karena saya benci bekerja pada weekday ya. Tapi lebih karena di akhir pekan lah saya bisa lebih leluasa berkumpul dengan keluarga,teman teman, menjalankan bisnis yang merupakan hobi saya, bersantai, dan entah kenapa, makan lebih banyak (dan enak-karena wisata kuliner) dari hari biasanya. Hahaha.

Sebenarnya posting ini bukanlah yang pertama sejak terakhir saya bercerita pengalaman umroh. Di bulan Januari 2018, saya sempat membuat membuat posting yang bercerita kemana saja saya selama ‘menghilang’ dari blog ini. Semacam kaleidoskop yang saya rasa kurang bermanfaat untuk dibaca orang lain. Terutama sebagian besar isinya berupa curhat. Jadi, saya memutuskan untuk menghapusnya 🙂

Akhir Pekan selain sebagai nama baru (pertama kali ganti nama sejak saya menulis blog ini di tahun 2013), juga menjadi warna baru bagi blog ini agar isinya lebih bermanfaat, mature dan sebisa mungkin keep on positive vibes.

Selamat membaca.

Bromo yang Tetap Mempesona

Jam setengah 2 dinihari, gue dan Ween udah ‘grabag grubug’ siap siap. Niat hati pingin bangun lebih awal lagi, eh gak taunya alarm gue gak nyala. Iya, bodohnya gue setel alarm bukan jam 1 pagi,malah jam 1 siang. Untung masih kekejar. Gue lapisi badan gue dengan baju tebal, 2 jaket dan celana jeans. Gak lupa sarung tangan dan slayer untuk menutupi wajah. Eh eh, kita mau kemana sih sebenernya?

Bromooooo! 😀 😀

Mungkin bagi sebagian orang udah biasa aja gitu ya ke Bromo.Tapi serius gue dan Ween belum pernah. Semua rombongan kita juga belum pernah sih, makanya excited banget. Hehehe.

Perjalanan dari Gubug Klakah menggunakan jeep terbuka di dini hari itu rasanya….ewwwwww dingin!

Mungkin karena saking semangatnya, gak gitu kerasa tuh dinginnya menembuh jalan berkelok kelok di antara jurang dan hutan. Sekitar jam 3 sampai lah kami di Seruni point. Seruni point merupakan spot untuk melihat sunrise di atas Gunung Bromo. Dari sini juga terlihat Mahameru, puncaknya Gunung Semeru. Untuk mencapai puncak Seruni Point perlu berjalan kaki menanjak sekitar 1 km. Bagi yang gak kuat, bisa menggunakan jasa naik kuda yang tersedia dengan bayaran berkisar 50-100 ribu. Jam 4,memasuki waktu shalat Subuh, kita sudah sampai di puncak Seruni point. Selesai shalat, gue dan Ween pun langsung asik foto foto menangkap keindahan sunrise.

image021

img_1654

 

Sayang sunrise gak gitu kelihatan karena tertutup awan. Maklum udah masuk bulan Desember. Segini masih mending cuaca cerah karena beberapa hari lalu terus terusan hujan.

Turun dari Seruni Point cepet banget, bahkan mungkin bisa lari. Mengingatkan gue debgan pengalaman mendaki Gunung Ijen pada bulan Mei lalu. Di sekitar jalan berbaris pemandangan bukit bukit yang indah.

image023

Di bawah Seruni Point dengan gampang kita temui warung dan penjual makanan. Karena gue terbiasa sarapan pagi banget, langsung lah gue serbu bakso malang yang mangkal disitu dan ajaibnya…enak banget!

Gak lama, kita pun naik jeep lagi menuju destinasi sebenarnya: Bromo. Kali ini posisi gue di jeep lebih seru lagi, benar benar duduk di atas jeep. Sepanjang jalan menuju Bromo!

