Gampang Curhat

Apakah kamu punya teman yang berkarakter “senggol curhat”? Gak bisa ‘kesenggol’ dikit soal masalah yang dialaminya…ia langsung curhat panjang lebar. Padahal kamu pun gak begitu minat mendengar kisahnya. Adakah temanmu yang begitu? Saya juga kenal orang seperti ini..tidak jauh jauh, saya sendiri orangnya 🙂

Saya menyadari kebiasaan gampang curhat ini barangkali berangkat dari pribadi saya yang ekstrovert, juga tidak lepas dari latar belakang saya sebagai anak tunggal. Saya tidak punya kakak atau adik yang bisa dijadikan tempat curhat, akhirnya lari ke teman. Dan karena saya orangnya tergolong supel (cieee),jadilah saya cukup punya banyak teman sejak sekolah sampai sekarang. Nah, filter saya untuk teman curhat tergolong longgar. Hanya kalau sudah ketemu teman yang ‘nyambung’ diajak ngobrol…suatu hari pasti kapan-kapan saya curhat. Husnudzon saja semua orang peduli pada curhatan saya hahaha. Tidak seperti orang orang yang untuk sampai tahap curhat saja paling tidak harus memenuhi sekian waktu pertemanan, harus bisa dipercaya dulu, harus satu inner circle, satu sosialita, dan sebagainya. Monmaap, memang standar pertemanan saya ini agak receh saudara-saudara :’)

Parahnya, kebiasaan gampang curhat ini tak hanya di kehidupan nyata, tapi suka terseret ke dunia maya. Memang sih, saya tidak sampai menceritakan secara gamblang apa yang terjadi, tapi update status, caption dan stories cukup menyiratkan. Begitu juga blog ini. Apalagi di blog yang ibaratnya adalah ruang setiap orang untuk menuangkan pikirannya…saya bisa curhat dengan jor-joran. Meski saya tidak secara jelas menyebutkan siapa saja tokoh yang terlibat dalam curhat saya, tapi tetap saja judulnya…curhat.

Segala sesuatu yang berlebihan tentunya tidak baik. Saya sadari itu. Setelah beberapa kali ter-encourage dari kajian Ustadz Khalid Basalamah mengenai penting tidaknya menceritakan atau berbagi masalah pada orang lain, saya pun berniat untuk pelan-pelan mengurangi kebiasaan ini. Bagi kalian yang juga ingin mengurangi kebiasaan ini, saya ingin berbagi alasan saya yang mudah-mudahan bisa jadi motivasi kita-saya dan kalian-untuk berhenti gampang curhat.

Alasan pertama, saya merasa semakin berjalannya waktu, teman teman yang bisa saya curhati pun semakin sedikit. Mereka juga memiliki kehidupan sendiri dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Saat ini, masalah saya mungkin bisa didengarkan. Tapi pada akhirnya, mereka hanya akan benar benar peduli pada masalah mereka sendiri.

Kedua, mungkin, agar sajadah saya bisa lebih lembab dari biasanya karena tumpahan air mata sewaktu sujud. Tsaahhh…jadi lembab atau apek Sar? 😀 Saya bisa lebih serius benar benar menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan bergantung. Dan, bukankah tak ada yang bisa memberikan solusi terbaik untuk semua permasalahan hidup selain Allah?

Ketiga, pentingnya menjaga nama baik diri. Saya memang belum pernah merasakan pengkhianatan semacam kisah pribadi saya diumbar oleh pihak lain dan dijadikan bahan nyinyir. Tapi sebelum sampai kejadian, tidak gampang curhat adalah langkah preventif yang sangat baik untuk menghindari drama pertemanan.

Jadi ketika menuliskan ini, saya sudah memindahkan banyak konten blog ini yang berisi curhat tidak berfaedah ke dalam folder trash. Begitu juga aktivitas di social media mulai dibatasi. Semoga ke depannya blog yang sudah saya tulis sejak beberapa tahun lalu ini bisa menuliskan sesuatu yang lebih bermanfaat 🙂

Advertisements

Akhir Pekan

Assalamualaikum.

Setelah sekian lama, nama blog ini berubah menjadi Akhir Pekan, bukan lagi Annisarah 🙂 Saya menyadari banyak inspirasi yang muncul di kepala saya ketika akhir pekan tiba. Akhir pekan adalah saat yang selalu saya tunggu tunggu, bukan karena saya benci bekerja pada weekday ya. Tapi lebih karena di akhir pekan lah saya bisa lebih leluasa berkumpul dengan keluarga,teman teman, menjalankan bisnis yang merupakan hobi saya, bersantai, dan entah kenapa, makan lebih banyak (dan enak-karena wisata kuliner) dari hari biasanya. Hahaha.

Sebenarnya posting ini bukanlah yang pertama sejak terakhir saya bercerita pengalaman umroh. Di bulan Januari 2018, saya sempat membuat membuat posting yang bercerita kemana saja saya selama ‘menghilang’ dari blog ini. Semacam kaleidoskop yang saya rasa kurang bermanfaat untuk dibaca orang lain. Terutama sebagian besar isinya berupa curhat. Jadi, saya memutuskan untuk menghapusnya 🙂

Akhir Pekan selain sebagai nama baru (pertama kali ganti nama sejak saya menulis blog ini di tahun 2013), juga menjadi warna baru bagi blog ini agar isinya lebih bermanfaat, mature dan sebisa mungkin keep on positive vibes.

