Cerita Umroh Part 2: Gagahnya Uhud dan Perjuangan di Raudhah

Hari ketiga di Madinah, atau hari Minggu, 5 Februari 2017, adalah jadwalnya romongan travel kami tur ke sekitar kota Madinah yaitu Masjid Qiblatain, Masjid Quba, Kebun Kurma dan Gunung Uhud. Untuk masjid Qiblatain ini kita sekedar lewat aja, nggak turun dari bus. Masjid Qiblatain ini adalah masjid dimana Rasulullah SAW mendapat perintah untuk memindahkan kiblat shalat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Sedangkan di Masjid Quba, rombongan kami singgah sebentar untuk shalat sunnah. Masjid Quba ini merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW saat perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah kemudian singgah di desa bernama Quba. Hingga Rasulullah SAW menetap di Madinah, beliau secara kontinyu mengunjungi masjid ini setiap hari Sabtu untuk shalat baik menggunakan unta ataupun berjalan kaki. Jaraknya dari Masjid Nabawi sih dibilang jauh engga, dibilang dekat ditempuh berjalan kaki juga engga. Saat mengunjungi Masjid Quba, masjid ini sedang ramai-ramainya dengan pengunjung rombongan seperti kami, shalat pun jadi agak susah di shaf wanita.

“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba, kemudian dia mendirikan shalat di sana, maka dia mendapatkan pahala umrah” (HR Ibnu Majah)

Bersama rombongan...cuaca berawan dan berangin, jadi langit gelap gituu.

Bersama rombongan…cuaca berawan dan berangin, jadi langit gelap gituu. Akunya ketutupaaan.

Bersama Mama di Masjid Quba

Bersama Mama di Masjid Quba

Dari Masjid Quba, kami bergerak ke Gunung Uhud, yang letaknya agak keluar sedikit dari kota Madinah. Gunung Uhud merupakan saksi bisu terjadinya Perang Uhud, perang besar antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini adalah wujud balas dendam dari kekalahan kaum musyrikin Quraisy di Perang Badar. Pada perang ini, kaum muslimin semula mendapatkan kemenangan, namun keadaan menjadi berbalik ketika sebagian pasukan kaum muslimin tergiur melihat harta rampasan yang banyak. Bahkan pasukan pemanah yang Rasulullah SAW sudah perintahkan stand by di Jabal Rumat,  mereka malah turun dari posisi mereka dan menghampiri harta rampasan. Kelengahan ini pun terlihat oleh panglima perang Quraisy, Abu Sufyan,  yang kemudian memutar kudanya dan melakukan serangan balik habis-habisan pada kaum muslimin. Pasukan pemanah yang menjadi border pertahanan pertama sebelum kaum Quraisy bisa menyentuh pasukan inti sudah tak ada, maka kaum musyrikin pun leluasa menyerang dari segala arah, bahkan sampai Rasulullah SAW sempat terluka hingga gigi seri patah, pundak tersabet pedang dan memar di wajah. Rasulullah SAW juga sempat dikabarkan meninggal hingga membuat kendur semangat kaum muslimin.  Di peperangan ini, paman Rasulullah SAW bernama Hamzah yang dijuluki Singa Allah karena kepiawaiannya menebas leher pasukan kaum musyrikin pun gugur dengan cara ditombak oleh Wahsyi, seorang budak yang ahli menombak suruhan Hindun, istri Abu Sufyan. Berhasilnya Wahsyi menombak menjadi syarat untuk kemerdekaan budak ini. Sadisnya, Hindun menghampiri mayat Hamzah dan merobek dadanya lalu memakan jantungnya sebagai tuntasnya balas dendam karena di perang sebelumnya kakak dan beberapa keluarganya tewas di tangan Hamzah.

Wah ini cerita perangnya seru banget ya? Ini aku gak sambil googling lho, hahaha. Ciyus, dulu waktu kecil aku dibeliin sama ortu buku komik cerita seri perjuangan Rasulullah SAW. Bukunya tebal, ilustrasinya keren, nah salah satu serinya adalah seri perang ini. Penggambaran di komik itu detil dan seru, makanya membekas banget di ingatan aku sampai sekarang.

Dari atas, kanan, ke kiri: -Pegunungan Uhud, area perang dibangun Masjid, pemukiman dan pasar -Makam para syuhada Uhud -aku dan Mama

Dari atas, kanan, ke kiri:
-Pegunungan Uhud, area perang dibangun Masjid, pemukiman dan pasar
-Makam para syuhada Uhud
-aku dan Mama

Di sekitar situs Uhud ini sih menurut aku berantakan, karena jadi pasar gitu…dan udah banyak banget pemukiman. Yang tersisa hanyalah Jabal Rumat, bukit pasukan pemanah yang juga banyak sampah bertebaran. Menaiki bukit ini, bisa terlihat jelas Gunung Uhud di kejauhan dan foto foto deeeh. Hehehe.

Di sekitar bukit Uhud ini juga terdapat makam para syuhada yang gugur saat peperangan. Gak ada nisan, gak ada tanda, hanya sebuah area berpasir yang dipagari dan ditulisi papan informasi dalam beberapa bahasa yang melarang keras tindakan ziarah makam yang menjurus ke syirik. Aku pikir, orang zaman sekarang udah cerdas lah ya…apalagi  niat berangkat umroh kan harusnya udah mikir ibadah dong…tapi beneran lho ada beberapa orang pengunjung yang ngambil pasir dari Jabal Rumat. Ada beberapa dari Indonesia dan pengunjung dari Bangladesh atau India kali ya. Sekilas aku denger ibu-ibu yang ambil pasir itu berkata “Coba kita bisa ambil pasir di Gunung Uhudnya juga tuh, Berkah”

Astaghfirullah..aku mengelus dada. Apa hubungannya pasir/batu Gunung Uhud dengan berkah?

Kunjungan kedua adalah Kebun Kurma, tempat belanja kurma langsung di kebunnya. Sebenarnya sehari sebelumnya aku udah diwanti-wanti nih sama pedagang kurma di salah satu toko di Madinah, jangan beli kurma di Kebun Kurma, karena lebih mahal (kan ngasih komisi ke travel yang anterin), mending beli di dia aja (lha bisa aja nih hehe). Cara beli di Kebun Kurma ini bisa dicoba sepuasnya, lalu pilih-pilih deh. Aku dan ibuku borong lumayan banyak kurma, coklat dan permen. Eh, tapi kok setelah sampai di hotel kami hitung-hitung beneran masih lebih murah toko di Madinah sekitar 3-5 riyal. Di Mekkah malah lebih murah lagi, contoh kurma coklat di Kebun Kurma 20 riyal sekotak, di Mekkah kurma yang sama 15 riyal. Capek deeeh.

img_3916

Suasana di luar Kebun Kurma

Berikut ini oleh-oleh makanan yang kubawa ke tanah air, sebagian besar beli di Kebun Kurma dan pertokoan Madinah:

-Kurma coklat Al-Ansar. Ini kurma yang dilapisi coklat. Enak banget deh, aku suka banget. Harga di Kebun Kurma satu kotak 20 riyal, eh di Mekkah nemu sekotak 15 riyal. Ada dilapis vanilla caramel kayak di gambar ini, ada juga dilapis coklat almond. Dua duanya enaaak.

img_39241

2. Choco Pearl Kacang + Kurma dilapis Coklat. Harga per kotak 10 riyal. Ini sih udah ga ada bentuk kurmanya lagi (ga ada kacang kurmanya lagi), cuma rasa dan serpih kurmanya masih ada, dicampur kacang, dilapis coklat. Variannya ada kacang almond+kurma, kacang pistachio+kurma, Kacang mede+kurma. Aku beli tiga tiganya. Rasanya lumayan.

Sumber gambar: Google. Variannya ada kacang almond+kurma, kacang pistachio+kurma, Kacang mede+kurma. Aku beli tiga tiganya. Rasanya lumayan.

Sumber gambar: Google. Udah abis barangnya di rumah. Hehehe

3. Coklat kiloan dan permen kiloan. Aku beli di pertokoan sekitar Nabawi lebih murah, 20 riyal sekilo.

eqyz93691

4. Aku nyebutnya coklat batu koral/batu akuarium hahaha. Di Kebun Kurma 20 riyal dengan ukuran lebih sedikit (di gambar ini belinya di Kebun Kurma, merk Chocovia Dragee), di Mekkah dan Jeddah aku dapat 20 riyal dengan ukuran lebih banyak. Ini enaaak, aku seneng banget ngemilin ini pas di rumah.

img_39231

5. Dan tentunya….macam-macam kurma. Yang paling enak, terkenal (dan mahal) adalah jenis kurma Ajwa, yang juga sering disebut kurma Nabi. Dinamakan demikian karena merupakan kurma kesukaan Rasulullah SAW. Di Kebun Kurma kemarin aku beli seharga 60 riyal sekilo, buat konsumsi sendiri aja deeh, sayang kalau buat oleh oleh dikasih ke orang. Hehehe

Sumber gambar: Google

Sumber gambar: Googlee

Setelah tur adalah acara bebas sama seperti kemarin setelah tur. Aku dan Mama berusaha untuk memperbanyak i’tikaf di Masjid Nabawi. Pulang dari masjid yaa belanja belinji…hehehe. Bosan dengan catering hotel, kami juga sempat nyobain kuliner setempat yaitu nasi briyani dengan chicken mandi seharga 18 riyal. Eh yaamplop porsinya…jumbo! Seporsi berdua pun kenyang. Kalau mau beli roti, bisa di Fresh Market dekat Masjid Nabawi. Disini ada roti yang besar-besar seharga 1 riyal dan aneka makanan Indonesia juga bisa ditemui seperti mie instan Indomie, saus Indofood, dan sebagainya.