Gile bener, kayaknya dari kemarin gue dan Ween serasa lagi syuting MTMA aja deh. Hahaha.

image025

Sampai Bromo, pendakian dimulai. Eits, foto foto duluuu. Hehehe

img_1664image028

image030

 

Pendakian Gunung Bromo bisa dibilang nggak terlalu berat karena sudah tersedia jalur yang landai dan tangga untuk naik ke kawah. Bahkan untuk mencapai tangga kawah bisa ditempuh dengan kuda sewaan seharga 100-150ribu. Di sepanjang jalan menuju tangga yang ke kawah, kita melalui celah-celah tempat lahat mengalir. Terlihat jelas bekas lahar yang hitam mengering. Kawah ya, bukan hati yang mengering hahaha.

image037
image034

image039

image032

 

Hup! *serasa loncat* Sampai lah juga gue ke tangga kawah. Berhubung ini weekend, tangga ke kawah rameeee banget. Tua muda semangat banget ngeliat kawah dan begitu sampai kawah….zonk. Belerangnya lagi naik, akibatnya gue terbatuk batuk cantik. Pake masker, pake kacamata hitam buat menangkal pasir masuk ke mata. Nengok ke kawah? Boro boro deh bisa. Selain rame, hawa belerangnya kuat banget. Akhirnya ga ada tuh 10 menit gue di atas situ. Mau foto juga susah cyiiin.

image043 image041

 

Turunnya jelas lebih cepat. Selesai? Beluuum. Masih ada lagi nih yang gak kalah indah: perbukitan Teletubbies.

Yup, dinamakan Teletubbies karena yaaa mirip bukit teletubbies. Itu lho, bukit dimana matahari bayinya terbit. Gak tau teletubbies? Hmm, saya ikut prihatin. :’)

Asli ya ini perbukitan baguuussss banget. Gue serasa di alam lain, eh serasa dimanaaaa gitu. Mirip setting Lord of The Ring, mirip setting Kuch Kuch Hota Hai juga pas mereka nyanyi dan lari lari di soundtrack utama Kuch Kuch Hota Hai…hehehe.

img_1763

img_1760

image049
img_1753Sekitar pukul setengah 11, kami semua pun kembali ke homestay.

Oh ya, sebelum sampai homestay kami sempat mampir ke wisata agro apel. Wisata agro apel ini semacam Taman Buah Mekarsari gitu deh. Kita petik sendiri apel yang mau kita beli. Bedanya, disini kita bisa makan apel sepuasnya. Rugi nggak tuh? Ya enggaklah..wong di Desa Gubug Klakah ini setiap rumah ada pohon apelnya. Gak abis abis deh. Dari yang tadinya ngerasa enak, sampe enek gue makan apel mulu. Hehe. Tapi oleh oleh apel wajib nih kalo ke Malang karena apelnya memang beda. Bentuknya kecil, warnanya dominan hijau, rasanya asem campur manis. Seger deh. Harga per kilo nya di Gubug Klakah ini adalah 20 ribu, tapi dengan jurus silat lidah orang sales, gue bisa dapet 3 kg dengan 50 ribu. Hoho.

Sepulang dari Agro Apel, kami pun mandi, packing dan bersiap untuk… pulang 😦

Eits, petualangan gue dan Ween belum berakhir sampai disini. To be continued…ke post berikutnya 😀

#Latepost 24 Jam Kulineran di Kota Bogor

24 jam kulineran? Makan selama 24 jam gitu? Not literally sih. 24 jam disini artinya seharian, dimulai dari makan siang di hari Sabtu yang cerah sampai makan siang keesokan harinya di Minggu yang gerimis.

