Cerita Umroh Part 3: Di Bawah Lindungan Ka’bah

Kami meninggalkan Madinah sekitar pukul 2 siang menggunakan bus menuju kota Mekkah. Kali ini perjalanan kami tidak terlalu ‘ramai’, terasa hening. Hanya terdengar suara Ustadz yang memberikan tausyiah sampai air matanya bercucuran.  Semalam sebelumnya, travel kami mengadakan ta’lim bersama yang berisi pemantapan hati dan ilmu untuk menjalankan ibadah umroh. Apa tujuan kami berumroh? Apa yang menyebabkan kami bisa sampai kesini? Seperti apa diri kami di tanah air sebelum kami sampai disini? Sungguh hatiku tergetar. Mengingat banyaknya dosa yang telah kuperbuat, mengingat masih banyaknya kekuranganku dalam beribadah…mengapa Allah mengundangku untuk berumroh? Mengapa bukan orang lain yang ibadahnya jauh lebih shalih? Apakah hatiku masih tetap terjaga dengan tujuan umroh sebenarnya?

Antara kebahagiaan, haru dan rasa gelisah bercampur aduk di benakku. Tak ada yang kulakukan di bus selain sibuk berdzikir dan beristighfar sembari menatap gunung pasir yang berderet di sepanjang tepi jalan tol yang bus kami lalui. Pasir, gersang, kering…betapa bumi Arab ini tak ada apa-apanya jika tak ada kehadiran dua masjid suci. Dan betapa perjalanan kami ini tak ada apa-apanya jika tak ada rahmat dan kemurahan Allah Ta’ala. Di sepanjang jalan, Ustadz pun beberapa kali kembali mengingatkan rukum umroh yang akan kami lakukan dan pantangan ketika sudah berihram. Sejak awal naik bus kami memang sudah mengenakan pakaian ihram lengkap: yang laki-laki mengenakan dua kain tak berjahit, yang perempuan mengenakan mukena (untuk perempuan yang penting menutup aurat seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, tidak boleh memakai cadar). Meski sudah mengenakan pakaian ihram, seluruh pantangan selama berihram baru akan berlaku ketika kami sudah mengambil miqot di Bir Ali, meniatkan ihram dan disarankan melakukan shalat sunah 2 rakaat ihram. Apa aja pantangannya? Banyak hehehe. Nanti insya Allah jika pembaca berkesempatan pergi umroh, pasti tahu tentang pantangannya. Kepanjangan kalau ditulis disini. Hehehe.

Bir Ali terletak tidak jauh dari Madinah, merupakan tempat mengambil miqot bagi orang yang mau berumroh dari Madinah. Miqot tuh apa sih? Gampangnya adalah tempat memulai ihram, kayak garis start nya umroh. Jadi ketika sudah mengambil miqot di Bir Ali, artinya kami sudah mulai mengerjakan rukun pertama umroh, yaitu ihram. Setelah pake baju ihram, bersuci, masih boleh ke toilet gak? Ya bolehlaaah, perjalanan kan’ masih berjam-jam jauhnya. Begitu selesai buang air, langsung deh wudhu lagi. Tapi yang gak boleh adalah memakai sabun, karena sabun mengandung wewangian sedangkan memakai wewangian adalah pantangan dalam ihram. Termasuk juga pakai tissue basah, mending pakai tissue kering non perfurmed.

phbx02501

Oh ya, Bir Ali itu kayak apa sih? Ya kayak masjid. Hehehe. Masjidnya lumayan luas dan desainnya kental dengan nuansa gurun. Disini kita bertemu dengan banyak rombongan lain yang mengambil miqot. Ada juga yang benar-benar baru mengenakan pakaian umrohnya disini, sehingga di sekitar masjid terdapat pertokoan yang menjual pakaian ihram. Sebenarnya miqot sendiri tidak hanya di Bir Ali. Rasulullah SAW sendiri sudah menetapkan tempat miqot berdasarkan di area mana kita tinggal. Karena kami sudah tinggal di Madinah selama 3 hari, sudah dianggap sebagai penduduk Madinah, sehingga miqotnya dari Bir Ali ini. Googling sendiri ya tentang pengetahuan lebih lanjut mengenai miqot ini 🙂

Selesai melaksanakan shalat 2 rakaat di Bir Ali, kami langsung kembali menuju bus. Persis ketika bus distarter, kami pun melafalkan niat berihram (gak tahu sih kenapa Ustadnya pengen dilafalin pas bus distarter..biar agak dramatis mungkin hehe). Maka detik itu, kami disebut muhrim atau orang yang berihram. Pengertian muhrim ini salah kaprah ya kalau di Indonesia…harusnya orang yang haram dinikahi atau pasangan sah disebutnya mahram, bukan muhrim.

5 jam perjalanan yang melelahkan dari Madinah ke Mekkah. Hingga akhirnya sekitar pukul 8 malam, sampailah juga kami perbatasan masuk kota Mekkah. Merinding rasanya membaca doa masuk kota Mekkah:

“Ya Allah, kota ini adalah tanah haram-Mu dan tempat amanMu, maka hindarkanlah daging, darah, rambut dan kulitku dari neraka..”