Selamat membaca.

Bromo yang Tetap Mempesona

Jam setengah 2 dinihari, gue dan Ween udah ‘grabag grubug’ siap siap. Niat hati pingin bangun lebih awal lagi, eh gak taunya alarm gue gak nyala. Iya, bodohnya gue setel alarm bukan jam 1 pagi,malah jam 1 siang. Untung masih kekejar. Gue lapisi badan gue dengan baju tebal, 2 jaket dan celana jeans. Gak lupa sarung tangan dan slayer untuk menutupi wajah. Eh eh, kita mau kemana sih sebenernya?

Bromooooo! 😀 😀

Mungkin bagi sebagian orang udah biasa aja gitu ya ke Bromo.Tapi serius gue dan Ween belum pernah. Semua rombongan kita juga belum pernah sih, makanya excited banget. Hehehe.

Perjalanan dari Gubug Klakah menggunakan jeep terbuka di dini hari itu rasanya….ewwwwww dingin!

Mungkin karena saking semangatnya, gak gitu kerasa tuh dinginnya menembuh jalan berkelok kelok di antara jurang dan hutan. Sekitar jam 3 sampai lah kami di Seruni point. Seruni point merupakan spot untuk melihat sunrise di atas Gunung Bromo. Dari sini juga terlihat Mahameru, puncaknya Gunung Semeru. Untuk mencapai puncak Seruni Point perlu berjalan kaki menanjak sekitar 1 km. Bagi yang gak kuat, bisa menggunakan jasa naik kuda yang tersedia dengan bayaran berkisar 50-100 ribu. Jam 4,memasuki waktu shalat Subuh, kita sudah sampai di puncak Seruni point. Selesai shalat, gue dan Ween pun langsung asik foto foto menangkap keindahan sunrise.

image021

img_1654

 

Sayang sunrise gak gitu kelihatan karena tertutup awan. Maklum udah masuk bulan Desember. Segini masih mending cuaca cerah karena beberapa hari lalu terus terusan hujan.

Turun dari Seruni Point cepet banget, bahkan mungkin bisa lari. Mengingatkan gue debgan pengalaman mendaki Gunung Ijen pada bulan Mei lalu. Di sekitar jalan berbaris pemandangan bukit bukit yang indah.

image023

Di bawah Seruni Point dengan gampang kita temui warung dan penjual makanan. Karena gue terbiasa sarapan pagi banget, langsung lah gue serbu bakso malang yang mangkal disitu dan ajaibnya…enak banget!

Gak lama, kita pun naik jeep lagi menuju destinasi sebenarnya: Bromo. Kali ini posisi gue di jeep lebih seru lagi, benar benar duduk di atas jeep. Sepanjang jalan menuju Bromo!

Gile bener, kayaknya dari kemarin gue dan Ween serasa lagi syuting MTMA aja deh. Hahaha.

image025

Berasa syuting MTMA. Hahaha. Anak perempuan kok begini amaaat😅

A post shared by Sarah Annisa (@sarahannisa79) on

Sampai Bromo, pendakian dimulai. Eits, foto foto duluuu. Hehehe

img_1664image028

image030

 

Pendakian Gunung Bromo bisa dibilang nggak terlalu berat karena sudah tersedia jalur yang landai dan tangga untuk naik ke kawah. Bahkan untuk mencapai tangga kawah bisa ditempuh dengan kuda sewaan seharga 100-150ribu. Di sepanjang jalan menuju tangga yang ke kawah, kita melalui celah-celah tempat lahat mengalir. Terlihat jelas bekas lahar yang hitam mengering. Kawah ya, bukan hati yang mengering hahaha.

image037
image034

image039

image032

 

Hup! *serasa loncat* Sampai lah juga gue ke tangga kawah. Berhubung ini weekend, tangga ke kawah rameeee banget. Tua muda semangat banget ngeliat kawah dan begitu sampai kawah….zonk. Belerangnya lagi naik, akibatnya gue terbatuk batuk cantik. Pake masker, pake kacamata hitam buat menangkal pasir masuk ke mata. Nengok ke kawah? Boro boro deh bisa. Selain rame, hawa belerangnya kuat banget. Akhirnya ga ada tuh 10 menit gue di atas situ. Mau foto juga susah cyiiin.

image043 image041

 

Turunnya jelas lebih cepat. Selesai? Beluuum. Masih ada lagi nih yang gak kalah indah: perbukitan Teletubbies.

Yup, dinamakan Teletubbies karena yaaa mirip bukit teletubbies. Itu lho, bukit dimana matahari bayinya terbit. Gak tau teletubbies? Hmm, saya ikut prihatin. :’)

Asli ya ini perbukitan baguuussss banget. Gue serasa di alam lain, eh serasa dimanaaaa gitu. Mirip setting Lord of The Ring, mirip setting Kuch Kuch Hota Hai juga pas mereka nyanyi dan lari lari di soundtrack utama Kuch Kuch Hota Hai…hehehe.

img_1763

img_1760

image049
img_1753Sekitar pukul setengah 11, kami semua pun kembali ke homestay.