Yup, itulah yang gue dan keluarga gue lakukan pada suatu weekend di akhir Oktober lalu. Kemana aja sih? Intip yuk! *halah

#1st Destination: Cimory Riverside, Cisarua, Puncak

Sebenernya restoran dengan bahan baku susu ini udah lama banget ngehitsnya, tapi anehnya baru kali ini gue kunjungi padahal masih di Bogor which is terbilang gak jauh amat lah dari rumah gue. Setahu gue Cimory ini ada 2 tempat, yang baru yaitu Cimory Mountain View ada di dekat Puncak Pass dengan pemandangan gunung.

img_0188

img_0067

Sesuai namanya, Cimory Riverside terletak di sisi sungai dan menawarkan wisata hutan tepi sungai. Sebelum makan gue dan keluarga menyempatkan berkunjung dulu ke Cimory Forest melewati jalan di sisi sungai. Untuk masik ke Cimory Forest ini cukup bayar tiket Rp 10K dan kita akan diberi welcome drink susu soya Cimory. Tangan kita juga akan digelangi dengan stiker Cimory.

img_0184

Ini tangannya nggak ada yang menggenggam? Hahaha

Begitu masuk, jalan tepi sungai merupakan spot menggoda untuk foto-foto.Cekrek cekrek!

img_0081

img_0079

img_0078

Jalan teruuus kita akan menemukan jembatan yang menghubungkan ke Cimory Forest di seberang. Cimory Forest ini cukup sejuk dan terawat. Meski areanya gak luas, tapi setiap sudutnya ditata dengan cukup cantik.

img_0094

img_0100

img_0109

img_0068

img_0316

img_0124

img_0138

Gak hanya hijau-hijauan, di sini juga ada sangkar burung dan kandang sapi. Di kandang sapi ini pengunjung bisa merasakan praktik memerah susu sapi juga lho.

img_0157

Setelah puas keliling-keliling Cimory Forest, kini waktunya makaaaan di bagian restonya. Restoran adalah bagian yang terpisah dari Cimory Forest. Jadi sebenernya kalau mau ke Cimory Forest aja tanpa makan di resto nya juga bisa kok. Kita pesan sosis, pasta, soto mie, dan zuppa soup. FYI menu favorit di sini adalah sosis. Soal rasa? Hmmm rated 8.0 out of 10 mungkin ya. Kalau untuk menu lain selain sosis rasanya just so so ya. Dan untuk zuppa soupnya…hmm, gue agak ribet tuh dengan lapisan roti yang ditaruh di atas permukaan cream soup nya gak nempel dengan mangkuk. Jadi agak berantakan gitu pas menyendoknya, gak kayak zuppa soup yang biasanya.

Harga makanan disini tergolong pricey. Satu porsi seharga Rp 45K ke atas, so siap-siap merogoh kocek lebih deh ya pas makan di sini.

img_0183

img_0177

img_0178

img_0179

Nenek gue pesan soto mie.

img_0169

Ada tempat mainan anak juga.

Sekitar jam setengah 1, kita pun selesai makan dan cabut dari Cimory.

#2nd Destination: Bubur Ayam Kabita, Gunungbatu, Bogor Kota

Bubur Ayam ini terletak di … . Sebenernya gak ada yang spesial sih, cuma bubur biasa yang terkenal enak dan….emang beneran enak 😀 Harganya pun terjangkau banget. Rp. 20 K aja udah bisa makan bubur kenyang lengkap dengan sate.

img_02051

Pas kita makan disini, ada aja tuh motor atau mobil mampir makan disini. Sayang untuk parkir mobil agak susah, pas banget di pinggir jalan raya dan gak ada yang markirin. Oh ya, bubur ayam ini buka 24 jam lho.