Hanya sesaat kami di kamar hotel, cuma sempat untuk buang air kecil dan wudhu, bahkan kami belum bertemu dengan koper bawaan dari Madinah, kami pun langsung turun ke restoran hotel untuk makan malam. Usai makan malam di hotel, kami pun beranjak menuju Masjidil Haram. Bismillah, bergetar jiwa ragaku mendengar lantunan kalimat talbiyah yang kami kumandangkan sepanjang jalan. Belum-belum,mataku sudah berkaca kaca.

“Labaikallalahuma labbaik..labaikkala syarikalaka labbaik..innal hamda wani’mata laka wal mulk..lasyarikalak..”

Aku datang memnuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagiMu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Kami masuk melalui gate 89, persis langsung di luarnya ada Zam Zam Tower,menara jam yang menyaingi Big Ben. Pintu 89,90 dan 91 inilah yang jadi patokanku selama keluar masuk Masjidil Haram.

Semakin mendekati Ka’bah, aku semakin deg degan dan gak sabar. Setelah sekian lama merindu…huhuhu. Ketika rombongan kami menuruni eskalator menuju area Ka’bah (disebutnya Manaf di papan petunjuk arah) melalui gate King Fahd, aku melihat Ka’bah sedikit di antara sela sela tiang proyek pembangunan.

“Ma, itu Ka’bah, Ma!” spontan aku memekik senang.

“Wah mana mana?” Mama ikutan heboh.

Masya Allah..jantungku serasa lompat lompat. Bahagia dan gembira. Sampai akhirnya kami benar benar memasuki area Manaf…terlihat jelaslah di depan mata kami Kabah yang luar biasa indah dan gagah..

“Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada bait (Ka’bah) ini. Dan tambahkan pula pada orang -orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan”

Kulantunkan doa dan takbir dengan air mata berlinang tak terasa. Sungguh perasaan yang luar biasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Keharuan seorang hamba, rasa syukur tak terperi, dan rindu yang meluap dan akhirnya dapat dilepaskan. Ya Allah, memandang Ka’bah-Mu saja sudah sebegini nikmatnya..apalagi memandang Wajah-Mu?

Ketika langkah kaki kami semakin mendekat, berbagai kenangan di muncul di kepalaku seperti flashback. Kenangan perjuangan mengumpulkan dana agar sampai kesini, mimpi yang aku dan ibuku cita citakan sejak aku masih SD,cobaan cobaan yang pernah kami lalui, hingga tiba tiba saja teringat jelas tahajud dan doa doa yang kupanjatkan. Tentu itu semua hanyalah secuil hal yang bisa membawaku sampai kesini sebab semuanya adalah karena rahmat dan rahman-Nya.

img_36911

Foto ini diambil keesokan harinya setelah menunaikan rukun umroh.

Foto ini diambil keesokan harinya sesudah menunaikan rukun umroh.

Kami langsung mengerjakan rukun umroh yang kedua, yaitu Tawaf. Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah 7 putaran, start nya dimulai dari sudut dimana hajar aswad berada. Agar jelas, sudah ada penanda sudut di seberang dekat gate King Abdul Aziz (kalau gak salah) berupa lampu hijau. Dari sudut hajar aswad sampai balik lagi ke sudut tsb dihitung satu putaran dan setiap kali melewati sudut hajar aswad kami melambai pada hajar aswad seraya mengucapkan “Bismillahi Allahuakbar”

hsxh52341

1. Foto rombongan sesudah tuntas menunaikan rukun umroh 2. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah 3. Muka lelah dan bahagia setelah rukun umroh

Selama tawaf, ustadz menyarankan agar kami tidak perlu membaca buku doa yang sudah disediakan travel karena memang panjang panjang doanya, dikhawatirkan konsentrasi kami terganggu antara membaca dan berjalan di tengah kerumunan manusia yang berdesakkan. Cukup ustadz yang membaca, kami mengaminkan dan membaca doa doa pribadi. Aku langsung mengeluarkan secarik kertas yang sudah kutulis doa doaku. Doanya apa? Ada deeh hehe. Panjaaaang doanya, sampai cukup tuh buat 7 kali putaran hehehe. Di antara rukun yamani (sudut sebelum sudut hajar aswad) sampai hajar aswad kami membaca doa kebaikan dunia akhirat (kalau kata orang jaman dulu namanya doa sapujagat, sekali doa langsung disapu semua jagat dunia akhirat. Gitu kali ya maksudnya hehe)

“Rabbana atiina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, wa qina adzabannar”

Tak terasa, tujuh putaran kami lalui. Tawaf pun kami tutup dengan mendirikan shalat sunnah 2 rakaat di belakang maqam ibrahim. Selanjutnya adalah rukun umroh ketiga,yaitu sa’i antara Shafa dan Marwah. Sebelum lanjut ke rukun sa’i, kami menyempatkan minum zam zam dulu untuk memulihkan tenaga.

