Akhir Pekan

Assalamualaikum.

Setelah sekian lama, nama blog ini berubah menjadi Akhir Pekan, bukan lagi Annisarah 🙂 Saya menyadari banyak inspirasi yang muncul di kepala saya ketika akhir pekan tiba. Akhir pekan adalah saat yang selalu saya tunggu tunggu, bukan karena saya benci bekerja pada weekday ya. Tapi lebih karena di akhir pekan lah saya bisa lebih leluasa berkumpul dengan keluarga,teman teman, menjalankan bisnis yang merupakan hobi saya, bersantai, dan entah kenapa, makan lebih banyak (dan enak-karena wisata kuliner) dari hari biasanya. Hahaha.

Sebenarnya posting ini bukanlah yang pertama sejak terakhir saya bercerita pengalaman umroh. Di bulan Januari 2018, saya sempat membuat membuat posting yang bercerita kemana saja saya selama ‘menghilang’ dari blog ini. Semacam kaleidoskop yang saya rasa kurang bermanfaat untuk dibaca orang lain. Terutama sebagian besar isinya berupa curhat. Jadi, saya memutuskan untuk menghapusnya 🙂

Akhir Pekan selain sebagai nama baru (pertama kali ganti nama sejak saya menulis blog ini di tahun 2013), juga menjadi warna baru bagi blog ini agar isinya lebih bermanfaat, mature dan sebisa mungkin keep on positive vibes.

Selamat membaca.

Cerita Perjalanan Umroh Part 4-Habis: Days in Mecca :)

Di post sebelumnya aku menceritakan tentang pengalamanku untuk pertama kalinya melihat Ka’bah sekaligus menjalankan rukun umroh. Kali ini aku akan bercerita hari hari sisanya di Mekkah yang diisi dengan memperbanyak ibadah saja di Masjidil Haram dan kejadian unik lainnya

Menyentuh Ka’bah

Sepulang umroh, banyak yang bertanya, “Sempat nyium hajar aswad ngga?” . Alhamdulillah…belum sempat..hehehe. Untuk mencium hajar aswad kuakui sangat sulit. Ustadz pembimbing rombonganku sejak awal juga sudah mewanti wanti: jangan memaksakan diri untuk mencium hajar aswad, hukumnya sunnah, jadi tidak perlu sampai ngotot mau menciumnya. Semula aku cukup optimis untuk mencoba mencium hajar aswad, eh ternyata…memang sesulit itu. Hehe. Rameee banget,hingga setiap thawaf pasti tersendat di sudut hajar aswad ini karena orang orang berusaha ke hajar aswad atau multazam (area antara hajar aswad dan pintu Ka’bah,konon sebagai tempat mustajab berdoa).

Kuperhatikan, kebanyakan yang berhasil sampai ke hajar aswad adalah orang orang negro yang tubuhnya besar-besar. Dan mereka ini kalau sudah mencium,eh mau terus terusan lama disitu dan pilih pilih kawannya untuk mencium hajar aswad. Heran juga sih kenapa askarnya gak bertindak. Cerita lainnya adalah dari ibu-ibu serombongan yang sudah pernah haji. Sewaktu ia haji, ketika dia mencoba mendekati hajar aswad, pakaiannya tiba tiba terciprat darah, rupanya dari orang yang berebut ingin mencium hajar aswad, gak tau deh apakah sikut ikutan sampai terluka atau apa. Ada pula, ibu dari rombongan sebelah yang berhasil mencium hajar aswad karena dituntun oleh seorang ibu bertubuh besar asal Indonesia juga. Eh, gak taunya setelah mencium hajar aswad, si ibu dipalak 50 riyal. Gak habis pikir kan? Nah maka dari itu, optimis boleh, dapat sih syukur..engga ya gapapa. 🙂

Meski gak bisa mencium hajar aswad, alhamdulillah, aku bisa menyentuh Ka’bah beberapa kali. Tips nya apa? Ya sabar aja tunggu orang orang gantian menyentuh Ka’bah. Memang sih kadang agak lebay juga sampai meratap ratap gitu ke dinding Ka’bah, tapi ya tungguin aja..toh kita gak lagi buru buru dan gak selamanya mereka bakalan ngejedok disitu hehe (duh bahasanyeee). Dan harus tau diri juga, jangan kelamaan, kasih orang lain lagi. Sisi Ka’bah yang menurutku paling longgar untuk didekati adalah sisi sebelum rukun yamani (yang mana rukun yamani? Nanti kalau umroh juga paham hehe)

Pengalaman pertama bisa menyentuh Ka’bah…luar biasa. Tanpa terasa air mataku menitik karena haru. Ka’bah yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi, di internet, di sajadah…kini aku tak lagi berjarak pada rumah mulia ini. Seakan akan semua keindahan dunia yang pernah kualami seketika lenyap, jauh tertinggal, dan tak ada apa apanya dibandingkan kenikmatan bersandar pada dinding Ka’bah. Alhamdulillah selama di Mekkah aku bisa menyentuh Ka’bah beberapa kali tanpa halangan. Dimudahkan aja gitu tanpa bantuan siapa siapa kecuali Allah Ta’ala. Ya Allah, undang Sarah kesana lagi..memeluk Ka’bah lagi.. 🙂

Pengalaman spiritual

Waduuuh bahasanya udah kayak acara televisi yang klenik klenik gitu ya. Hehehe. Tapi serius, ada yang nanya sama aku gini ,”ada ngga pengalaman spiritual yang ajaib dan aneh gitu disana?”. Aku jawab ,”Nggak ada tuh”. Trus yang nanya malah keheranan. Lho bukannya biasanya ada pengalaman ajaib gitu kayak cerita orang orang? Hehehe. Tapi asli deh, aku memang ga mengalami pengalaman yang aneh aneh. Gak ada tuh cerita kesasar muter muter 3 hari gak bisa keluar dari masjidil haram. Atau ditolong sama siapaaa gitu. Biasa aja, lancar lancar aja alhamdulillah. Memang, banyak yang bilang segala yang kita perbuat dan kita pikirkan biasanya dibalas kontan disana. Maka setiap kali berpikiran buruk atau mulai emosi karena suatu hal buru buru aku istighfar. Ya pokoknya banyak banyakin istighfar ajalah. 

Pernah suatu kali aku shalat, seorang ibu ibu mengambil Quran milik masjid yang sudah kutaruh di atas sajadah. Maksudnya habis shalat aku mau ngaji gitu. Dalam hatiku “yaudah ikhlasin aja deh”. Eh gak berapa lama setelah shalat..tiba tiba ada yang datang memberikanku Quran masjid padahal aku sudah mau bergegas untuk mengambil Quran di rak. Alhamdulillah..hehehe. 

Pengalaman unik lainnya adalah gatal gatal. Kaki tanganku gatal-gatal sejak di Madinah karena cuaca dingin yang kering. Padahal selama hidup aku ga punta alergi apa apa lho. Sesama jamaah lainnya pun banyak yang kulitnya kaget dan gatal gatal. Untuk mengatasinya aku gunakan vaseline petrolatum, bedak salicyl, minyak zaitun…duh ga ada yang tahan lama. Beberapa jam kemudian pasti mulai gatal lagi. Akhirnya aku pun pasrah, kemudian menuruti tausyiah ustadz untuk minum air zam zam sambil berdoa diniatkan untuk kesehatan kita. Aku niatkan doa dalam hati “Ya Allah hilangkanlah gatal gatal di tubuhku”. Doaku tidak terjawab begitu saja. Aku masih terus mengalami gatal gatal di Mekkah sampai kemudian suatu kali aku shalat di masjidil haram, di sebelahku ada seorang ibu ibu Turki yang ramah mengajak ngobrol. Ibu itu cuma bisa sedikit sedikit berbahasa Inggris, sisanya bahasa tubuh yang “iya iya” aja aku mengerti hehehe. 

Pas gatal-gatalku mulai timbul dan aku menggaruk kakiku lagi, ibu itu tiba tiba mengisyaratkan agar aku buka kaos kaki. Kubuka kaos kakiku, eh kakiku dipijat dong dengan lembut. Dia usap-usap gitu. Gak berapa lama, lho, gatal gatalku ilang! Nah lho…padahal si ibu cuma usap usap aja gak pakai minyak/lotion. Dan teruuus sampai pulang aku gak gatal gatal lagi. Gak tahu deh ini beneran karena usapan si ibu atau apa:)

Cerita akan ‘hati-hati sama yang dipikirkan hati’ kembali berlanjut. Suatu ketika aku keluar masjidil haram, aku sempat berpikir, “Ini perasaan yang kesini orang Melayu, orang Arab, India dan sebangsanya aja. Kok ga ada ya bule sama orang yang sipit-sipit”. Eeeeh, berapa detik kemudian tiba-tiba saja dari jauh aku melihat 4 cowok Korea memakai pakaian ihram. Eh asliii, ganteng ganteng Ceu, kayak di drakor-drakor (drakor=drama korea). Keempatnya tinggi-tinggi, gak kayak orang Korea biasa yang umumnya pendek kayak orang kita. Beneran deh kayak artis. Aku serasa melihat sesuatu yang…cliiing…sbenernya sih udah banyak banget ngelihat cowok ganteng di sini yang mukanya Arab semua sampai ada yang mirip Zayn Malik juga…tapi yang ini cita rasa berbeda. Astaghfirullah….mata woy mataaaa. Sayang, 4 cowok Korea itu berlalu begitu saja. Udah khusyuk banget kayaknya mau umroh sampai gak peduli sama sekitar. Senyumnya manis-manis banget padahal. Oppaaaa! ❤ *yee ini mah pengalaman spiritual apaan yak haha

Trus kalau ditanya ada pengalaman spiritual apa selama disana? Yaaa umroh sendiri itu udah pengalaman spiritual kaleee! Hehehe.

Nikmatnya es krim Alasema di Masjidil Haram

Pertama kali pulang shalat zuhur dari masjid, cuaca agak mulai terik seperti di Jakarta. Tanpa sengaja mataku tertarik dengan antrean cukup ramai di suatu toko. Ooo rupanya toko es krim bernama Alasema. Huaaa kayak oase gitu yah nemu eskrim di tengah keringnya cuaca Mekkah. Aku dan Mama pun membeli es krim disitu dan ternyata enyaaaakk. Harganya 10 real kalau ga salah ya (setara Rp35,000, kalau di Indo udah dapet es krim mangkok set yg gede ya. Hehe). Es krim ini ternyata lumayan ngehits juga disini. Buktinya ada beberapa remaja arab yang foto fotoin nih es krim sebelum dimakan ,gak beda lah dari ABG gahul disini..termasuk aku. Hehehe.

Askar oh Askar

Yang menarik perhatin kami lainnya adalah askar askar atau petugas yang menjaga keamanan dan ketertiban masjid. Dari sejak di Masjid Nabawi, askar askar ini terlihat menonjol dalam pengaturan jamaah terutama saat mengantre ke raudhah, masih terngiang suara-suara mereka berbahasa Indonesia dengan logat yang lucu “Dhudhuk Ibu dhudhuk! ” Maksudnya ‘duduk’). Di masjidil haram pun sama, ada askar perempuan yang mengecek tas kita setiap kali kita masuk masjid. Biasanya dengan ramah mereka menyapa, “Assalamualaikum apa kabar Indonesie?”

