Cerita Umroh Part 3: Di Bawah Lindungan Ka’bah

Kami meninggalkan Madinah sekitar pukul 2 siang menggunakan bus menuju kota Mekkah. Kali ini perjalanan kami tidak terlalu ‘ramai’, terasa hening. Hanya terdengar suara Ustadz yang memberikan tausyiah sampai air matanya bercucuran.  Semalam sebelumnya, travel kami mengadakan ta’lim bersama yang berisi pemantapan hati dan ilmu untuk menjalankan ibadah umroh. Apa tujuan kami berumroh? Apa yang menyebabkan kami bisa sampai kesini? Seperti apa diri kami di tanah air sebelum kami sampai disini? Sungguh hatiku tergetar. Mengingat banyaknya dosa yang telah kuperbuat, mengingat masih banyaknya kekuranganku dalam beribadah…mengapa Allah mengundangku untuk berumroh? Mengapa bukan orang lain yang ibadahnya jauh lebih shalih? Apakah hatiku masih tetap terjaga dengan tujuan umroh sebenarnya?

Antara kebahagiaan, haru dan rasa gelisah bercampur aduk di benakku. Tak ada yang kulakukan di bus selain sibuk berdzikir dan beristighfar sembari menatap gunung pasir yang berderet di sepanjang tepi jalan tol yang bus kami lalui. Pasir, gersang, kering…betapa bumi Arab ini tak ada apa-apanya jika tak ada kehadiran dua masjid suci. Dan betapa perjalanan kami ini tak ada apa-apanya jika tak ada rahmat dan kemurahan Allah Ta’ala. Di sepanjang jalan, Ustadz pun beberapa kali kembali mengingatkan rukum umroh yang akan kami lakukan dan pantangan ketika sudah berihram. Sejak awal naik bus kami memang sudah mengenakan pakaian ihram lengkap: yang laki-laki mengenakan dua kain tak berjahit, yang perempuan mengenakan mukena (untuk perempuan yang penting menutup aurat seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, tidak boleh memakai cadar). Meski sudah mengenakan pakaian ihram, seluruh pantangan selama berihram baru akan berlaku ketika kami sudah mengambil miqot di Bir Ali, meniatkan ihram dan disarankan melakukan shalat sunah 2 rakaat ihram. Apa aja pantangannya? Banyak hehehe. Nanti insya Allah jika pembaca berkesempatan pergi umroh, pasti tahu tentang pantangannya. Kepanjangan kalau ditulis disini. Hehehe.

Bir Ali terletak tidak jauh dari Madinah, merupakan tempat mengambil miqot bagi orang yang mau berumroh dari Madinah. Miqot tuh apa sih? Gampangnya adalah tempat memulai ihram, kayak garis start nya umroh. Jadi ketika sudah mengambil miqot di Bir Ali, artinya kami sudah mulai mengerjakan rukun pertama umroh, yaitu ihram. Setelah pake baju ihram, bersuci, masih boleh ke toilet gak? Ya bolehlaaah, perjalanan kan’ masih berjam-jam jauhnya. Begitu selesai buang air, langsung deh wudhu lagi. Tapi yang gak boleh adalah memakai sabun, karena sabun mengandung wewangian sedangkan memakai wewangian adalah pantangan dalam ihram. Termasuk juga pakai tissue basah, mending pakai tissue kering non perfurmed.

phbx02501

Oh ya, Bir Ali itu kayak apa sih? Ya kayak masjid. Hehehe. Masjidnya lumayan luas dan desainnya kental dengan nuansa gurun. Disini kita bertemu dengan banyak rombongan lain yang mengambil miqot. Ada juga yang benar-benar baru mengenakan pakaian umrohnya disini, sehingga di sekitar masjid terdapat pertokoan yang menjual pakaian ihram. Sebenarnya miqot sendiri tidak hanya di Bir Ali. Rasulullah SAW sendiri sudah menetapkan tempat miqot berdasarkan di area mana kita tinggal. Karena kami sudah tinggal di Madinah selama 3 hari, sudah dianggap sebagai penduduk Madinah, sehingga miqotnya dari Bir Ali ini. Googling sendiri ya tentang pengetahuan lebih lanjut mengenai miqot ini 🙂

