Kota Batu, Aku Padamu

Gue dan Ween berpisah dari rombongan open trip sekitar jam 3 siang di Pusat Oleh Oleh Malang Sananjaya. Dari Gubug Klakah gue udah beli apel dan keripik apel, next gue pengen belanja kue strudel malang. Tapi karena strudel sifatnya hanya tahan 3-4 hari, jadi gue memilih untuk berburu strudel di stasiun pas mau pulang aja.

Anyway, kemana lagi nih gue dan Ween? Goes to Batuuuuu!

Karena bawaan kita banyak, gue dan Ween akhirnya memutuskan menuju Kota Batu dengan Grab Car (memang armadanya masih dikit di kota ini, tapi ada lah satu dua) dengan ongkos cuma 80 ribu.

Gak sampai satu jam, kami sudah sampai di Batu. Meskipun agak jauh, perjalanan Malang-Batu dapat ditempuh maksimal 1 jam (itu pun karena macet sebentar di Malang nya).

Kami menginap di homestay bernama Villa Tahta yang letaknya dekat dengan BNS (Batu Night Spectacular), dengan tarif 180 ribu saja per malam, pesan lewat Traveloka. Homestaynya kayak gimana? Bisa dilihat disini. Rate nya baik di Traveloka maupun Trip Advisor bagus kooo. Yang jelas gue dan Ween cukup puas menginap di homestay ini. Fasilitas sebanding dengan harga lah. Bahkan tergolong bagus dan nyaman. Tapi anehnya, dari kita check in sampai keluar, kita sama sekali gak ketemu tuh sama pemilik atau penjaga homestaynya. Hayooo jangan-jangan…engga deeng, bapak yang punya homestay memang sedang sakit. Pas gue telpon, suaranya lemes banget gitu kayak orang bangun tidur. Gue kira cuma di awal kayak gitu, eh kok pas gue telpon lagi mau sewa motor, masih gitu juga. Baru deh si bapak ngaku lagi sakit jadi gabisa menemui kami.

Untuk keliling Kota Batu gue sarankan sewa motor aja, karena gojek atau ojek online disini tergolong masih jarang. Di homestay Villa Tahta ini sebenernya menyewakan motor juga dengan tarif 75ribu selama 24 jam. Cukup murah kan? Sayangnya pas kami mau sewa, motornya sudah habis disewa. Jadilah kami googling sewa motor terdekat lainnya. Beberapa kali telpon, akhirnya kamu dapat rental motor dengan harga sama, yaitu Midi Rental dengan Pak Bandiono (0812 31389809). Karena Midi Rental ini sama sama di Batu, asiknya bisa dianter langsung ke homestay kami. Fasilitasnya juga lengkap, dengan 2 helm dan jas hujan untuk 2 orang. Syaratnya cukup mudah, hanya dengan bayar di muka dan menyerahkan e-ktp sebagai jaminan.

Jam 5 tepat, gue dan Ween pun cusss ke Alun Alun Kota Batu yang letaknya gak jauh juga dari homestay kami. Thanks to Google Maps, ternyata homestay kami dekat kemana mana!

 

image051

image055

Gue salut banget dengan bagusnya  alun alun ini. Kelihatan banget pemerintah setempat serius menggarap potensi pariwisata kota ini. Taman kota ini bener-bener dimanfaatkan banget oleh warga untuk bersantai, olahraga, hangout, main, pacaran #eh. Dekornya pun bagus, ga nyangka kota kecil bisa kayak gini. Hmm kapan ya Kabupaten Bogor tempat gue tinggal bisa bangun kayak gini?

wmss29661

mtey10651

Di alun alun ini juga ada bianglala yang keren. Tempat duduknya tertutup, jadi gak perlu takut masuk angin. Dari atas bianglala bisa terlihat pemandangan Kota Batu seluruhnya. Pas malam, lampu bianglala akan menyala kerlap kerlip dengan efek dramatis.


image065 image067

image069

image071

Pemandangan dari atas

 

Tau nggak? Tiket masuknya cuma 3 ribu perak! Iya, gue ga salah ketik, cuma 3 ribu! Di pasar malam abal abal aja sekarang gak dapet naik komidi putar 3 ribu. Meski antrean panjang, gue dan Ween menyempatkan diri naik bianglala ini. Yeaaay.

Jalan ke alun alun gak lengkap tanpa mencicipi kuliner setempat. Gue dan Ween beralih ke Pasar Laron, pasar malam yang terletak gak jauh dari alun alun dan mencicipi Pos Ketan yang konon makanan terenak disini dan jajanan yang belum pernah gue coba: sempol. Ini kayak semacam aci (tepung sagu) digulung telur gitu.

image073 image075

image077 image079

 

 

Ketika waktu shalat tiba, pengunjung bisa langsung ke Masjid yang terletak di seberang alun-alun, sebuah masjid besar dan ramai. Lengkap kaaan.

Puas mengeksplor alun alun, gue dan Ween pun beranjak ke destinasi kami berikutnya: Batu Night Spectacular atau biasa disebut BNS. Biarpun badan capek karena paginya habis mendaki bromo, tapi jangan kasih kendor shaaay!