Oh ya, sebelum sampai homestay kami sempat mampir ke wisata agro apel. Wisata agro apel ini semacam Taman Buah Mekarsari gitu deh. Kita petik sendiri apel yang mau kita beli. Bedanya, disini kita bisa makan apel sepuasnya. Rugi nggak tuh? Ya enggaklah..wong di Desa Gubug Klakah ini setiap rumah ada pohon apelnya. Gak abis abis deh. Dari yang tadinya ngerasa enak, sampe enek gue makan apel mulu. Hehe. Tapi oleh oleh apel wajib nih kalo ke Malang karena apelnya memang beda. Bentuknya kecil, warnanya dominan hijau, rasanya asem campur manis. Seger deh. Harga per kilo nya di Gubug Klakah ini adalah 20 ribu, tapi dengan jurus silat lidah orang sales, gue bisa dapet 3 kg dengan 50 ribu. Hoho.

Sepulang dari Agro Apel, kami pun mandi, packing dan bersiap untuk… pulang 😦

Eits, petualangan gue dan Ween belum berakhir sampai disini. To be continued…ke post berikutnya 😀

#Latepost 24 Jam Kulineran di Kota Bogor

24 jam kulineran? Makan selama 24 jam gitu? Not literally sih. 24 jam disini artinya seharian, dimulai dari makan siang di hari Sabtu yang cerah sampai makan siang keesokan harinya di Minggu yang gerimis.

Yup, itulah yang gue dan keluarga gue lakukan pada suatu weekend di akhir Oktober lalu. Kemana aja sih? Intip yuk! *halah

#1st Destination: Cimory Riverside, Cisarua, Puncak

Sebenernya restoran dengan bahan baku susu ini udah lama banget ngehitsnya, tapi anehnya baru kali ini gue kunjungi padahal masih di Bogor which is terbilang gak jauh amat lah dari rumah gue. Setahu gue Cimory ini ada 2 tempat, yang baru yaitu Cimory Mountain View ada di dekat Puncak Pass dengan pemandangan gunung.

img_0188

img_0067

Sesuai namanya, Cimory Riverside terletak di sisi sungai dan menawarkan wisata hutan tepi sungai. Sebelum makan gue dan keluarga menyempatkan berkunjung dulu ke Cimory Forest melewati jalan di sisi sungai. Untuk masik ke Cimory Forest ini cukup bayar tiket Rp 10K dan kita akan diberi welcome drink susu soya Cimory. Tangan kita juga akan digelangi dengan stiker Cimory.

img_0184

Ini tangannya nggak ada yang menggenggam? Hahaha

Begitu masuk, jalan tepi sungai merupakan spot menggoda untuk foto-foto.Cekrek cekrek!

img_0081

img_0079

img_0078

Jalan teruuus kita akan menemukan jembatan yang menghubungkan ke Cimory Forest di seberang. Cimory Forest ini cukup sejuk dan terawat. Meski areanya gak luas, tapi setiap sudutnya ditata dengan cukup cantik.

img_0094

img_0100

img_0109

img_0068

img_0316

img_0124

img_0138

Gak hanya hijau-hijauan, di sini juga ada sangkar burung dan kandang sapi. Di kandang sapi ini pengunjung bisa merasakan praktik memerah susu sapi juga lho.

img_0157

Setelah puas keliling-keliling Cimory Forest, kini waktunya makaaaan di bagian restonya. Restoran adalah bagian yang terpisah dari Cimory Forest. Jadi sebenernya kalau mau ke Cimory Forest aja tanpa makan di resto nya juga bisa kok. Kita pesan sosis, pasta, soto mie, dan zuppa soup. FYI menu favorit di sini adalah sosis. Soal rasa? Hmmm rated 8.0 out of 10 mungkin ya. Kalau untuk menu lain selain sosis rasanya just so so ya. Dan untuk zuppa soupnya…hmm, gue agak ribet tuh dengan lapisan roti yang ditaruh di atas permukaan cream soup nya gak nempel dengan mangkuk. Jadi agak berantakan gitu pas menyendoknya, gak kayak zuppa soup yang biasanya.

Harga makanan disini tergolong pricey. Satu porsi seharga Rp 45K ke atas, so siap-siap merogoh kocek lebih deh ya pas makan di sini.

img_0183

img_0177

img_0178

img_0179

Nenek gue pesan soto mie.

img_0169

Ada tempat mainan anak juga.

Sekitar jam setengah 1, kita pun selesai makan dan cabut dari Cimory.

#2nd Destination: Bubur Ayam Kabita, Gunungbatu, Bogor Kota

Bubur Ayam ini terletak di … . Sebenernya gak ada yang spesial sih, cuma bubur biasa yang terkenal enak dan….emang beneran enak 😀 Harganya pun terjangkau banget. Rp. 20 K aja udah bisa makan bubur kenyang lengkap dengan sate.

img_02051

Pas kita makan disini, ada aja tuh motor atau mobil mampir makan disini. Sayang untuk parkir mobil agak susah, pas banget di pinggir jalan raya dan gak ada yang markirin. Oh ya, bubur ayam ini buka 24 jam lho.