Selesai melaksanakan shalat 2 rakaat di Bir Ali, kami langsung kembali menuju bus. Persis ketika bus distarter, kami pun melafalkan niat berihram (gak tahu sih kenapa Ustadnya pengen dilafalin pas bus distarter..biar agak dramatis mungkin hehe). Maka detik itu, kami disebut muhrim atau orang yang berihram. Pengertian muhrim ini salah kaprah ya kalau di Indonesia…harusnya orang yang haram dinikahi atau pasangan sah disebutnya mahram, bukan muhrim.

5 jam perjalanan yang melelahkan dari Madinah ke Mekkah. Hingga akhirnya sekitar pukul 8 malam, sampailah juga kami perbatasan masuk kota Mekkah. Merinding rasanya membaca doa masuk kota Mekkah:

“Ya Allah, kota ini adalah tanah haram-Mu dan tempat amanMu, maka hindarkanlah daging, darah, rambut dan kulitku dari neraka..”

Hanya sesaat kami di kamar hotel, cuma sempat untuk buang air kecil dan wudhu, bahkan kami belum bertemu dengan koper bawaan dari Madinah, kami pun langsung turun ke restoran hotel untuk makan malam. Usai makan malam di hotel, kami pun beranjak menuju Masjidil Haram. Bismillah, bergetar jiwa ragaku mendengar lantunan kalimat talbiyah yang kami kumandangkan sepanjang jalan. Belum-belum,mataku sudah berkaca kaca.

“Labaikallalahuma labbaik..labaikkala syarikalaka labbaik..innal hamda wani’mata laka wal mulk..lasyarikalak..”

Aku datang memnuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagiMu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Kami masuk melalui gate 89, persis langsung di luarnya ada Zam Zam Tower,menara jam yang menyaingi Big Ben. Pintu 89,90 dan 91 inilah yang jadi patokanku selama keluar masuk Masjidil Haram.

Semakin mendekati Ka’bah, aku semakin deg degan dan gak sabar. Setelah sekian lama merindu…huhuhu. Ketika rombongan kami menuruni eskalator menuju area Ka’bah (disebutnya Manaf di papan petunjuk arah) melalui gate King Fahd, aku melihat Ka’bah sedikit di antara sela sela tiang proyek pembangunan.

“Ma, itu Ka’bah, Ma!” spontan aku memekik senang.

“Wah mana mana?” Mama ikutan heboh.

Masya Allah..jantungku serasa lompat lompat. Bahagia dan gembira. Sampai akhirnya kami benar benar memasuki area Manaf…terlihat jelaslah di depan mata kami Kabah yang luar biasa indah dan gagah..

“Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada bait (Ka’bah) ini. Dan tambahkan pula pada orang -orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan”

Kulantunkan doa dan takbir dengan air mata berlinang tak terasa. Sungguh perasaan yang luar biasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Keharuan seorang hamba, rasa syukur tak terperi, dan rindu yang meluap dan akhirnya dapat dilepaskan. Ya Allah, memandang Ka’bah-Mu saja sudah sebegini nikmatnya..apalagi memandang Wajah-Mu?

Ketika langkah kaki kami semakin mendekat, berbagai kenangan di muncul di kepalaku seperti flashback. Kenangan perjuangan mengumpulkan dana agar sampai kesini, mimpi yang aku dan ibuku cita citakan sejak aku masih SD,cobaan cobaan yang pernah kami lalui, hingga tiba tiba saja teringat jelas tahajud dan doa doa yang kupanjatkan. Tentu itu semua hanyalah secuil hal yang bisa membawaku sampai kesini sebab semuanya adalah karena rahmat dan rahman-Nya.

img_36911

Foto ini diambil keesokan harinya setelah menunaikan rukun umroh.

Foto ini diambil keesokan harinya sesudah menunaikan rukun umroh.