Sa’i adalah berlari lari kecil (sebenernya sih berjalan juga gak papa) antara Bukit Shafa dan Marwah sebagai bentuk meneladani perjuangan Siti Hajar,istri Nabi Ibrahim AS mencarikan air untuk Ismail putranya. Ketika Siti Hajar berada di bukit Shafa, tiba tiba beliau seperti melihat air di bukit Marwah, eh..rupanya cuma fatamorgana. Kemudian pas di bukit Marwah, Siti Hajar seperti melihat air di bukit Shafa di kejauhan. Capek deeeh. Begitu terus sampai bolak balik 7 kali dan akhirnya air tersebut justru keluar di bekas pijakan kaki Ismail, mengucur deras sampai sekarang berupa air zam zam yang tak ada habisnya dan telah diminum oleh jutaan umat manusia hingga sekarang. Tulisan tentang renungan sa’i pernah kutulis disini.

Bukit Shafa dan Marwah sendiri bentuknya bukan seperti bukit lagi, tapi berupa tanjakan landai. Hanya tersisa replika bukitnya saja.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Jalur sa’i sendiri kini ada 2 lantai kalau gak salah. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali bolak balik, start di Shafa. Shafa ke Marwah dihitung sekali, dari Marwah ke Shafa dihitung sekali, jadi sa’i akan berakhir di bukit Marwah. Setiap kali menaiki ‘bukit’, kami membaca doa sa’i dan setiap melewati pilar hijau (terlihat jelas di area ini dipasangi lampu hijau), kami membaca

“Ya Allah ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah, dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah”

Jujur saja kakiku baru terasa pegalnya ketika sa’i. Padahal pakai jalan kaki aja, sama sekali nggak lari. Waktu thawaf sih nggak kerasa. Oh ya,hati hati ya di sa’i ini banyak yang menjalaninya sambil lari beneran, kuenceng kuenceng pula..biasanya orang Negro atau Turki.  Hati hati keseruduk!

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf 2. menunggu ditahalul

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf
2. menunggu dihalalkan, eh, ditahalulkan hehe

Sa’i selesai, sampailah kami di rukun terakhir yaitu tahalul atau menggunting rambut. Untuk laki laki biasanya dicukur botak, untuk perempuan cukup dipotong 3 helai dari seluruh ujung rambut. Rambut kita ditahalul/dicukur oleh orang yang sudah ditahalul. Jadi estafet gitu. Dari rombongan kami para lelaki minta tolong ditahalul oleh rombongan lain yang sudah tahalul, trus dari salah satu jamaah laki laki nyambung ke perempuan (istrinya), trus nyambung lagi deh kemana mana. Aku sendiri ditahalul oleh seorang ibu ibu yang susah ditahalul suaminya dan aku pun mentahalul ibuku serta beberapa jamaah lain dari Turki.

Alhamdulillah..selesailah sudah semua rukun umroh yang kami lakukan. Durasi pengerjaan dari pukul 9 malam sampai jam 2 pagi. Yaa sekitar 5 jam lah ya. Udah selesai umrohnya? Yaaa sudah! Hehehe. Memang di pikiran orang pada umumnya yang belum berumroh adalah umroh dilakukan berhari hari. Sebenarnya tidak, rukun umroh bisa selesai dalam 5 jam saja. Jadi hanya sehari dua hari pun kita di Saudi Arabia juga sudah bisa berumroh. Tapiii ya masa datang jauh jauh cuma sehari dua hari hehehe. Apalagi berlimpah berkah yang bisa kita dapatkan dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di luar rukun umroh, sisanya adalah memperbanyak ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ibadah lho ya,jangan kebanyakan belanjaaa hehehe.

Sekian dulu, nyambung ke post berikutnya ya..

Bersambung

Advertisements

Cerita Perjalanan Umroh Part 1: Madinah & Masjid Nabawi Yang Bercahaya

Barangkali, mengunjungi tanah suci, bersujud langsung di depan Ka’bah adalah impian bagi setiap muslim. Dan ketika kesempatan itu dapat kita rasakan, niscaya menjadi pengalaman yang seumur hidup tak akan terlupakan.

Itulah yang aku rasakan pada tanggal 3-11 Februari 2017 kemarin. Sebuah pengalaman yang kurasakan masih amat singkat, tapi begitu membekas di hatiku: menjalani umroh untuk pertama kalinya. Memandang Ka’bah dengan mata kepalaku langsung untuk pertama kalinya. Ini adalah impianku dan ibuku sejak lama, ini adalah puncak semua doa dan ikhtiar kami selama bertahun-tahun, dan ini adalah takdir terindah yang Allah karuniakan untuk kami.