#3rd Destination: Bakso Gulung Bragi

Bakso gulung Bragi merupakan bakso yang terkenal kedua di Bogor setelah Bakso Seuseupan. Letaknya juga gak jauh dari Bakso Seuseupan yaitu di Jalan Palayu Raya No. 21, Bogor Utara (pakai waze aja kalo mau nyari). Yang unik di Bakso Gulung Bragi adalah gulungnya yang terbuat dari kulit tahu dan bakso. Jadi bakso yang yang digulung kulit tahu gitu deh. Baksonya ngenyangin, rasanya mantap segar, dan ngangetin di tengah cuaca yang sedang gerimis saat itu. Hehehe.

img_03141

Lihat penampakannya aja udah ngiler yah :9

img_03151

Ada beberapa varian bakso gulung disini kayak bakso gulung telor, bakso gulung urat, bakso gulung daging, dll. Tempat bakso ini selalu rame dikunjungi saat weekend, pas gue kesana di jam makan siang aja nih, beberapa menu udah abis. Jadi mungkin jika ingin kesana usahakan sebelum jam makan siang ya.

Naaah, permisaaah, sampailah kita di penghujung acara wiskul alias wisata kuliner. Hehehe. Kelar sudah ‘hutang diri sendiri’ untuk posting kulineran ini. See you on another weekend culinary adventure ya 😀

Travelling to Singapore 4D3N: Day 4 (End), Eksotisme Haji Lane & Masjid Sultan serta Melangit di Marina Sands Skypark

Singapore hari keempat sekaligus last daaaay in SG!

Pada hari itu gue dan Jeane berangkat agak pagi dari hostel, sekitar jam 8, karena itinerary kita memang agak padat dan mengejar jam 2 siang sudah harus sampai di bandara Changi (penerbangan ke Jakarta jam 17.10). Sebenarnya ada 3 tempat yang akan kita kunjungi: Haji Lane, Arab Street dan Marina Sands Skypark. Tapi karena di Arab Street kita belanja dan kulineran, maka seperti yang udah gue tulis sebelumnya, posting tentang Arab Street akan gue gabung dengan ulasan Chinatown dan Bugis Street.

Masjid Sultan

Masjid  Sultan adalah masjid pertama yang dibangun di Singapore oleh seorang imigran muslim asal India. Cerita lengkapnya googling aja ya. Hehehe. Selain sebagai tempat ibadah,  masjid ini juga emnjadi tempat wisata yang cukup sering dikunjungi. Yaa macam Masjid Biru Turki atau Masjid Kubah Mas Depok lah. Lokasinya di Arab Street, dekeeet banget sama hostel tempat gue nginep. Cuma beda satu blok lah. Di sekitar masjid terdapat pertokoan (pusatnya oleh-oleh) dan restoran-restoran (kebanyakan resto masakan Malaysia, Indonesia, India, Arab dan Turki). Di siang hari, sekitar masjid ini dipadati turis yang mau beli oleh oleh dan juga mengunjungi masjid. Eh masa dong pas gue kesana ada pasangan yang habis melangsungkan akad nikah dan foto foto depan masjid… #eaaa hahaha

img20160924092020

img20160924091858

Sayangnya gue cuma sempat lewat aja depan masjid mengingat itinerary kita masih cukup padat, gue lagi gak solat dan Jeane yang  nonmuslim gak gitu tertarik untuk masuk ke dalam. Di malam hari, anehnya restoran sekitar masjid ada yang buka bar alias menyediakan minuman keras dan dipadati bule-bule yang nongkrong sambil asik karaoke. Too diversity or too permissive, huh?


Haji Lane
Haji Lane adalah nama sebuah jalan yang dekat banget dengan hostel kita. Cuma beda 2 blok lah. Di jalan ini terdapat pertokoan beroperasi siang hari dan malam harinya berubah menjadi bar-bar yang cukup hingar bingar dan dipadati turis asing. Haji Lane ini terkenal karena dekorasi toko-toko dan bar nya yang unik dan instagrammable banget. Apalagi Haji Lane baru rame pas malam, di siang hari cukup sepi, jadi kondusif untuk sesi pemotretan. Kayak yang gue dan Jeane lakukan. Hehehe
img20160924095002

img20160924095020

img20160924095207

img20160924094209

img20160924094637

img20160924094613

Marina Sands Skypark

Sekitar jam setengah 10, gue dan Jeane udah sampai di MRT Bugis menuju stasiun Bayfront. Untuk menuju Marina Sands Skypark, kita masuk dulu ke dalam Marina Bay hotel karena…Marina Sands Skypark itu terletak di balkon berbentuk kapal di paling atas Marina Bay hotel itu looooh. Wooow. Legend banget kan. Di balkon berbentuk kapal itu juga ada kolam renang yang disebut sebut infinity pool, kolam renang yang berbatasan dengan langit. Sayangnya restricted cuma untuk tamu hotelnya. Ya kita mah apa atuh..cukup di Skypark nya aja. Hehehe.