 Batu Night Spectacular

Sebenernya yang kita bener bener pingin lihat di BNS cuma Taman Lampion sih. Makanya gue dan Ween cuma beli tiket masuk aja pas di loket. Untuk weekend, tiket masuk seharga 40 ribu rupiah. Jika hanya beli tiket masuk, maka di tiap wahana kita harus bayar lagi tiket wahana. Untuk ke taman lampion gue membayar lagi tiket seharga 15ribu. Ada juga tiket terusan yang busa digunakan untuk semua wahana seharga 100ribu. Yang jelas jauh lebih murah sih kalau memang niat mau nyobain semua wahana.

image081
image083

image087

BNS ini bisa dibilang ‘dufan’nya Batu lah. Dengan kapasitas yang jauh kecil, tapi yaaa lumayan lah. Dan asli, taman lampion keren banget. Romantis syahdu giduuu deh.

image089
image091

image097image093
image096
image099
image101

image105

image107

Kayaknya ada yang kurang….

Selesai mengeksplor BNS, kami pun memutuskan pulang. Berakhir sudah hari kedua di kota orang. Gue dan Ween pun langsung terlelap tidur, tabung tenaga untuk esok harinya!

 

Advertisements

Bromo yang Tetap Mempesona

Jam setengah 2 dinihari, gue dan Ween udah ‘grabag grubug’ siap siap. Niat hati pingin bangun lebih awal lagi, eh gak taunya alarm gue gak nyala. Iya, bodohnya gue setel alarm bukan jam 1 pagi,malah jam 1 siang. Untung masih kekejar. Gue lapisi badan gue dengan baju tebal, 2 jaket dan celana jeans. Gak lupa sarung tangan dan slayer untuk menutupi wajah. Eh eh, kita mau kemana sih sebenernya?

Bromooooo! 😀 😀

Mungkin bagi sebagian orang udah biasa aja gitu ya ke Bromo.Tapi serius gue dan Ween belum pernah. Semua rombongan kita juga belum pernah sih, makanya excited banget. Hehehe.

Perjalanan dari Gubug Klakah menggunakan jeep terbuka di dini hari itu rasanya….ewwwwww dingin!

Mungkin karena saking semangatnya, gak gitu kerasa tuh dinginnya menembuh jalan berkelok kelok di antara jurang dan hutan. Sekitar jam 3 sampai lah kami di Seruni point. Seruni point merupakan spot untuk melihat sunrise di atas Gunung Bromo. Dari sini juga terlihat Mahameru, puncaknya Gunung Semeru. Untuk mencapai puncak Seruni Point perlu berjalan kaki menanjak sekitar 1 km. Bagi yang gak kuat, bisa menggunakan jasa naik kuda yang tersedia dengan bayaran berkisar 50-100 ribu. Jam 4,memasuki waktu shalat Subuh, kita sudah sampai di puncak Seruni point. Selesai shalat, gue dan Ween pun langsung asik foto foto menangkap keindahan sunrise.

image021

img_1654

 

Sayang sunrise gak gitu kelihatan karena tertutup awan. Maklum udah masuk bulan Desember. Segini masih mending cuaca cerah karena beberapa hari lalu terus terusan hujan.

Turun dari Seruni Point cepet banget, bahkan mungkin bisa lari. Mengingatkan gue debgan pengalaman mendaki Gunung Ijen pada bulan Mei lalu. Di sekitar jalan berbaris pemandangan bukit bukit yang indah.

image023

Di bawah Seruni Point dengan gampang kita temui warung dan penjual makanan. Karena gue terbiasa sarapan pagi banget, langsung lah gue serbu bakso malang yang mangkal disitu dan ajaibnya…enak banget!

Gak lama, kita pun naik jeep lagi menuju destinasi sebenarnya: Bromo. Kali ini posisi gue di jeep lebih seru lagi, benar benar duduk di atas jeep. Sepanjang jalan menuju Bromo!

Gile bener, kayaknya dari kemarin gue dan Ween serasa lagi syuting MTMA aja deh. Hahaha.

image025

Sampai Bromo, pendakian dimulai. Eits, foto foto duluuu. Hehehe

img_1664image028

image030

 

Pendakian Gunung Bromo bisa dibilang nggak terlalu berat karena sudah tersedia jalur yang landai dan tangga untuk naik ke kawah. Bahkan untuk mencapai tangga kawah bisa ditempuh dengan kuda sewaan seharga 100-150ribu. Di sepanjang jalan menuju tangga yang ke kawah, kita melalui celah-celah tempat lahat mengalir. Terlihat jelas bekas lahar yang hitam mengering. Kawah ya, bukan hati yang mengering hahaha.

image037
image034

image039

image032

 

Hup! *serasa loncat* Sampai lah juga gue ke tangga kawah. Berhubung ini weekend, tangga ke kawah rameeee banget. Tua muda semangat banget ngeliat kawah dan begitu sampai kawah….zonk. Belerangnya lagi naik, akibatnya gue terbatuk batuk cantik. Pake masker, pake kacamata hitam buat menangkal pasir masuk ke mata. Nengok ke kawah? Boro boro deh bisa. Selain rame, hawa belerangnya kuat banget. Akhirnya ga ada tuh 10 menit gue di atas situ. Mau foto juga susah cyiiin.

image043 image041

 

Turunnya jelas lebih cepat. Selesai? Beluuum. Masih ada lagi nih yang gak kalah indah: perbukitan Teletubbies.