Alhamdulillah, semua pengalaman itu akan aku ceritakan di blog ini, blog yang sudah bertahun-tahun menjadi wadahku berbagi cerita. Semoga tulisan ini menjadi hikmah dan bermanfaat bagi pembacanya ya 🙂

Jumat, 3 Februari 2017

Jumat sore sekitar pukul 16.00, aku dan Mama sudah sampai di kantor pusat Hannien Tour, travel yang kami gunakan untuk umroh yang terletak di Cibinong, Kab. Bogor tak jauh dari rumahku. Kami diantar oleh Bapak tiriku dan Mas Denta (calon suami, isnya Allah, hehehe). Setelah tausyiah dan pembagian ID card, rombongan kami pun naik bus travel diantar ke Bandara Soekarno Hatta. Kebanyakan jamaah berasal dari Bogor dan Depok. Perjalanan Jumat sore terjebak macet cukup lama di jalanan ibukota, sampai akhirnya tiba di Soetta sekitar jam 8 malam. Rombongan kami pun dipertemukan dengan rombongan Hannien lainnya dari Pekanbaru yang akan melebur jadi satu rombongan yang berjumlah 44 orang plus 1 orang Ustadz pembimbing. Setelah makan malam dan mengurus bagasi dan keimigrasian, akhirnya kami pun take off pesawat Etihad Airways tepat pukul 00.15 (sudah masuk hari Sabtu).

Bismillah.

Pesawat tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 06.00 pagi, tapi arlojiku sudah menunjukkan pukul 09.00. Rupanya Jakarta-Abu Dhabi ada perbedaan waktu 3 jam. Jadi walau sudah menempuh 9 jam perjalanan, sampai di Abu Dhabi sih masih pagi banget. Pesawat kedua yaitu ke Jeddah, take off sekitar jam 8 pagi. Cuci mata di Abu Dhabi? Boro-boro hehehe. Kita cuma sempat sibuk nyari gate untuk penerbangan selanjutnya. Bandara Abu Dhabi mirip dengan Changi. Bersih, rapi, dan luaaassss.

Dari kiri atas ke kanan: -Pas keberangkatan -Transit di Abu Dhabi -Pemandangan dari pesawat...gak kayak Indonesia yang hijau...ini pasir semua tandus hehe>.< -Etihad -Sampai di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Dari kiri atas ke kanan:
-Pas keberangkatan
-Transit di Abu Dhabi
-Pemandangan dari pesawat…gak kayak Indonesia yang hijau…ini pasir semua tandus hehe>.<
-Etihad
-Sampai di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Di penerbangan kedua, ada juga penumpang asal Abu Dhabi yang sudah memakai pakaian ihram masuk pesawat. Hmm, berarti sebelum naik pesawat mereka sudah mengambil miqot nih. Apa itu miqot? Nanti aku jelaskan di tulisan berikutnya. Singkat cerita, sampailah kami di Jeddah sekitar pukul 11 siang. Setelah melalui pemeriksaan paspor, kami pun menuju bus yang siap mengantar kami ke Madinah. Ternyata pemeriksaan paspor di Arab gak seseram yang sering muncul di cerita, seolah-olah ada polisi yang siap mencambuk gitu. Hehehe. Justru petugas tampak sopan dan ramah banget sama kita orang Indonesia dan menyapa ‘apa kabar?’. Yang penting diingat saja siapa mahram kita (bagi perempuan di bawah 45 tahun yang pergi umrah tanpa ada mahram laki-laki). Kebetulan secara administratif, aku dan ibuku dimahramkan dengan salah satu bapak dari Pekanbaru yang kesini dengan keluarganya.

Perjalanan dari Jeddah ke Madinah memakan waktu sekitar 5 jam. Saat itu kondisi cuaca kurang baik karena beberapa hari sebelumnya terjadi badai pasir. Sekitar pukul 17.00, sampailah juga kami semua di Madinah, begitu memasuki kota ini dan melihat kehidupan penduduknya dari balik jendela bus…hmmm what a lovely city. Di sore hari, aktivitas masyarakat Madinah banyak yang piknik bersama keluarga di taman kota, main bola, dan sebagainya. Seperti umumnya masyarakat kita, namun bedanya tidak ada tempat hiburan yang berpotensi maksiat. Aktivitas kota ini sepertinya terpusat ke Masjid Nabawi dan sekitarnya.

Beberapa menit memasuki kota Madinah, sampailah kami di hotel Dar El Eiman Mukhtara yang jaraknya hanya 500 meter dari Masjid Nabawi. Brrr, hawa dingin langsung menyergap begitu kami turun. Kuperkirakan suhu di bawah 10 derajat celcius, karena dinginnya melebihi kawasan Puncak di waktu subuh. Setelah check in, istirahat, mandi dan makan, alhamdulillah aku dan Mama bisa menyempatkan diri hari itu juga shalat Isya di Masjid Nabawi. Pertama kali lihat Masjid Nabawi…wuiiih masya Allah, megah dan cantiknyaaa. Aku langsung jatuh hati pertama kali menginjakkan kaki di masjid sini. Luaaasss dan adem gitu. Terngiang di benakku sabda Rasulullah SAW, “Shalat di masjidku (masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dibanding masjid lainnya kecuali Masjidil Haram” (HR Bukhari)