Malamnya selepas isya, jamaah wanita dari travel kami pun bersiap untuk bareng-bareng ke raudhah (yang aku ceritakan di posting sebelumnya). Dengan dipandu seorang muthawifah, kami pun mengantre berkelompok. Untuk mencapai raudhah, pertama para askar membagi jamaah secara ras. Jadi ras melayu tersendiri, ras Turki dan Arab tersendiri, lalu ras India, Bangladesh, Pakistan dan sebangsanya tersendiri. Bukannya rasis, tapi memang agar lebih nyaman. Perempuan Turki dan Arab kan badannya gede-gede tuh (dan kelihatannya juga lebih agresif), kasihan kan’ perempuan Melayu yang badannya relatif kecil-kecil harus berdesakan bareng mereka. Karena memang untuk masuk raudhah ini berdesakan dan berebut. Proses antre terasa lamaaaa banget. Jalan dikit, terus duduk bersempitan rame-rame, jalan lagi, duduk lagi. Aku sampai terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya kami bisa memasuki teras luar bangunan awal masjid Nabawi sebelum perluasan yang dinaungi payung. Waaah akhirnya lihat payungnya terkembang juga (selama disana payung di pelataran masjid yang kulewati sehari-hari gak dikembangkan, gagal selfie deh..hehehe).

Teras bangunan asal masjid Nabawi

Teras bangunan asal masjid Nabawi

Hingga akhirnya, tibalah giliran rombongan Melayu diperbolehkan masuk. Huaaa langsung heboh deh pada berlarian kayak ngejar apa (padahal raudhah nya gak lari kemana, kayak jodoh haha). Para askar perempuan langsung sibuk menenangkan.

“Sabar Ibu! Sabar!”

Aku langsung teringat kata-kata muthawifah kami selama menunggu, kami ke raudhah melewati makam Rasulullah SAW, hendaknya merendahkan suara karena itulah adab terhadap Rasulullah SAW baik saat beliau hidup maupun saat sudah meninggal. Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, berbeda dengan karpet merah yang melapisi seluruh Masjid Nabawi. Karena berdesakan begitu padat, aku pun nggak sadar sudah agak jauh menginjak karpet hijau. Seorang askar menegur, “Ayo Ibu, shalat, ini sudah di rudhah”

Lho….eh…langsung tangisku pecah. Antara terharu (karena perjuangan masuk ke raudhah ini capek banget) dan bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di salah satu taman surga, tempat mustajabnya doa. Aku menengadahkan tangan, langsung khusyuk berdoa banyak-banyak dengan air mata bercucuran. Beberapa dari rombongan kami bisa shalat, tapi aku nggak mau memaksakan diri, khawatir kepala terinjak karena sedemikian berdesakan. Memang tidak ada ibadah khusus selama di raudhah. Terserah, mau shalat sunnah, tahajud, witir, hajat, istikharah atau sekedar berdoa saja…semuanya bagus. Mungkin hanya sekitar 5 menitan kami di raudhah, rombongan kami pun disuruh keluar dari raudhah. Yup, gak sampai 10 menit! Kebayang kan banyaknya jamaah…antre berjam-jam, tapi gak sampe 10 menit disana. Total proses sampai selesai dari ba’da Isya (disana sekitar jam 20.30 sampai pukul 02.00) kami baru selesai.

Pulang hotel langsung istirahat, menyiapkan energi untuk besok…karena besok adalah hari terakhir kami di Madinah sekaligus hari pertama di Mekkah.

Esoknya, seperti biasa shalat subuh berjamaah di Masjid Nabawi. Aku datang agak telat mepet adzan kedua karena memang masih capek banget habis semalam ke raudhah. Shalat subuh terakhir disini…rasanya sedih gitu. Aku suka banget di Madinah, aku berdoa berkali-kali agar bisa meninggal di sini.Menjelang dhuha, rombongan travel kami melakukan wada’ (perpisahan) dengan masjid Nabawi. Kami shalat dhuha, keliling pelataran masjid, eh..terus Ustadz nya ngajak melambai lagi di kubah  makam Rasulullah SAW. Ditegor lagi deeeh sama askarnya.

Wada dengan Nabawi

Wada dengan Nabawi. Syediiih 😦

Tapi kesedihan itu segera pudar dengan euphoria akan melihat Ka’bah. Ya, Ka’bah yang seumur hidup hanya bisa kulihat di televisi, gambar pajangan, sajadah, dan internet. Melihat langsung dengan mata kepala sendiri….Allah, nikmat-Mu yang mana yang sanggup aku dustakan?

Sebelum shalat zuhur, rombongan kami sudah memakai pakaian ihram. Kemudian setelah shalat zuhur di Nabawi (tidak ikut berjamaah, langsung dijamak dengan Ashar), kami sudah bergegas kembali berkumpul di hotel, koper sudah dipacking semua, bus kami pun berangkat ke Mekkah setelah sebelumnya ambil miqot dulu di Bir Ali.

Good bye, Madinah. I’ll miss you soon….

Advertisements

Cerita Perjalanan Umroh Part 1: Madinah & Masjid Nabawi Yang Bercahaya

Barangkali, mengunjungi tanah suci, bersujud langsung di depan Ka’bah adalah impian bagi setiap muslim. Dan ketika kesempatan itu dapat kita rasakan, niscaya menjadi pengalaman yang seumur hidup tak akan terlupakan.

Itulah yang aku rasakan pada tanggal 3-11 Februari 2017 kemarin. Sebuah pengalaman yang kurasakan masih amat singkat, tapi begitu membekas di hatiku: menjalani umroh untuk pertama kalinya. Memandang Ka’bah dengan mata kepalaku langsung untuk pertama kalinya. Ini adalah impianku dan ibuku sejak lama, ini adalah puncak semua doa dan ikhtiar kami selama bertahun-tahun, dan ini adalah takdir terindah yang Allah karuniakan untuk kami.

Alhamdulillah, semua pengalaman itu akan aku ceritakan di blog ini, blog yang sudah bertahun-tahun menjadi wadahku berbagi cerita. Semoga tulisan ini menjadi hikmah dan bermanfaat bagi pembacanya ya 🙂

Jumat, 3 Februari 2017

Jumat sore sekitar pukul 16.00, aku dan Mama sudah sampai di kantor pusat Hannien Tour, travel yang kami gunakan untuk umroh yang terletak di Cibinong, Kab. Bogor tak jauh dari rumahku. Setelah tausyiah dan pembagian ID card, rombongan kami pun naik bus travel diantar ke Bandara Soekarno Hatta. Kebanyakan jamaah berasal dari Bogor dan Depok. Perjalanan Jumat sore terjebak macet cukup lama di jalanan ibukota, sampai akhirnya tiba di Soetta sekitar jam 8 malam. Rombongan kami pun dipertemukan dengan rombongan Hannien lainnya dari Pekanbaru yang akan melebur jadi satu rombongan yang berjumlah 44 orang plus 1 orang Ustadz pembimbing. Setelah makan malam dan mengurus bagasi dan keimigrasian, akhirnya kami pun take off pesawat Etihad Airways tepat pukul 00.15 (sudah masuk hari Sabtu).

Bismillah.

Pesawat tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 06.00 pagi, tapi arlojiku sudah menunjukkan pukul 09.00. Rupanya Jakarta-Abu Dhabi ada perbedaan waktu 3 jam. Jadi walau sudah menempuh 9 jam perjalanan, sampai di Abu Dhabi sih masih pagi banget. Pesawat kedua yaitu ke Jeddah, take off sekitar jam 8 pagi. Cuci mata di Abu Dhabi? Boro-boro hehehe. Kita cuma sempat sibuk nyari gate untuk penerbangan selanjutnya. Bandara Abu Dhabi mirip dengan Changi. Bersih, rapi, dan luaaassss.

. Dari kiri atas ke kanan: -Pas keberangkatan -Transit di Abu Dhabi -Pemandangan dari pesawat…gak kayak Indonesia yang hijau…ini pasir semua tandus hehe>.< -Etihad -Sampai di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Di penerbangan kedua, ada juga penumpang asal Abu Dhabi yang sudah memakai pakaian ihram masuk pesawat. Hmm, berarti sebelum naik pesawat mereka sudah mengambil miqot nih. Apa itu miqot? Nanti aku jelaskan di tulisan berikutnya. Singkat cerita, sampailah kami di Jeddah sekitar pukul 11 siang. Setelah melalui pemeriksaan paspor, kami pun menuju bus yang siap mengantar kami ke Madinah. Ternyata pemeriksaan paspor di Arab gak seseram yang sering muncul di cerita, seolah-olah ada polisi yang siap mencambuk gitu. Hehehe. Justru petugas tampak sopan dan ramah banget sama kita orang Indonesia dan menyapa ‘apa kabar?’. Yang penting diingat saja siapa mahram kita (bagi perempuan di bawah 45 tahun yang pergi umrah tanpa ada mahram laki-laki). Kebetulan secara administratif, aku dan ibuku dimahramkan dengan salah satu bapak dari Pekanbaru yang kesini dengan keluarganya.