#3rd Destination: Bakso Gulung Bragi

Bakso gulung Bragi merupakan bakso yang terkenal kedua di Bogor setelah Bakso Seuseupan. Letaknya juga gak jauh dari Bakso Seuseupan yaitu di Jalan Palayu Raya No. 21, Bogor Utara (pakai waze aja kalo mau nyari). Yang unik di Bakso Gulung Bragi adalah gulungnya yang terbuat dari kulit tahu dan bakso. Jadi bakso yang yang digulung kulit tahu gitu deh. Baksonya ngenyangin, rasanya mantap segar, dan ngangetin di tengah cuaca yang sedang gerimis saat itu. Hehehe.

img_03141

Lihat penampakannya aja udah ngiler yah :9

img_03151

Ada beberapa varian bakso gulung disini kayak bakso gulung telor, bakso gulung urat, bakso gulung daging, dll. Tempat bakso ini selalu rame dikunjungi saat weekend, pas gue kesana di jam makan siang aja nih, beberapa menu udah abis. Jadi mungkin jika ingin kesana usahakan sebelum jam makan siang ya.

Naaah, permisaaah, sampailah kita di penghujung acara wiskul alias wisata kuliner. Hehehe. Kelar sudah ‘hutang diri sendiri’ untuk posting kulineran ini. See you on another weekend culinary adventure ya 😀

Travelling to Singapore 4D3N: Day 4 (End), Eksotisme Haji Lane & Masjid Sultan serta Melangit di Marina Sands Skypark

Singapore hari keempat sekaligus last daaaay in SG!

Pada hari itu gue dan Jeane berangkat agak pagi dari hostel, sekitar jam 8, karena itinerary kita memang agak padat dan mengejar jam 2 siang sudah harus sampai di bandara Changi (penerbangan ke Jakarta jam 17.10). Sebenarnya ada 3 tempat yang akan kita kunjungi: Haji Lane, Arab Street dan Marina Sands Skypark. Tapi karena di Arab Street kita belanja dan kulineran, maka seperti yang udah gue tulis sebelumnya, posting tentang Arab Street akan gue gabung dengan ulasan Chinatown dan Bugis Street.

Masjid Sultan

Masjid  Sultan adalah masjid pertama yang dibangun di Singapore oleh seorang imigran muslim asal India. Cerita lengkapnya googling aja ya. Hehehe. Selain sebagai tempat ibadah,  masjid ini juga emnjadi tempat wisata yang cukup sering dikunjungi. Yaa macam Masjid Biru Turki atau Masjid Kubah Mas Depok lah. Lokasinya di Arab Street, dekeeet banget sama hostel tempat gue nginep. Cuma beda satu blok lah. Di sekitar masjid terdapat pertokoan (pusatnya oleh-oleh) dan restoran-restoran (kebanyakan resto masakan Malaysia, Indonesia, India, Arab dan Turki). Di siang hari, sekitar masjid ini dipadati turis yang mau beli oleh oleh dan juga mengunjungi masjid. Eh masa dong pas gue kesana ada pasangan yang habis melangsungkan akad nikah dan foto foto depan masjid… #eaaa hahaha

img20160924092020

img20160924091858

Sayangnya gue cuma sempat lewat aja depan masjid mengingat itinerary kita masih cukup padat, gue lagi gak solat dan Jeane yang  nonmuslim gak gitu tertarik untuk masuk ke dalam. Di malam hari, anehnya restoran sekitar masjid ada yang buka bar alias menyediakan minuman keras dan dipadati bule-bule yang nongkrong sambil asik karaoke. Too diversity or too permissive, huh?


Haji Lane
Haji Lane adalah nama sebuah jalan yang dekat banget dengan hostel kita. Cuma beda 2 blok lah. Di jalan ini terdapat pertokoan beroperasi siang hari dan malam harinya berubah menjadi bar-bar yang cukup hingar bingar dan dipadati turis asing. Haji Lane ini terkenal karena dekorasi toko-toko dan bar nya yang unik dan instagrammable banget. Apalagi Haji Lane baru rame pas malam, di siang hari cukup sepi, jadi kondusif untuk sesi pemotretan. Kayak yang gue dan Jeane lakukan. Hehehe
img20160924095002

img20160924095020

img20160924095207

img20160924094209

img20160924094637

img20160924094613

Marina Sands Skypark

Sekitar jam setengah 10, gue dan Jeane udah sampai di MRT Bugis menuju stasiun Bayfront. Untuk menuju Marina Sands Skypark, kita masuk dulu ke dalam Marina Bay hotel karena…Marina Sands Skypark itu terletak di balkon berbentuk kapal di paling atas Marina Bay hotel itu looooh. Wooow. Legend banget kan. Di balkon berbentuk kapal itu juga ada kolam renang yang disebut sebut infinity pool, kolam renang yang berbatasan dengan langit. Sayangnya restricted cuma untuk tamu hotelnya. Ya kita mah apa atuh..cukup di Skypark nya aja. Hehehe.