Ya Rabb, segala puji bagi Engkau yang sudah memperjalanku sampai sini dan diberi kesempatan shalat di masjid kekasih-Mu ini…

Sayang payungnya gak terkembang...tapi tetep indah...huhu

Sayang payungnya gak terkembang…tapi tetep indah…huhu

Jangan takut kehausan di dalam masjid karena buanyaaaak banget dispenser air zam-zam tersebar di sini. Masya Allah, nikmatnya minum air zam-zam…dulu minum zam-zam oleh-oleh dari orang yang baru pulang umroh atau haji tuh rasanya mewah banget, sampai harus antre dan kebagian dikit-dikit. Hehehe. Sekarang disini bisa minum kapan aja dalam jumlah melimpah tanpa antre. Ada 2 macam air zam-zam, yang  dingin (aslinya air zam-zam itu dingin) dan ‘not cold’ alias hangat. Tapi gak tahu kenapa ya, aku yang biasanya gak suka minum air mineral dingin, eh jadi seneng minum zam-zam dingin dan ajaibnya gak bikin panas dalam. Tiap kali minum zam-zam, disunnahkan menghadap kiblat dan berdoa, boleh juga doa khusus seperti yang dilakukan Imam Syafi’i agar beliau diberi kecerdasan. Setiap kali minum aku berdoa semoga tubuhku diberi kekuatan dan kesehatan selama perjalanan umroh dan dihilangkan gatal-gatalnya…hehehe.

img_3814

Model dispensernya kayak gini. Sama aja antara di Nabawi dan Masjidil Haram. Foto ini pas di masjidil haram.

Ohya, antara bulan Desember sampai Februari memang masih dingin. Februari adalah peralihan dari musim dingin ke panas. Karena Arab Saudi cuacanya ekstrem, pas dingin ya dingin banget, pas panas ya panas banget sampai 50 derajat celcius. Bahkan kalau dingin katanya bisa sampai hujan es disini. Ingat peristiwa crane jatuh di Masjidil Haram dulu kan? Nah itu karena badai dan hujan es di musim dingin. Waktu yang paling enak ya di bulan Februari ini. Tapiiii dinginnya cuaca Madinah membuat kulit tangan dan kakiku (yang sebelumnya gak pernah alergi) jadi gatal-gatal dan beruntusan. Kadang gatalnya gak tertahankan di waktu tidur malam sampai aku terbangun. Gak cuma aku, banyak juga jamaah lain yang mengalami serupa. Mungkin karena dinginnya Madinah itu sifatnya kering, tidak lembab seperti di Bogor daerah rumahku. Untuk mengatasinya aku mengoleskan Vaseline Petrolatum Jelly, kubeli di salah satu toko dekat masjid seharga 10 riyal. Beli di Indonesia juga bisa, banyak kok di Tokped seharga 30ribuan.

Masih tentang Nabawi, disini terdapat ribuan (atau mungkin jutaan ya?) Quran dengan model serupa di setiap sudut, tiang dan rak-rak. Quran ini merupakan wakaf dari para jamaah yang datang kesini. Maksudnya? Jadi kita yang datang ke Masjid Nabawi bisa membeli Quran di luar masjid dan disumbangkan dengan cara menaruh langsung saja di rak. Niatkan untuk wakaf, insya Allah pahalanya akan terus mengalir setiap kali Quran tersebut dibaca oleh jamaah yang datang kesini. Ada pengalaman unik tentang Al Quran ini. Jadi aku ingin membeli Quran di sebuah bookstore yang terletak persis di depan Masjid Nabawi, tapi Quran yang ada disana mahal-mahal, paling murah 100  riyal. Aku tawar 50 riyal, eh syaikh penjualnya galak gitu “Quran di Madinah 50 riyal NO,  70 riyal NO, 90 riyal NO”. Huu, bakhil ente, batinku astaghfirullah. Hmm padahal sebelumnya aku baca pengalaman seorang blogger yang baru menunaikan umroh Des 2016, quran wakaf ini bisa dibeli di luar masjid seharga 20 riyal dan budgetku sendiri 100 riyal (rencana beli 5 buah). Akhirnya aku gak jadi beli deh. Esok subuhnya, saat berjalan ke masjid, aku terpikir lagi tentang Quran wakaf tersebut.

Dari kiri atas ke kanan bawah: -Foto setelah shalat pertama di Nabawi -salah satu menara Nabawi -Selfie iseng nunggu waktu shalat -Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram) -Di depan salah satu pintu Nabawi

Dari kiri atas ke kanan bawah:
-Foto setelah shalat pertama di Nabawi
-salah satu menara Nabawi
-Selfie iseng nunggu waktu shalat
-Quran wakaf di Nabawi (model sama seperti di Masjidil haram)
-Di depan salah satu pintu Nabawi

Yaudah gak papa deh kalau 100 riyal. Biarpun cuma dapat 1 Quran gak apalah yang penting ada wakaf buat di Nabawi”

Baru beberapa menit setelah aku berpikir gitu, di antara kegelapan aku melihat 2 orang pemuda Madinah menjual Quran. Mereka memanggil-manggil jamaah yang lewat (kebetulan yang lewat blok itu sepi), cuma ada beberapa orang.