Perjalanan dari Jeddah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Saat itu kondisi cuaca kurang baik karena beberapa hari sebelumnya terjadi badai pasir. Sekitar pukul 17.00, sampailah juga kami semua di Madinah, begitu memasuki kota ini dan melihat kehidupan penduduknya dari balik jendela bus…hmmm what a lovely city. Di sore hari, aktivitas masyarakat Madinah banyak yang piknik bersama keluarga di taman kota, main bola, dan sebagainya. Seperti umumnya masyarakat kita, namun bedanya tidak ada tempat hiburan yang berpotensi maksiat. Aktivitas kota ini sepertinya terpusat ke Masjid Nabawi dan sekitarnya.

Beberapa menit memasuki kota Madinah, sampailah kami di hotel Dar El Eiman Mukhtara yang jaraknya hanya 500 meter dari Masjid Nabawi. Brrr, hawa dingin langsung menyergap begitu kami turun. Kuperkirakan suhu di bawah 10 derajat celcius, karena dinginnya melebihi kawasan Puncak di waktu subuh. Setelah check in, istirahat, mandi dan makan, alhamdulillah aku dan Mama bisa menyempatkan diri hari itu juga shalat Isya di Masjid Nabawi. Pertama kali lihat Masjid Nabawi…wuiiih masya Allah, megah dan cantiknyaaa. Aku langsung jatuh hati pertama kali menginjakkan kaki di masjid sini. Luaaasss dan adem gitu. Terngiang di benakku sabda Rasulullah SAW, “Shalat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding masjid lainnya kecuali Masjidil Haram” (HR Bukhari)

Ya Rabb, segala puji bagi Engkau yang sudah memperjalanku sampai sini dan diberi kesempatan shalat di masjid kekasih-Mu ini…

Sayang payungnya gak terkembang...tapi tetep indah...huhu

Sayang payungnya gak terkembang…tapi tetep indah…huhu

Jangan takut kehausan di dalam masjid karena buanyaaaak banget dispenser air zam-zam tersebar di sini. Masya Allah, nikmatnya minum air zam-zam…dulu minum zam-zam oleh-oleh dari orang yang baru pulang umroh atau haji tuh rasanya mewah banget, sampai harus antre dan kebagian dikit-dikit. Hehehe. Sekarang disini bisa minum kapan aja dalam jumlah melimpah tanpa antre. Ada 2 macam air zam-zam, yang dingin (aslinya air zam-zam itu dingin) dan ‘not cold’ alias hangat. Tapi gak tahu kenapa ya, aku yang biasanya gak suka minum air mineral dingin, eh jadi seneng minum zam-zam dingin dan ajaibnya gak bikin panas dalam. Tiap kali minum zam-zam, disunnahkan menghadap kiblat dan berdoa, boleh juga doa khusus seperti yang dilakukan Imam Syafi’i agar beliau diberi kecerdasan. Setiap kali minum aku berdoa semoga tubuhku diberi kekuatan dan kesehatan selama perjalanan umroh dan dihilangkan gatal-gatalnya…hehehe.

img_3814

Model dispensernya kayak gini. Sama aja antara di Nabawi dan Masjidil Haram. Foto ini pas di masjidil haram.

Ohya, antara bulan Desember sampai Februari memang masih dingin. Februari adalah peralihan dari musim dingin ke panas. Karena Arab Saudi cuacanya ekstrem, pas dingin ya dingin banget, pas panas ya panas banget sampai 50 derajat celcius. Bahkan kalau dingin katanya bisa sampai hujan es disini. Ingat peristiwa crane jatuh di Masjidil Haram dulu kan? Nah itu karena badai dan hujan es di musim dingin. Waktu yang paling enak ya di bulan Februari ini. Tapiiii dinginnya cuaca Madinah membuat kulit tangan dan kakiku (yang sebelumnya gak pernah alergi) jadi gatal-gatal dan beruntusan. Kadang gatalnya gak tertahankan di waktu tidur malam sampai aku terbangun. Gak cuma aku, banyak juga jamaah lain yang mengalami serupa. Mungkin karena dinginnya Madinah itu sifatnya kering, tidak lembab seperti di Bogor daerah rumahku. Untuk mengatasinya aku mengoleskan Vaseline Petrolatum Jelly, kubeli di salah satu toko dekat masjid seharga 10 riyal. Beli di Indonesia juga bisa, banyak kok di Tokped seharga 30ribuan.

Masih tentang Nabawi, disini terdapat ribuan (atau mungkin jutaan ya?) Quran dengan model serupa di setiap sudut, tiang dan rak-rak. Quran ini merupakan wakaf dari para jamaah yang datang kesini. Maksudnya? Jadi kita yang datang ke Masjid Nabawi bisa membeli Quran di luar masjid dan disumbangkan dengan cara menaruh langsung saja di rak. Niatkan untuk wakaf, insya Allah pahalanya akan terus mengalir setiap kali Quran tersebut dibaca oleh jamaah yang datang kesini. Ada pengalaman unik tentang Al Quran ini. Jadi aku ingin membeli Quran di sebuah bookstore yang terletak persis di depan Masjid Nabawi, tapi Quran yang ada disana mahal-mahal, paling murah 100 riyal. Aku tawar 50 riyal, eh syaikh penjualnya galak gitu “Quran di Madinah 50 riyal NO, 70 riyal NO, 90 riyal NO”. Huu, bakhil ente, batinku astaghfirullah. Hmm padahal sebelumnya aku baca pengalaman seorang blogger yang baru menunaikan umroh Des 2016, quran wakaf ini bisa dibeli di luar masjid seharga 20 riyal dan budgetku sendiri 100 riyal (rencana beli 5 buah). Akhirnya aku gak jadi beli deh. Esok subuhnya, saat berjalan ke masjid, aku terpikir lagi tentang Quran wakaf tersebut.

Dari kiri atas ke kanan bawah: -Foto setelah shalat pertama di Nabawi -salah satu menara Nabawi -Selfie iseng nunggu waktu shalat -Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram) -Di depan salah satu pintu Nabawi

Dari kiri atas ke kanan bawah: -Foto setelah shalat pertama di Nabawi -salah satu menara Nabawi -Selfie iseng nunggu waktu shalat -Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram) -Di depan salah satu pintu Nabawi

Yaudah gak papa deh kalau 100 riyal. Biarpun cuma dapat 1 Quran gak apalah yang penting ada wakaf buat di Nabawi”

Baru beberapa menit setelah aku berpikir gitu, di antara kegelapan aku melihat 2 orang pemuda Madinah menjual Quran. Mereka memanggil-manggil jamaah yang lewat (kebetulan yang lewat blok itu sepi), cuma ada beberapa orang.

“Hei, Siti Masyithah! Ayo beli! 20 Riyal!”

Cling! Langsung tanpa pikir panjang aku datangi penjual itu.

“Ayo Siti Masyithah, beli 5 100 riyal. Dari Indonesia atau Malaysia?”

“Indonesia, beli 5 ya”

“Alhamdulillah…namanya siapa, Siti Masyithah?”

Yee malah ngajak kenalan. Buru-buru aku kasih uangnya dan ngacir. Eh tapi ya…di subuh besok-besoknya gak ada lagi lho penjual Quran ini. Nah lho…

Soal godaan dan suitan pedagang kayak gini, jangan khawatir, cuma sebatas ramah tamah mereka aja kok. Di lain waktu aku dipanggil-panggil “Cantik…cantik…ayo sini mampir”. Karena itu hari pertama tiba di Madinah dan aku masih was-was banget, aku pun pasang tampang galak. Eh, gak taunya di depanku ada nenek-nenek dari Indonesia juga dipanggil “Cantik…cantik…” Halah! Hahaha

Meski sangat luas, tidak terlalu sulit sebenarnya mencari pintu keluar Masjid Nabawi. Aku selalu mengingat nomor gerbang 25 atau 26 dengan patokan hotel Dar El Taqwa.Enaknya, sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi melalui pintu ini terdapat banyak pertokoan murah-murah. Abis ngantuk-ngantuk ngaji di masjid, mata pun langsung seger lagi cuci mata lihat barang-barang. Hahaha. Gak bisa bahasa Arab? Jangan khawatir, pedagang disini sudah fasih sekali bahasa Indonesia. Bahkan mereka juga terima rupiah. Menurutku barang-barang di Madinah lebih variatif dan lucu-lucu daripada di Mekkah. Kalau harga sih relatif sama yah. Untuk kurma, sebaknya beli di Mekkah karena lebih murah beberapa riyal. Tapi untuk cemilan lain selain kurma seperti coklat dan permen, sebaiknya beli di Madinah karena lebih murah. Begitu juga yang kain-kain seperti gamis, baju koko, sajadah dan mukena lebih bervariasi di Madinah dan harganya juga lebih murah.