Kita ke MSS menggunakan tiket masuk yang sudah kita beli kemarin di Mbak Darling dengan harga 22SGD (sekitar 3-5SGD lebih murah daripada di counter MSS). Gimana bisa mendapatkan tiket MSS lebih murah? Cek tulisan gue sebelumnya disini. Pas masuk, kita pasti langsung melewati tempat foto studio, ujungnya nanti dicetak dengan latar citylight Singapore malam hari dan bisa dimiliki dengan bayar 50SGD. Yaaa macam naik roller coaster di dufan ajalaah.

img20160924103059

Jalan masuk menuju Sands Skypark.

Untuk mencapai MSS, kita naik elevator ke lantai 56 (Ooh ternyata ‘cuma’ 56 lantai. Gue kira lebih dari 100 lantai. Hoho). Tapi nih ya, lagi lagi gue selalu dibuat amaze dengan kecepatan elevator dan eskalator di Singapore. Kalo kata orang Sunda: EPEKTIP! Di mall, bandara, MRT juga gitu. Udah cepet banget kayak gitu aja masih pada lari-lari lho sampai yang berdiri diam aja harus berdiri di sisi kiri eskalator, memberi ruang untuk orang yang sambil jalan di eskalator. Balik lagi ke lift di Marina Bay, untuk mencapai Marina Sands Skypark, liftnya eksklusif, alias gak transit transit di lantai lain. Cuma ada 2 tombol ke lantai dasar dan lantai 56. Kecepatannya gak sampe 60 detik, sama kayak gue naik lift ke lantai kantor gue yang ‘cuma’ di lantai 19 Prudent Kokas. *prok prok*

Sampai di MSS, gue dan Jeane pun langsung ber wow-wow. Keren banget! Dari atas sini, keliatan pemandangan seluruh Singapore!
img20160924103934img20160924104832img20160924104536

Terdapat informasi mengenai bangunan-bangunan yang sedang kita lihat.

Terdapat informasi mengenai bangunan-bangunan yang sedang kita lihat.



Asli yaaa disini panas bangeeeet! Si Jeane sampe pake payung tuh takut item. Kayaknya emang lebih cucok kesini pas malem deh, selain adem, bisa lihat citylights juga dari atas. Tapi gapapa deh, gue juga seneng nih bisa ngambil jepretan-jepretan keren. Sebenernya MSS ini cuma berupa dek yang gak terlalu luas, tapi recommended banget lah buat para professional photo hunter. Buat yang takut ketinggian, gue gak menyarankan kesini, soalnya transparan banget langsung melihat ke bawah (dibatasi kaca). Pas lagi ngambil gambar-gambar di atas, gue sempet mikir, “Ini udah keliatan seluruh Singapore…Marina Bay nya mana ya?” . Eh laaaah, kan gue lagi berdiri di atas Marina Bay! Hahaha.

img20160924105907

Maksa senyum padahal nahan panas.

img20160924105951

img20160924111146

Flyyyyyyyy!!!!!