“Hei, Siti Masyithah! Ayo beli! 20 Riyal!”

Cling! Langsung tanpa pikir panjang aku datangi penjual itu.

“Ayo Siti Masyithah, beli 5 100 riyal. Dari Indonesia atau Malaysia?”

“Indonesia, beli 5 ya”

“Alhamdulillah…namanya siapa, Siti Masyithah?”

Yee malah ngajak kenalan. Buru-buru aku kasih uangnya dan ngacir. Eh tapi ya…di subuh besok-besoknya gak ada lagi lho penjual Quran ini. Nah lho…

Soal godaan dan suitan pedagang kayak gini, jangan khawatir, cuma sebatas ramah tamah mereka aja kok. Di lain waktu aku dipanggil-panggil “Cantik…cantik…ayo sini mampir”. Karena itu hari pertama tiba di Madinah dan aku masih was-was banget, aku pun pasang tampang galak. Eh, gak taunya di depanku ada nenek-nenek dari Indonesia juga dipanggil “Cantik…cantik…” Halah! Hahaha

Meski sangat luas, tidak terlalu sulit sebenarnya mencari pintu keluar Masjid Nabawi. Aku selalu mengingat nomor gerbang 25 atau 26 dengan patokan hotel Dar El Taqwa.Enaknya, sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi melalui pintu ini terdapat banyak pertokoan murah-murah. Abis ngantuk-ngantuk ngaji di masjid, mata pun langsung seger lagi cuci mata lihat barang-barang. Hahaha. Gak bisa bahasa Arab? Jangan khawatir, pedagang disini sudah fasih sekali bahasa Indonesia. Bahkan mereka juga terima rupiah. Menurutku barang-barang di Madinah lebih variatif dan lucu-lucu daripada di Mekkah. Kalau harga sih relatif sama yah. Untuk kurma, sebaknya beli di Mekkah karena lebih murah beberapa riyal. Tapi untuk cemilan lain selain kurma seperti coklat dan permen, sebaiknya beli di Madinah karena lebih murah. Begitu juga yang kain-kain seperti gamis, baju koko, sajadah dan mukena lebih bervariasi di Madinah dan harganya juga lebih murah.

Sifat orang Madinah itu lembut dan ramah-ramah, berbeda dengan orang Mekkah yang agak keras. Dan itu memang sudah sifat mereka dari dulu, dimana penduduk Madinah sangat welcome dengan Rasulullah SAW bahkan bisa menerima kaum Muhajirin (penduduk Mekkah yang berhijrah ke Madinah saat itu bersama Rasulullah SAW) seperti sudara mereka sendiri, membagi tempat tinggal dan harta mereka untuk saudara sesama muslim. Sifat itu juga yang terlihat pada penjual di Madinah, mereka benar-benar merayu terhadap jamaah yang lewat dan sangat ramah. Berbeda dengan penjual di Mekkah yang rada galak, susah untuk ditawar. Istilahnya, beli syukur, gak beli yaudah. Tiap kali kita lewat, ada saja panggilan yang disebutkan penjual Madinah pada jamaah Indonesia yang bikin ketawa “Ayo Syahrini mampir yuk…Ayu Teng Teng (???)…Isyana…Julia Perez…” Eh yaampun update banget sama artis-artis Indo. Dan anehnya, penjual di Madinah yang kebanyakan cowok kok kasep kasep pisan yaaah. Hahaha. Banyak yang mirip Fatih Serefagic, Zayn Malik, sampai ada yang mirip Jonas Brothers. Jadi makin semangat deh belanjanya. Hehehe.

Setiap waktu shalat, seluruh toko menghentikan aktivitasnya. Mereka tutup aja tuh sekedarnya toko mereka, barang dagangan masih tergelar gak dipeduliin. Hukum yang ketat membuat masyarakatnya merasa aman. Tidak main-main, mencuri kena hukum potong tangan. Pas di Madinah ini aku juga sempat melihat beberapa pengemis, gak banyak sih, duduk di tengah jalan meminta sedekah. Tangan mereka buntung, bahkan ada yang kakinya buntung. Konon mereka ini dulunya pencuri yang kena hukum potong tangan.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Suasana pertokoan dan kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi.