Kalau di Nabawi masjid perempuan dan laki laki terpisah, tidak demikian di Masjidil Haram. Semuanya campur, hanya shaf solat yang terpisah. Oleh karena itu askar yang bertugas lebih banyak laki laki dan askar perempuan di Mekkah niqab atau cadarnya agak lebih rapat daripada askar perempuan di Madinah. Mungkin karena mereka bekerja bercampur sama askar laki laki juga kali yah. Eh cadar itu bukannya jenis keju ya? Itu cheddaaar woy. Hehehe *maklum pengusaha keju

Nah askar-asar ini paling sering ‘adu bacot’ sama orang Turki. Emang ya, kalau diperhatiin orang Turki ini ‘ngeyel’ dan keras gitu. Kalau muka-muka Melayu mah dibilangin “lewat sana ya” yaudah nurut aja gitu…kalau orang Turki? Disuruh lewat sana, pasti dia debat dulu si askar. ‘Kenapa sih gak boleh lewat sini bla bla’ gitu kali ya translate nya. Hehehe. Padahal yaudah sih…tinggal jalan dikit lewat sana. Sampai si askar pun geleng-geleng kepala sembari ngomong ke arahku ,”Astaghfirullah…Turkish!”.

Gambar terkait

Sumber: Google. Mayan juga nih askar tampangnya haha

Selama jam-jam mau solat, suara-suara askar ini pasti terdengar dimana-mana. Sampe bikin pengang sendiri. Segitu ribetnya mereka ngatur shaf shalat jutaan orang. Ohya, jika ada orang yang tersesat dan gak bisa pulang ke hotel sebenarnya bisa tinggal minta tolong aja ke askar dengan menunjukkan kartu hotel (kalau aku sih dikasih ya), nanti pasti dianterin langsung ke hotel.

Selain askar, ada juga polisi yang bertindak menertibkan PKL. Disini PKL biasanya didominasi oleh imigran, bukan warga negara Arab. Meskipun tampang sangar, tapi menurutku cara mereka mengusir PKL mereka gak sesangar Satpol PP kita lho. Gak ada banting-banting barang dagangan, gak ada bentak-bentak atau tendang-tendang, cuma mengusir secara tegas aja sambil berkali-kali istighfar. Dan biasanya PKL nya melihat polisi dari jarak berapa ratus meter saja udah lari tunggang langgang. Kenceng banget larinya, Ceu.

Joroknya di Arab

WC di Arab itu terkenal jorok? Iyuuuhh itu sudah jadi rahasia umum. Gak cuma sekali lho aku mergokin WC yang ada ‘bom’ nya. Mending kalau cuma gak disiram, ini kadang sampe belepotan dimana-mana. Idiiih. Gak paham sumpah gimana cara mereka gunainnya. Duh kasian banget petugas kebersihan disini. Tapi ya, sebenernya lebih sering jarang petugas kebersihan. Hasil pengamatanku  selama beberapa hari di sana, suspect pelaku-pelaku kejahatan toilet ini adalah: orang India, orang Bangladesh, Pakistan dan sebangsanya, orang Arab dan Turki. Orang Melayu mah relatif bersih-bersih.

Gak cuma toilet, fasilitas umum di Arab minim banget, Ceu. Kalau di post-post kemarin aku cerita tentang bagusnya suasana dan orang-orang Arab, sekarang cerita bagian yang jelek-jeleknya ya. Kayaknya pemerintah Arab cuma sibuk peruasan dan perbaikan dua masjid doang, tapi fasilitas umum bener-bener jelek banget. Rest area di jalan antara Jeddah-Madinah, Madinah-Mekkah duuuuh jelek banget. Toilet kotor, mushala bener-bener seadanya, tempat makan gak jelas…pokoknya jauuuuhhh lebih bagus rest area di tol kita kemana-mana deh.

Sepanjang jalan antar kota, kita bisa lihat banyak area pemukiman kosong tak bertuan yang terbengkalai, kayak kota yang abis ditinggal warganya seperti di film zombie…kota mati gitu. Gak tahu memang dulunya ada pemukiman atau gimana. Aku pun mikir, emang gak bisa ya jalan antara kota-kota yang sering dilalui jamaah haji dan umroh seperti Mekkah, Madinah, Jeddah dibikin rel kereta api, atau MRT kek sekalian biar mobilisasinya lebih cepat, gak perlu pake bus selama 5 jam. Katanya negara kaya? Hehehe. Masih buanyaaak banget gurun kosong yang luasnya berhekatar-hektar di sepanjang jalan itu. Eh gurun bisa gak ya dibikin rel kereta apI? Dulu sih nonton James Bond kayaknya pernah Mas Bond berantem di atas kereta api yang lagi melintas gurun *korban film

Kondisi bandara pun setali tiga uang. Contohnya bandara King Abdul Aziz di Jeddah…kirain mah megah gitu kayak bandara di Abu Dhabi..eh pas liat, kok kecil amat? Kok kotor amat? Kok fasilitasnya gitu amat? Gak kebayang deh pas musim haji gimana bandara ini melayani jutaan jamaah haji…lha wong bandaranya kayak cuma seluas bandara Polonia Medan dulu sebelum jadi bandara Kualanamu. Saran banget deh untuk pemerintah Arab tolong diperbaiki juga fasilitas pendukung kayak gini, bukan cuma area masjid saja (kayak dibaca aja yee saranku hehehe).

Jangan Baper, Ya 😛

Kalau kamu pergi umroh dalam keadaan masih jombo alias belum punya pasangan halal, pasti baper deh liat pasangan suami istri yang kesini dengan anak-anak mereka. Apalagi pas thawaf, ada aja pasangan yang lagi thawaf, si suami menggendong anak mereka di bahunya. Trus thawaf sambil berdoa dan senyum-senyum mesra. Uuuugghh…(dalam hati menjerit “Pengeeeen!”)

Hasil gambar untuk moslem couple romantic masjidil haram

Sumber: Pinterest. Yang model-model begini nih banyak bersileweran…siapa yang gak baper coba 😦

Namanya anak-anak, dimana-mana selalu terlihat lucu dan menggemaskan. Disini dengan mudah kita temui anak-anak lucu, terutama yang matanya belo-belo turunan Arab. Hmm, jadi pengen deeeh umroh bareng si kecil….si kecil sahaaaa? *baper lagi

Atas: Mama asik tilawah, langit-langit masjidil haram yang megah Bawah: anak-anak di masjidil haram yang menggemaskan…eh itu yang lagi selfie menggemaskan juga ngga?hehehe

City Tour Mekkah

Hari ketiga di Mekkah, rombonganku melaskanakan city tour di sekitar Mekkah: Jabal Rahmah, Jabal Nur, Jabal Tsur, Arafah dan Mina. Biasanya para jomblo paling antusias nih ke Jabal Rahmah..hehe. Karena apa? Jabal Rahmah konon diyakini sebagai tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah mereka diturunkan dari surga (jadi diturunkannya itu terpisah, Ceu). Sehingga orang-orang pun sering berdoa meminta jodoh disini. Ustadz pembimbing bercerita, Nabi Adam diturunkan di tanah sekitar India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah (itu mengapa Kota tersebut dinamakan Jeddah, Jeddah=nenek tua). Nah, saling mencari deh tuh mereka berdua dengan mengandalkan intuisi saja. Ya kali pake Google Maps. Hehehe. Sampai akhirnya mereka berdua pin bertemu di Jabal Rahmah ini. Kalau menurut Ustadz, itulah fitrah manusia untuk saling mencintai dan dicintai serta hidup bersama pendamping. Cieee. Dan, sebagaimana Adam yang lokasinya lebih jauh dari titik pertemuan di Jabal Rahmah, menandakan memang sudah kodratnya laki laki effortnya lebih besar daripada perempuan dalam memperjuangkan pernikahan (tuh dengerin, Gan!).

Sampai di Jabal Rahmah, aku sebenernya gak gitu tertarik untuk mendaki bukit Jabal Rahmah atau sampai berusaha menyentuh tugu di atas bukit yang dipercaya adalah titik temu Adam dan Hawa. Selain capek dan panas, yaa…buat apa juga. Hehehe. Banyak lho yang segala menuliskan namanya dan (calon) pasangannya di tugu atau di bebatuan bukit Jabal Rahmah. Padahal sih menurutku jodoh udah ada yang tulis, tuh disana tuuuh…di lauh mahfudz. *sok bijak hehe

Di Jabal Rahmah aku cuma berdoa sebentar, tapi gak naik bukit (doa apa? Ya jodohlaaah hehe) dan kemudian asik foto-foto. Di rombonganku, ada seorang ‘Aki-Aki ‘ yang dipanggil Pak Dadang yang jadi bahan candaan mulu. “Waah, Pak Dadang mau cari jodoooh”. Hahaha.

Kelar dari Jabal Rahmah, kami pun berkunjung ke Jabal Nur dan Jabal Tsur. Jabal Nur adalah bukit dimana terdapat Gua Hira, tempat dimana Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali sedangkan Jabal Tsur adalah tempat Rasul SAW bersembunyi bersama Abu Bakar menghindari kejaran Kaum musyrik Quraisy ketika hendak hijrah ke Madinah. Di kedua tempat ini kami cuma berhenti sebentar dan foto-foto.

Kalau lihat kedua bukit ini, gak kebayang gimana perjuangan Rasul SAW. Terutama Jabal Nur tempat Rasulullah SAW ber-uzlah (merenung) untuk mencari jawaban atas semua kegundahan yang ia rasakan terhadap kehidupan masyarakat di Mekkah yang jauh dari beradab. Hampir setiap hari ke Jabal Nur yang letaknya jauh dari kota Mekkah, trus mendaki bukit tinggi pula. Mungkin bagi orang awam, ngapain sih capek-capek naik bukit untuk merenung? Kenapa nggak asik nyari duit aja dan nikmatin kenyamanan hidup yang ada? Namun seperti itulah karakter seorang nabi/rasul. Seorang rasul tidak akan tinggal diam dengan kenyamanan hidup atau kebobrokan orang-orang di sekitarnya. Trus, kapan dong kita meneladani rasul? #notetomyself

Terakhir, rangkaian city tour kita adalah mengunjungi Padang Arafah, Mina dan Muzdalifah. Tapi disini kami nggak turun, cuma di dalam bus saja. Di Padang Arafah inilah setiap tahun jamaah haji berkumpul disini melaksanakan wukuf. Bayangin yah…jutaan manusia berkumpul disini dan merasakan wukuf di bawah teriknya matahari seperti simulasi kelak ketika manusia dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Di Mina, terdapat ribuan (atau mungkin ratusan ribu) tenda kosong yang nantinya akan diisi oleh jamaah haji sebelum melempar jumrah. Menurut Ustadz pembimbing, puncaknya ibadah haji justru disini: yang benar-benar berat dan melelahkan. Banyak orang tersesat di Mina ini, banyak juga yang jadi jatuh sakit dan berguguran meninggal dunia.  Makanya alangkah menyenangkan sebenarnya jika pergi haji di usia muda di saat masih kuat fisik. Lagi-lagi kupanjatkan doa agar bisa berhaji bersama suamiku kelak dan orang tua, targetku sepuluh tahun lagi. Aamiin.

Tenda-tenda di Mina

Kemudahan yang dirasakan

Alhamdulillah, seluruh rangkaian perjalanan umroh yang kualami bersama Mama, semuanya dimudahkan. Dari mulai pergi sampai kembali ke rumah. Meskipun ketika pergi ada masalah dengan travel (travel kami baru mengeluarkan informasi kepastian berangkat H-3, itu juga harus petektokan dulu sama orang marketingnya), namun hingga akhirnya kami berangkat, alhamdulillah semuanya benar-benar dilancarkan. Salah satu yang paling nikmat adalah kesehatan kami yang terus terjaga. Yang biasanya di tanah air betisku suka mengalami kram saat bangun tidur (biasanya karena kecapekan kerja trus desak-desakkan di kereta), eh disana sama sekali enggak tuh…padahal bolak-baik ke mesjid plus thawaf berkai-kali lumayan banget tuh bikin kaki gempor. Mamaku yang punya asma dingin (maksudnya asmanya sering kumat ketika hawa dingin), alhamdulillah selama disana gak kumat sama sekali menghadapi cuaca dingin yang ekstrem. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan seumur hidup kami, sungguh perjalanan yang indah.