Yup, dinamakan Teletubbies karena yaaa mirip bukit teletubbies. Itu lho, bukit dimana matahari bayinya terbit. Gak tau teletubbies? Hmm, saya ikut prihatin. :’)

Asli ya ini perbukitan baguuussss banget. Gue serasa di alam lain, eh serasa dimanaaaa gitu. Mirip setting Lord of The Ring, mirip setting Kuch Kuch Hota Hai juga pas mereka nyanyi dan lari lari di soundtrack utama Kuch Kuch Hota Hai…hehehe.

img_1763

img_1760

image049
img_1753Sekitar pukul setengah 11, kami semua pun kembali ke homestay.

Oh ya, sebelum sampai homestay kami sempat mampir ke wisata agro apel. Wisata agro apel ini semacam Taman Buah Mekarsari gitu deh. Kita petik sendiri apel yang mau kita beli. Bedanya, disini kita bisa makan apel sepuasnya. Rugi nggak tuh? Ya enggaklah..wong di Desa Gubug Klakah ini setiap rumah ada pohon apelnya. Gak abis abis deh. Dari yang tadinya ngerasa enak, sampe enek gue makan apel mulu. Hehe. Tapi oleh oleh apel wajib nih kalo ke Malang karena apelnya memang beda. Bentuknya kecil, warnanya dominan hijau, rasanya asem campur manis. Seger deh. Harga per kilo nya di Gubug Klakah ini adalah 20 ribu, tapi dengan jurus silat lidah orang sales, gue bisa dapet 3 kg dengan 50 ribu. Hoho.

Sepulang dari Agro Apel, kami pun mandi, packing dan bersiap untuk… pulang 😦

Eits, petualangan gue dan Ween belum berakhir sampai disini. To be continued…ke post berikutnya 😀

Menyapa Malang dan Asyiknya Memacu Adrenalin di River Tubing Sungai Amprong

Hai hai haiiiii

Lama gak menyapa blog ini, rasanya pingin ‘memuntahkan’ semua cerita. Hehehe.

Bulan Desember identik dengan liburan. Apalagi di penghujung tahun gini. Yup, gue pingin cerita nih tentang liburan gue di pertengahan Desember kemarin, tepatnya tanggal 16-20 Desember 2016 (ambil cuti 2,5 hari cyiin). Ngeselin yee, sekalinya cerita eh tentang liburan. Hahaha.
Liburan kali ini gue habiskan bersama sohib gue sejak kuliah, Ween namanya, sekitar  3 hari (5 hari dengan perjalanan) ke Bromo, Sungai Amprong, dan Kota Wisata Batu. Untuk trip ke Bromo dan Sungai Amprong gue bergabung dengan open trip Rani Journey sedangkan sisanya (kota Batu) adalah perjalanan gue bersama Ween sendiri.

Day 1/2-Day 1

Jumat siang, 16 Des 2016 gue dan Ween namanya, sudah mendarat dengan cantik (apasih) di Stasiun Pasar Senen. Sekitar jam 15.15, KA Matarmaja yang kami tumpangi berangkat. Wah, sepanjang jalan berkesan deh. Kebetulan kami dapat duduk di antara dua macam geng yang selalu rame di kereta: geng anak gunung dan geng nenek nenek piknik. Berawal dari tukaran tempat duduk, jadilah gue, Ween dan kedua geng itu terlibat kebersamaan yang hangat sepanjang perjalanan. Ngobrol, bercanda, dan tentunya saling berbagi makanan. Sooo Indonesia 😀

img_1491

Sayangnya Geng Anak Gunung udah turun duluan di Solo Brebes karena mau naik Lawu. Gue dan Ween sempat tukaran nomor hp nih sama Geng Nenek Piknik ini.

Kami sampai tepat waktu di Stasiun Malang sekitar jam 8 pagi dengan lancar meskipun sempat mati genset (ac dan lampu mati huhu) di tengah malam. Di stasiun ini kita sudah dijemput oleh guide dari Rani Journey, Mas Mukhsin dan Mas Iqbal. Peserta open trip lainnya yan bersama kami adalah satu keluarga asal Cengkareng dan 2 orang cewek temanan kayak kami asal Sumedang. Sebagai pemanasan, kami berfoto foto dulu di Alun Alun Balai Kota Malang.
lohm27331

Hanya sekitar 30 menit di alun alun, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Wisata selanjutnya adalah mampir ke Candi Jago, sayangnya gak ada guide yang bisa memberikan penjelasan tentang candi yang terletak di tengah tengah rumah penduduk ini. Alhasil kami hanya asik selfie-selfie aja disini.

image007

 

mywa71771

Matahari makin naik, perut mulai terasa lapar. Rombongan kami pun mampir lagi ke rumah makan Pecel Pincuk Madiun yang terletak di jalan menuju Desa Gubug Klakah, homestay kami berada. Asli disini makanannya murah murah bangeeet, enak pula.