Sifat orang Madinah itu lembut dan ramah-ramah, berbeda dengan orang Mekkah yang agak keras. Dan itu memang sudah sifat mereka dari dulu, dimana penduduk Madinah sangat welcome dengan Rasulullah SAW bahkan bisa menerima kaum Muhajirin (penduduk Mekkah yang berhijrah ke Madinah saat itu bersama Rasulullah SAW) seperti sudara mereka sendiri, membagi tempat tinggal dan harta mereka untuk saudara sesama muslim. Sifat itu juga yang terlihat pada penjual di Madinah, mereka benar-benar merayu terhadap jamaah yang lewat dan sangat ramah. Berbeda dengan penjual di Mekkah yang rada galak, susah untuk ditawar. Istilahnya, beli syukur, gak beli yaudah. Tiap kali kita lewat, ada saja panggilan yang disebutkan penjual Madinah pada jamaah Indonesia yang bikin ketawa “Ayo Syahrini mampir yuk…Ayu Teng Teng (???)…Isyana…Julia Perez…” Eh yaampun update banget sama artis-artis Indo. Dan anehnya, penjual di Madinah yang kebanyakan cowok kok kasep kasep pisan yaaah. Hahaha. Banyak yang mirip Fatih Serefagic, Zayn Malik, sampai ada yang mirip Jonas Brothers. Jadi makin semangat deh belanjanya. Hehehe.

Setiap waktu shalat, seluruh toko menghentikan aktivitasnya. Mereka tutup aja tuh sekedarnya toko mereka, barang dagangan masih tergelar gak dipeduliin. Hukum yang ketat membuat masyarakatnya merasa aman. Tidak main-main, mencuri kena hukum potong tangan. Pas di Madinah ini aku juga sempat melihat beberapa pengemis, gak banyak sih, duduk di tengah jalan meminta sedekah. Tangan mereka buntung, bahkan ada yang kakinya buntung. Konon mereka ini dulunya pencuri yang kena hukum potong tangan.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Alhamdulillah, selama disana gak ada tuh yang aneh-aneh. Aku juga gak abis pikir, kenapa sih banyak cerita bersileweran kalau laki-laki Arab itu mesum, suka memperkosa, ‘garang’, dsb? Bahkan ada yang bilang hati-hati diseret ke balik pintu terus diperkosa. Yaampun…emang gak ada polisi atau hukum yang berlaku apa? Disini hukumnya keras banget lho untuk pemerkosa: dirajam sampai mati. Tapi yaaa itulah media. Hobi banget mendiskreditkan Islam. Karena Arab identik dengan Islam, banyak deh kejadian yang dilebih-lebihkan. Padahal aku melihat mereka sopan (bahkan sama perempuan asing, selain penjual laki-laki, mereka dingin dan cuek tuh, menjaga pandangan gitu lho) dan memuliakan perempuan. Duuuh, suka melting deh lihat pasangan Arab. Si suami menggendong anaknya sambil menggandeng tangan istrinya. Gerak-geriknya melindungi banget sang istri. Di minimarket, kebanyakan yang belanja kebutuhan dapur adalah para suami. Aku belum pernah lihat tuh lelaki Arab yang jalan sambil gandeng beberapa istri kayak harem gitu. Bahkan kalau di pintu keluar tempat shalat wanita, aku lihat paling banyak adalah lelaki arab yang menunggui istrinya kelar shalat dengan sabar. Kebalikannya, kalau di pintu shalat pria malah wanita Indonesia dan Melayu yang menunggui suaminya selesai shalat. Hehehe.

Membicarakan Masjid Nabawi, gak lepas dari askar. Askar lho ya, buka asgar Asli Garut. Hehehe. Askar itu adalah petugas yang ditempatkan di masjid Nabawi dan Masjidil Haram untuk mengatur ketertiban jamaah. Yaaa kayak polisi syariah gitu deh ya. Kalau denger cerita orang-orang, askar itu galak-galak. Kalau yang aku alami sendiri sih..biasa aja tuh. Galak kalau memang jamaah susah diatur. Malah setiap kali memeriksa tas ketika baru masuk pintu masjid, askar perempuan yang bercadar suka nyapa “Apa kabar Ibu?”. Yaiyalah, jamaah Indonesia kan tergolong paling buanyaaak di Madinah dan Mekkah, jadi penduduk sana pun udah familiar banget sama orang kita. Tapi anehnya, ada aja ibu-ibu yang suka nyelonong masuk gak mau diperiksa tasnya. Padahal itu kan bagian dari prosedur, dan askarnya gak bentak-bentak tuh, cuma bilang “Sabr! Sabr!” . Maksudnya disuruh sabar, mau diperiksa dulu tasnya. Kalau diperhatikan, baik di Madinah atau di Mekkah, mungkin jamaah yang paling ngeyel adalah jamaah dari Turki. Disuruh lewat sana, ngotot mau lewat sini. Kalau kita orang Melayu mah yaudah nurut aja sih…tapi orang Turki mah pake acara ngedebat dulu. Padahal menurutku para askar itu helpful kok. Kalau kita bingung sesuatu tinggal tanya aja, pasti dituntun.

Hari kedua di Madinah, aku pun menyempatkan diri untuk qiyamul lail dan shalat subuh di Masjid Nabawi. Di luar hotel sudah ramai orang berduyun-duyun ke Masjid Nabawi. Masjid ini seolah tak pernah tertidur, aktivitas hidup 24 jam. Jamaah shalat subuh sudah berdatangan sejak jam 2 pagi.

Sekitar pukul setengah 5 pagi, suara adzan berkumandang. Aku mengecek handphone ku, namun ini belum masuk waktu Subuh (waktu Subuh sekitar jam setengah 6). Ternyata adzan subuh di Nabawi dan Masjidil Haram dikumandangkan 2 kali, sejam sebelum masuk waktu shalat dan saat waktu shalat. Mungkin untuk bangunin orang kali ya?

Oh ya, setiap selesai shalat berjamaah, selalu ada shalat jenazah. Beneran, shalat jenazah itu sampai 5 waktu. Masya Allah, betapa banyak yang berpulang di sini, dan betapa beruntungnya mereka yang bisa berpulang disini. Dishalati ribuan jamaah di masjid suci ini, dimakamkan di Baqi dimana sahabta dan istri rasul juga dimakamkan, dan terutama: dimakamkan di kota dimana Rasulullah SAW dimakamkan. What a peaceful leaving, right? Setiap kali shalat jenazah, kusempatkan untuk berdoa agar aku juga bisa ditakdirkan menjemput ajal di Madinah. Aamiin.

Sekitar jam 8 pagi setelah sarapan, rombongan travelku pun berkumpul. Kali ini kami akan tur keliling masjid Nabawi, makam Baqi dan Quran exhibition. Makam Baqi gak jauh dari Masjid Nabawi, makam ini hanya berupa areal yang cukup luas dan berpasir. Disinilah istri-istri Rasulullah SAW dan para sahabat serta penduduk Madinah dari dulu sampai sekarang dimakamkan. Tidak ada nisan yang membatasi, jadi gak ada tuh cerita susah nyari lahan buat pekuburan atau bayar pajak makam seperti di negara kita. Awalnya makam Baqi ini masih dibuka untuk peziarah laki-laki, tapi saat ini nggak dibuka karena biasa deh, ada aja oknum yang suka mengkeramatkan makam. Pakai segala diambil batu dan pasir nya lah nyari berkah. Padahal di Arab Saudi, syirik dan sihir itu merupakan kesalahan yang sangat berat dan tergolong pidana.

Dari kiri atas ke kanan: -Bergaya ala selebgram hahaha -Foto bareng Mama -Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi -Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Dari kiri atas ke kanan: -Bergaya ala selebgram hahaha -Foto bareng Mama -Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi -Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Jalan lagi, sampailah kami di Quran exhibition, sebuah museum pameran Quran bersejarah. Disini ada Quran terbesar di dunia, ada Quran yang ditulis tinta emas, Quran dari kulit kambing, dan yang bersejarah tentunya: Quran pertama yang dihimpun dan ditulis pada masa Khalifah Abu Bakar dan disempurnakan terus sampai Khalifah Ustman bin Affan.

dari kiri atas ke kanan bawah: -Quran terbesar di dunia -Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah -Aku...ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng :( -Mama di museum Quran exhibition

dari kiri atas ke kanan bawah: -Quran terbesar di dunia. Guide memberikan penjelasan. -Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah -Aku…ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng 😦 -Mama di museum Quran exhibition

Jalan agak keluar dari area Nabawi, ada masjid Ghamamah, yang artinya ‘awan’. Dinamakan demikian karena ketika Rasulullah SAW singgah di masjid ini dan mendirikan shalat, saat itu beliau dinaungi awan. Masjid ini terlihat sepi, karena sudah ada masjid Nabawi. Aku dan Mama pun asik berfoto bersama merpati. Ohya, bagi yang mau berfoto di antara merpati bisa dilakukan di Madinah. Kalau di Mekkah kurang banyak merpati (ini tips apasih hehe)

Di sela-sela tur, Ustadz membimbing kami untuk melihat dua kubah yang ikonik banget bagi masjid Nabawi. Dua kubah tersebut: kubah hijau, persis di bawahnya adalah makam Rasulullah SAW bersama dua sahabat beliau: Abu Bakar As-Shidiq dan Umar bin Khattab. Sedangkan kubah satunya lagi yang berwarna silver persis di bawahnya adalah mimbar Rasulullah SAW tempat beliau biasa memberikan khutbah. Nah, di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW ini terdapat area bernama Raudhah, artinya taman surga. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Antara mimbarku dan rumahku terdapat taman (raudhah) di antara taman surga ” (HR Bukhari-Muslim)

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Lho, memang rumah Rasulullah SAW dimana? Ya itu…makam Rasulullah SAW tadinya adalah rumah beliau. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar tidurnya bersama Aisyah RA kemudian menyusul Abu Bakar dan Umar bin Khattab. FYI, Aisyah RA tetap menempati kamar tsb meskipun sudah ada tiga makam di dalamnya. Kisah lengkapnya ada di Sirah Nabawiyah…hayooo siapa yang belum baca? Kitab yang wajib dibaca nih setelah Al Quran.