Kami langsung mengerjakan rukun umroh yang kedua, yaitu Tawaf. Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah 7 putaran, start nya dimulai dari sudut dimana hajar aswad berada. Agar jelas, sudah ada penanda sudut di seberang dekat gate King Abdul Aziz (kalau gak salah) berupa lampu hijau. Dari sudut hajar aswad sampai balik lagi ke sudut tsb dihitung satu putaran dan setiap kali melewati sudut hajar aswad kami melambai pada hajar aswad seraya mengucapkan “Bismillahi Allahuakbar”

hsxh52341

1. Foto rombongan sesudah tuntas menunaikan rukun umroh 2. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah 3. Muka lelah dan bahagia setelah rukun umroh

Selama tawaf, ustadz menyarankan agar kami tidak perlu membaca buku doa yang sudah disediakan travel karena memang panjang panjang doanya, dikhawatirkan konsentrasi kami terganggu antara membaca dan berjalan di tengah kerumunan manusia yang berdesakkan. Cukup ustadz yang membaca, kami mengaminkan dan membaca doa doa pribadi. Aku langsung mengeluarkan secarik kertas yang sudah kutulis doa doaku. Doanya apa? Ada deeh hehe. Panjaaaang doanya, sampai cukup tuh buat 7 kali putaran hehehe. Di antara rukun yamani (sudut sebelum sudut hajar aswad) sampai hajar aswad kami membaca doa kebaikan dunia akhirat (kalau kata orang jaman dulu namanya doa sapujagat, sekali doa langsung disapu semua jagat dunia akhirat. Gitu kali ya maksudnya hehe)

“Rabbana atiina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, wa qina adzabannar”

Tak terasa, tujuh putaran kami lalui. Tawaf pun kami tutup dengan mendirikan shalat sunnah 2 rakaat di belakang maqam ibrahim. Selanjutnya adalah rukun umroh ketiga,yaitu sa’i antara Shafa dan Marwah. Sebelum lanjut ke rukun sa’i, kami menyempatkan minum zam zam dulu untuk memulihkan tenaga.

Sa’i adalah berlari lari kecil (sebenernya sih berjalan juga gak papa) antara Bukit Shafa dan Marwah sebagai bentuk meneladani perjuangan Siti Hajar,istri Nabi Ibrahim AS mencarikan air untuk Ismail putranya. Ketika Siti Hajar berada di bukit Shafa, tiba tiba beliau seperti melihat air di bukit Marwah, eh..rupanya cuma fatamorgana. Kemudian pas di bukit Marwah, Siti Hajar seperti melihat air di bukit Shafa di kejauhan. Capek deeeh. Begitu terus sampai bolak balik 7 kali dan akhirnya air tersebut justru keluar di bekas pijakan kaki Ismail, mengucur deras sampai sekarang berupa air zam zam yang tak ada habisnya dan telah diminum oleh jutaan umat manusia hingga sekarang. Tulisan tentang renungan sa’i pernah kutulis disini.

Bukit Shafa dan Marwah sendiri bentuknya bukan seperti bukit lagi, tapi berupa tanjakan landai. Hanya tersisa replika bukitnya saja.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Jalur sa’i sendiri kini ada 2 lantai kalau gak salah. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali bolak balik, start di Shafa. Shafa ke Marwah dihitung sekali, dari Marwah ke Shafa dihitung sekali, jadi sa’i akan berakhir di bukit Marwah. Setiap kali menaiki ‘bukit’, kami membaca doa sa’i dan setiap melewati pilar hijau (terlihat jelas di area ini dipasangi lampu hijau), kami membaca

“Ya Allah ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah, dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah”

Jujur saja kakiku baru terasa pegalnya ketika sa’i. Padahal pakai jalan kaki aja, sama sekali nggak lari. Waktu thawaf sih nggak kerasa. Oh ya,hati hati ya di sa’i ini banyak yang menjalaninya sambil lari beneran, kuenceng kuenceng pula..biasanya orang Negro atau Turki.  Hati hati keseruduk!