Sedikit info tentang Desa Gubug Klakah. Desa Gubug Klakah adalah sebuah kecamatan yang terletak di jalan menuju Bromo dan Semeru. Penduduk desa ini sedang mengembangkan potensi pariwisata desa mereka. Karena letaknya dekat dengan Bromo dan Semeru, di desa ini banyak rumah penduduk yang disediakan untuk wisatawan dan pendaki. Tapi gak cuma itu aja. Ada wisata agro apel, coban, dan yang gue coba dan menurut gue wajib dicoba pas kesini adalah: River Tubing Sungai Amprong. Lebih lengkapnya tentang desa inj cek aja @desawisatagubugklakah

Menjelang zuhur kami tiba di homestay, ehhh disambut makan siang lagi.Open trip ini memang sudah termasuk makan 3x di homestay. Kami diberikan waktu sampai jam 2 siang untuk mandi dan istirahat. Lho memang jam 2 kemana lagi? Jalan lagi dooong. Seperti yang gue bilang sebelumnya, kita akan jalan ke Sungai Amprong untuk merasakan sensasi river tubing.

Apa itu river tubing? River Tubing adalah aktivitas memacu adrenalin, bertualang di sungai dengan ban. Satu orang satu ban. Cukup duduk aja di ban, dan biarkan arus sungai membawa dan mengayun ayun kita. Trus selama di ban kita ngapain dong? Jaga keseimbangan sambil teriak teriak karena sport jantung. Hahaha.

Siaaaap 86!

Sebelum ‘terjun’, kami dibriefing dulu panduan keselamatan. Asli, gue agak mengkeret juga dengan briefing gak boleh gak boleh itu. Tapi yaaa mau gimana lagi. Cuss lah! YOLO hehehe

Untuk melakukan river tubing, kami harus jalan dulu cukup jauh ke hulu lintasan river tubing sambil bawa ban. Ugh, berat, hitung hitung pemanasan lah. Daaan mulailah kita beriver tubing!!! Foto aja gak cukup, ini videonya yeaaay.

Tau gak, tiap kali ban gue jalan dengan arah membelakangi arus, gue selalu deg degan khawatir nabrak batu. Dan ini durasi river tubing nya sekitar 1 jam lho. Tapi sumpah seru! Bikin ketagihan! Aaaah asiiiik! Recomended! 😀 😀

ftgp14561
Sekitar jam 3 siang, kita pun cabut dari area river tubing. Ohiya, untuk menuju lokasi river tubing Ledok Amprong ini kita pulang pergi menggunakan jeep lho, karena memang medan jalannya sulit dilalui mobil biasa. Asli itu pertama kali gue naik jeep bak terbuka.

Selesai river tubing, gak ada agenda lain yang kami lakukan kecuali istirahat, tabung tenaga untuk petualangan esok hari!

 

Asyiknya Nulis Resep di Cookpad

Halo, kali ini gue mau sharing dikit nih pengalaman gue nulis resep di Cookpad. Mungkin sebagian dari kalian udah sering dengar atau mengunjungi situs Cookpad ini ya. Yaiyalah, setiap kali googling suatu resep makanan, resep dari Cookpad pasti nangkring di halaman pencarian pertama.

Jadi, apa sih itu Cookpad? Simplenya adalah situs sosial media yang memberikan wadah untuk user berbagi dan membaca resep masakan secara gratis.  Kontennya dari user untuk user. Dan rameee lho disini. Banyak ‘Bun-Bun’ muda dan kreatif yang eksis disini saling share tentang masakan, chat, komentar, dll.

Sebenernya gue udah  lama tahu Cookpad, sering ngunjungin juga kalau lagi stuck nyari ide untuk eksperimen resep masakan. Tapi selama itu gue hanya jadi silent reader sampai suatu ketika pas nunggu masakan selesai dikukus, gue iseng browsing Cookpad dan…kenapa engga nulis resep gue sendiri juga disini? Bukan ngejar popularitasnya sih (banyak like, comment atau view), cuma supaya resep eksperimen masakan yang pernah gue buat gak terlupakan gitu aja alias terdokumentasi dengan baik. Zaman udah berubah yah, mencatat resep gak lagi dengan nulis di buku tulis sidu kayak nenek gue dulu (sampe  dekil banget tuh buku karena diwariskan ke Nyokap dan sodara-sodara terus gue ikutan pake dan sekarang udah entah kemana :P)

Oh ya, kelebihan lain dari Cookpad adalah interfacenya yang simple membuat kita gak bertele-tele dalam menulis resep (beda dengan ditulis di blog malah crita dan jokes kemana-mana hehe :D). Trus untuk save resep yang mau kita coba gak perlu copas atau screenshot, cukup di-cookmark aja (Plesetan Bookmark. Hehehe). Sejauh ini belum ada seminggu gue coba nulis resep di Cookpad, statistiknya lumayan lah…pamer dulu boleh ya…hihihi.

cookpad2

cookpad1

Kunjungi ya profil gue di Cookpad Sarah Annisa. Sudah ada 3 resep lhooo.