Alhamdulillah, selama disana gak ada tuh yang aneh-aneh. Aku juga gak abis pikir, kenapa sih banyak cerita bersileweran kalau laki-laki Arab itu mesum, suka memperkosa, ‘garang’, dsb? Bahkan ada yang bilang hati-hati diseret ke balik pintu terus diperkosa. Yaampun…emang gak ada polisi atau hukum yang berlaku apa? Disini hukumnya keras banget lho untuk pemerkosa: dirajam sampai mati. Tapi yaaa itulah media. Hobi banget mendiskreditkan Islam. Karena Arab identik dengan Islam, banyak deh kejadian yang dilebih-lebihkan. Padahal aku melihat mereka sopan (bahkan sama perempuan asing, selain penjual laki-laki, mereka dingin dan cuek tuh, menjaga pandangan gitu lho) dan memuliakan perempuan. Duuuh, suka melting deh lihat pasangan Arab. Si suami menggendong anaknya sambil menggandeng tangan istrinya. Gerak-geriknya melindungi banget sang istri. Di minimarket, kebanyakan yang belanja kebutuhan dapur adalah para suami. Aku belum pernah lihat tuh lelaki Arab yang jalan sambil gandeng beberapa istri kayak harem gitu. Bahkan kalau di pintu keluar tempat shalat wanita, aku lihat paling banyak adalah lelaki arab yang menunggui istrinya kelar shalat dengan sabar. Kebalikannya, kalau di pintu shalat pria malah wanita Indonesia dan Melayu yang menunggui suaminya selesai shalat. Hehehe.

Membicarakan Masjid Nabawi, gak lepas dari askar. Askar lho ya, buka asgar Asli Garut. Hehehe. Askar itu adalah petugas yang ditempatkan di masjid Nabawi dan Masjidil Haram untuk mengatur ketertiban jamaah. Yaaa kayak polisi syariah gitu deh ya. Kalau denger cerita orang-orang, askar itu galak-galak. Kalau yang aku alami sendiri sih..biasa aja tuh. Galak kalau memang jamaah susah diatur. Malah setiap kali memeriksa tas ketika baru masuk pintu masjid, askar perempuan yang bercadar suka nyapa “Apa kabar Ibu?”. Yaiyalah, jamaah Indonesia kan tergolong paling buanyaaak di Madinah dan Mekkah, jadi penduduk sana pun udah familiar banget sama orang kita. Tapi anehnya, ada aja ibu-ibu yang suka nyelonong masuk gak mau diperiksa tasnya. Padahal itu kan bagian dari prosedur, dan askarnya gak bentak-bentak tuh, cuma bilang “Sabr! Sabr!” . Maksudnya disuruh sabar, mau diperiksa dulu tasnya. Kalau diperhatikan, baik di Madinah atau di Mekkah, mungkin jamaah yang paling ngeyel adalah jamaah dari Turki. Disuruh lewat sana, ngotot mau lewat sini. Kalau kita orang Melayu mah yaudah nurut aja sih…tapi orang Turki mah pake acara ngedebat dulu. Padahal menurutku para askar itu helpful kok. Kalau kita bingung sesuatu tinggal tanya aja, pasti dituntun.

Hari kedua di Madinah, aku pun menyempatkan diri untuk qiyamul lail dan shalat subuh di Masjid Nabawi. Di luar hotel sudah ramai orang berduyun-duyun ke Masjid Nabawi. Masjid ini seolah tak pernah tertidur, aktivitas hidup 24 jam. Jamaah shalat subuh sudah berdatangan sejak jam 2 pagi.

Sekitar pukul setengah 5 pagi, suara adzan berkumandang. Aku mengecek handphone ku, namun ini belum masuk waktu Subuh (waktu Subuh sekitar jam setengah 6). Ternyata adzan subuh di Nabawi dan Masjidil Haram dikumandangkan 2 kali, sejam sebelum masuk waktu shalat dan saat waktu shalat. Mungkin untuk bangunin orang kali ya?

Oh ya, setiap selesai shalat berjamaah, selalu ada shalat jenazah. Beneran, shalat jenazah itu sampai 5 waktu. Masya Allah, betapa banyak yang berpulang di sini, dan betapa beruntungnya mereka yang bisa berpulang disini. Dishalati ribuan jamaah di masjid suci ini, dimakamkan di Baqi dimana sahabta dan istri rasul juga dimakamkan, dan terutama: dimakamkan di kota dimana Rasulullah SAW dimakamkan. What a peaceful leaving, right? Setiap kali shalat jenazah, kusempatkan untuk berdoa agar aku juga bisa ditakdirkan menjemput ajal di Madinah. Aamiin.

Sekitar jam 8 pagi setelah sarapan, rombongan travelku pun berkumpul. Kali ini kami akan tur keliling masjid Nabawi, makam Baqi dan Quran exhibition. Makam Baqi gak jauh dari Masjid Nabawi, makam ini hanya berupa areal yang cukup luas dan berpasir. Disinilah istri-istri Rasulullah SAW dan para sahabat serta penduduk Madinah dari dulu sampai sekarang dimakamkan. Tidak ada nisan yang membatasi, jadi gak ada tuh cerita susah nyari lahan buat pekuburan atau bayar pajak makam seperti di negara kita. Awalnya makam Baqi ini masih dibuka untuk peziarah laki-laki, tapi saat ini nggak dibuka karena biasa deh, ada aja oknum yang suka mengkeramatkan makam. Pakai segala diambil batu dan pasir nya lah nyari berkah. Padahal di Arab Saudi, syirik dan sihir itu merupakan kesalahan yang sangat berat dan tergolong pidana.