Saat aku akhirnya bisa mengakhiri cerita yang panjang ini, aku terkenang lagi pada jalan-jalan yang kami susuri saat pergi ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sujud-sujud yang meneduhkan di lantai kedua masjid suci tersebut, udara Arab yang terasa berbeda kuhirup…ahh, aku ingin kembai lagi. Suatu saat nanti, kelak kami pasti akan kesana lagi. Insya Allah. Ya Allah, izinkanlah…

Cerita Umroh Part 3: Di Bawah Lindungan Ka’bah

Kami meninggalkan Madinah sekitar pukul 2 siang menggunakan bus menuju kota Mekkah. Kali ini perjalanan kami tidak terlalu ‘ramai’, terasa hening. Hanya terdengar suara Ustadz yang memberikan tausyiah sampai air matanya bercucuran.  Semalam sebelumnya, travel kami mengadakan ta’lim bersama yang berisi pemantapan hati dan ilmu untuk menjalankan ibadah umroh. Apa tujuan kami berumroh? Apa yang menyebabkan kami bisa sampai kesini? Seperti apa diri kami di tanah air sebelum kami sampai disini? Sungguh hatiku tergetar. Mengingat banyaknya dosa yang telah kuperbuat, mengingat masih banyaknya kekuranganku dalam beribadah…mengapa Allah mengundangku untuk berumroh? Mengapa bukan orang lain yang ibadahnya jauh lebih shalih? Apakah hatiku masih tetap terjaga dengan tujuan umroh sebenarnya?

Antara kebahagiaan, haru dan rasa gelisah bercampur aduk di benakku. Tak ada yang kulakukan di bus selain sibuk berdzikir dan beristighfar sembari menatap gunung pasir yang berderet di sepanjang tepi jalan tol yang bus kami lalui. Pasir, gersang, kering…betapa bumi Arab ini tak ada apa-apanya jika tak ada kehadiran dua masjid suci. Dan betapa perjalanan kami ini tak ada apa-apanya jika tak ada rahmat dan kemurahan Allah Ta’ala. Di sepanjang jalan, Ustadz pun beberapa kali kembali mengingatkan rukum umroh yang akan kami lakukan dan pantangan ketika sudah berihram. Sejak awal naik bus kami memang sudah mengenakan pakaian ihram lengkap: yang laki-laki mengenakan dua kain tak berjahit, yang perempuan mengenakan mukena (untuk perempuan yang penting menutup aurat seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, tidak boleh memakai cadar). Meski sudah mengenakan pakaian ihram, seluruh pantangan selama berihram baru akan berlaku ketika kami sudah mengambil miqot di Bir Ali, meniatkan ihram dan disarankan melakukan shalat sunah 2 rakaat ihram. Apa aja pantangannya? Banyak hehehe. Nanti insya Allah jika pembaca berkesempatan pergi umroh, pasti tahu tentang pantangannya. Kepanjangan kalau ditulis disini. Hehehe.

Bir Ali terletak tidak jauh dari Madinah, merupakan tempat mengambil miqot bagi orang yang mau berumroh dari Madinah. Miqot tuh apa sih? Gampangnya adalah tempat memulai ihram, kayak garis start nya umroh. Jadi ketika sudah mengambil miqot di Bir Ali, artinya kami sudah mulai mengerjakan rukun pertama umroh, yaitu ihram. Setelah pake baju ihram, bersuci, masih boleh ke toilet gak? Ya bolehlaaah, perjalanan kan’ masih berjam-jam jauhnya. Begitu selesai buang air, langsung deh wudhu lagi. Tapi yang gak boleh adalah memakai sabun, karena sabun mengandung wewangian sedangkan memakai wewangian adalah pantangan dalam ihram. Termasuk juga pakai tissue basah, mending pakai tissue kering non perfurmed.

phbx02501

Oh ya, Bir Ali itu kayak apa sih? Ya kayak masjid. Hehehe. Masjidnya lumayan luas dan desainnya kental dengan nuansa gurun. Disini kita bertemu dengan banyak rombongan lain yang mengambil miqot. Ada juga yang benar-benar baru mengenakan pakaian umrohnya disini, sehingga di sekitar masjid terdapat pertokoan yang menjual pakaian ihram. Sebenarnya miqot sendiri tidak hanya di Bir Ali. Rasulullah SAW sendiri sudah menetapkan tempat miqot berdasarkan di area mana kita tinggal. Karena kami sudah tinggal di Madinah selama 3 hari, sudah dianggap sebagai penduduk Madinah, sehingga miqotnya dari Bir Ali ini. Googling sendiri ya tentang pengetahuan lebih lanjut mengenai miqot ini 🙂

Selesai melaksanakan shalat 2 rakaat di Bir Ali, kami langsung kembali menuju bus. Persis ketika bus distarter, kami pun melafalkan niat berihram (gak tahu sih kenapa Ustadnya pengen dilafalin pas bus distarter..biar agak dramatis mungkin hehe). Maka detik itu, kami disebut muhrim atau orang yang berihram. Pengertian muhrim ini salah kaprah ya kalau di Indonesia…harusnya orang yang haram dinikahi atau pasangan sah disebutnya mahram, bukan muhrim.

5 jam perjalanan yang melelahkan dari Madinah ke Mekkah. Hingga akhirnya sekitar pukul 8 malam, sampailah juga kami perbatasan masuk kota Mekkah. Merinding rasanya membaca doa masuk kota Mekkah:

“Ya Allah, kota ini adalah tanah haram-Mu dan tempat amanMu, maka hindarkanlah daging, darah, rambut dan kulitku dari neraka..”

Hanya sesaat kami di kamar hotel, cuma sempat untuk buang air kecil dan wudhu, bahkan kami belum bertemu dengan koper bawaan dari Madinah, kami pun langsung turun ke restoran hotel untuk makan malam. Usai makan malam di hotel, kami pun beranjak menuju Masjidil Haram. Bismillah, bergetar jiwa ragaku mendengar lantunan kalimat talbiyah yang kami kumandangkan sepanjang jalan. Belum-belum,mataku sudah berkaca kaca.

“Labaikallalahuma labbaik..labaikkala syarikalaka labbaik..innal hamda wani’mata laka wal mulk..lasyarikalak..”

Aku datang memnuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagiMu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Kami masuk melalui gate 89, persis langsung di luarnya ada Zam Zam Tower,menara jam yang menyaingi Big Ben. Pintu 89,90 dan 91 inilah yang jadi patokanku selama keluar masuk Masjidil Haram.

Semakin mendekati Ka’bah, aku semakin deg degan dan gak sabar. Setelah sekian lama merindu…huhuhu. Ketika rombongan kami menuruni eskalator menuju area Ka’bah (disebutnya Manaf di papan petunjuk arah) melalui gate King Fahd, aku melihat Ka’bah sedikit di antara sela sela tiang proyek pembangunan.

“Ma, itu Ka’bah, Ma!” spontan aku memekik senang.

“Wah mana mana?” Mama ikutan heboh.

Masya Allah..jantungku serasa lompat lompat. Bahagia dan gembira. Sampai akhirnya kami benar benar memasuki area Manaf…terlihat jelaslah di depan mata kami Kabah yang luar biasa indah dan gagah..

“Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada bait (Ka’bah) ini. Dan tambahkan pula pada orang -orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan”

Kulantunkan doa dan takbir dengan air mata berlinang tak terasa. Sungguh perasaan yang luar biasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Keharuan seorang hamba, rasa syukur tak terperi, dan rindu yang meluap dan akhirnya dapat dilepaskan. Ya Allah, memandang Ka’bah-Mu saja sudah sebegini nikmatnya..apalagi memandang Wajah-Mu?

Ketika langkah kaki kami semakin mendekat, berbagai kenangan di muncul di kepalaku seperti flashback. Kenangan perjuangan mengumpulkan dana agar sampai kesini, mimpi yang aku dan ibuku cita citakan sejak aku masih SD,cobaan cobaan yang pernah kami lalui, hingga tiba tiba saja teringat jelas tahajud dan doa doa yang kupanjatkan. Tentu itu semua hanyalah secuil hal yang bisa membawaku sampai kesini sebab semuanya adalah karena rahmat dan rahman-Nya.

img_36911

Foto ini diambil keesokan harinya setelah menunaikan rukun umroh.

Foto ini diambil keesokan harinya sesudah menunaikan rukun umroh.

Kami langsung mengerjakan rukun umroh yang kedua, yaitu Tawaf. Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah 7 putaran, start nya dimulai dari sudut dimana hajar aswad berada. Agar jelas, sudah ada penanda sudut di seberang dekat gate King Abdul Aziz (kalau gak salah) berupa lampu hijau. Dari sudut hajar aswad sampai balik lagi ke sudut tsb dihitung satu putaran dan setiap kali melewati sudut hajar aswad kami melambai pada hajar aswad seraya mengucapkan “Bismillahi Allahuakbar”

hsxh52341

1. Foto rombongan sesudah tuntas menunaikan rukun umroh 2. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah 3. Muka lelah dan bahagia setelah rukun umroh

Selama tawaf, ustadz menyarankan agar kami tidak perlu membaca buku doa yang sudah disediakan travel karena memang panjang panjang doanya, dikhawatirkan konsentrasi kami terganggu antara membaca dan berjalan di tengah kerumunan manusia yang berdesakkan. Cukup ustadz yang membaca, kami mengaminkan dan membaca doa doa pribadi. Aku langsung mengeluarkan secarik kertas yang sudah kutulis doa doaku. Doanya apa? Ada deeh hehe. Panjaaaang doanya, sampai cukup tuh buat 7 kali putaran hehehe. Di antara rukun yamani (sudut sebelum sudut hajar aswad) sampai hajar aswad kami membaca doa kebaikan dunia akhirat (kalau kata orang jaman dulu namanya doa sapujagat, sekali doa langsung disapu semua jagat dunia akhirat. Gitu kali ya maksudnya hehe)

“Rabbana atiina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, wa qina adzabannar”

Tak terasa, tujuh putaran kami lalui. Tawaf pun kami tutup dengan mendirikan shalat sunnah 2 rakaat di belakang maqam ibrahim. Selanjutnya adalah rukun umroh ketiga,yaitu sa’i antara Shafa dan Marwah. Sebelum lanjut ke rukun sa’i, kami menyempatkan minum zam zam dulu untuk memulihkan tenaga.

Sa’i adalah berlari lari kecil (sebenernya sih berjalan juga gak papa) antara Bukit Shafa dan Marwah sebagai bentuk meneladani perjuangan Siti Hajar,istri Nabi Ibrahim AS mencarikan air untuk Ismail putranya. Ketika Siti Hajar berada di bukit Shafa, tiba tiba beliau seperti melihat air di bukit Marwah, eh..rupanya cuma fatamorgana. Kemudian pas di bukit Marwah, Siti Hajar seperti melihat air di bukit Shafa di kejauhan. Capek deeeh. Begitu terus sampai bolak balik 7 kali dan akhirnya air tersebut justru keluar di bekas pijakan kaki Ismail, mengucur deras sampai sekarang berupa air zam zam yang tak ada habisnya dan telah diminum oleh jutaan umat manusia hingga sekarang. Tulisan tentang renungan sa’i pernah kutulis disini.