Raudhah ini termasuk tempat mustajabnya doa. Oleh karena itu, banyak orang antre untuk masuk sini walaupun area ini hanya bisa menampung puluhan orang saja, ditandai dengan karpet hijau. Akibatnya banyak yang berdesakan, dan untuk masuk area ini pun butuh perjuangan yang luar biasa. Kayak gimana perjuangannya? Ada di posting berikutnya yah…

Balik lagi ke acara tur, pas menghadap kedua kubah tersebut, eh ustadz pembimbing malah melambai gitu ke kubah hijau. Sontak para jamaah yang lain mengikuti. Aku mah gak ikutan, malah sibuk foto-foto, karena sebelumnya aku banyak baca di internet bahwa gerakan yang menjurus pengkultusan dilarang disini. Eh beneran aja…gak lama kemudian seorang askar laki-laki mendatangi rombongan kami dan menegur baik-baik, “Haji, salah Haji…An-Nisa 48” (btw, disini kita semua dipanggil Hajj atau Haji atau Hajjah bagi yang cewek). Nah kan…gak boleh tuh ngelambai lambai gitu. Berdiri diam dan menengadahkan tangan berdoa aja gak boleh, jadi lebih baik berdoa dan shalawat dalam hati aja.

Selesai sudah rangkaian tur pertama. Tur di sekitar Madinah lainnya adalah tur ke Masjid Quba dan Gunung Uhud.

Bersambung…

Vaksin Meningitis dan Manasik Umroh :)

Tanggal 24 Desember 2016 lalu (latepost, baru sempat posting sekarang nih), aku dan Mama melakukan suntik vaksin meningitis dan influenza untuk umroh di Klinik Sehat Cantik, Cibinong, tidak jauh dari kantor pusat biro travel yang kami gunakan, Hannien Tour. Suntik vaksin ini sangat penting, karena Arab Saudi merupakan negara yang epidemi meningitis dan flu babi (mungkin karena dekat dengan Benua Afrika ya). Selain itu dengan suntik vaksin, kita akan menerima buku kuning yang menyatakan diri kita sudah memenuhi syarat kekebalan tubuh terhadap penyakit epidemi. Buku kuning inilah sebagai salah satu persyaratan penerbitan visa masuk Arab Saudi.

Suntik vaksinnya sendiri dilaksanakan bersama dengan medical check up. Nggak ribet, cuma ukur tensi darah, gula darah dan asam urat. Khusus wanita juga harus melakukan tes kehamilan dengan test pack. Asli ini baru sekali seumur hidup pakai test pack. Hahaha. Cuma bagian dari prosedur aja sih untuk memastikan calon jemaah nggak sedang dalam keadaan hamil. Trus suntik deeh, lengan kiri dan kanan untuk vaksin meningitis dan influenza. Biaya seluruhnya saat ini (2016 akhir-2017 awal) sebesar Rp 750,000.

Khusus untuk wanita yang masih dalam kondisi subur, disarankan juga untuk minum pil Primolut, yaitu pil penahan menstruasi selama umroh (abis sayang banget dong 9 hari di sana trus kena siklus menstruasi yang bisa seminggu…duh jangan sampai deh). Pil ini nih yang sejak awal Januari aku minum setiap hari 2 butir sampai selesai umroh. Tenang, pil ini nggak akan mengganggu hormon kok, cuma menunda siklus menstruasi sehingga saat kita selesai umroh, lepas dari pil tsb, menstruasi kita akan lebih ‘deras’ dari biasanya. Kayak ditabung gitu deh. Pil Primolut ini dijual di apotek besar kok, harganya cukup pricey sih, Rp6,500-Rp8,000 per butirnya. Nah dikali tuh berapa hari pemakaian :’)

img_2828

Keesokan harinya, tanggal 25 Desember 2016, aku dan Mama melaksanakan manasik umroh di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Tanggal keberangkatan kami, alhamdulillah, sudah keluar yaitu insya Allah 1 Februari 2017. Wayoooo tinggal berapa hari lagi tuh? Deg-degan? Banget. Tapi tetap saja, sampai sekarang aku masih merasa serba ‘kurang’ dalam mempersiapkan diri untuk umroh. Terutama dari sisi spiritual.

Seperti manasik umroh biasa, kami dibimbing oleh travel kami dalam mengerjakan ibadah umroh. Rangkaian ibadah umroh sendiri sebenarnya mirip haji kecuali wukuf di Padang Arafah dan melempar jumrah. Banyak pengetahuan baru tentang umroh yang kudapat dari manasik ini seperti:

Darimana start tawaf mengelilingi Ka’bah? Dari hajar aswad. Jalan dari hajar aswad hingga kembali ke hajar aswad dihitung satu putaran.

Lari dari Bukit Safa dan Marwah itu sebanyak 7x hitungannya gimana ya? Ternyata Safa ke Marwah dihitung sekali, Marwah ke Safa dihitung sekali. Jadi rangkaian sa’i ini pasti akan berakhir di Bukit Marwah.

Tahalul buat cewek tuh gimana sih? Cukup memasukkan tangan ke dalam kerudung, gunting 3 helai rambut. FYI, gak boleh mentahalul orang jika diri sendiri belum tahalul. Sama seperti gak boleh mengumrohkan orang (misal mengumrohkan orang tua /saudara yang telah tiada jika diri sendiri belum selesai umroh)

Jika diurutkan, rangkaian ibadah umroh begini:

-Niat, kemudian berihram. Ini dari sejak Kota Madinah.

-Sampai di Masjidil Haram, mulai tawaf mengelilingi Ka’bah

-Selesai 7x tawaf, disunnah shalat di belakang Hijr Ismail, disunnahkan juga mencicipi air zam-zam

-Sa’i

-Ditutup dengan tahalul atau menggunting rambut.

Jadi umroh itu memang hanya sehari, sisanya adalah memperbanyak ibadah. Kalau di itinerary travelku sih (dari 2 hari perjalanan & city tour+3 hari di Madinah+4 hari di Mekkah), umroh wajib sehari, umroh sunnah sehari (nah disini bisa nih untuk mengumrohkan orang lain), sisanya (2 hari di Mekkah) bisa digunakan untuk memperbanyak ibadah sendiri di Masjidil Haram. seperti shalat wajib, sunnah, mengaji, berdoa, mencium hajar aswad, menyentuh Ka’bah, dsb. Menurut teman kerjaku yang sudah pernah umroh, waktu-waktu lengang di MAsjidil Haram itu sekitar waktu dhuha, nah disitu bisa digunakan tuh untuk mencium hajar aswad dan menyentuh Ka’bah.

Di atas itu semua, sebagai catatan untuk pribadi, jangan terlalu lebay. Lebay disini bukan saja sering selfie atau dikit-dikit ambil video, tapi jangan terlalu lebay juga berdoa menadahkan tangan di depan Ka’bah karena akan diingatkan oleh askar (polisi yang berjaga) bahwa berdoa itu kepada Allah, bukan kepada Ka’bah.

Bagiku pribadi, sekali manasik aja nggak cukup untuk benar-benar paham. Jadi perbanyaklah mencari informasi tentang ibadah umroh. Ingat, ini kata ustad pembina manasik yang sangat kena dengan hatiku: ibadah umroh bukanlah ibadah main-main. Bukan sekedar travelling dan kesempatan belanja. Ibadah umroh harus ikhlas, dari sejak sebelum berangkat, dan harus mengubah diri kita setelahnya menjadi lebih baik. Mengutip kata-kata Ustadz Bachtiar Natsir: jangan sampai ke Baitullah, tapi tak jumpa Allah. Rugiiiii 😦

Sebagai referensi bagi pembaca yang juga akan menunaikan umroh, bisa banget nih nonton kedua video di bawah ini.

Labaikallahummalabaik…labaikala syarikalaka labbaik…innal hamda, wa ni’mata laka wa mulka, la syarikalaka…

Semangat! 🙂

 

The Amazing Museum Angkut dan Taman Bunga Selecta

Hari ketiga sekaligus hari terakhir gue dan Ween travelling di Malang. Cuma 3 hari, tapi kayak udah banyaaak banget tempat dikunjungi. Hehehe
Pagi pagi abis subuh, kami sudah siap siap. Kalau kemarin kita pakai outfit ‘seadanya’, kali ini kita pakai outfit yang rada gayaan dikit…ootd (alias outfit of the day) ceritanya. Masih dengan motor sewaan, gue dan Ween cusss ke tujuan pertama kami, Taman Bunga Selecta. Lokasinya sekitar setengah jam dari homestay kami dan surprised, Senin pagi sama sekali gak macet lho (yaiyalaaa lu kira Jakarta). Kayaknya Selecta ini letaknya di daerah Batu yang agak ke atas, dan saat kami kesana, cuaca mendung mendung syahdu sambil sesekali gerimis semriwing gitu. Tiket masuk Selecta 25 ribu saja, dengan parkir motor 5 ribu. Pas kita lagi di Selecta, banyak rombongan sekolah lagi karyawisata juga. Duh berasa jadi dedek dedek lagi deeeh. Hahaha.