Dari kiri atas ke kanan: -Bergaya ala selebgram hahaha -Foto bareng Mama -Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi -Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Dari kiri atas ke kanan:
-Bergaya ala selebgram hahaha
-Foto bareng Mama
-Ustadz pembimbing sedang memberikan guide di makam Baqi
-Kubah hijau dan kubah silver, di antara keduanya adalah raudhah

Jalan lagi, sampailah kami di Quran exhibition, sebuah museum pameran Quran bersejarah. Disini ada Quran terbesar di dunia, ada Quran yang ditulis tinta emas, Quran dari kulit kambing, dan yang bersejarah tentunya: Quran pertama yang dihimpun dan ditulis pada masa Khalifah Abu Bakar dan disempurnakan terus sampai Khalifah Ustman bin Affan.

dari kiri atas ke kanan bawah: -Quran terbesar di dunia -Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah -Aku...ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng :( -Mama di museum Quran exhibition

dari kiri atas ke kanan bawah:
-Quran terbesar di dunia. Guide memberikan penjelasan.
-Mama di antara merpati di Masjid Ghamamah
-Aku…ngejar merpati. Merpatinya gak mau foto bareng 😦
-Mama di museum Quran exhibition

Jalan agak keluar dari area Nabawi, ada masjid Ghamamah, yang artinya ‘awan’. Dinamakan demikian karena ketika Rasulullah SAW singgah di masjid ini dan mendirikan shalat, saat itu beliau dinaungi awan. Masjid ini terlihat sepi, karena sudah ada masjid Nabawi. Aku dan Mama pun asik berfoto bersama merpati. Ohya, bagi yang mau berfoto di antara merpati bisa dilakukan di Madinah. Kalau di Mekkah kurang banyak merpati (ini tips apasih hehe)

Di sela-sela tur, Ustadz membimbing kami untuk melihat dua kubah yang ikonik banget bagi masjid Nabawi. Dua kubah tersebut: kubah hijau, persis di bawahnya adalah makam Rasulullah SAW bersama dua sahabat beliau: Abu Bakar As-Shidiq dan Umar bin Khattab. Sedangkan kubah satunya lagi yang berwarna silver persis di bawahnya adalah mimbar Rasulullah SAW tempat beliau biasa memberikan khutbah. Nah, di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW ini terdapat area bernama Raudhah, artinya taman surga. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW, “Antara mimbarku dan rumahku terdapat taman (raudhah) di antara taman surga ” (HR Bukhari-Muslim)

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Kubah hijau, di bawahnya makam Rasulullah SAW. Kubah silver, di bawahnya mimbar Rasul. Di antara kedua kubah adalah area raudhah.

Lho, memang rumah Rasulullah SAW dimana? Ya itu…makam Rasulullah SAW tadinya adalah rumah beliau. Rasulullah SAW dimakamkan di dalam kamar tidurnya bersama Aisyah RA kemudian menyusul Abu Bakar dan Umar bin Khattab. FYI, Aisyah RA tetap menempati kamar tsb meskipun sudah ada tiga makam di dalamnya. Kisah lengkapnya ada di Sirah Nabawiyah…hayooo siapa yang belum baca? Kitab yang wajib dibaca nih setelah Al Quran.

Raudhah ini termasuk tempat mustajabnya doa. Oleh karena itu, banyak orang antre untuk masuk sini walaupun area ini hanya bisa menampung puluhan orang saja, ditandai dengan karpet hijau. Akibatnya banyak yang berdesakan, dan untuk masuk area ini pun butuh perjuangan yang luar biasa. Kayak gimana perjuangannya? Ada di posting berikutnya yah…

Balik lagi ke acara tur, pas menghadap kedua kubah tersebut, eh ustadz pembimbing malah melambai gitu ke kubah hijau. Sontak para jamaah yang lain mengikuti. Aku mah gak ikutan, malah sibuk foto-foto, karena sebelumnya aku banyak baca di internet bahwa gerakan yang menjurus pengkultusan dilarang disini. Eh beneran aja…gak lama kemudian seorang askar laki-laki mendatangi rombongan kami dan menegur baik-baik, “Haji, salah Haji…An-Nisa 48” (btw, disini kita semua dipanggil Hajj atau Haji atau Hajjah bagi yang cewek). Nah kan…gak boleh tuh ngelambai lambai gitu. Berdiri diam dan menengadahkan tangan berdoa aja gak boleh, jadi lebih baik berdoa dan shalawat dalam hati aja.

Selesai sudah rangkaian tur pertama. Tur di sekitar Madinah lainnya adalah tur ke Masjid Quba dan Gunung Uhud.

 Bersambung…