Bukit Shafa dan Marwah sendiri bentuknya bukan seperti bukit lagi, tapi berupa tanjakan landai. Hanya tersisa replika bukitnya saja.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Jalur sa’i sendiri kini ada 2 lantai kalau gak salah. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali bolak balik, start di Shafa. Shafa ke Marwah dihitung sekali, dari Marwah ke Shafa dihitung sekali, jadi sa’i akan berakhir di bukit Marwah. Setiap kali menaiki ‘bukit’, kami membaca doa sa’i dan setiap melewati pilar hijau (terlihat jelas di area ini dipasangi lampu hijau), kami membaca

“Ya Allah ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah, dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah”

Jujur saja kakiku baru terasa pegalnya ketika sa’i. Padahal pakai jalan kaki aja, sama sekali nggak lari. Waktu thawaf sih nggak kerasa. Oh ya,hati hati ya di sa’i ini banyak yang menjalaninya sambil lari beneran, kuenceng kuenceng pula..biasanya orang Negro atau Turki.  Hati hati keseruduk!

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf 2. menunggu ditahalul

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf
2. menunggu dihalalkan, eh, ditahalulkan hehe

Sa’i selesai, sampailah kami di rukun terakhir yaitu tahalul atau menggunting rambut. Untuk laki laki biasanya dicukur botak, untuk perempuan cukup dipotong 3 helai dari seluruh ujung rambut. Rambut kita ditahalul/dicukur oleh orang yang sudah ditahalul. Jadi estafet gitu. Dari rombongan kami para lelaki minta tolong ditahalul oleh rombongan lain yang sudah tahalul, trus dari salah satu jamaah laki laki nyambung ke perempuan (istrinya), trus nyambung lagi deh kemana mana. Aku sendiri ditahalul oleh seorang ibu ibu yang susah ditahalul suaminya dan aku pun mentahalul ibuku serta beberapa jamaah lain dari Turki.

Alhamdulillah..selesailah sudah semua rukun umroh yang kami lakukan. Durasi pengerjaan dari pukul 9 malam sampai jam 2 pagi. Yaa sekitar 5 jam lah ya. Udah selesai umrohnya? Yaaa sudah! Hehehe. Memang di pikiran orang pada umumnya yang belum berumroh adalah umroh dilakukan berhari hari. Sebenarnya tidak, rukun umroh bisa selesai dalam 5 jam saja. Jadi hanya sehari dua hari pun kita di Saudi Arabia juga sudah bisa berumroh. Tapiii ya masa datang jauh jauh cuma sehari dua hari hehehe. Apalagi berlimpah berkah yang bisa kita dapatkan dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di luar rukun umroh, sisanya adalah memperbanyak ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ibadah lho ya,jangan kebanyakan belanjaaa hehehe.

Sekian dulu, nyambung ke post berikutnya ya..

Bersambung

Cerita Umroh Part 2: Gagahnya Uhud dan Perjuangan di Raudhah

Hari ketiga di Madinah, atau hari Minggu, 5 Februari 2017, adalah jadwalnya romongan travel kami tur ke sekitar kota Madinah yaitu Masjid Qiblatain, Masjid Quba, Kebun Kurma dan Gunung Uhud. Untuk masjid Qiblatain ini kita sekedar lewat aja, nggak turun dari bus. Masjid Qiblatain ini adalah masjid dimana Rasulullah SAW mendapat perintah untuk memindahkan kiblat shalat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Sedangkan di Masjid Quba, rombongan kami singgah sebentar untuk shalat sunnah. Masjid Quba ini merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW saat perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah kemudian singgah di desa bernama Quba. Hingga Rasulullah SAW menetap di Madinah, beliau secara kontinyu mengunjungi masjid ini setiap hari Sabtu untuk shalat baik menggunakan unta ataupun berjalan kaki. Jaraknya dari Masjid Nabawi sih dibilang jauh engga, dibilang dekat ditempuh berjalan kaki juga engga. Saat mengunjungi Masjid Quba, masjid ini sedang ramai-ramainya dengan pengunjung rombongan seperti kami, shalat pun jadi agak susah di shaf wanita.

“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba, kemudian dia mendirikan shalat di sana, maka dia mendapatkan pahala umrah” (HR Ibnu Majah)

Bersama rombongan...cuaca berawan dan berangin, jadi langit gelap gituu.

Bersama rombongan…cuaca berawan dan berangin, jadi langit gelap gituu. Akunya ketutupaaan.

Bersama Mama di Masjid Quba

Bersama Mama di Masjid Quba

Dari Masjid Quba, kami bergerak ke Gunung Uhud, yang letaknya agak keluar sedikit dari kota Madinah. Gunung Uhud merupakan saksi bisu terjadinya Perang Uhud, perang besar antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini adalah wujud balas dendam dari kekalahan kaum musyrikin Quraisy di Perang Badar. Pada perang ini, kaum muslimin semula mendapatkan kemenangan, namun keadaan menjadi berbalik ketika sebagian pasukan kaum muslimin tergiur melihat harta rampasan yang banyak. Bahkan pasukan pemanah yang Rasulullah SAW sudah perintahkan stand by di Jabal Rumat,  mereka malah turun dari posisi mereka dan menghampiri harta rampasan. Kelengahan ini pun terlihat oleh panglima perang Quraisy, Abu Sufyan,  yang kemudian memutar kudanya dan melakukan serangan balik habis-habisan pada kaum muslimin. Pasukan pemanah yang menjadi border pertahanan pertama sebelum kaum Quraisy bisa menyentuh pasukan inti sudah tak ada, maka kaum musyrikin pun leluasa menyerang dari segala arah, bahkan sampai Rasulullah SAW sempat terluka hingga gigi seri patah, pundak tersabet pedang dan memar di wajah. Rasulullah SAW juga sempat dikabarkan meninggal hingga membuat kendur semangat kaum muslimin.  Di peperangan ini, paman Rasulullah SAW bernama Hamzah yang dijuluki Singa Allah karena kepiawaiannya menebas leher pasukan kaum musyrikin pun gugur dengan cara ditombak oleh Wahsyi, seorang budak yang ahli menombak suruhan Hindun, istri Abu Sufyan. Berhasilnya Wahsyi menombak menjadi syarat untuk kemerdekaan budak ini. Sadisnya, Hindun menghampiri mayat Hamzah dan merobek dadanya lalu memakan jantungnya sebagai tuntasnya balas dendam karena di perang sebelumnya kakak dan beberapa keluarganya tewas di tangan Hamzah.

Wah ini cerita perangnya seru banget ya? Ini aku gak sambil googling lho, hahaha. Ciyus, dulu waktu kecil aku dibeliin sama ortu buku komik cerita seri perjuangan Rasulullah SAW. Bukunya tebal, ilustrasinya keren, nah salah satu serinya adalah seri perang ini. Penggambaran di komik itu detil dan seru, makanya membekas banget di ingatan aku sampai sekarang.

Dari atas, kanan, ke kiri: -Pegunungan Uhud, area perang dibangun Masjid, pemukiman dan pasar -Makam para syuhada Uhud -aku dan Mama

Dari atas, kanan, ke kiri:
-Pegunungan Uhud, area perang dibangun Masjid, pemukiman dan pasar
-Makam para syuhada Uhud
-aku dan Mama

Di sekitar situs Uhud ini sih menurut aku berantakan, karena jadi pasar gitu…dan udah banyak banget pemukiman. Yang tersisa hanyalah Jabal Rumat, bukit pasukan pemanah yang juga banyak sampah bertebaran. Menaiki bukit ini, bisa terlihat jelas Gunung Uhud di kejauhan dan foto foto deeeh. Hehehe.

Di sekitar bukit Uhud ini juga terdapat makam para syuhada yang gugur saat peperangan. Gak ada nisan, gak ada tanda, hanya sebuah area berpasir yang dipagari dan ditulisi papan informasi dalam beberapa bahasa yang melarang keras tindakan ziarah makam yang menjurus ke syirik. Aku pikir, orang zaman sekarang udah cerdas lah ya…apalagi  niat berangkat umroh kan harusnya udah mikir ibadah dong…tapi beneran lho ada beberapa orang pengunjung yang ngambil pasir dari Jabal Rumat. Ada beberapa dari Indonesia dan pengunjung dari Bangladesh atau India kali ya. Sekilas aku denger ibu-ibu yang ambil pasir itu berkata “Coba kita bisa ambil pasir di Gunung Uhudnya juga tuh, Berkah”

Astaghfirullah..aku mengelus dada. Apa hubungannya pasir/batu Gunung Uhud dengan berkah?

Kunjungan kedua adalah Kebun Kurma, tempat belanja kurma langsung di kebunnya. Sebenarnya sehari sebelumnya aku udah diwanti-wanti nih sama pedagang kurma di salah satu toko di Madinah, jangan beli kurma di Kebun Kurma, karena lebih mahal (kan ngasih komisi ke travel yang anterin), mending beli di dia aja (lha bisa aja nih hehe). Cara beli di Kebun Kurma ini bisa dicoba sepuasnya, lalu pilih-pilih deh. Aku dan ibuku borong lumayan banyak kurma, coklat dan permen. Eh, tapi kok setelah sampai di hotel kami hitung-hitung beneran masih lebih murah toko di Madinah sekitar 3-5 riyal. Di Mekkah malah lebih murah lagi, contoh kurma coklat di Kebun Kurma 20 riyal sekotak, di Mekkah kurma yang sama 15 riyal. Capek deeeh.

img_3916

Suasana di luar Kebun Kurma

Berikut ini oleh-oleh makanan yang kubawa ke tanah air, sebagian besar beli di Kebun Kurma dan pertokoan Madinah:

-Kurma coklat Al-Ansar. Ini kurma yang dilapisi coklat. Enak banget deh, aku suka banget. Harga di Kebun Kurma satu kotak 20 riyal, eh di Mekkah nemu sekotak 15 riyal. Ada dilapis vanilla caramel kayak di gambar ini, ada juga dilapis coklat almond. Dua duanya enaaak.

img_39241

2. Choco Pearl Kacang + Kurma dilapis Coklat. Harga per kotak 10 riyal. Ini sih udah ga ada bentuk kurmanya lagi (ga ada kacang kurmanya lagi), cuma rasa dan serpih kurmanya masih ada, dicampur kacang, dilapis coklat. Variannya ada kacang almond+kurma, kacang pistachio+kurma, Kacang mede+kurma. Aku beli tiga tiganya. Rasanya lumayan.

Sumber gambar: Google. Variannya ada kacang almond+kurma, kacang pistachio+kurma, Kacang mede+kurma. Aku beli tiga tiganya. Rasanya lumayan.

Sumber gambar: Google. Udah abis barangnya di rumah. Hehehe

3. Coklat kiloan dan permen kiloan. Aku beli di pertokoan sekitar Nabawi lebih murah, 20 riyal sekilo.

eqyz93691

4. Aku nyebutnya coklat batu koral/batu akuarium hahaha. Di Kebun Kurma 20 riyal dengan ukuran lebih sedikit (di gambar ini belinya di Kebun Kurma, merk Chocovia Dragee), di Mekkah dan Jeddah aku dapat 20 riyal dengan ukuran lebih banyak. Ini enaaak, aku seneng banget ngemilin ini pas di rumah.

img_39231

5. Dan tentunya….macam-macam kurma. Yang paling enak, terkenal (dan mahal) adalah jenis kurma Ajwa, yang juga sering disebut kurma Nabi. Dinamakan demikian karena merupakan kurma kesukaan Rasulullah SAW. Di Kebun Kurma kemarin aku beli seharga 60 riyal sekilo, buat konsumsi sendiri aja deeh, sayang kalau buat oleh oleh dikasih ke orang. Hehehe

Sumber gambar: Google

Sumber gambar: Googlee

Setelah tur adalah acara bebas sama seperti kemarin setelah tur. Aku dan Mama berusaha untuk memperbanyak i’tikaf di Masjid Nabawi. Pulang dari masjid yaa belanja belinji…hehehe. Bosan dengan catering hotel, kami juga sempat nyobain kuliner setempat yaitu nasi briyani dengan chicken mandi seharga 18 riyal. Eh yaamplop porsinya…jumbo! Seporsi berdua pun kenyang. Kalau mau beli roti, bisa di Fresh Market dekat Masjid Nabawi. Disini ada roti yang besar-besar seharga 1 riyal dan aneka makanan Indonesia juga bisa ditemui seperti mie instan Indomie, saus Indofood, dan sebagainya.