Happy Cooking 😀

#Latepost Pengalaman Menginap di Braja Mustika Hotel & Convention Centre, Kota Bogor

 

Dalam seri kulineran bersama keluarga yang gue tulis di posting sebelumnya, gue dan keluarga menginap di Braja Mustika Hotel & Convention Centre atau yang biasa disebut Hotel Braja Mustika saja. Hotel ini termasuk hotel jadul, tapi masih terawat bagus sampai sekarang. Ngapain nginap di hotel? Ya nggak papa sih…berhubung bonus tahunan gue di kantor udah turun (plus merayakan naik gaji horeee), alhamdulillah…pingin aja ngajak keluarga liburan, ganti suasana, cari udara sejuk, leha-leha, sekali-kali nginep di hotel…hehehe.

hotel-braja-mustika-bogor

Gue tahu hotel ini dari Pegipegi, banyak yang kasih review bagus dan room ratenya sendiri cukup terjangkau. Gue pesan kamar twin deluxe seharga Rp. 525,500 sudah termasuk tax. Hotel Braja Mustika sendiri terletak di Jalan Dr. Semeru, masih termasuk kawasan Perumahan Bogor Golf. Kontur tanahnya berbukit gitu dengan jalan yang agak curam dan dikelilingi pepohonan yang hijau. Sejuk banget gituh.  Oh ya, hotel ini terdiri dari dua gedung, satu gedung hotel dan satu gedung untuk balai. Pas gue kesana, lagi ada acara respsi pernikahan baru selesai digelar. Untuk mencapai lokasi, saran gue: jangan percaya Google Maps. Atau bolehlah elo pakai Gmaps, tapi cukup sampai mengantarkan ke Jalan Dr. Semeru saja. Selanjutnya pas udah sampai Dr. Semeru, aktifkanlah GPS (Gunakan Penduduk Setempat) daripada kesasar masuk gang kecil kayak gue kemaren. Nyebelin :’)

 

Day 1

Kita sampe sekitar jam 13.30,  lalu gue samperin resepsionis dengan membawa confirmation letter dari situs Pegipegi.

“Mohon tunggu sebentar lagi ya Bu, kamarnya masih belum dibersihkan”

“Lho kok belum dibersihkan?”

“Iya, karena penghuni sebelumnya baru saja check out”.

“Kok baru check out?”

“Iya Bu memang baru check out”

“Memang disini waktu check outnya jam berapa? Di website ditulis jam 12, kemarin saya confirm by phone juga jam 12, kenapa sampai jam segini penghuninya belum check out?”

Dan jadilah gue ngomel-ngomel. Gue habis menembus macetnya Puncak dan jalanan kota Bogor (abis makan siang di Cimory), sambil nyetir gue berusaha telpon si resepsionis untuk ngasih tahu kita bakal late check in, sempet nyasar pula, eh…pas sampe malah harus nunggu 1 jam hanya karena urusan tamu lain. Kesel gak tuh? Usut punya usut, banyak kamar dibooking untuk keluarga dan tamu di acara resepsi pernikahan barusan. Belakangan pas gue ngobrol sama satpam besoknya, acara resepsi pernikahan yang digelar adalah anak pejabat apaaa gitu Kota Bogor…atau anak bupati Bogor gitu kalo gak salah. Kesimpulan gue, pantesan lah pihak hotel segan untuk menyuruh tamu-tamu itu check out tepat waktu. Yeeee, gak gitu juga dong, gue juga bayar kaleee disini. Kamar deluxe pula.

Akhirnya jam 3 siang kita baru dapat kamar. Fiuhh gue langsung merebahkan badan. Menurut gue kamarnya sebanding lah ya dengan harga. Semua fasilitasnya berfungsi dengan baik. Kamarnya lega, air panas nya ‘nyala’, ada saluran tv kabel yang tayang dengan jernih, kasur dan bantalnya pun empuk, nikmat lah ya untuk tidur, lemari yang cukup besar, alat-alat mandi juga lengkap serta ada hairdryer. Sebenarnya sih quite OK, hanya masalah check in saja yang annoying.

img_02021

 

img_02001

Rencana tidur siang pupus sudah. Gue isi waktu dengan leha-leha sambil ngemil, nonton World War Z, mandi yang lama dengan berendam di bathub, duduk-duduk bengong di balkon sambil menghirup udara segar. Pelan-pelan otak mulai fresh lagi deh, gak terganggu lagi dengan pembukaan menginap yang annoying.

Malamnya, gue dan keluarga nyari makan malam di Bubur Ayam Kabita yang terletak di daerah Gunungbatu, beli nasi bebek pinggir jalan bentar, lalu balik ke hotel. Sampai di hotel sekitar jam 9 malam dengan kehujanan, lalu gue lanjut nonton film lagi dan akhirnya bobo.

Day 2

Gue bangun sekitar jam 5 kurang, shalat Subuh, lalu siap-siap untuk melihat sunrise dari balkon kamar. Wew…ternyata benar kayak di review Pegipegi bahwa view dari balkon kamar hotel ini bisa langsung melihat Gunung Salak. Kemarin siang pas pertama kali masuk kamar, Gunung Salak gak kelihatan sama sekali. Barulah pas subuh gue bisa melihat gunung ini dengan jelas karena kabut yang menutupinya pudar. Tapi ternyata itu gak lama, sekitar jam 7 pagi,Gunung Salak sudah gak terlihat lagi tertutupi oleh awan.

img_02151

Duh pardon kakinya haha

img_02131

img_02041

img_02141

Puas mengamati sunrise, perut pun mulai berbisik manja, “Kak, laper niiih…”. So, tanpa perlu disuruh dua kali, gue dan keluarga langsung menyeret kaki ke restoran hotel yang terletak dekat lobi. Breakfast sudah termasuk dalam room rate. Model breakfastnya prasmanan, dengan tiga macam menu: appetizer, main course dan dessert. Rasa? Yaaaa so so lah ya. Cukup puas kok.

img_0260

img_0261

Kelar sarapan, waktunya….berenang! Hehehe.