Kita ke MSS menggunakan tiket masuk yang sudah kita beli kemarin di Mbak Darling dengan harga 22SGD (sekitar 3-5SGD lebih murah daripada di counter MSS). Gimana bisa mendapatkan tiket MSS lebih murah? Cek tulisan gue sebelumnya disini. Pas masuk, kita pasti langsung melewati tempat foto studio, ujungnya nanti dicetak dengan latar citylight Singapore malam hari dan bisa dimiliki dengan bayar 50SGD. Yaaa macam naik roller coaster di dufan ajalaah.

img20160924103059

Jalan masuk menuju Sands Skypark.

Untuk mencapai MSS, kita naik elevator ke lantai 56 (Ooh ternyata ‘cuma’ 56 lantai. Gue kira lebih dari 100 lantai. Hoho). Tapi nih ya, lagi lagi gue selalu dibuat amaze dengan kecepatan elevator dan eskalator di Singapore. Kalo kata orang Sunda: EPEKTIP! Di mall, bandara, MRT juga gitu. Udah cepet banget kayak gitu aja masih pada lari-lari lho sampai yang berdiri diam aja harus berdiri di sisi kiri eskalator, memberi ruang untuk orang yang sambil jalan di eskalator. Balik lagi ke lift di Marina Bay, untuk mencapai Marina Sands Skypark, liftnya eksklusif, alias gak transit transit di lantai lain. Cuma ada 2 tombol ke lantai dasar dan lantai 56. Kecepatannya gak sampe 60 detik, sama kayak gue naik lift ke lantai kantor gue yang ‘cuma’ di lantai 19 Prudent Kokas. *prok prok*

Sampai di MSS, gue dan Jeane pun langsung ber wow-wow. Keren banget! Dari atas sini, keliatan pemandangan seluruh Singapore!
img20160924103934img20160924104832img20160924104536

Terdapat informasi mengenai bangunan-bangunan yang sedang kita lihat.

Terdapat informasi mengenai bangunan-bangunan yang sedang kita lihat.



Asli yaaa disini panas bangeeeet! Si Jeane sampe pake payung tuh takut item. Kayaknya emang lebih cucok kesini pas malem deh, selain adem, bisa lihat citylights juga dari atas. Tapi gapapa deh, gue juga seneng nih bisa ngambil jepretan-jepretan keren. Sebenernya MSS ini cuma berupa dek yang gak terlalu luas, tapi recommended banget lah buat para professional photo hunter. Buat yang takut ketinggian, gue gak menyarankan kesini, soalnya transparan banget langsung melihat ke bawah (dibatasi kaca). Pas lagi ngambil gambar-gambar di atas, gue sempet mikir, “Ini udah keliatan seluruh Singapore…Marina Bay nya mana ya?” . Eh laaaah, kan gue lagi berdiri di atas Marina Bay! Hahaha.

img20160924105907

Maksa senyum padahal nahan panas.

img20160924105951

img20160924111146

Flyyyyyyyy!!!!!

Daaan selesailah semua cerita destinasi wisata gue di Singapore! Puas? Definitely! So, which blessing you would deny, Sar? Bisa liburan, jalan jalan keluar negeri…huaaaa nikmat yang juga luar biasa di antara nikmat luar biasa lainnya yang gak terhitung. Alhamdulillah, bersyukur yuk sebanyak-banyaknya 😀

Mudah mudahan bisa sharing liburan lainnya yang lebih seru dan amazing yaaah 🙂

Wisata Alam ke Gunung Pancar, Sentul, Bogor

Kali ini gue mau cerita pengalaman gue wisata alam ke Gunung Pancar, Sentul, Bogor yang punya vegetasi hutan pinus. Yaaa mirip miriplah sama Hutan Pinus Mangunan dan Imogiri di Jogja. Secara gue belum pernah ke hutan pinus yang di Jogja, gue gak bisa bandingin ya bagusan mana. Gue rasa sih bagusan yang Jogja…yang di sini KW soalnya, hehehe.

Gunung Pancar ini terletak di Sentul, Bogor which is gak gitu jauh dari Jakarta dan lumayan dekat dari rumah gue (yaiyalah sama sama masih Kab. Bogor). Tahu food court Ah Poong Sentul? Nah gak jauh kok dari situ. Sekitar 20 menit berkendara dengan motor. Jalan ke Gunung Pancar sendiri bisa ditempuh naik mobil atau motor. Jadi bisa dibilang ini bukan gunung sih, lebih tepatnya bukit kali yah. Kalau arahnya tanya Google Maps aja yah, yang jelas lewatin Hotel Harris Sentul teruuuuussss aja. Oh ya, jalan ke Gunung Pancar ini menurut gue belum bagus banget sih..agak sempit gitu. Tapi gak sampai menyusahkan kok.

img20160904122735

Sesampainya di gerbang, kita bakal langsung disambut petugas (atau penjaga liar? entahlah) yang mematok tarif Rp.20,000 per motor. Gue nggak tahu ya tarif masuk untuk mobil. Begitu masuk wuuus, kita langsung disuguhi deretan hutan pinus yang menjulang tinggi nan sejuk. Sayangnya, keindahan kawasan hutan pinus ini terganggu dengan area parkir yang dibuka di lahan pinusnya. Yaaah padahal sih akan lebih enak jika lahan parkir disediakan di luar kawasan pinus.