Malamnya selepas isya, jamaah wanita dari travel kami pun bersiap untuk bareng-bareng ke raudhah (yang aku ceritakan di posting sebelumnya). Dengan dipandu seorang muthawifah, kami pun mengantre berkelompok. Untuk mencapai raudhah, pertama para askar membagi jamaah secara ras. Jadi ras melayu tersendiri, ras Turki dan Arab tersendiri, lalu ras India, Bangladesh, Pakistan dan sebangsanya tersendiri. Bukannya rasis, tapi memang agar lebih nyaman. Perempuan Turki dan Arab kan badannya gede-gede tuh (dan kelihatannya juga lebih agresif), kasihan kan’ perempuan Melayu yang badannya relatif kecil-kecil harus berdesakan bareng mereka. Karena memang untuk masuk raudhah ini berdesakan dan berebut. Proses antre terasa lamaaaa banget. Jalan dikit, terus duduk bersempitan rame-rame, jalan lagi, duduk lagi. Aku sampai terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya kami bisa memasuki teras luar bangunan awal masjid Nabawi sebelum perluasan yang dinaungi payung. Waaah akhirnya lihat payungnya terkembang juga (selama disana payung di pelataran masjid yang kulewati sehari-hari gak dikembangkan, gagal selfie deh..hehehe).

Teras bangunan asal masjid Nabawi

Teras bangunan asal masjid Nabawi

Hingga akhirnya, tibalah giliran rombongan Melayu diperbolehkan masuk. Huaaa langsung heboh deh pada berlarian kayak ngejar apa (padahal raudhah nya gak lari kemana, kayak jodoh haha). Para askar perempuan langsung sibuk menenangkan.

“Sabar Ibu! Sabar!”

Aku langsung teringat kata-kata muthawifah kami selama menunggu, kami ke raudhah melewati makam Rasulullah SAW, hendaknya merendahkan suara karena itulah adab terhadap Rasulullah SAW baik saat beliau hidup maupun saat sudah meninggal. Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, berbeda dengan karpet merah yang melapisi seluruh Masjid Nabawi. Karena berdesakan begitu padat, aku pun nggak sadar sudah agak jauh menginjak karpet hijau. Seorang askar menegur, “Ayo Ibu, shalat, ini sudah di rudhah”

Lho….eh…langsung tangisku pecah. Antara terharu (karena perjuangan masuk ke raudhah ini capek banget) dan bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di salah satu taman surga, tempat mustajabnya doa. Aku menengadahkan tangan, langsung khusyuk berdoa banyak-banyak dengan air mata bercucuran. Beberapa dari rombongan kami bisa shalat, tapi aku nggak mau memaksakan diri, khawatir kepala terinjak karena sedemikian berdesakan. Memang tidak ada ibadah khusus selama di raudhah. Terserah, mau shalat sunnah, tahajud, witir, hajat, istikharah atau sekedar berdoa saja…semuanya bagus. Mungkin hanya sekitar 5 menitan kami di raudhah, rombongan kami pun disuruh keluar dari raudhah. Yup, gak sampai 10 menit! Kebayang kan banyaknya jamaah…antre berjam-jam, tapi gak sampe 10 menit disana. Total proses sampai selesai dari ba’da Isya (disana sekitar jam 20.30 sampai pukul 02.00) kami baru selesai.

Pulang hotel langsung istirahat, menyiapkan energi untuk besok…karena besok adalah hari terakhir kami di Madinah sekaligus hari pertama di Mekkah.

Esoknya, seperti biasa shalat subuh berjamaah di Masjid Nabawi. Aku datang agak telat mepet adzan kedua karena memang masih capek banget habis semalam ke raudhah. Shalat subuh terakhir disini…rasanya sedih gitu. Aku suka banget di Madinah, aku berdoa berkali-kali agar bisa meninggal di sini.Menjelang dhuha, rombongan travel kami melakukan wada’ (perpisahan) dengan masjid Nabawi. Kami shalat dhuha, keliling pelataran masjid, eh..terus Ustadz nya ngajak melambai lagi di kubah  makam Rasulullah SAW. Ditegor lagi deeeh sama askarnya.

Wada dengan Nabawi

Wada dengan Nabawi. Syediiih 😦

Tapi kesedihan itu segera pudar dengan euphoria akan melihat Ka’bah. Ya, Ka’bah yang seumur hidup hanya bisa kulihat di televisi, gambar pajangan, sajadah, dan internet. Melihat langsung dengan mata kepala sendiri….Allah, nikmat-Mu yang mana yang sanggup aku dustakan?

Sebelum shalat zuhur, rombongan kami sudah memakai pakaian ihram. Kemudian setelah shalat zuhur di Nabawi (tidak ikut berjamaah, langsung dijamak dengan Ashar), kami sudah bergegas kembali berkumpul di hotel, koper sudah dipacking semua, bus kami pun berangkat ke Mekkah setelah sebelumnya ambil miqot dulu di Bir Ali.

Good bye, Madinah. I’ll miss you soon….

Cerita Perjalanan Umroh Part 1: Madinah & Masjid Nabawi Yang Bercahaya

Barangkali, mengunjungi tanah suci, bersujud langsung di depan Ka’bah adalah impian bagi setiap muslim. Dan ketika kesempatan itu dapat kita rasakan, niscaya menjadi pengalaman yang seumur hidup tak akan terlupakan.

Itulah yang aku rasakan pada tanggal 3-11 Februari 2017 kemarin. Sebuah pengalaman yang kurasakan masih amat singkat, tapi begitu membekas di hatiku: menjalani umroh untuk pertama kalinya. Memandang Ka’bah dengan mata kepalaku langsung untuk pertama kalinya. Ini adalah impianku dan ibuku sejak lama, ini adalah puncak semua doa dan ikhtiar kami selama bertahun-tahun, dan ini adalah takdir terindah yang Allah karuniakan untuk kami.

Alhamdulillah, semua pengalaman itu akan aku ceritakan di blog ini, blog yang sudah bertahun-tahun menjadi wadahku berbagi cerita. Semoga tulisan ini menjadi hikmah dan bermanfaat bagi pembacanya ya 🙂

Jumat, 3 Februari 2017

Jumat sore sekitar pukul 16.00, aku dan Mama sudah sampai di kantor pusat Hannien Tour, travel yang kami gunakan untuk umroh yang terletak di Cibinong, Kab. Bogor tak jauh dari rumahku. Setelah tausyiah dan pembagian ID card, rombongan kami pun naik bus travel diantar ke Bandara Soekarno Hatta. Kebanyakan jamaah berasal dari Bogor dan Depok. Perjalanan Jumat sore terjebak macet cukup lama di jalanan ibukota, sampai akhirnya tiba di Soetta sekitar jam 8 malam. Rombongan kami pun dipertemukan dengan rombongan Hannien lainnya dari Pekanbaru yang akan melebur jadi satu rombongan yang berjumlah 44 orang plus 1 orang Ustadz pembimbing. Setelah makan malam dan mengurus bagasi dan keimigrasian, akhirnya kami pun take off pesawat Etihad Airways tepat pukul 00.15 (sudah masuk hari Sabtu).

Bismillah.

Pesawat tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 06.00 pagi, tapi arlojiku sudah menunjukkan pukul 09.00. Rupanya Jakarta-Abu Dhabi ada perbedaan waktu 3 jam. Jadi walau sudah menempuh 9 jam perjalanan, sampai di Abu Dhabi sih masih pagi banget. Pesawat kedua yaitu ke Jeddah, take off sekitar jam 8 pagi. Cuci mata di Abu Dhabi? Boro-boro hehehe. Kita cuma sempat sibuk nyari gate untuk penerbangan selanjutnya. Bandara Abu Dhabi mirip dengan Changi. Bersih, rapi, dan luaaassss.

Di penerbangan kedua, ada juga penumpang asal Abu Dhabi yang sudah memakai pakaian ihram masuk pesawat. Hmm, berarti sebelum naik pesawat mereka sudah mengambil miqot nih. Apa itu miqot? Nanti aku jelaskan di tulisan berikutnya. Singkat cerita, sampailah kami di Jeddah sekitar pukul 11 siang. Setelah melalui pemeriksaan paspor, kami pun menuju bus yang siap mengantar kami ke Madinah. Ternyata pemeriksaan paspor di Arab gak seseram yang sering muncul di cerita, seolah-olah ada polisi yang siap mencambuk gitu. Hehehe. Justru petugas tampak sopan dan ramah banget sama kita orang Indonesia dan menyapa ‘apa kabar?’. Yang penting diingat saja siapa mahram kita (bagi perempuan di bawah 45 tahun yang pergi umrah tanpa ada mahram laki-laki). Kebetulan secara administratif, aku dan ibuku dimahramkan dengan salah satu bapak dari Pekanbaru yang kesini dengan keluarganya.

Perjalanan dari Jeddah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Saat itu kondisi cuaca kurang baik karena beberapa hari sebelumnya terjadi badai pasir. Sekitar pukul 17.00, sampailah juga kami semua di Madinah, begitu memasuki kota ini dan melihat kehidupan penduduknya dari balik jendela bus…hmmm what a lovely city. Di sore hari, aktivitas masyarakat Madinah banyak yang piknik bersama keluarga di taman kota, main bola, dan sebagainya. Seperti umumnya masyarakat kita, namun bedanya tidak ada tempat hiburan yang berpotensi maksiat. Aktivitas kota ini sepertinya terpusat ke Masjid Nabawi dan sekitarnya.

Beberapa menit memasuki kota Madinah, sampailah kami di hotel Dar El Eiman Mukhtara yang jaraknya hanya 500 meter dari Masjid Nabawi. Brrr, hawa dingin langsung menyergap begitu kami turun. Kuperkirakan suhu di bawah 10 derajat celcius, karena dinginnya melebihi kawasan Puncak di waktu subuh. Setelah check in, istirahat, mandi dan makan, alhamdulillah aku dan Mama bisa menyempatkan diri hari itu juga shalat Isya di Masjid Nabawi. Pertama kali lihat Masjid Nabawi…wuiiih masya Allah, megah dan cantiknyaaa. Aku langsung jatuh hati pertama kali menginjakkan kaki di masjid sini. Luaaasss dan adem gitu. Terngiang di benakku sabda Rasulullah SAW, “Shalat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding masjid lainnya kecuali Masjidil Haram” (HR Bukhari)

Ya Rabb, segala puji bagi Engkau yang sudah memperjalanku sampai sini dan diberi kesempatan shalat di masjid kekasih-Mu ini…

Sayang payungnya gak terkembang...tapi tetep indah...huhu

Sayang payungnya gak terkembang…tapi tetep indah…huhu

Jangan takut kehausan di dalam masjid karena buanyaaaak banget dispenser air zam-zam tersebar di sini. Masya Allah, nikmatnya minum air zam-zam…dulu minum zam-zam oleh-oleh dari orang yang baru pulang umroh atau haji tuh rasanya mewah banget, sampai harus antre dan kebagian dikit-dikit. Hehehe. Sekarang disini bisa minum kapan aja dalam jumlah melimpah tanpa antre. Ada 2 macam air zam-zam, yang dingin (aslinya air zam-zam itu dingin) dan ‘not cold’ alias hangat. Tapi gak tahu kenapa ya, aku yang biasanya gak suka minum air mineral dingin, eh jadi seneng minum zam-zam dingin dan ajaibnya gak bikin panas dalam. Tiap kali minum zam-zam, disunnahkan menghadap kiblat dan berdoa, boleh juga doa khusus seperti yang dilakukan Imam Syafi’i agar beliau diberi kecerdasan. Setiap kali minum aku berdoa semoga tubuhku diberi kekuatan dan kesehatan selama perjalanan umroh dan dihilangkan gatal-gatalnya…hehehe.

img_3814

Model dispensernya kayak gini. Sama aja antara di Nabawi dan Masjidil Haram. Foto ini pas di masjidil haram.