Menurut gue Taman Bunga Selecta indah sih, tapiiii not so special hehehe. Cuma bunga bunga gitu aja dan kebanyakan ornamen hati nya. Bikin miris yang jomblo aja hahaha. Tapi beneran deh, masih jauh lebih istimewa taman bunga matahari yang di Puncak dengan ornamen dinosaurus, labirin, dan sebagainya. Mungkin satu satunya yang keren disini adalah skyride nya yang gue dan Ween gak naikin karena pertama, males bayar lagi. Dan kedua, betis udah gede boook, gak sanggup deh ngendarain sepeda lagi (iyes, sepeda ini jalannya pakai tenaga kita,bukan mesin).

image109

olof30701

DCIM100MEDIA

image116
image118

Yaaaudah gitu doang Selecta. Foto foto jadi indah mungkin karena ada gue nya kali ya. Bwahahaha *ketawa setan*. Sekitar jam setengah 11, gue dan Ween menuju Alun Alun Kota Batu lagi untuk makan siang-yang cukup mengecewakan karena banyak penjual makanan masih tutup dan akhirnya makan di Pujasera dengan penjual yang galak abis-kemudian ke destinasi terakhir kami: Museum Angkuuuuut 😀

Museum Angkut

Museum Angkut terletak gak jauh dari Alun Alun Kota Batu, gak jauh juga dari homestay kita. Ya pokoknya semua ditempuh menggunakan Gmaps deh. Hehehe. Jam bukanya pukul 12.00 siang sampai 20.00 malam. Tiket masuknya sendiri memang agak pricey untuk ukuran museum, yautu 60ribu weekday dan 100rb saat weekend. Pas gue dan Ween kesana, tanggal 19 Desember 2016 sudah masuk musim liburan alias peak season jadi harganya disamain kayak weekend. Tapi gapapa, karenaaaa…..*take a breath* Museum Angkut was soooo coooooollll!!! Bagi yang belum pernah kesana, siap siap ini rangkaian fotonya spoiler abis dan bikin mupeng.

Pertama tama, kita masuk zona kendaraan tua yang pernah ada di Indonesia dan buatan luar negeri. Yang paling ‘wow’ tentunya adalah mobil dan helikopter kepresidenan milik Presiden Soekarno.

image119

image123image121

 

image125

Dan ternyata gue baru ngeh, kalau mobil jaman dulu ukuran mesinnya gede banget, 4000 cc ke atas. Kata Mas gue yang pecinta otomotif, mesin mobil jaman dulu memang gede karena butuh mesin gede dulu agar jalannya cepet. Tapi efeknya tarikan mobil lebih berat dan bensin jauh lebih boros. Beda dengan mobil jaman sekarang yang gak perlu cc besar untuk bisa jalan kenceng. Agya gue aja cuma 1000cc. Hehehe.

 

nhpl14571

Ada juga mobil yang dipakai racing jaman dulu. Vintage Racing 🙂bywy88771

Dan alat transportasi lainnya…dari yang jadul parah sampai kekinian.
lqqd08251

 

Gak hanya sekedar lihat-lihat, ada juga sarana belajar dan games edukasi seperti menebak suara knalpot, pengetahuan perkembangan transportasi dan dampaknya bagi lingkungan sampai diajak berandai-andai gimana kendaraan masa depan. Btw, ada gambar transportasi masa depan di 2017 tuh…bener gak ya bakal ada flying car? *mikir keras Yang menarik, di sini juga ada Tucuxi,mobil listrik pertama Indonesia yang sayangnya mengalami kecelakaan saat uji coba dikendarai oleh Dahlan Iskan pada 5 Januari 2013. Masih ingat kan beritanya? Sayang banget yah, padahal mobil ini aslinya keren 😦

uwqx76381

qhrg32701

Uang bisa mengangkut kita jalan kemana-mana, bisa juga mengangkut kita ke…pelaminan #eaaa

Naik lift, kita masuk ke area transportasi udara yang lebih keren lagi. Wow, ternyata luas yah museum ini. Di area ini kita bisa memasuki pesawat Boeing (gratis!) untuk berfoto di dalam pesawat sampai di kokpit pilot. Sayangnya ngantre bangeeet, karena keterbatasan waktu, gue dan Ween cukup berfoto-foto di luarnya aja. Di area ini kita bisa juga main mobil-mobilan yang ngelinding, gak jelas sih apa namanya, tapi kayaknya seru. Tapi gue males nyoba karena antre dan bayar lagi. Hehehe.

tkoj44001

Sampai ada miniatur apollo lho.

Bosen lihat alat transportasi mulu? Waaaah jangan salah, Museum Angkut gak cuma sekadar itu. Sesuai namanya sekarang, Museum Angkut juga plus Movie Star, area wisata yang didesain dengan miniatur berbagai tempat di dunia. Dari mulai Broadway, Hollywood, Prancis, Jerman, sampai Buckingham Palace. Kesan gue pas masuk area ini…gak nyangka banget lah di Indonesia, apalagi di sebuah kota kecil Batu yang jauh banget dari ibu kota (bahkan jauh dari ibu kota provinsi Jatim, Surabaya) ada museum sekeren ini. Perlu banget nih untuk dipromosikan sampai keluar negeri. Jadi inget waktu ke Singapore pada September lalu….sekeren apa museum disana juga gak punya beginian. Hehehe. Puas banget, lucu-lucu dan keren. Selfieable banget deh!

Ohya, sebenarnya ada juga area khas Indonesia yang mengambil setting Batavia Tempo Doeloe, dari mulai suasana Stasiun Jakarta Kota sampai Pelabuhan Sunda Kelapa. Kita melewati ini ketika perpindahan antara ruang pamer alat transportasi (asli lupa urutannya, karena luas banget siiih area museum ini). Berikut beberapa fotonya.

gnsa43971

Area mancanegara pertama yang kita masuki adalah Gangster Town, kayaknya sih terinspirasi dari New York masa lampau gitu deh. Spot yang ikonik buat foto-foto tentunya di gerbang Gangster Town, tapi rameee banget, butuh kesabaran buat dapet angle bagus. Area ini juga bersambung dengan Broadway Theater.

qevq50661

xgix05501

Dalam miniatur Broadway Theater ini juga diputarkan film film jadul Hollywood lho.

fizb98231

Habis? Masih buanyaaaak zona zona lain. Biarkan gambar bercerita deh yaaa. Hehehe

Zona Italy

Zona Italy

egjb91581

Zona Paris

xnps11411

Zona Jerman

pkga61571

Zona Inggris. Eh, ada peron di Harry Potter jugaaak.

Kirain setelah zona negara-negara, bakalan kelar…secara kita udah capek juga. Hahaha. Tapi ternyata masih ada dooong yang lebih keren: Buckingham Palace. Heran, kayak gak ada abisnya nih museum. Dan kayaknya setiap sudut museum ini tertata dengan keren. Loooovveeee it!

img_30801

Buckingham Palace ini bukan cuma miniatur dari luar lho, di dalamnya juga masih ada koleksi yang juga lucu. Dari mulai miniatur bus tingkat London sampai Ratu Elizabeth!

Sungkem dulu sama camer

Sungkem sama calon mertua.

img_30821

 

Keluar dari Buckingham Palace, kita pun memasuki zona Las Vegas. Wah apalagi ini? Ternyata isinya miniatur ikon-ikon dunia.

vctw31201

Jalan dikit, ketemu Zona Hollywood. Asli kaki udah pegel-pegel. Untung zona Hollywood ini cuma ‘sekedar’ doang.

Waaaah Om Hulk gede aneeet ya. Si dedek sampe takjub.

Waaaah Om Hulk gede aneeet ya. Si dedek sampe takjub.

DCIM100MEDIA

img_25921

Salah satu kartun kesukaan gue nih: Scooby Doo

Last but not least, pintu keluar yang unik banget berupa gerbong kereta. Bukan sekadar miniatur, gerbong ini lantainya bergoyang goyang lho sehingga pas kita jalan kayak di dalam kereta beneran.

img_26091

Daaaaan…….finallyyyyyy….selesailah sudah kunjungan kita ke Museum Angkut. Gimana? Keren kan? Eh gak keren deng, keren bangeeet. Bagi kalian yang mau kesini, sebaiknya pas low season, karena pas high season museum ini rame buanget, jadi agak sesak gitu. Trus untuk yang bawa kamera, akan kena charge sebesar 30 ribu, dan masuk ke dalam pun air minum akan disita. Kalau haus/lapar, beli di kafe yang ada di dalam. Tenang, harganya nggak bikin kaget kok. Jadi siap-siap untuk mengeluarkan uang lebih ya, terutama kalau kalian tertarik untuk mencoba wahana berbayar di dalam. Tapi worth it banget kok, apalagi buat pecinta otomotif dan ngajak anak-anak jalan pas liburan sekolah. Gue sendiri pingin deh kesini lagi sama….suami dan anak-anak gue nantinya. Hehehe.