img20160904122514

Tipikal tempat wisata yang pernah hits (hutan pinus Gunung Pancar ini cukup hits di awal tahun 2016 ini), pasti sesudahnya jadi konsumsi alay dan mulai banyak sampah. Begitu juga hutan pinus ini. Meski masih banyak area yang alami, di beberapa titik ada sampah berserakan. Belum lagi para alay yang nongkrong di sini juga dengan santainya ngerokok. Ihh, mengganggu kesejukan udara aja. Please respect the nature, Guys!

img-20160904-wa0020

img-20160904-wa0018

Eeeeh ngapain tuh tangannya hahaha

Sebenernya, hutan pinus Gunung Pancar ini bisa jadi pilihan wisata murah meriah yang cukup menarik bersama keluarga dan teman-teman. Keluarga bisa piknik, santai bareng teman-teman disini, ada juga sekolah dan komunitas yang mengadakan camping disini, dan sering juga dijadikan setting foto pre wed. Bahkan sebelumnya gue dengar pernah ada yang ngadain  wedding party disini. Soooo menurut gue, hutan pinus Gunung Pancar ini harusnya bisa dikelola dengan lebih baik lagi sih. Anyway, bagi photo hunter yang lagi nyari spot foto bagus dan dekat dari ibu kota, hutan pinus Gunung Pancar ini bisa dibilang oke lah yaa. Instagrammable banget kok. Paling bagus sih pake action cam yang efeknya bikin gambar menjulang gitu deh.  Check it out! 😀

img-20160904-wa0048

img20160904122752

img-20160904-wa0029

img-20160904-wa0027

img-20160904-wa0044

img_20160904_161400

img-20160904-wa0036

Merenung….

img-20160904-wa0016

img-20160904-wa0050

By the way Sar, kok fotonya sendirian semua? Bodo aaaah hahaha

Sekelumit Cerita tentang Ramadhan with Love

Akhirnyaaaaa bisa nulis di blog ini lagi. Huh hah huh hah. Tarik napas dulu. Beneran nih, alasan sibuk mungkin paling klise ya menghalangi nulis blog. Tapi ya…aku memang nggak punya alasan lain selain sibuk. Hmm, mungkin sudah sebulan kali ya nggak nulis disini? Nah, mumpung tinggal sehari lagi nih project yang bikin sibuk ini akan berakhir, hehe…aku pingin cerita-cerita nih tentang project yang cetar ini 🙂

Seperti yang sudah pernah aku ceritakan sedikit di post terakhir, bahwa aku dan teman-teman kelompok pengajianku sedang menyelenggarakan program Ramadhan bernama Ramadhan with Love ( https://kitabisa.com/ramadhanwithlove ) yang bertujuan menggalang donasi dari masyarakat untuk disalurkan dalam bentuk baju lebaran baru bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Kenapa namanya Ramadhan with Love? Ya maksudnya untuk mengajak orang berbagi cinta gitu ke adik-adik yatim dan dhuafa di bulan Ramadhan ini.

img1463416595511 - Copy

Sedikit cerita, project penggalangan donasi dhuafa ini sebenarnya berawal dari ‘ide nyontek’ program serupa yang pernah diselenggarakan seniorku dulu di rohis kampus pada Ramadhan 2015. Nama programnya adalah Ramadhan for Kids. Ia bersama teman-teman liqonya mengadakan program seperti ini tahun lalu dan berjalan dengan sukses. Namanya juga fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, senior-seniorku ini pun dengan legowo sharing pengalaman mereka. Saat itu juga mereka menawari untuk pakai branding Ramadhan for Kids, tetapi aku dan teman-teman liqoku sepakat untuk menggunakan Ramadhan with Love. Belakangan, seniorku dkk pun juga kembali menyelenggarakan Ramadhan for Kids dengan format hadiah yang sedikit berbeda dari Ramadhan with Love. Ya sok atuh…hehe. Fastabiqul khairat, kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Saling support malah.

Di awal-awal kami pasang campaign di KitaBisa.com (cek ya https://kitabisa.com/ramadhanwithlove ), untuk mengumpulkan donasi itu rasanya susaaaah banget. Sebagai modal awal, biar orang trusted pada campaign kami, kami lah yang pertama-tama donasi. Konon, 99% donatur di KitaBisa mau berdonasi di campaign yang sudah ada donasinya. Ini kata KitaBisa nya lho ya,bukan aku ngarang. Hehehe. Enak banget deh pasang campaign di KitaBisa. Bener-bener jadi campaign manager kita banget. Sering ngasih tips-tips untuk crowdfunding, ada fitur rekap donasi, sampai fitur update untuk kita menulis progress program.