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf 2. menunggu ditahalul

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf
2. menunggu dihalalkan, eh, ditahalulkan hehe

Sa’i selesai, sampailah kami di rukun terakhir yaitu tahalul atau menggunting rambut. Untuk laki laki biasanya dicukur botak, untuk perempuan cukup dipotong 3 helai dari seluruh ujung rambut. Rambut kita ditahalul/dicukur oleh orang yang sudah ditahalul. Jadi estafet gitu. Dari rombongan kami para lelaki minta tolong ditahalul oleh rombongan lain yang sudah tahalul, trus dari salah satu jamaah laki laki nyambung ke perempuan (istrinya), trus nyambung lagi deh kemana mana. Aku sendiri ditahalul oleh seorang ibu ibu yang susah ditahalul suaminya dan aku pun mentahalul ibuku serta beberapa jamaah lain dari Turki.

Alhamdulillah..selesailah sudah semua rukun umroh yang kami lakukan. Durasi pengerjaan dari pukul 9 malam sampai jam 2 pagi. Yaa sekitar 5 jam lah ya. Udah selesai umrohnya? Yaaa sudah! Hehehe. Memang di pikiran orang pada umumnya yang belum berumroh adalah umroh dilakukan berhari hari. Sebenarnya tidak, rukun umroh bisa selesai dalam 5 jam saja. Jadi hanya sehari dua hari pun kita di Saudi Arabia juga sudah bisa berumroh. Tapiii ya masa datang jauh jauh cuma sehari dua hari hehehe. Apalagi berlimpah berkah yang bisa kita dapatkan dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di luar rukun umroh, sisanya adalah memperbanyak ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ibadah lho ya,jangan kebanyakan belanjaaa hehehe.

Sekian dulu, nyambung ke post berikutnya ya..

Bersambung

Advertisements

Cerita Umroh Part 2: Gagahnya Uhud dan Perjuangan di Raudhah

Hari ketiga di Madinah, atau hari Minggu, 5 Februari 2017, adalah jadwalnya romongan travel kami tur ke sekitar kota Madinah yaitu Masjid Qiblatain, Masjid Quba, Kebun Kurma dan Gunung Uhud. Untuk masjid Qiblatain ini kita sekedar lewat aja, nggak turun dari bus. Masjid Qiblatain ini adalah masjid dimana Rasulullah SAW mendapat perintah untuk memindahkan kiblat shalat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Sedangkan di Masjid Quba, rombongan kami singgah sebentar untuk shalat sunnah. Masjid Quba ini merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW saat perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah kemudian singgah di desa bernama Quba. Hingga Rasulullah SAW menetap di Madinah, beliau secara kontinyu mengunjungi masjid ini setiap hari Sabtu untuk shalat baik menggunakan unta ataupun berjalan kaki. Jaraknya dari Masjid Nabawi sih dibilang jauh engga, dibilang dekat ditempuh berjalan kaki juga engga. Saat mengunjungi Masjid Quba, masjid ini sedang ramai-ramainya dengan pengunjung rombongan seperti kami, shalat pun jadi agak susah di shaf wanita.

“Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba, kemudian dia mendirikan shalat di sana, maka dia mendapatkan pahala umrah” (HR Ibnu Majah)

Bersama rombongan...cuaca berawan dan berangin, jadi langit gelap gituu.

Bersama rombongan…cuaca berawan dan berangin, jadi langit gelap gituu. Akunya ketutupaaan.