Daaan selesailah semua cerita destinasi wisata gue di Singapore! Puas? Definitely! So, which blessing you would deny, Sar? Bisa liburan, jalan jalan keluar negeri…huaaaa nikmat yang juga luar biasa di antara nikmat luar biasa lainnya yang gak terhitung. Alhamdulillah, bersyukur yuk sebanyak-banyaknya 😀

Mudah mudahan bisa sharing liburan lainnya yang lebih seru dan amazing yaaah 🙂

Wisata Alam ke Gunung Pancar, Sentul, Bogor

Kali ini gue mau cerita pengalaman gue wisata alam ke Gunung Pancar, Sentul, Bogor yang punya vegetasi hutan pinus. Yaaa mirip miriplah sama Hutan Pinus Mangunan dan Imogiri di Jogja. Secara gue belum pernah ke hutan pinus yang di Jogja, gue gak bisa bandingin ya bagusan mana. Gue rasa sih bagusan yang Jogja…yang di sini KW soalnya, hehehe.

Gunung Pancar ini terletak di Sentul, Bogor which is gak gitu jauh dari Jakarta dan lumayan dekat dari rumah gue (yaiyalah sama sama masih Kab. Bogor). Tahu food court Ah Poong Sentul? Nah gak jauh kok dari situ. Sekitar 20 menit berkendara dengan motor. Jalan ke Gunung Pancar sendiri bisa ditempuh naik mobil atau motor. Jadi bisa dibilang ini bukan gunung sih, lebih tepatnya bukit kali yah. Kalau arahnya tanya Google Maps aja yah, yang jelas lewatin Hotel Harris Sentul teruuuuussss aja. Oh ya, jalan ke Gunung Pancar ini menurut gue belum bagus banget sih..agak sempit gitu. Tapi gak sampai menyusahkan kok.

img20160904122735

Sesampainya di gerbang, kita bakal langsung disambut petugas (atau penjaga liar? entahlah) yang mematok tarif Rp.20,000 per motor. Gue nggak tahu ya tarif masuk untuk mobil. Begitu masuk wuuus, kita langsung disuguhi deretan hutan pinus yang menjulang tinggi nan sejuk. Sayangnya, keindahan kawasan hutan pinus ini terganggu dengan area parkir yang dibuka di lahan pinusnya. Yaaah padahal sih akan lebih enak jika lahan parkir disediakan di luar kawasan pinus.

img20160904122514

Tipikal tempat wisata yang pernah hits (hutan pinus Gunung Pancar ini cukup hits di awal tahun 2016 ini), pasti sesudahnya jadi konsumsi alay dan mulai banyak sampah. Begitu juga hutan pinus ini. Meski masih banyak area yang alami, di beberapa titik ada sampah berserakan. Belum lagi para alay yang nongkrong di sini juga dengan santainya ngerokok. Ihh, mengganggu kesejukan udara aja. Please respect the nature, Guys!

img-20160904-wa0020

img-20160904-wa0018

Eeeeh ngapain tuh tangannya hahaha

Sebenernya, hutan pinus Gunung Pancar ini bisa jadi pilihan wisata murah meriah yang cukup menarik bersama keluarga dan teman-teman. Keluarga bisa piknik, santai bareng teman-teman disini, ada juga sekolah dan komunitas yang mengadakan camping disini, dan sering juga dijadikan setting foto pre wed. Bahkan sebelumnya gue dengar pernah ada yang ngadain  wedding party disini. Soooo menurut gue, hutan pinus Gunung Pancar ini harusnya bisa dikelola dengan lebih baik lagi sih. Anyway, bagi photo hunter yang lagi nyari spot foto bagus dan dekat dari ibu kota, hutan pinus Gunung Pancar ini bisa dibilang oke lah yaa. Instagrammable banget kok. Paling bagus sih pake action cam yang efeknya bikin gambar menjulang gitu deh.  Check it out! 😀

img-20160904-wa0048

img20160904122752

img-20160904-wa0029

img-20160904-wa0027

img-20160904-wa0044

img_20160904_161400

img-20160904-wa0036

Merenung….

img-20160904-wa0016

img-20160904-wa0050

By the way Sar, kok fotonya sendirian semua? Bodo aaaah hahaha