Balik lagi, awal mengumpulkan donasi itu susah, karena kami sudah mulai jalan dari sekitar 3 minggu sebelum Ramadhan. Saat itu, orang kebanyakan masih belum ternuansa dengan Ramadhan. Atas saran dari Kitabisa juga, kami pun menghubungi orang-orang terdekat dulu yang kira-kira ‘potensial’ untuk memberi donasi. Ini nih bagian yang agak melelahkan. Japri orang satu-persatu secara personal, ajak ngobrol ngalor ngidul dulu, trus ajak donasi deh…itu pun dengan hasil yang fifty fifty. Bisa mau bisa enggak. Seringnya dapat jawaban ‘abis gajian ya…’. Padahal nggak juga tuh…hehe. Hush, gak boleh suudzan Sarah! Siapa tahu mereka juga udah donasi ke lembaga lainya. Toh sama-sama tetap menolong ummat kan?

Namun perlahan, meski lambat, kami bisa melihat pergerakannya. Sebelum Ramadhan sampai dengan 1 pekan pertama Ramadhan, terkumpul 1-1,5 juta per minggunya. Hingga kemudian tanggal 11 Juni 2016, kami pun memberanikan diri ke Pasar Tanah Abang untuk belanja gelombang pertama dengan dana donasi yang masih ‘pas-pasan’. Bukan memberanikan diri sih sebenernya, tapi memang sudah merencanakan. Sengaja belanja di awal, karena gelombang pertama ini untuk anak-anak muslim Papua. Pengiriman ke Papua kan bisa memakan waktu maksimal 2 minggu…jadi mepet banget dong kalau kita belanjanya ntar-ntaran. Tapi ya gitu…walau sudah direncanakan, dana kita semula terasa ‘ngepas’ untuk belanja dan ongkos kirim ke Papua.

img1465656648546

Sungguh ya, Allah Maha Memudahkan niat baik. Padahal pas lagi muter-muter nyari baju lebaran, hatiku kebat-kebit tuh kepikiran biaya pengirimannya yang bisa 1 juta lebih. Uang di tangan kami ‘hanya’ 5 juta kurang dikit, dan ingin membelikan 50 stel baju. Cukup gak yaaa. Namun atas kuasa Allah, setelah keliling ‘thawaf’ antara blok F, B dan A Pasar Tanah Abang kemudian balik ke blok F…dipertemukanlah kami dengan sebuah toko baju yang bagus dan murah. Asli deh, bajunya berkualitas, bahannya katun yang adem, cuma dengan harga 50ribu-75ribu untuk baju koko dan bajun muslimah anak untuk segala ukuran! Seneng bangeeet. Walhasil, kami bisa pulang dengan membeli 50 pasang baju seharga 3 juta saja…sisa uangnya bisa digunakan untuk ongkos kirim. Yeaaay!

Hari Seninnya, sebelum berangkat kerja, aku sempatkan mengirim paket baju lebaran melalui Pos Indonesia. Paket seberat 13,4 kg itu dikenakan ongkos kirim sebesar 1,2 juta sajaaa sudah pos kilat lho. Alhamdulillah…terasa sedikit lega hatiku setelah menyerahkan paket tsb ke petugas. Sebagian beban amanah sudah terangkat. Serasa tiap hari tuh ada yang bisikin benakku “Kamu musti amanah! Ini uang ummat!”. Tapi bukan Suster Valak ya yang bisikin. Hehehe.

IMG-20160613-WA0005IMG-20160613-WA0006

Di minggu kedua, tanpa diduga donasi yang masuk naik drastis. Dan ternyata, saluran donasi transfer ke rekening langsung kami (tanpa melalui Kitabisa) masih digemari para donatur dalam memberikan donasi. Yaaa gapapa deh, kalo lewat Kitabisa kan’ ntar ujungnya dipotong 5% untuk biaya admin. Hehehe. Di minggu kedua ini juga, tiba-tiba saja pas di kantor, aku ditelpon oleh pihak Kitabisa menawarkan agar program ini diikutkan dalam program #PatunganTHR yang diselenggarakan Kitabisa dan Wardah. Sebuah kompetisi campaign yang hadiahnya adalah donasi dari Wardah. Waaaah makin semangat! Alhamdulillah, sekarang posisi campaign kami sudah masuk 5 besar, tepatnya di posisi 4 teratas lhoo. Ini programnya https://thr.kitabisa.com

patunganTHR

Dua minggu berikutnya, donasi mengalir makin deras baik offline (lewat transfer rekening biasa ke bendahara panitia program ini) dan via Kitabisa. Sampai detik ini, sudah tembus 16 jutaan atau 54% dari target kami yang sebesar 30 juta. Wooow. Sebenarnya bikin target ini penghitunganya agak dibikin lebay sih…biar semangat cari donasinya. Hehehe.

Terharu bangeeet sama kepedulian para donatur. Ramadhan berkah…rezekinya anak yatim dan dhuafa nih. Sabtu kemarin, tanggal 18 Juni 2016, kami kembali belanja gelombang 2 untuk list anak yatim dan dhuafa di Bogor, Bekasi, Sukoharjo, Purworejo, dan Boyolali sebanyak 66 anak. Memang tidak terlalu banyak, karena anak yatim dan dhuafa ini berasal dari lingkungan kampung halaman dan domisili kami yang sudah didata di RT atau RW setempat. Jadi nggak ke panti asuhan formal gitu. Asumsi kami, anak-anak panti biasanya pasti sudah ada donatur tetap yang membelikan baju lebaran. Kami hanya ingin meratakan keberlimpahan tsb ke anak-anak lainnya di luar yayasan formal.