Meski gak jago-jago amat berenang, gue cukup suka berenang. Kolam renang Braja Mustika terletak agak ke bawah melalui jalan menurun  yang dilalui dengan tangga. Sepanjang jalan ke kolam renang, taman-taman tertata dengan apik, cocok untuk bersantai keluarga juga.

img_0226

img_0248

Anda ingin mengecilkan paha? Berlatihlah yoga dengan mountain pose seperti ini.

img_02371

Ini emak gue ya….tolong jangan ditindak yah Pak Satpam…

Ada dua kolam renang: kolam renang anak lengkap dengan perosotan dan kolam renang ‘beneran’ yang memiliki kedalaman 1-2 meter. Secara gue gak bisa ‘ngambang’ jadilah cuma berani main di sekitar kedalaman 1-1,5 meter. Eh tapi gue bisa gaya dada lho…gaya kodok kejepit juga bisa *bela diri. Padahal ada beberapa anak-anak dan ibu-ibu yang ‘jago’ renang di kedalaman 2 meter lho. Hehehe 😛

img_0234

img_0233

img_0275

Gayanya macam atlet Sea Games aja…

img_0263

Kok aku gak bisa ngambang sih…hubungan aja bisa ngambang, kenapa aku engga? #eh

2 jam berenang cukup. Setelah bilas (kamar bilasnya bersih dan bagus kok), ke kamar lagi untuk leha-leha sambil ngemil di balkon, barulah gue turun lagi untuk….main sepedaan! Hehehe. Iya dong, gak mau rugi memanfaatkan banget semua fasilitas hotel.

img_0276

Tempat peminjaman sepeda persis di depan pintu masuk,  gue tinggal bilang aja sama satpamnya sebagai tamu kamar nomor sekian. Dan syuuuut gak berapa lama kemudian gue udah asyik deh meliuk-liuk di halaman hotel yang luas dan sejuk. Karena area hotel berbukit bukit, seru deh pas sepedahan ketemu banyak turunan (juga tanjakan). Perasaan senengnya kayak anak kecil main perosotan air. Hehehe.

img_0308

img_02831

Treknya adem beneeer.

Selesai sepedaan sekitar hampir jam setengah 11, gue masih ada waktu di kamar untuk mandi lagi, packing, dan tiduuuur. Kita check out sekitar jam 1 lewat, bodo, pembalasan karena kemarin late check in.  Hehehe.

Daaaan selesailah sudah short escape gue bersama keluarga di Hotel Braja Mustika Bogor. Overall sebenernya gue nyaman sih nginap di hotel ini. Pelayanan stafnya pun ramah, hanya agak kurang responsif aja gitu. Tapi it doesnt matter, karena suasana hotel ini memang bikin betah. Cuma kebijakan check in nya itu loooh bikin ilfil. Jadi mikir-mikir deh untuk nginep disana lagi. Saran gue jika mau kesini pastikan dengan jelas bahwa kamar kita sudah ready sebelum kita datang.

Okee, happy weekend, Good People! 😀

Bisnis? Hmmm…

2 minggu terakhir, saya cukup sibuk mengurusi kegiatan baru saya yaitu…berbisnis. Sebenarnya bukan kegiatan baru sih, lebih tepatnya kegiatan yang pernah saya lakukan dulu kini dihidupkan kembali. Yup, sejak SMA saya termasuk hobi jualan. Dari mulai jualan burger dan nasi uduk di sekolah, jual binder dan kerudung selama masih di kampus, pernah juga coba-coba jadi sales developer perumahan. Track record saya dalam jualan pun bisa dibilang lumayan bagus, sayangnya kurang istiqomah. Hehehe. Apalagi pas udah kerja kantoran, hampir gak ada waktu (dan males :P) berbisnis lagi. Yeah, tapi seenggaknya karena saya bekerja sebagai sales analyst, so masih berhubungan lah dengan dunia sales.

Berawal dari iseng-iseng mengisi bazaar dalam acara kantor pada minggu lalu, setelah melihat respon yang cukup baik dari orang-orang pada produk saya, saya jadi bergairah kembali untuk berbisnis. Bukan barang produksi sendiri sih, saya masih bermain sebagai reseller, dan memang itu ‘medannya’ saya, hehehe.

Jadi…lagi bisnis apa sih?

Jeng jeng jeng….jualan kejuuuuu!!! 😀

Yup, saya jualan keju, butter dan susu brand Anchor, the best quality milk in the world yang diproduksi langsung dari susu sapi New Zealand. Tahu sendiri dong kualitas susu sapi New Zealand itu kayak apa…di negeri asalnya, brand Anchor ini umurnya udah ratusan tahun lho dan tetap terjaga kualitasnya. FYI, produk keju, butter dan susu Anchor disini biasa digunakan untuk bakery dan resto terkenal macam BreadTalk, Holland Bakery, Tous Les Jours, Pizza Hut, Warung Pasta, dll serta 5 stars hotel. Sekarang, kemewahan rasa patisseries mereka juga bisa kamu bawa ke dapur rumahmu(biasanya wifey and mommy muda nih yang lagi hobinya eksperimen dapur 🙂 ).