Bersama Mama di Masjid Quba

Bersama Mama di Masjid Quba

Dari Masjid Quba, kami bergerak ke Gunung Uhud, yang letaknya agak keluar sedikit dari kota Madinah. Gunung Uhud merupakan saksi bisu terjadinya Perang Uhud, perang besar antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini adalah wujud balas dendam dari kekalahan kaum musyrikin Quraisy di Perang Badar. Pada perang ini, kaum muslimin semula mendapatkan kemenangan, namun keadaan menjadi berbalik ketika sebagian pasukan kaum muslimin tergiur melihat harta rampasan yang banyak. Bahkan pasukan pemanah yang Rasulullah SAW sudah perintahkan stand by di Jabal Rumat,  mereka malah turun dari posisi mereka dan menghampiri harta rampasan. Kelengahan ini pun terlihat oleh panglima perang Quraisy, Abu Sufyan,  yang kemudian memutar kudanya dan melakukan serangan balik habis-habisan pada kaum muslimin. Pasukan pemanah yang menjadi border pertahanan pertama sebelum kaum Quraisy bisa menyentuh pasukan inti sudah tak ada, maka kaum musyrikin pun leluasa menyerang dari segala arah, bahkan sampai Rasulullah SAW sempat terluka hingga gigi seri patah, pundak tersabet pedang dan memar di wajah. Rasulullah SAW juga sempat dikabarkan meninggal hingga membuat kendur semangat kaum muslimin.  Di peperangan ini, paman Rasulullah SAW bernama Hamzah yang dijuluki Singa Allah karena kepiawaiannya menebas leher pasukan kaum musyrikin pun gugur dengan cara ditombak oleh Wahsyi, seorang budak yang ahli menombak suruhan Hindun, istri Abu Sufyan. Berhasilnya Wahsyi menombak menjadi syarat untuk kemerdekaan budak ini. Sadisnya, Hindun menghampiri mayat Hamzah dan merobek dadanya lalu memakan jantungnya sebagai tuntasnya balas dendam karena di perang sebelumnya kakak dan beberapa keluarganya tewas di tangan Hamzah.

Wah ini cerita perangnya seru banget ya? Ini aku gak sambil googling lho, hahaha. Ciyus, dulu waktu kecil aku dibeliin sama ortu buku komik cerita seri perjuangan Rasulullah SAW. Bukunya tebal, ilustrasinya keren, nah salah satu serinya adalah seri perang ini. Penggambaran di komik itu detil dan seru, makanya membekas banget di ingatan aku sampai sekarang.

Dari atas, kanan, ke kiri: -Pegunungan Uhud, area perang dibangun Masjid, pemukiman dan pasar -Makam para syuhada Uhud -aku dan Mama

Dari atas, kanan, ke kiri:
-Pegunungan Uhud, area perang dibangun Masjid, pemukiman dan pasar
-Makam para syuhada Uhud
-aku dan Mama

Di sekitar situs Uhud ini sih menurut aku berantakan, karena jadi pasar gitu…dan udah banyak banget pemukiman. Yang tersisa hanyalah Jabal Rumat, bukit pasukan pemanah yang juga banyak sampah bertebaran. Menaiki bukit ini, bisa terlihat jelas Gunung Uhud di kejauhan dan foto foto deeeh. Hehehe.

Di sekitar bukit Uhud ini juga terdapat makam para syuhada yang gugur saat peperangan. Gak ada nisan, gak ada tanda, hanya sebuah area berpasir yang dipagari dan ditulisi papan informasi dalam beberapa bahasa yang melarang keras tindakan ziarah makam yang menjurus ke syirik. Aku pikir, orang zaman sekarang udah cerdas lah ya…apalagi  niat berangkat umroh kan harusnya udah mikir ibadah dong…tapi beneran lho ada beberapa orang pengunjung yang ngambil pasir dari Jabal Rumat. Ada beberapa dari Indonesia dan pengunjung dari Bangladesh atau India kali ya. Sekilas aku denger ibu-ibu yang ambil pasir itu berkata “Coba kita bisa ambil pasir di Gunung Uhudnya juga tuh, Berkah”

Astaghfirullah..aku mengelus dada. Apa hubungannya pasir/batu Gunung Uhud dengan berkah?

Kunjungan kedua adalah Kebun Kurma, tempat belanja kurma langsung di kebunnya. Sebenarnya sehari sebelumnya aku udah diwanti-wanti nih sama pedagang kurma di salah satu toko di Madinah, jangan beli kurma di Kebun Kurma, karena lebih mahal (kan ngasih komisi ke travel yang anterin), mending beli di dia aja (lha bisa aja nih hehe). Cara beli di Kebun Kurma ini bisa dicoba sepuasnya, lalu pilih-pilih deh. Aku dan ibuku borong lumayan banyak kurma, coklat dan permen. Eh, tapi kok setelah sampai di hotel kami hitung-hitung beneran masih lebih murah toko di Madinah sekitar 3-5 riyal. Di Mekkah malah lebih murah lagi, contoh kurma coklat di Kebun Kurma 20 riyal sekotak, di Mekkah kurma yang sama 15 riyal. Capek deeeh.