13442259_507881872729295_3953295678541437652_n

Nah, sekarang donasi yang masuk justru berlebih nih…hehe. Sekarang giliran bingung belanjainnya lagi karena semua anak yang ada di list penerima kami insya Allah sudah ter-cover. Tuh kan, donasi kurang bingung, donasi berlimpah juga bingung. Ada-ada aja. Tapi insya Allah, kami akan memperluas anak-anak penerima baju lebaran. Selama beberapa hari lalu, kami pun sibuk nyari-nyari lagi nih anak yatim dhuafa yang potensial untuk disantuni. Karena kan’, kami inginnya tepat sasaran. Sembari aku dan teman-teman panitia RWL terus aktif publikasi. Alhamdulillah, kami sudah me-list anak-anak penerima tambahan, yang justru melebihi list awal anak penerima donasi. Tenaaang, insya Allah dananya cukup. Hehehe.

EHIYAAAA ADA UPDATE LAGI NIH! *capslock ga nyantai saking senengnya

Alhamdulillah, baju lebaran baru yang kami kirimkan sudah sampai di tanah Papua! Hari Senin, 21 Juni 2016, pihak BSMI Jayawijaya Papua mengonfirmasi kepada kami bahwa baju lebaran baru untuk 50 anak muslim Papua sudah sampai dengan selamat. Insya Allah, baju lebaran baru akan dibagikan oleh BSMI Jayawijaya Papua pada pekan depan bersamaan dengan distribusi bantuan lainnya yang datang ke Papua melalui BSMI Jayawijaya. Saat ini, paket baju lebaran baru sedang dalam proses pemilahan dan pengemasan untuk diberikan pada adik-adik kita. Insya Allah, dokumentasi terkait akan ku-share juga ya 🙂

So, daftar anak penerima donasi seluruhnya adalah:

-50 anak muslim Papua yang selama ini dalam desa binaan Lembaga Kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Jayawijaya Papua

-87 anak yatim dan dhuafa di Bogor, Bekasi, Sukoharjo, Purworejo dan Boyolali merupakan anak yatim di lingkungan rumah dan kampung halaman masing-masing dari kami, tim Ramadhan with Love.

-65 anak yatim dan dhuafa warga eks Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara yang mengalami penggusuran dan sampai sekarang masih tinggal di penampungan karena belum mendapat penggantian tempat tinggal (kerjasama dengan Forum Indonesia Muda)

-13 anak yatim dan dhuafa binaan Rumah Belajar Impian di Kampung Pulo, Bojong Gede, Kab. Bogor (kerjasama dengan rumah Belajar Impian)

Minggu nanti, 26 Juni 2016, paket baju lebaran baru baik yang dibeli pada pembelanjaan gelombang 2 dan 3 akan disitribusikan secara serentak, insya Allah. Doakan langkah kami terus ya

Anyway, masa penggalangan donasi di https://kitabisa.com/ramadhanwithlove tinggal sehari lagi, sampai 23 Juni 2016 saja. Makanya buruaaaan yang mau donasi yuk cepet klik. Untuk donasi via transfer, masih dibuka hingga 24 Juni 2016, japri aja ya ke nomorku, 081280101156. Via WhatsApp saja. Terima kasih 🙂

Kesan-kesanku selama jadi ketua panitia program Ramadhan with Love so far…luar biasa! Baru kali ini aku memimpin program penggalangan dana ke masyarakat luas dan karena momennya saat Ramadhan…duuuh spesial banget rasanya. Macam-macam deh perasaan dan energinya. Terkadang sedih karena donasi lagi seret dalam beberapa hari, terkadang bete karena teman-teman susah koordinasinya, tapi lebih banyak bahagianya karena bisa semua yang dilakukan ini insya Allah atas dasar cinta, sesuai nama project ini, Ramadhan with Love. Cieee. Hehehe. Bisa dibilang, Ramadhan tahun ini menjadi sangat berkesan karena adanya project ini.

Ya, itulah yang kurasakan sejak awal, bahkan sejak mempersiapkan diri untuk Ramadhan ini. Ramadhan kali ini terasa beda…benar-benar terasa feelnya. Seolah visi pribadiku untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momen berbagi benar-benar mengalirkan energi super dalam diriku untuk menjalani semua aktivitas. Mamaku sih berkali-kali ngingetin, “Jangan capek-capek…ntar kamu sakit lho pas lebaran”. Anehnya, aku memang merasa tidak ada capainya. Beda dengan saat hari-hari biasa di luar Ramadhan, kalau weekend maunya leyeh-leyeh terus. Namun di bulan ini, aku tak ingin membiarkan sedikit pun waktu terbuang percuma di Ramadhan ini. Ahh, semoga ini bukan euforia sesaat, semoga bisa terus seperti ini ampai hari kemenangan tiba dan insya Allah hari-hari sesudahnya pula. Perjalanan Ramadhan masih panjang. Surga pun masih jauh. Simpan energi dan nafasmu sampai akhir. Maksimallah, seolah-olah ini Ramadhan terakhir kita. Dan memang, siapa tahu jadi Ramadhan terakhir kita sebagai lajang . 😀