Apa aja produk Anchor yang saya jual?

Well, macem-macem…banyak pilihaaan! 😀

img_0668

Gambar di atas adalah produk-produk yang ready stock saat ini. Saya jelaskan yah satu-satu :):

  1. Anchor Cheddar Slice 1.04 kg, isi 84 lembar, keju cheddar lembaran yang dapat dimakan langsung untuk konsumsi sehari-hari. Karena bentuknya lembaran, cocok untuk sandwich dan isian roti. Harga Rp 160,000 sajaaaaaa aawww .
Ini produk paling favorit orang nih

Ini produk paling favorit orang nih

2. Anchor Easy to Grate 2kg, keju balok yang bentuknya masih berupa balok (yaiyalah!) jadi perlu dipotong-potong dulu. Sama seperti Anchor Cheddar Slice, keju ini bisa dimakan langsung dan multi purpose: bisa untuk roti, taburan kue dan brownies (fyi, gak akan gosong lho dipanggang di atas brownies), dan aneka makanan lainnya. Bedanya, keju ini tentu lebih hemat karena dibanderol dengan harga Rp 200,000 per pack. Memang sih harus potong-potong dulu. You choose lah enaknya gimana, hehehe.

img_0624

3. Anchor Cream Cheese 1kg,keju cream yang enaaaaaakkk banget! Cocok untuk membuat cheesecream, cupacakes, isian rainbow cake, tart, dan kue ber-cream lainnya. Harga hanya Rp 135,000 🙂

img_0596

4. Anchor Unsalted Butter 227gr, butter dengan kadar garam yang rendah. Buat kue bisa, roti bisaaa, apa aja deh yang pakai butter bisaaa. Notes untuk bunda nih, sebaiknya gunakan butter yang unsalted untuk makanan anak-anak. Kadar garam yang tinggi sejak kecil selain gak aman untuk anak, juga membentuk eating habit yang buruk lho saat si anak besar nanti. Ujung-ujungnya potensi penyakit deeh. Anchor Unsalted Butter 227 gr ini hanya Rp 35,000 lho, jauh lebih rendah dari harga pasar (di supermarket sendiri sudah Rp 40,000 ke atas).

img_0601

Naaah, segitu dulu review tentang produk-produk Anchor yang saya jual. Ngomong-ngomong, produk impor dari New Zealand gini halal gak sih? Tentunya halal dong kakaaak. Masak iya saya jual produk gak halal. Serem atuh nanti di akhirat sana. Semua produk Anchor sudah tersertifikasi halal oleh badan kehalalan majelis ulama New Zealand. So, don’t worry yaaah  🙂

img_0602

Ohiyaaa, by the way, ‘ngeh’ gak dari tadi pict nya selalu nyantumin nama Frozenak? Frozenak itu apa sih?

Kenalin gak yaaah? Kenalin dooong…hehehe.

Yaudah ngaku deh, Frozenak itu online shop  besutan saya, yang sedang mencoba eksis di Instagram ciyeeeh. Diambil dari kata ‘frozen’ dan ‘enak’, Frozenak fokus menjual produk makanan frozen (bahan olahan yang perlu disimpan dalam freezer) dan rasanya enak-enak. Hehehe. Ke depannya selain produk Anchor, saya juga ingin menjual coklat blok dan kue-kue cantik. Doakan yaaah, dan jangan lupa follow instagramnya @frozenak 🙂

logo

So far,  dalam 5 hari berjalan, sudah ada 3 pembeli produk Anchor di Frozenak nih. Alhamdulillah, very good start. Produk sudah diantarkan, dan lagi nunggu testi dari mereka (akan saya posting di lain waktu yah)

apzm5670
ivmh5467

tbyo54331

Wait…baca gak salah satu isi chat di atas? FREE ONGKIR?  Ciyus? Gak salah tuuuh? Yuuup, bener banget, semua produk yang dijual di Frozenak (kecuali hanya beli butter dan susu) free ongkir  untuk Jabodetabek, berapapun beratnya!!! Yaaah, cuma Jabodetabek aja nih? Ya doain aja yah bisnis saya makin sukses, biar bisa kasih subsidi ongkir ke seluruh Indonesia 😀

Jadi…minat? WhatsApp atau LINE saja ya ke nomor saya di 081280101156 😉

Ayo yang cheese lovers…manjakan lidah dan perutmu dengan keju terenak di dunia. Ayo yang lagi belajar bikin kue untuk membangun kesan di depan camer…pakai bahan yang berkualitas dong supaya kue-mu dapet rating 5 bintang di mata camer. Ayo untuk yang baru aja jadi istri dan masih dalam suasana lope lope…masak gak mau sih pangeranmu memuji masakanmu? Ayo yang single, boleh lah menaikkan kualitas diri dengan pinter masak..gunakan bahan kualitas terbaik biar calon jodohmu kepincut. Eaaaa kompornya panas amat yah Buk! Hehehe

Happy to serve youuuu! Kiss kiss kiss :*

#Latepost 24 Jam Kulineran di Kota Bogor

24 jam kulineran? Makan selama 24 jam gitu? Not literally sih. 24 jam disini artinya seharian, dimulai dari makan siang di hari Sabtu yang cerah sampai makan siang keesokan harinya di Minggu yang gerimis.