Ohya, antara bulan Desember sampai Februari memang masih dingin. Februari adalah peralihan dari musim dingin ke panas. Karena Arab Saudi cuacanya ekstrem, pas dingin ya dingin banget, pas panas ya panas banget sampai 50 derajat celcius. Bahkan kalau dingin katanya bisa sampai hujan es disini. Ingat peristiwa crane jatuh di Masjidil Haram dulu kan? Nah itu karena badai dan hujan es di musim dingin. Waktu yang paling enak ya di bulan Februari ini. Tapiiii dinginnya cuaca Madinah membuat kulit tangan dan kakiku (yang sebelumnya gak pernah alergi) jadi gatal-gatal dan beruntusan. Kadang gatalnya gak tertahankan di waktu tidur malam sampai aku terbangun. Gak cuma aku, banyak juga jamaah lain yang mengalami serupa. Mungkin karena dinginnya Madinah itu sifatnya kering, tidak lembab seperti di Bogor daerah rumahku. Untuk mengatasinya aku mengoleskan Vaseline Petrolatum Jelly, kubeli di salah satu toko dekat masjid seharga 10 riyal. Beli di Indonesia juga bisa, banyak kok di Tokped seharga 30ribuan.

Masih tentang Nabawi, disini terdapat ribuan (atau mungkin jutaan ya?) Quran dengan model serupa di setiap sudut, tiang dan rak-rak. Quran ini merupakan wakaf dari para jamaah yang datang kesini. Maksudnya? Jadi kita yang datang ke Masjid Nabawi bisa membeli Quran di luar masjid dan disumbangkan dengan cara menaruh langsung saja di rak. Niatkan untuk wakaf, insya Allah pahalanya akan terus mengalir setiap kali Quran tersebut dibaca oleh jamaah yang datang kesini. Ada pengalaman unik tentang Al Quran ini. Jadi aku ingin membeli Quran di sebuah bookstore yang terletak persis di depan Masjid Nabawi, tapi Quran yang ada disana mahal-mahal, paling murah 100 riyal. Aku tawar 50 riyal, eh syaikh penjualnya galak gitu “Quran di Madinah 50 riyal NO, 70 riyal NO, 90 riyal NO”. Huu, bakhil ente, batinku astaghfirullah. Hmm padahal sebelumnya aku baca pengalaman seorang blogger yang baru menunaikan umroh Des 2016, quran wakaf ini bisa dibeli di luar masjid seharga 20 riyal dan budgetku sendiri 100 riyal (rencana beli 5 buah). Akhirnya aku gak jadi beli deh. Esok subuhnya, saat berjalan ke masjid, aku terpikir lagi tentang Quran wakaf tersebut.

Dari kiri atas ke kanan bawah: -Foto setelah shalat pertama di Nabawi -salah satu menara Nabawi -Selfie iseng nunggu waktu shalat -Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram) -Di depan salah satu pintu Nabawi

Dari kiri atas ke kanan bawah: -Foto setelah shalat pertama di Nabawi -salah satu menara Nabawi -Selfie iseng nunggu waktu shalat -Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram) -Di depan salah satu pintu Nabawi

Yaudah gak papa deh kalau 100 riyal. Biarpun cuma dapat 1 Quran gak apalah yang penting ada wakaf buat di Nabawi”

Baru beberapa menit setelah aku berpikir gitu, di antara kegelapan aku melihat 2 orang pemuda Madinah menjual Quran. Mereka memanggil-manggil jamaah yang lewat (kebetulan yang lewat blok itu sepi), cuma ada beberapa orang.

“Hei, Siti Masyithah! Ayo beli! 20 Riyal!”

Cling! Langsung tanpa pikir panjang aku datangi penjual itu.

“Ayo Siti Masyithah, beli 5 100 riyal. Dari Indonesia atau Malaysia?”

“Indonesia, beli 5 ya”

“Alhamdulillah…namanya siapa, Siti Masyithah?”

Yee malah ngajak kenalan. Buru-buru aku kasih uangnya dan ngacir. Eh tapi ya…di subuh besok-besoknya gak ada lagi lho penjual Quran ini. Nah lho…

Soal godaan dan suitan pedagang kayak gini, jangan khawatir, cuma sebatas ramah tamah mereka aja kok. Di lain waktu aku dipanggil-panggil “Cantik…cantik…ayo sini mampir”. Karena itu hari pertama tiba di Madinah dan aku masih was-was banget, aku pun pasang tampang galak. Eh, gak taunya di depanku ada nenek-nenek dari Indonesia juga dipanggil “Cantik…cantik…” Halah! Hahaha

Meski sangat luas, tidak terlalu sulit sebenarnya mencari pintu keluar Masjid Nabawi. Aku selalu mengingat nomor gerbang 25 atau 26 dengan patokan hotel Dar El Taqwa.Enaknya, sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi melalui pintu ini terdapat banyak pertokoan murah-murah. Abis ngantuk-ngantuk ngaji di masjid, mata pun langsung seger lagi cuci mata lihat barang-barang. Hahaha. Gak bisa bahasa Arab? Jangan khawatir, pedagang disini sudah fasih sekali bahasa Indonesia. Bahkan mereka juga terima rupiah. Menurutku barang-barang di Madinah lebih variatif dan lucu-lucu daripada di Mekkah. Kalau harga sih relatif sama yah. Untuk kurma, sebaknya beli di Mekkah karena lebih murah beberapa riyal. Tapi untuk cemilan lain selain kurma seperti coklat dan permen, sebaiknya beli di Madinah karena lebih murah. Begitu juga yang kain-kain seperti gamis, baju koko, sajadah dan mukena lebih bervariasi di Madinah dan harganya juga lebih murah.

Sifat orang Madinah itu lembut dan ramah-ramah, berbeda dengan orang Mekkah yang agak keras. Dan itu memang sudah sifat mereka dari dulu, dimana penduduk Madinah sangat welcome dengan Rasulullah SAW bahkan bisa menerima kaum Muhajirin (penduduk Mekkah yang berhijrah ke Madinah saat itu bersama Rasulullah SAW) seperti sudara mereka sendiri, membagi tempat tinggal dan harta mereka untuk saudara sesama muslim. Sifat itu juga yang terlihat pada penjual di Madinah, mereka benar-benar merayu terhadap jamaah yang lewat dan sangat ramah. Berbeda dengan penjual di Mekkah yang rada galak, susah untuk ditawar. Istilahnya, beli syukur, gak beli yaudah. Tiap kali kita lewat, ada saja panggilan yang disebutkan penjual Madinah pada jamaah Indonesia yang bikin ketawa “Ayo Syahrini mampir yuk…Ayu Teng Teng (???)…Isyana…Julia Perez…” Eh yaampun update banget sama artis-artis Indo. Dan anehnya, penjual di Madinah yang kebanyakan cowok kok kasep kasep pisan yaaah. Hahaha. Banyak yang mirip Fatih Serefagic, Zayn Malik, sampai ada yang mirip Jonas Brothers. Jadi makin semangat deh belanjanya. Hehehe.

Setiap waktu shalat, seluruh toko menghentikan aktivitasnya. Mereka tutup aja tuh sekedarnya toko mereka, barang dagangan masih tergelar gak dipeduliin. Hukum yang ketat membuat masyarakatnya merasa aman. Tidak main-main, mencuri kena hukum potong tangan. Pas di Madinah ini aku juga sempat melihat beberapa pengemis, gak banyak sih, duduk di tengah jalan meminta sedekah. Tangan mereka buntung, bahkan ada yang kakinya buntung. Konon mereka ini dulunya pencuri yang kena hukum potong tangan.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Alhamdulillah, selama disana gak ada tuh yang aneh-aneh. Aku juga gak abis pikir, kenapa sih banyak cerita bersileweran kalau laki-laki Arab itu mesum, suka memperkosa, ‘garang’, dsb? Bahkan ada yang bilang hati-hati diseret ke balik pintu terus diperkosa. Yaampun…emang gak ada polisi atau hukum yang berlaku apa? Disini hukumnya keras banget lho untuk pemerkosa: dirajam sampai mati. Tapi yaaa itulah media. Hobi banget mendiskreditkan Islam. Karena Arab identik dengan Islam, banyak deh kejadian yang dilebih-lebihkan. Padahal aku melihat mereka sopan (bahkan sama perempuan asing, selain penjual laki-laki, mereka dingin dan cuek tuh, menjaga pandangan gitu lho) dan memuliakan perempuan. Duuuh, suka melting deh lihat pasangan Arab. Si suami menggendong anaknya sambil menggandeng tangan istrinya. Gerak-geriknya melindungi banget sang istri. Di minimarket, kebanyakan yang belanja kebutuhan dapur adalah para suami. Aku belum pernah lihat tuh lelaki Arab yang jalan sambil gandeng beberapa istri kayak harem gitu. Bahkan kalau di pintu keluar tempat shalat wanita, aku lihat paling banyak adalah lelaki arab yang menunggui istrinya kelar shalat dengan sabar. Kebalikannya, kalau di pintu shalat pria malah wanita Indonesia dan Melayu yang menunggui suaminya selesai shalat. Hehehe.

Membicarakan Masjid Nabawi, gak lepas dari askar. Askar lho ya, buka asgar Asli Garut. Hehehe. Askar itu adalah petugas yang ditempatkan di masjid Nabawi dan Masjidil Haram untuk mengatur ketertiban jamaah. Yaaa kayak polisi syariah gitu deh ya. Kalau denger cerita orang-orang, askar itu galak-galak. Kalau yang aku alami sendiri sih..biasa aja tuh. Galak kalau memang jamaah susah diatur. Malah setiap kali memeriksa tas ketika baru masuk pintu masjid, askar perempuan yang bercadar suka nyapa “Apa kabar Ibu?”. Yaiyalah, jamaah Indonesia kan tergolong paling buanyaaak di Madinah dan Mekkah, jadi penduduk sana pun udah familiar banget sama orang kita. Tapi anehnya, ada aja ibu-ibu yang suka nyelonong masuk gak mau diperiksa tasnya. Padahal itu kan bagian dari prosedur, dan askarnya gak bentak-bentak tuh, cuma bilang “Sabr! Sabr!” . Maksudnya disuruh sabar, mau diperiksa dulu tasnya. Kalau diperhatikan, baik di Madinah atau di Mekkah, mungkin jamaah yang paling ngeyel adalah jamaah dari Turki. Disuruh lewat sana, ngotot mau lewat sini. Kalau kita orang Melayu mah yaudah nurut aja sih…tapi orang Turki mah pake acara ngedebat dulu. Padahal menurutku para askar itu helpful kok. Kalau kita bingung sesuatu tinggal tanya aja, pasti dituntun.