img_3916

Suasana di luar Kebun Kurma

Berikut ini oleh-oleh makanan yang kubawa ke tanah air, sebagian besar beli di Kebun Kurma dan pertokoan Madinah:

-Kurma coklat Al-Ansar. Ini kurma yang dilapisi coklat. Enak banget deh, aku suka banget. Harga di Kebun Kurma satu kotak 20 riyal, eh di Mekkah nemu sekotak 15 riyal. Ada dilapis vanilla caramel kayak di gambar ini, ada juga dilapis coklat almond. Dua duanya enaaak.

img_39241

2. Choco Pearl Kacang + Kurma dilapis Coklat. Harga per kotak 10 riyal. Ini sih udah ga ada bentuk kurmanya lagi (ga ada kacang kurmanya lagi), cuma rasa dan serpih kurmanya masih ada, dicampur kacang, dilapis coklat. Variannya ada kacang almond+kurma, kacang pistachio+kurma, Kacang mede+kurma. Aku beli tiga tiganya. Rasanya lumayan.

Sumber gambar: Google. Variannya ada kacang almond+kurma, kacang pistachio+kurma, Kacang mede+kurma. Aku beli tiga tiganya. Rasanya lumayan.

Sumber gambar: Google. Udah abis barangnya di rumah. Hehehe

3. Coklat kiloan dan permen kiloan. Aku beli di pertokoan sekitar Nabawi lebih murah, 20 riyal sekilo.

eqyz93691

4. Aku nyebutnya coklat batu koral/batu akuarium hahaha. Di Kebun Kurma 20 riyal dengan ukuran lebih sedikit (di gambar ini belinya di Kebun Kurma, merk Chocovia Dragee), di Mekkah dan Jeddah aku dapat 20 riyal dengan ukuran lebih banyak. Ini enaaak, aku seneng banget ngemilin ini pas di rumah.

img_39231

5. Dan tentunya….macam-macam kurma. Yang paling enak, terkenal (dan mahal) adalah jenis kurma Ajwa, yang juga sering disebut kurma Nabi. Dinamakan demikian karena merupakan kurma kesukaan Rasulullah SAW. Di Kebun Kurma kemarin aku beli seharga 60 riyal sekilo, buat konsumsi sendiri aja deeh, sayang kalau buat oleh oleh dikasih ke orang. Hehehe

Sumber gambar: Google

Sumber gambar: Googlee

Setelah tur adalah acara bebas sama seperti kemarin setelah tur. Aku dan Mama berusaha untuk memperbanyak i’tikaf di Masjid Nabawi. Pulang dari masjid yaa belanja belinji…hehehe. Bosan dengan catering hotel, kami juga sempat nyobain kuliner setempat yaitu nasi briyani dengan chicken mandi seharga 18 riyal. Eh yaamplop porsinya…jumbo! Seporsi berdua pun kenyang. Kalau mau beli roti, bisa di Fresh Market dekat Masjid Nabawi. Disini ada roti yang besar-besar seharga 1 riyal dan aneka makanan Indonesia juga bisa ditemui seperti mie instan Indomie, saus Indofood, dan sebagainya.

Malamnya selepas isya, jamaah wanita dari travel kami pun bersiap untuk bareng-bareng ke raudhah (yang aku ceritakan di posting sebelumnya). Dengan dipandu seorang muthawifah, kami pun mengantre berkelompok. Untuk mencapai raudhah, pertama para askar membagi jamaah secara ras. Jadi ras melayu tersendiri, ras Turki dan Arab tersendiri, lalu ras India, Bangladesh, Pakistan dan sebangsanya tersendiri. Bukannya rasis, tapi memang agar lebih nyaman. Perempuan Turki dan Arab kan badannya gede-gede tuh (dan kelihatannya juga lebih agresif), kasihan kan’ perempuan Melayu yang badannya relatif kecil-kecil harus berdesakan bareng mereka. Karena memang untuk masuk raudhah ini berdesakan dan berebut. Proses antre terasa lamaaaa banget. Jalan dikit, terus duduk bersempitan rame-rame, jalan lagi, duduk lagi. Aku sampai terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya kami bisa memasuki teras luar bangunan awal masjid Nabawi sebelum perluasan yang dinaungi payung. Waaah akhirnya lihat payungnya terkembang juga (selama disana payung di pelataran masjid yang kulewati sehari-hari gak dikembangkan, gagal selfie deh..hehehe).