Yup, itulah yang gue dan keluarga gue lakukan pada suatu weekend di akhir Oktober lalu. Kemana aja sih? Intip yuk! *halah

#1st Destination: Cimory Riverside, Cisarua, Puncak

Sebenernya restoran dengan bahan baku susu ini udah lama banget ngehitsnya, tapi anehnya baru kali ini gue kunjungi padahal masih di Bogor which is terbilang gak jauh amat lah dari rumah gue. Setahu gue Cimory ini ada 2 tempat, yang baru yaitu Cimory Mountain View ada di dekat Puncak Pass dengan pemandangan gunung.

img_0188

img_0067

Sesuai namanya, Cimory Riverside terletak di sisi sungai dan menawarkan wisata hutan tepi sungai. Sebelum makan gue dan keluarga menyempatkan berkunjung dulu ke Cimory Forest melewati jalan di sisi sungai. Untuk masik ke Cimory Forest ini cukup bayar tiket Rp 10K dan kita akan diberi welcome drink susu soya Cimory. Tangan kita juga akan digelangi dengan stiker Cimory.

img_0184

Ini tangannya nggak ada yang menggenggam? Hahaha

Begitu masuk, jalan tepi sungai merupakan spot menggoda untuk foto-foto.Cekrek cekrek!

img_0081

img_0079

img_0078

Jalan teruuus kita akan menemukan jembatan yang menghubungkan ke Cimory Forest di seberang. Cimory Forest ini cukup sejuk dan terawat. Meski areanya gak luas, tapi setiap sudutnya ditata dengan cukup cantik.

img_0094

img_0100

img_0109

img_0068

img_0316

img_0124

img_0138

Gak hanya hijau-hijauan, di sini juga ada sangkar burung dan kandang sapi. Di kandang sapi ini pengunjung bisa merasakan praktik memerah susu sapi juga lho.

img_0157

Setelah puas keliling-keliling Cimory Forest, kini waktunya makaaaan di bagian restonya. Restoran adalah bagian yang terpisah dari Cimory Forest. Jadi sebenernya kalau mau ke Cimory Forest aja tanpa makan di resto nya juga bisa kok. Kita pesan sosis, pasta, soto mie, dan zuppa soup. FYI menu favorit di sini adalah sosis. Soal rasa? Hmmm rated 8.0 out of 10 mungkin ya. Kalau untuk menu lain selain sosis rasanya just so so ya. Dan untuk zuppa soupnya…hmm, gue agak ribet tuh dengan lapisan roti yang ditaruh di atas permukaan cream soup nya gak nempel dengan mangkuk. Jadi agak berantakan gitu pas menyendoknya, gak kayak zuppa soup yang biasanya.

Harga makanan disini tergolong pricey. Satu porsi seharga Rp 45K ke atas, so siap-siap merogoh kocek lebih deh ya pas makan di sini.

img_0183

img_0177

img_0178

img_0179

Nenek gue pesan soto mie.

img_0169

Ada tempat mainan anak juga.

Sekitar jam setengah 1, kita pun selesai makan dan cabut dari Cimory.

#2nd Destination: Bubur Ayam Kabita, Gunungbatu, Bogor Kota

Bubur Ayam ini terletak di … . Sebenernya gak ada yang spesial sih, cuma bubur biasa yang terkenal enak dan….emang beneran enak 😀 Harganya pun terjangkau banget. Rp. 20 K aja udah bisa makan bubur kenyang lengkap dengan sate.

img_02051

Pas kita makan disini, ada aja tuh motor atau mobil mampir makan disini. Sayang untuk parkir mobil agak susah, pas banget di pinggir jalan raya dan gak ada yang markirin. Oh ya, bubur ayam ini buka 24 jam lho.

#3rd Destination: Bakso Gulung Bragi

Bakso gulung Bragi merupakan bakso yang terkenal kedua di Bogor setelah Bakso Seuseupan. Letaknya juga gak jauh dari Bakso Seuseupan yaitu di Jalan Palayu Raya No. 21, Bogor Utara (pakai waze aja kalo mau nyari). Yang unik di Bakso Gulung Bragi adalah gulungnya yang terbuat dari kulit tahu dan bakso. Jadi bakso yang yang digulung kulit tahu gitu deh. Baksonya ngenyangin, rasanya mantap segar, dan ngangetin di tengah cuaca yang sedang gerimis saat itu. Hehehe.

img_03141

Lihat penampakannya aja udah ngiler yah :9

img_03151

Ada beberapa varian bakso gulung disini kayak bakso gulung telor, bakso gulung urat, bakso gulung daging, dll. Tempat bakso ini selalu rame dikunjungi saat weekend, pas gue kesana di jam makan siang aja nih, beberapa menu udah abis. Jadi mungkin jika ingin kesana usahakan sebelum jam makan siang ya.

Naaah, permisaaah, sampailah kita di penghujung acara wiskul alias wisata kuliner. Hehehe. Kelar sudah ‘hutang diri sendiri’ untuk posting kulineran ini. See you on another weekend culinary adventure ya 😀