Hari kedua di Madinah, aku pun menyempatkan diri untuk qiyamul lail dan shalat subuh di Masjid Nabawi. Di luar hotel sudah ramai orang berduyun-duyun ke Masjid Nabawi. Masjid ini seolah tak pernah tertidur, aktivitas hidup 24 jam. Jamaah shalat subuh sudah berdatangan sejak jam 2 pagi.

Sekitar pukul setengah 5 pagi, suara adzan berkumandang. Aku mengecek handphone ku, namun ini belum masuk waktu Subuh (waktu Subuh sekitar jam setengah 6). Ternyata adzan subuh di Nabawi dan Masjidil Haram dikumandangkan 2 kali, sejam sebelum masuk waktu shalat dan saat waktu shalat. Mungkin untuk bangunin orang kali ya?

Oh ya, setiap selesai shalat berjamaah, selalu ada shalat jenazah. Beneran, shalat jenazah itu sampai 5 waktu. Masya Allah, betapa banyak yang berpulang di sini, dan betapa beruntungnya mereka yang bisa berpulang disini. Dishalati ribuan jamaah di masjid suci ini, dimakamkan di Baqi dimana sahabta dan istri rasul juga dimakamkan, dan terutama: dimakamkan di kota dimana Rasulullah SAW dimakamkan. What a peaceful leaving, right? Setiap kali shalat jenazah, kusempatkan untuk berdoa agar aku juga bisa ditakdirkan menjemput ajal di Madinah. Aamiin.

Sekitar jam 8 pagi setelah sarapan, rombongan travelku pun berkumpul. Kali ini kami akan tur keliling masjid Nabawi, makam Baqi dan Quran exhibition. Makam Baqi gak jauh dari Masjid Nabawi, makam ini hanya berupa areal yang cukup luas dan berpasir. Disinilah istri-istri Rasulullah SAW dan para sahabat serta penduduk Madinah dari dulu sampai sekarang dimakamkan. Tidak ada nisan yang membatasi, jadi gak ada tuh cerita susah nyari lahan buat pekuburan atau bayar pajak makam seperti di negara kita. Awalnya makam Baqi ini masih dibuka untuk peziarah laki-laki, tapi saat ini nggak dibuka karena biasa deh, ada aja oknum yang suka mengkeramatkan makam. Pakai segala diambil batu dan pasir nya lah nyari berkah. Padahal di Arab Saudi, syirik dan sihir itu merupakan kesalahan yang sangat berat dan tergolong pidana.

Dari kiri atas ke kanan: -Bergaya ala selebgram hahaha -Foto bareng Mama -Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi -Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Dari kiri atas ke kanan: -Bergaya ala selebgram hahaha -Foto bareng Mama -Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi -Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Jalan lagi, sampailah kami di Quran exhibition, sebuah museum pameran Quran bersejarah. Disini ada Quran terbesar di dunia, ada Quran yang ditulis tinta emas, Quran dari kulit kambing, dan yang bersejarah tentunya: Quran pertama yang dihimpun dan ditulis pada masa Khalifah Abu Bakar dan disempurnakan terus sampai Khalifah Ustman bin Affan.

dari kiri atas ke kanan bawah: -Quran terbesar di dunia -Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah -Aku...ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng :( -Mama di museum Quran exhibition

dari kiri atas ke kanan bawah: -Quran terbesar di dunia. Guide memberikan penjelasan. -Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah -Aku…ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng 😦 -Mama di museum Quran exhibition

Jalan agak keluar dari area Nabawi, ada masjid Ghamamah, yang artinya ‘awan’. Dinamakan demikian karena ketika Rasulullah SAW singgah di masjid ini dan mendirikan shalat, saat itu beliau dinaungi awan. Masjid ini terlihat sepi, karena sudah ada masjid Nabawi. Aku dan Mama pun asik berfoto bersama merpati. Ohya, bagi yang mau berfoto di antara merpati bisa dilakukan di Madinah. Kalau di Mekkah kurang banyak merpati (ini tips apasih hehe)

Di sela-sela tur, Ustadz membimbing kami untuk melihat dua kubah yang ikonik banget bagi masjid Nabawi. Dua kubah tersebut: kubah hijau, persis di bawahnya adalah makam Rasulullah SAW bersama dua sahabat beliau: Abu Bakar As-Shidiq dan Umar bin Khattab. Sedangkan kubah satunya lagi yang berwarna silver persis di bawahnya adalah mimbar Rasulullah SAW tempat beliau biasa memberikan khutbah. Nah, di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW ini terdapat area bernama Raudhah, artinya taman surga. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Antara mimbarku dan rumahku terdapat taman (raudhah) di antara taman surga ” (HR Bukhari-Muslim)

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Lho, memang rumah Rasulullah SAW dimana? Ya itu…makam Rasulullah SAW tadinya adalah rumah beliau. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar tidurnya bersama Aisyah RA kemudian menyusul Abu Bakar dan Umar bin Khattab. FYI, Aisyah RA tetap menempati kamar tsb meskipun sudah ada tiga makam di dalamnya. Kisah lengkapnya ada di Sirah Nabawiyah…hayooo siapa yang belum baca? Kitab yang wajib dibaca nih setelah Al Quran.

Raudhah ini termasuk tempat mustajabnya doa. Oleh karena itu, banyak orang antre untuk masuk sini walaupun area ini hanya bisa menampung puluhan orang saja, ditandai dengan karpet hijau. Akibatnya banyak yang berdesakan, dan untuk masuk area ini pun butuh perjuangan yang luar biasa. Kayak gimana perjuangannya? Ada di posting berikutnya yah…

Balik lagi ke acara tur, pas menghadap kedua kubah tersebut, eh ustadz pembimbing malah melambai gitu ke kubah hijau. Sontak para jamaah yang lain mengikuti. Aku mah gak ikutan, malah sibuk foto-foto, karena sebelumnya aku banyak baca di internet bahwa gerakan yang menjurus pengkultusan dilarang disini. Eh beneran aja…gak lama kemudian seorang askar laki-laki mendatangi rombongan kami dan menegur baik-baik, “Haji, salah Haji…An-Nisa 48” (btw, disini kita semua dipanggil Hajj atau Haji atau Hajjah bagi yang cewek). Nah kan…gak boleh tuh ngelambai lambai gitu. Berdiri diam dan menengadahkan tangan berdoa aja gak boleh, jadi lebih baik berdoa dan shalawat dalam hati aja.

Selesai sudah rangkaian tur pertama. Tur di sekitar Madinah lainnya adalah tur ke Masjid Quba dan Gunung Uhud.

Bersambung…

Vaksin Meningitis dan Manasik Umroh :)

Tanggal 24 Desember 2016 lalu (latepost, baru sempat posting sekarang nih), aku dan Mama melakukan suntik vaksin meningitis dan influenza untuk umroh di Klinik Sehat Cantik, Cibinong, tidak jauh dari kantor pusat biro travel yang kami gunakan, Hannien Tour. Suntik vaksin ini sangat penting, karena Arab Saudi merupakan negara yang epidemi meningitis dan flu babi (mungkin karena dekat dengan Benua Afrika ya). Selain itu dengan suntik vaksin, kita akan menerima buku kuning yang menyatakan diri kita sudah memenuhi syarat kekebalan tubuh terhadap penyakit epidemi. Buku kuning inilah sebagai salah satu persyaratan penerbitan visa masuk Arab Saudi.

Suntik vaksinnya sendiri dilaksanakan bersama dengan medical check up. Nggak ribet, cuma ukur tensi darah, gula darah dan asam urat. Khusus wanita juga harus melakukan tes kehamilan dengan test pack. Asli ini baru sekali seumur hidup pakai test pack. Hahaha. Cuma bagian dari prosedur aja sih untuk memastikan calon jemaah nggak sedang dalam keadaan hamil. Trus suntik deeh, lengan kiri dan kanan untuk vaksin meningitis dan influenza. Biaya seluruhnya saat ini (2016 akhir-2017 awal) sebesar Rp 750,000.

Khusus untuk wanita yang masih dalam kondisi subur, disarankan juga untuk minum pil Primolut, yaitu pil penahan menstruasi selama umroh (abis sayang banget dong 9 hari di sana trus kena siklus menstruasi yang bisa seminggu…duh jangan sampai deh). Pil ini nih yang sejak awal Januari aku minum setiap hari 2 butir sampai selesai umroh. Tenang, pil ini nggak akan mengganggu hormon kok, cuma menunda siklus menstruasi sehingga saat kita selesai umroh, lepas dari pil tsb, menstruasi kita akan lebih ‘deras’ dari biasanya. Kayak ditabung gitu deh. Pil Primolut ini dijual di apotek besar kok, harganya cukup pricey sih, Rp6,500-Rp8,000 per butirnya. Nah dikali tuh berapa hari pemakaian :’)

img_2828

Keesokan harinya, tanggal 25 Desember 2016, aku dan Mama melaksanakan manasik umroh di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur. Tanggal keberangkatan kami, alhamdulillah, sudah keluar yaitu insya Allah 1 Februari 2017. Wayoooo tinggal berapa hari lagi tuh? Deg-degan? Banget. Tapi tetap saja, sampai sekarang aku masih merasa serba ‘kurang’ dalam mempersiapkan diri untuk umroh. Terutama dari sisi spiritual.

Seperti manasik umroh biasa, kami dibimbing oleh travel kami dalam mengerjakan ibadah umroh. Rangkaian ibadah umroh sendiri sebenarnya mirip haji kecuali wukuf di Padang Arafah dan melempar jumrah. Banyak pengetahuan baru tentang umroh yang kudapat dari manasik ini seperti:

Darimana start tawaf mengelilingi Ka’bah? Dari hajar aswad. Jalan dari hajar aswad hingga kembali ke hajar aswad dihitung satu putaran.

Lari dari Bukit Safa dan Marwah itu sebanyak 7x hitungannya gimana ya? Ternyata Safa ke Marwah dihitung sekali, Marwah ke Safa dihitung sekali. Jadi rangkaian sa’i ini pasti akan berakhir di Bukit Marwah.

Tahalul buat cewek tuh gimana sih? Cukup memasukkan tangan ke dalam kerudung, gunting 3 helai rambut. FYI, gak boleh mentahalul orang jika diri sendiri belum tahalul. Sama seperti gak boleh mengumrohkan orang (misal mengumrohkan orang tua /saudara yang telah tiada jika diri sendiri belum selesai umroh)

Jika diurutkan, rangkaian ibadah umroh begini:

-Niat, kemudian berihram. Ini dari sejak Kota Madinah.

-Sampai di Masjidil Haram, mulai tawaf mengelilingi Ka’bah

-Selesai 7x tawaf, disunnah shalat di belakang Hijr Ismail, disunnahkan juga mencicipi air zam-zam

-Sa’i

-Ditutup dengan tahalul atau menggunting rambut.

Jadi umroh itu memang hanya sehari, sisanya adalah memperbanyak ibadah. Kalau di itinerary travelku sih (dari 2 hari perjalanan & city tour+3 hari di Madinah+4 hari di Mekkah), umroh wajib sehari, umroh sunnah sehari (nah disini bisa nih untuk mengumrohkan orang lain), sisanya (2 hari di Mekkah) bisa digunakan untuk memperbanyak ibadah sendiri di Masjidil Haram. seperti shalat wajib, sunnah, mengaji, berdoa, mencium hajar aswad, menyentuh Ka’bah, dsb. Menurut teman kerjaku yang sudah pernah umroh, waktu-waktu lengang di MAsjidil Haram itu sekitar waktu dhuha, nah disitu bisa digunakan tuh untuk mencium hajar aswad dan menyentuh Ka’bah.