Teras bangunan asal masjid Nabawi

Teras bangunan asal masjid Nabawi

Hingga akhirnya, tibalah giliran rombongan Melayu diperbolehkan masuk. Huaaa langsung heboh deh pada berlarian kayak ngejar apa (padahal raudhah nya gak lari kemana, kayak jodoh haha). Para askar perempuan langsung sibuk menenangkan.

“Sabar Ibu! Sabar!”

Aku langsung teringat kata-kata muthawifah kami selama menunggu, kami ke raudhah melewati makam Rasulullah SAW, hendaknya merendahkan suara karena itulah adab terhadap Rasulullah SAW baik saat beliau hidup maupun saat sudah meninggal. Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau, berbeda dengan karpet merah yang melapisi seluruh Masjid Nabawi. Karena berdesakan begitu padat, aku pun nggak sadar sudah agak jauh menginjak karpet hijau. Seorang askar menegur, “Ayo Ibu, shalat, ini sudah di rudhah”

Lho….eh…langsung tangisku pecah. Antara terharu (karena perjuangan masuk ke raudhah ini capek banget) dan bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di salah satu taman surga, tempat mustajabnya doa. Aku menengadahkan tangan, langsung khusyuk berdoa banyak-banyak dengan air mata bercucuran. Beberapa dari rombongan kami bisa shalat, tapi aku nggak mau memaksakan diri, khawatir kepala terinjak karena sedemikian berdesakan. Memang tidak ada ibadah khusus selama di raudhah. Terserah, mau shalat sunnah, tahajud, witir, hajat, istikharah atau sekedar berdoa saja…semuanya bagus. Mungkin hanya sekitar 5 menitan kami di raudhah, rombongan kami pun disuruh keluar dari raudhah. Yup, gak sampai 10 menit! Kebayang kan banyaknya jamaah…antre berjam-jam, tapi gak sampe 10 menit disana. Total proses sampai selesai dari ba’da Isya (disana sekitar jam 20.30 sampai pukul 02.00) kami baru selesai.

Pulang hotel langsung istirahat, menyiapkan energi untuk besok…karena besok adalah hari terakhir kami di Madinah sekaligus hari pertama di Mekkah.

Esoknya, seperti biasa shalat subuh berjamaah di Masjid Nabawi. Aku datang agak telat mepet adzan kedua karena memang masih capek banget habis semalam ke raudhah. Shalat subuh terakhir disini…rasanya sedih gitu. Aku suka banget di Madinah, aku berdoa berkali-kali agar bisa meninggal di sini.Menjelang dhuha, rombongan travel kami melakukan wada’ (perpisahan) dengan masjid Nabawi. Kami shalat dhuha, keliling pelataran masjid, eh..terus Ustadz nya ngajak melambai lagi di kubah  makam Rasulullah SAW. Ditegor lagi deeeh sama askarnya.

Wada dengan Nabawi

Wada dengan Nabawi. Syediiih 😦

Tapi kesedihan itu segera pudar dengan euphoria akan melihat Ka’bah. Ya, Ka’bah yang seumur hidup hanya bisa kulihat di televisi, gambar pajangan, sajadah, dan internet. Melihat langsung dengan mata kepala sendiri….Allah, nikmat-Mu yang mana yang sanggup aku dustakan?

Sebelum shalat zuhur, rombongan kami sudah memakai pakaian ihram. Kemudian setelah shalat zuhur di Nabawi (tidak ikut berjamaah, langsung dijamak dengan Ashar), kami sudah bergegas kembali berkumpul di hotel, koper sudah dipacking semua, bus kami pun berangkat ke Mekkah setelah sebelumnya ambil miqot dulu di Bir Ali.

Good bye, Madinah. I’ll miss you soon….