Bagi yang belum sempet liburan pas tahun baru kemarin, tenang, banyak long weekend di 2017 ini. Book lah salah satunya untuk ke Museum Angkut ! 🙂

Kota Batu, Aku Padamu

Gue dan Ween berpisah dari rombongan open trip sekitar jam 3 siang di Pusat Oleh Oleh Malang Sananjaya. Dari Gubug Klakah gue udah beli apel dan keripik apel, next gue pengen belanja kue strudel malang. Tapi karena strudel sifatnya hanya tahan 3-4 hari, jadi gue memilih untuk berburu strudel di stasiun pas mau pulang aja.

Anyway, kemana lagi nih gue dan Ween? Goes to Batuuuuu!

Karena bawaan kita banyak, gue dan Ween akhirnya memutuskan menuju Kota Batu dengan Grab Car (memang armadanya masih dikit di kota ini, tapi ada lah satu dua) dengan ongkos cuma 80 ribu.

Gak sampai satu jam, kami sudah sampai di Batu. Meskipun agak jauh, perjalanan Malang-Batu dapat ditempuh maksimal 1 jam (itu pun karena macet sebentar di Malang nya).

Kami menginap di homestay bernama Villa Tahta yang letaknya dekat dengan BNS (Batu Night Spectacular), dengan tarif 180 ribu saja per malam, pesan lewat Traveloka. Homestaynya kayak gimana? Bisa dilihat disini. Rate nya baik di Traveloka maupun Trip Advisor bagus kooo. Yang jelas gue dan Ween cukup puas menginap di homestay ini. Fasilitas sebanding dengan harga lah. Bahkan tergolong bagus dan nyaman. Tapi anehnya, dari kita check in sampai keluar, kita sama sekali gak ketemu tuh sama pemilik atau penjaga homestaynya. Hayooo jangan-jangan…engga deeng, bapak yang punya homestay memang sedang sakit. Pas gue telpon, suaranya lemes banget gitu kayak orang bangun tidur. Gue kira cuma di awal kayak gitu, eh kok pas gue telpon lagi mau sewa motor, masih gitu juga. Baru deh si bapak ngaku lagi sakit jadi gabisa menemui kami.

Untuk keliling Kota Batu gue sarankan sewa motor aja, karena gojek atau ojek online disini tergolong masih jarang. Di homestay Villa Tahta ini sebenernya menyewakan motor juga dengan tarif 75ribu selama 24 jam. Cukup murah kan? Sayangnya pas kami mau sewa, motornya sudah habis disewa. Jadilah kami googling sewa motor terdekat lainnya. Beberapa kali telpon, akhirnya kamu dapat rental motor dengan harga sama, yaitu Midi Rental dengan Pak Bandiono (0812 31389809). Karena Midi Rental ini sama sama di Batu, asiknya bisa dianter langsung ke homestay kami. Fasilitasnya juga lengkap, dengan 2 helm dan jas hujan untuk 2 orang. Syaratnya cukup mudah, hanya dengan bayar di muka dan menyerahkan e-ktp sebagai jaminan.

Jam 5 tepat, gue dan Ween pun cusss ke Alun Alun Kota Batu yang letaknya gak jauh juga dari homestay kami. Thanks to Google Maps, ternyata homestay kami dekat kemana mana!

 

image051

image055

Gue salut banget dengan bagusnya  alun alun ini. Kelihatan banget pemerintah setempat serius menggarap potensi pariwisata kota ini. Taman kota ini bener-bener dimanfaatkan banget oleh warga untuk bersantai, olahraga, hangout, main, pacaran #eh. Dekornya pun bagus, ga nyangka kota kecil bisa kayak gini. Hmm kapan ya Kabupaten Bogor tempat gue tinggal bisa bangun kayak gini?

wmss29661

mtey10651

Di alun alun ini juga ada bianglala yang keren. Tempat duduknya tertutup, jadi gak perlu takut masuk angin. Dari atas bianglala bisa terlihat pemandangan Kota Batu seluruhnya. Pas malam, lampu bianglala akan menyala kerlap kerlip dengan efek dramatis.


image065 image067

image069

image071

Pemandangan dari atas

 

Tau nggak? Tiket masuknya cuma 3 ribu perak! Iya, gue ga salah ketik, cuma 3 ribu! Di pasar malam abal abal aja sekarang gak dapet naik komidi putar 3 ribu. Meski antrean panjang, gue dan Ween menyempatkan diri naik bianglala ini. Yeaaay.

Jalan ke alun alun gak lengkap tanpa mencicipi kuliner setempat. Gue dan Ween beralih ke Pasar Laron, pasar malam yang terletak gak jauh dari alun alun dan mencicipi Pos Ketan yang konon makanan terenak disini dan jajanan yang belum pernah gue coba: sempol. Ini kayak semacam aci (tepung sagu) digulung telur gitu.

image073 image075

image077 image079

 

 

Ketika waktu shalat tiba, pengunjung bisa langsung ke Masjid yang terletak di seberang alun-alun, sebuah masjid besar dan ramai. Lengkap kaaan.

Puas mengeksplor alun alun, gue dan Ween pun beranjak ke destinasi kami berikutnya: Batu Night Spectacular atau biasa disebut BNS. Biarpun badan capek karena paginya habis mendaki bromo, tapi jangan kasih kendor shaaay!

 Batu Night Spectacular

Sebenernya yang kita bener bener pingin lihat di BNS cuma Taman Lampion sih. Makanya gue dan Ween cuma beli tiket masuk aja pas di loket. Untuk weekend, tiket masuk seharga 40 ribu rupiah. Jika hanya beli tiket masuk, maka di tiap wahana kita harus bayar lagi tiket wahana. Untuk ke taman lampion gue membayar lagi tiket seharga 15ribu. Ada juga tiket terusan yang busa digunakan untuk semua wahana seharga 100ribu. Yang jelas jauh lebih murah sih kalau memang niat mau nyobain semua wahana.

image081
image083

image087

BNS ini bisa dibilang ‘dufan’nya Batu lah. Dengan kapasitas yang jauh kecil, tapi yaaa lumayan lah. Dan asli, taman lampion keren banget. Romantis syahdu giduuu deh.

image089
image091

image097image093
image096
image099
image101

image105

image107

Kayaknya ada yang kurang….

Selesai mengeksplor BNS, kami pun memutuskan pulang. Berakhir sudah hari kedua di kota orang. Gue dan Ween pun langsung terlelap tidur, tabung tenaga untuk esok harinya!

 

Bromo yang Tetap Mempesona

Jam setengah 2 dinihari, gue dan Ween udah ‘grabag grubug’ siap siap. Niat hati pingin bangun lebih awal lagi, eh gak taunya alarm gue gak nyala. Iya, bodohnya gue setel alarm bukan jam 1 pagi,malah jam 1 siang. Untung masih kekejar. Gue lapisi badan gue dengan baju tebal, 2 jaket dan celana jeans. Gak lupa sarung tangan dan slayer untuk menutupi wajah. Eh eh, kita mau kemana sih sebenernya?

Bromooooo! 😀 😀

Mungkin bagi sebagian orang udah biasa aja gitu ya ke Bromo.Tapi serius gue dan Ween belum pernah. Semua rombongan kita juga belum pernah sih, makanya excited banget. Hehehe.

Perjalanan dari Gubug Klakah menggunakan jeep terbuka di dini hari itu rasanya….ewwwwww dingin!

Mungkin karena saking semangatnya, gak gitu kerasa tuh dinginnya menembuh jalan berkelok kelok di antara jurang dan hutan. Sekitar jam 3 sampai lah kami di Seruni point. Seruni point merupakan spot untuk melihat sunrise di atas Gunung Bromo. Dari sini juga terlihat Mahameru, puncaknya Gunung Semeru. Untuk mencapai puncak Seruni Point perlu berjalan kaki menanjak sekitar 1 km. Bagi yang gak kuat, bisa menggunakan jasa naik kuda yang tersedia dengan bayaran berkisar 50-100 ribu. Jam 4,memasuki waktu shalat Subuh, kita sudah sampai di puncak Seruni point. Selesai shalat, gue dan Ween pun langsung asik foto foto menangkap keindahan sunrise.

image021

img_1654

 

Sayang sunrise gak gitu kelihatan karena tertutup awan. Maklum udah masuk bulan Desember. Segini masih mending cuaca cerah karena beberapa hari lalu terus terusan hujan.

Turun dari Seruni Point cepet banget, bahkan mungkin bisa lari. Mengingatkan gue debgan pengalaman mendaki Gunung Ijen pada bulan Mei lalu. Di sekitar jalan berbaris pemandangan bukit bukit yang indah.

image023

Di bawah Seruni Point dengan gampang kita temui warung dan penjual makanan. Karena gue terbiasa sarapan pagi banget, langsung lah gue serbu bakso malang yang mangkal disitu dan ajaibnya…enak banget!

Gak lama, kita pun naik jeep lagi menuju destinasi sebenarnya: Bromo. Kali ini posisi gue di jeep lebih seru lagi, benar benar duduk di atas jeep. Sepanjang jalan menuju Bromo!