Di atas itu semua, sebagai catatan untuk pribadi, jangan terlalu lebay. Lebay disini bukan saja sering selfie atau dikit-dikit ambil video, tapi jangan terlalu lebay juga berdoa menadahkan tangan di depan Ka’bah karena akan diingatkan oleh askar (polisi yang berjaga) bahwa berdoa itu kepada Allah, bukan kepada Ka’bah.

Bagiku pribadi, sekali manasik aja nggak cukup untuk benar-benar paham. Jadi perbanyaklah mencari informasi tentang ibadah umroh. Ingat, ini kata ustad pembina manasik yang sangat kena dengan hatiku: ibadah umroh bukanlah ibadah main-main. Bukan sekedar travelling dan kesempatan belanja. Ibadah umroh harus ikhlas, dari sejak sebelum berangkat, dan harus mengubah diri kita setelahnya menjadi lebih baik. Mengutip kata-kata Ustadz Bachtiar Natsir: jangan sampai ke Baitullah, tapi tak jumpa Allah. Rugiiiii 😦

Sebagai referensi bagi pembaca yang juga akan menunaikan umroh, bisa banget nih nonton kedua video di bawah ini.

Labaikallahummalabaik…labaikala syarikalaka labbaik…innal hamda, wa ni’mata laka wa mulka, la syarikalaka…

Semangat! 🙂

 

The Amazing Museum Angkut dan Taman Bunga Selecta

Hari ketiga sekaligus hari terakhir gue dan Ween travelling di Malang. Cuma 3 hari, tapi kayak udah banyaaak banget tempat dikunjungi. Hehehe
Pagi pagi abis subuh, kami sudah siap siap. Kalau kemarin kita pakai outfit ‘seadanya’, kali ini kita pakai outfit yang rada gayaan dikit…ootd (alias outfit of the day) ceritanya. Masih dengan motor sewaan, gue dan Ween cusss ke tujuan pertama kami, Taman Bunga Selecta. Lokasinya sekitar setengah jam dari homestay kami dan surprised, Senin pagi sama sekali gak macet lho (yaiyalaaa lu kira Jakarta). Kayaknya Selecta ini letaknya di daerah Batu yang agak ke atas, dan saat kami kesana, cuaca mendung mendung syahdu sambil sesekali gerimis semriwing gitu. Tiket masuk Selecta 25 ribu saja, dengan parkir motor 5 ribu. Pas kita lagi di Selecta, banyak rombongan sekolah lagi karyawisata juga. Duh berasa jadi dedek dedek lagi deeeh. Hahaha.

Menurut gue Taman Bunga Selecta indah sih, tapiiii not so special hehehe. Cuma bunga bunga gitu aja dan kebanyakan ornamen hati nya. Bikin miris yang jomblo aja hahaha. Tapi beneran deh, masih jauh lebih istimewa taman bunga matahari yang di Puncak dengan ornamen dinosaurus, labirin, dan sebagainya. Mungkin satu satunya yang keren disini adalah skyride nya yang gue dan Ween gak naikin karena pertama, males bayar lagi. Dan kedua, betis udah gede boook, gak sanggup deh ngendarain sepeda lagi (iyes, sepeda ini jalannya pakai tenaga kita,bukan mesin).

image109

olof30701

DCIM100MEDIA

image116
image118

Yaaaudah gitu doang Selecta. Foto foto jadi indah mungkin karena ada gue nya kali ya. Bwahahaha *ketawa setan*. Sekitar jam setengah 11, gue dan Ween menuju Alun Alun Kota Batu lagi untuk makan siang-yang cukup mengecewakan karena banyak penjual makanan masih tutup dan akhirnya makan di Pujasera dengan penjual yang galak abis-kemudian ke destinasi terakhir kami: Museum Angkuuuuut 😀

Museum Angkut

Museum Angkut terletak gak jauh dari Alun Alun Kota Batu, gak jauh juga dari homestay kita. Ya pokoknya semua ditempuh menggunakan Gmaps deh. Hehehe. Jam bukanya pukul 12.00 siang sampai 20.00 malam. Tiket masuknya sendiri memang agak pricey untuk ukuran museum, yautu 60ribu weekday dan 100rb saat weekend. Pas gue dan Ween kesana, tanggal 19 Desember 2016 sudah masuk musim liburan alias peak season jadi harganya disamain kayak weekend. Tapi gapapa, karenaaaa…..*take a breath* Museum Angkut was soooo coooooollll!!! Bagi yang belum pernah kesana, siap siap ini rangkaian fotonya spoiler abis dan bikin mupeng.

Pertama tama, kita masuk zona kendaraan tua yang pernah ada di Indonesia dan buatan luar negeri. Yang paling ‘wow’ tentunya adalah mobil dan helikopter kepresidenan milik Presiden Soekarno.

image119

image123image121

 

image125

Dan ternyata gue baru ngeh, kalau mobil jaman dulu ukuran mesinnya gede banget, 4000 cc ke atas. Kata Mas gue yang pecinta otomotif, mesin mobil jaman dulu memang gede karena butuh mesin gede dulu agar jalannya cepet. Tapi efeknya tarikan mobil lebih berat dan bensin jauh lebih boros. Beda dengan mobil jaman sekarang yang gak perlu cc besar untuk bisa jalan kenceng. Agya gue aja cuma 1000cc. Hehehe.

 

nhpl14571

Ada juga mobil yang dipakai racing jaman dulu. Vintage Racing 🙂bywy88771

Dan alat transportasi lainnya…dari yang jadul parah sampai kekinian.
lqqd08251

 

Gak hanya sekedar lihat-lihat, ada juga sarana belajar dan games edukasi seperti menebak suara knalpot, pengetahuan perkembangan transportasi dan dampaknya bagi lingkungan sampai diajak berandai-andai gimana kendaraan masa depan. Btw, ada gambar transportasi masa depan di 2017 tuh…bener gak ya bakal ada flying car? *mikir keras Yang menarik, di sini juga ada Tucuxi,mobil listrik pertama Indonesia yang sayangnya mengalami kecelakaan saat uji coba dikendarai oleh Dahlan Iskan pada 5 Januari 2013. Masih ingat kan beritanya? Sayang banget yah, padahal mobil ini aslinya keren 😦

uwqx76381

qhrg32701

Uang bisa mengangkut kita jalan kemana-mana, bisa juga mengangkut kita ke…pelaminan #eaaa

Naik lift, kita masuk ke area transportasi udara yang lebih keren lagi. Wow, ternyata luas yah museum ini. Di area ini kita bisa memasuki pesawat Boeing (gratis!) untuk berfoto di dalam pesawat sampai di kokpit pilot. Sayangnya ngantre bangeeet, karena keterbatasan waktu, gue dan Ween cukup berfoto-foto di luarnya aja. Di area ini kita bisa juga main mobil-mobilan yang ngelinding, gak jelas sih apa namanya, tapi kayaknya seru. Tapi gue males nyoba karena antre dan bayar lagi. Hehehe.

tkoj44001

Sampai ada miniatur apollo lho.

Bosen lihat alat transportasi mulu? Waaaah jangan salah, Museum Angkut gak cuma sekadar itu. Sesuai namanya sekarang, Museum Angkut juga plus Movie Star, area wisata yang didesain dengan miniatur berbagai tempat di dunia. Dari mulai Broadway, Hollywood, Prancis, Jerman, sampai Buckingham Palace. Kesan gue pas masuk area ini…gak nyangka banget lah di Indonesia, apalagi di sebuah kota kecil Batu yang jauh banget dari ibu kota (bahkan jauh dari ibu kota provinsi Jatim, Surabaya) ada museum sekeren ini. Perlu banget nih untuk dipromosikan sampai keluar negeri. Jadi inget waktu ke Singapore pada September lalu….sekeren apa museum disana juga gak punya beginian. Hehehe. Puas banget, lucu-lucu dan keren. Selfieable banget deh!

Ohya, sebenarnya ada juga area khas Indonesia yang mengambil setting Batavia Tempo Doeloe, dari mulai suasana Stasiun Jakarta Kota sampai Pelabuhan Sunda Kelapa. Kita melewati ini ketika perpindahan antara ruang pamer alat transportasi (asli lupa urutannya, karena luas banget siiih area museum ini). Berikut beberapa fotonya.

gnsa43971

Area mancanegara pertama yang kita masuki adalah Gangster Town, kayaknya sih terinspirasi dari New York masa lampau gitu deh. Spot yang ikonik buat foto-foto tentunya di gerbang Gangster Town, tapi rameee banget, butuh kesabaran buat dapet angle bagus. Area ini juga bersambung dengan Broadway Theater.

qevq50661

xgix05501

Dalam miniatur Broadway Theater ini juga diputarkan film film jadul Hollywood lho.

fizb98231

Habis? Masih buanyaaaak zona zona lain. Biarkan gambar bercerita deh yaaa. Hehehe

Zona Italy

Zona Italy

egjb91581

Zona Paris

xnps11411

Zona Jerman

pkga61571

Zona Inggris. Eh, ada peron di Harry Potter jugaaak.

Kirain setelah zona negara-negara, bakalan kelar…secara kita udah capek juga. Hahaha. Tapi ternyata masih ada dooong yang lebih keren: Buckingham Palace. Heran, kayak gak ada abisnya nih museum. Dan kayaknya setiap sudut museum ini tertata dengan keren. Loooovveeee it!

img_30801

Buckingham Palace ini bukan cuma miniatur dari luar lho, di dalamnya juga masih ada koleksi yang juga lucu. Dari mulai miniatur bus tingkat London sampai Ratu Elizabeth!

Sungkem dulu sama camer

Sungkem sama calon mertua.

img_30821

 

Keluar dari Buckingham Palace, kita pun memasuki zona Las Vegas. Wah apalagi ini? Ternyata isinya miniatur ikon-ikon dunia.

vctw31201

Jalan dikit, ketemu Zona Hollywood. Asli kaki udah pegel-pegel. Untung zona Hollywood ini cuma ‘sekedar’ doang.

Waaaah Om Hulk gede aneeet ya. Si dedek sampe takjub.

Waaaah Om Hulk gede aneeet ya. Si dedek sampe takjub.

DCIM100MEDIA

img_25921

Salah satu kartun kesukaan gue nih: Scooby Doo

Last but not least, pintu keluar yang unik banget berupa gerbong kereta. Bukan sekadar miniatur, gerbong ini lantainya bergoyang goyang lho sehingga pas kita jalan kayak di dalam kereta beneran.

img_26091

Daaaaan…….finallyyyyyy….selesailah sudah kunjungan kita ke Museum Angkut. Gimana? Keren kan? Eh gak keren deng, keren bangeeet. Bagi kalian yang mau kesini, sebaiknya pas low season, karena pas high season museum ini rame buanget, jadi agak sesak gitu. Trus untuk yang bawa kamera, akan kena charge sebesar 30 ribu, dan masuk ke dalam pun air minum akan disita. Kalau haus/lapar, beli di kafe yang ada di dalam. Tenang, harganya nggak bikin kaget kok. Jadi siap-siap untuk mengeluarkan uang lebih ya, terutama kalau kalian tertarik untuk mencoba wahana berbayar di dalam. Tapi worth it banget kok, apalagi buat pecinta otomotif dan ngajak anak-anak jalan pas liburan sekolah. Gue sendiri pingin deh kesini lagi sama….suami dan anak-anak gue nantinya. Hehehe.

Bagi yang belum sempet liburan pas tahun baru kemarin, tenang, banyak long weekend di 2017 ini. Book lah salah satunya untuk ke Museum Angkut ! 🙂