Gile bener, kayaknya dari kemarin gue dan Ween serasa lagi syuting MTMA aja deh. Hahaha.

image025

Berasa syuting MTMA. Hahaha. Anak perempuan kok begini amaaat😅

A post shared by Sarah Annisa (@sarahannisa79) on

Sampai Bromo, pendakian dimulai. Eits, foto foto duluuu. Hehehe

img_1664image028

image030

 

Pendakian Gunung Bromo bisa dibilang nggak terlalu berat karena sudah tersedia jalur yang landai dan tangga untuk naik ke kawah. Bahkan untuk mencapai tangga kawah bisa ditempuh dengan kuda sewaan seharga 100-150ribu. Di sepanjang jalan menuju tangga yang ke kawah, kita melalui celah-celah tempat lahat mengalir. Terlihat jelas bekas lahar yang hitam mengering. Kawah ya, bukan hati yang mengering hahaha.

image037
image034

image039

image032

 

Hup! *serasa loncat* Sampai lah juga gue ke tangga kawah. Berhubung ini weekend, tangga ke kawah rameeee banget. Tua muda semangat banget ngeliat kawah dan begitu sampai kawah….zonk. Belerangnya lagi naik, akibatnya gue terbatuk batuk cantik. Pake masker, pake kacamata hitam buat menangkal pasir masuk ke mata. Nengok ke kawah? Boro boro deh bisa. Selain rame, hawa belerangnya kuat banget. Akhirnya ga ada tuh 10 menit gue di atas situ. Mau foto juga susah cyiiin.

image043 image041

 

Turunnya jelas lebih cepat. Selesai? Beluuum. Masih ada lagi nih yang gak kalah indah: perbukitan Teletubbies.

Yup, dinamakan Teletubbies karena yaaa mirip bukit teletubbies. Itu lho, bukit dimana matahari bayinya terbit. Gak tau teletubbies? Hmm, saya ikut prihatin. :’)

Asli ya ini perbukitan baguuussss banget. Gue serasa di alam lain, eh serasa dimanaaaa gitu. Mirip setting Lord of The Ring, mirip setting Kuch Kuch Hota Hai juga pas mereka nyanyi dan lari lari di soundtrack utama Kuch Kuch Hota Hai…hehehe.

img_1763

img_1760

image049
img_1753Sekitar pukul setengah 11, kami semua pun kembali ke homestay.

Oh ya, sebelum sampai homestay kami sempat mampir ke wisata agro apel. Wisata agro apel ini semacam Taman Buah Mekarsari gitu deh. Kita petik sendiri apel yang mau kita beli. Bedanya, disini kita bisa makan apel sepuasnya. Rugi nggak tuh? Ya enggaklah..wong di Desa Gubug Klakah ini setiap rumah ada pohon apelnya. Gak abis abis deh. Dari yang tadinya ngerasa enak, sampe enek gue makan apel mulu. Hehe. Tapi oleh oleh apel wajib nih kalo ke Malang karena apelnya memang beda. Bentuknya kecil, warnanya dominan hijau, rasanya asem campur manis. Seger deh. Harga per kilo nya di Gubug Klakah ini adalah 20 ribu, tapi dengan jurus silat lidah orang sales, gue bisa dapet 3 kg dengan 50 ribu. Hoho.

Sepulang dari Agro Apel, kami pun mandi, packing dan bersiap untuk… pulang 😦

Eits, petualangan gue dan Ween belum berakhir sampai disini. To be continued…ke post berikutnya 😀

Menyapa Malang dan Asyiknya Memacu Adrenalin di River Tubing Sungai Amprong

Hai hai haiiiii

Lama gak menyapa blog ini, rasanya pingin ‘memuntahkan’ semua cerita. Hehehe.

Bulan Desember identik dengan liburan. Apalagi di penghujung tahun gini. Yup, gue pingin cerita nih tentang liburan gue di pertengahan Desember kemarin, tepatnya tanggal 16-20 Desember 2016 (ambil cuti 2,5 hari cyiin). Ngeselin yee, sekalinya cerita eh tentang liburan. Hahaha.
Liburan kali ini gue habiskan bersama sohib gue sejak kuliah, Ween namanya, sekitar  3 hari (5 hari dengan perjalanan) ke Bromo, Sungai Amprong, dan Kota Wisata Batu. Untuk trip ke Bromo dan Sungai Amprong gue bergabung dengan open trip Rani Journey sedangkan sisanya (kota Batu) adalah perjalanan gue bersama Ween sendiri.

Day 1/2-Day 1

Jumat siang, 16 Des 2016 gue dan Ween namanya, sudah mendarat dengan cantik (apasih) di Stasiun Pasar Senen. Sekitar jam 15.15, KA Matarmaja yang kami tumpangi berangkat. Wah, sepanjang jalan berkesan deh. Kebetulan kami dapat duduk di antara dua macam geng yang selalu rame di kereta: geng anak gunung dan geng nenek nenek piknik. Berawal dari tukaran tempat duduk, jadilah gue, Ween dan kedua geng itu terlibat kebersamaan yang hangat sepanjang perjalanan. Ngobrol, bercanda, dan tentunya saling berbagi makanan. Sooo Indonesia 😀

img_1491

Sayangnya Geng Anak Gunung udah turun duluan di Solo Brebes karena mau naik Lawu. Gue dan Ween sempat tukaran nomor hp nih sama Geng Nenek Piknik ini.

Kami sampai tepat waktu di Stasiun Malang sekitar jam 8 pagi dengan lancar meskipun sempat mati genset (ac dan lampu mati huhu) di tengah malam. Di stasiun ini kita sudah dijemput oleh guide dari Rani Journey, Mas Mukhsin dan Mas Iqbal. Peserta open trip lainnya yan bersama kami adalah satu keluarga asal Cengkareng dan 2 orang cewek temanan kayak kami asal Sumedang. Sebagai pemanasan, kami berfoto foto dulu di Alun Alun Balai Kota Malang.
lohm27331

Hanya sekitar 30 menit di alun alun, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Wisata selanjutnya adalah mampir ke Candi Jago, sayangnya gak ada guide yang bisa memberikan penjelasan tentang candi yang terletak di tengah tengah rumah penduduk ini. Alhasil kami hanya asik selfie-selfie aja disini.

image007

 

mywa71771

Matahari makin naik, perut mulai terasa lapar. Rombongan kami pun mampir lagi ke rumah makan Pecel Pincuk Madiun yang terletak di jalan menuju Desa Gubug Klakah, homestay kami berada. Asli disini makanannya murah murah bangeeet, enak pula.

Sedikit info tentang Desa Gubug Klakah. Desa Gubug Klakah adalah sebuah kecamatan yang terletak di jalan menuju Bromo dan Semeru. Penduduk desa ini sedang mengembangkan potensi pariwisata desa mereka. Karena letaknya dekat dengan Bromo dan Semeru, di desa ini banyak rumah penduduk yang disediakan untuk wisatawan dan pendaki. Tapi gak cuma itu aja. Ada wisata agro apel, coban, dan yang gue coba dan menurut gue wajib dicoba pas kesini adalah: River Tubing Sungai Amprong. Lebih lengkapnya tentang desa inj cek aja @desawisatagubugklakah

Menjelang zuhur kami tiba di homestay, ehhh disambut makan siang lagi.Open trip ini memang sudah termasuk makan 3x di homestay. Kami diberikan waktu sampai jam 2 siang untuk mandi dan istirahat. Lho memang jam 2 kemana lagi? Jalan lagi dooong. Seperti yang gue bilang sebelumnya, kita akan jalan ke Sungai Amprong untuk merasakan sensasi river tubing.

Apa itu river tubing? River Tubing adalah aktivitas memacu adrenalin, bertualang di sungai dengan ban. Satu orang satu ban. Cukup duduk aja di ban, dan biarkan arus sungai membawa dan mengayun ayun kita. Trus selama di ban kita ngapain dong? Jaga keseimbangan sambil teriak teriak karena sport jantung. Hahaha.

Siaaaap 86!

Sebelum ‘terjun’, kami dibriefing dulu panduan keselamatan. Asli, gue agak mengkeret juga dengan briefing gak boleh gak boleh itu. Tapi yaaa mau gimana lagi. Cuss lah! YOLO hehehe

Untuk melakukan river tubing, kami harus jalan dulu cukup jauh ke hulu lintasan river tubing sambil bawa ban. Ugh, berat, hitung hitung pemanasan lah. Daaan mulailah kita beriver tubing!!! Foto aja gak cukup, ini videonya yeaaay.

Tau gak, tiap kali ban gue jalan dengan arah membelakangi arus, gue selalu deg degan khawatir nabrak batu. Dan ini durasi river tubing nya sekitar 1 jam lho. Tapi sumpah seru! Bikin ketagihan! Aaaah asiiiik! Recomended! 😀 😀

ftgp14561
Sekitar jam 3 siang, kita pun cabut dari area river tubing. Ohiya, untuk menuju lokasi river tubing Ledok Amprong ini kita pulang pergi menggunakan jeep lho, karena memang medan jalannya sulit dilalui mobil biasa. Asli itu pertama kali gue naik jeep bak terbuka.

Selesai river tubing, gak ada agenda lain yang kami lakukan kecuali istirahat, tabung tenaga untuk petualangan esok hari!