Rumbel, Cinta Pertama

Rumah Belajar BEM UI, atau yang biasa disebut Rumbel, sebuah program kerja dari Departemen Sosmas BEM UI berupa sekolah yang memberikan pendidikan gratis bagi warga sekitar Depok. Menyediakan bimbingan belajar untuk anak SD dan SMP dan pendidikan kesetaraan Program Kejar Paket B dan C untuk kalangan kurang mampu yang tidak dapat kesempatan belajar di sekolah formal. Saat ini bertempat di Gedung PKM UI Lantai 2, dan juga hatiku.

Mei 2013. Di akhir kepengurusan Rumbel, Kak Andin, Wakil Kepala Sekolah Rumbel, tiba-tiba mengirim pesan padaku. Ia meminta maaf jika selama bertugas di Rumbel belum maksimal dan sebagainya, lalu di akhir dia bertanya padaku: “Apa arti Rumbel bagi kamu?”

Saat itu mataku sempat menerawang sebentar. Mengingat-ingat segala waktu yang pernah terlewat di Rumbel. Aku tidak akan pernah lupa, dua tahun lalu, tepatnya Oktober 2011, segala tentang Rumbel dalam bagian hidupku dimulai. Saat itu aku masih maba alias mahasiswa baru. Aku belum punya bayangan akan jadi mahasiswi seperti apa aku di kampus kuning ini. Yang jelas, aku memutuskan untuk tidak banyak mengikuti organisasi seperti sewaktu aku SMA. Dan…aku ingin mengajar. Sejak SMA aku selalu membayangkan saat kuliah nanti aku akan nyambi jadi guru. Mungkin karena terpengaruh karakter tokoh di cerpen-cerpen yang pernah kubaca. Jauh mundur ke belakang, saat aku kecil, aku hobi main guru-guruan. Aku anak tunggal, jadi lebih sering main sendiri. Aku sering bertingkah jadi guru, membuat ruang kelas kecil, mencoret-coret kertas seperti sedang memberi ponten, dengan boneka-boneka ku sebagai muridnya 😀

Di awal semester satu, aku mengikuti sebuah program kepemimpinan dari BEM UI yang bernama Best Wannabe. Dari sanalah aku banyak mendapat insight baru tentang kampus dan segala kegiatannya, terutama tentang menjadi kontribusi seorang mahasiswa terhadap kampus dan negeri. Lalu aku bertanya pada Kak Jeff, PO dari acara Best Wannabe, dimanakah aku bisa mengajar dan dibayar? Waktu itu orientasiku adalah mencari tamabahan uang jajan. Hehehe. Kak Jeff saat itu bilang, ia kurang tahu kalau yang mengajar dibayar, tetapi ia tahu jika mengajar untuk sosial. Dari sanalah aku disarankan ke Rumbel BEM UI.

Pikirku saat itu, tak apalah tak dibayar dulu, hitung-hitung cari pengalaman. Maka berbekal kepo akun @rumbelbemui di Twitter (yang selalu mengajak anak-anak UI untuk main kesana dan jadi volunteer), aku menyempatkan diri datang kesana di Sabtu siang bolong. Saat pertama kali datang, aku disambut penuh kehebohan. Ternyata rata-rata dari mereka merasa heboh. Kok tiba-tiba aku, entah siapa, masih maba, datang kucuk-kucuk, sendirian, tanpa seorang pun kukenal sebelumnya disana, datang dan langsung siap menawarkan diri mengajar. Aku sendiri juga kadang heran kenapa saat itu aku semangat sekali. Dan mengajarlah aku. Bahasa Inggris, itu yang pertama kali kuajarkan…dan aku langsung mengajar untuk anak kelas Paket B.

Antara tahun 2011 hingga pertengahan 2012, beberapa kali aku menyempatkan diri datang menjadi volunteer mengajar di samping aku pun mengajar privat. Aku sepesialis mengajar untuk kelas Paket, baik kelas Paket B dan C karena aku memang bukan tipe yang ‘care sama anak kecil’ hehehe. Lalu di pertengahan tahun 2012, Rumbel membuka Open Recruitment untuk pendidik tetap. Nah inilah yang aku tunggu-tunggu. Aku pun segera mendaftar.

Di periode kedua ini, aku sebagai pendidik mapel Sosiologi untuk Paket C. Namun sejak pertengahan sampai ke akhir, karena banyak pendidik yang pelan tapi pasti ‘menghilang entah kemana’, aku ditarik juga untuk mengajar Bahasa Indonesia dan Matematika. Aku sih senang-senang saja. Mungkin karena sudah passion ya. Dan aku merasa puas bisa mengajar untuk dua hal: di les privat aku mengajar untuk uang, dan di Rumbel aku mengajar untuk pengabdian.

Lalu ketika Kak Andin bertanya: ‘Apa arti Rumbel untuk kamu?’, waaaah tentunya besar arti Rumbel bagiku. Maka kubalas pesan Kak Andin: ‘Rumbel itu Cinta Pertama saya di UI Kak, sebelum saya kenal dengan organisasi-organisasi lainnya di kampus, yang saya kenal adalah Rumbel pertama kali. Dan sejauh ini saya nyaman disini’.

 

Rumbel, Tahun Ketiga

Ya, aku kembali berkecimpung di Rumbel. This is the third year 🙂 . Aku ikut Open Recruitment lagi, diwawancara lagi, namun di tahun ini aku ‘naik jabatan’ menjadi Staf Akademik. Ohya, Divisi Akademik di Rumbel adalah divisi yang mengurusi bagian kurikulum dan penyelenggaraan KBM di Rumbel, jadi posisinya sangat sentral. Sebagai Staf Akademik, aku mendapatkan tempat yang sangat kuidamkan: menjadi wali kelas Paket B dan C 🙂

Setelah aku sempat merasakan pengalaman di beberapa organisasi lainnya (ya, memang melanggar rencanaku di awal kuliah. Habis mau gimana lagi aku memang gak bisa diam sih, hehe), ternyata akhirnya aku kembali pada cinta pertamaku. Pada Rumbel. Dan di tahun ketiga ini aku semakin merasa “Oh, this is the place where I should be in”. Tanggung jawabku menjadi lebih besar disini. Jujur, aku lelah. Aku pernah merasa benar-benar capek dan stress disini. Tapi setiap kali aku merasa seperti itu, dengan mendidiklah semuanya jadi terobati. Dulu aku ingat kata-kata Boediono, Wapres RI, beliau semula adalah dosen di UGM. Beliau bilang saat beliau akan dilantik pertma kali, dan aku tidak pernah lupa statement itu “Saya pasti akan sesekali kembali ke kampus. Saya senang mengajar, melihat mata-mata yang antusias memperhatikan saya”. Yeay, inilah yang kurasakan! Aku bahagia, tiap kali apa yang keluar dari diriku membuat seseorang menjadi lebih tercerahkan setelahnya, membuat matanya semakin terbuka pada pengetahuan. Seperti kata Mother Theresa, “Jangan sampai orang datang kepadamu, tanpa merasa lebih baik setelahnya”. Dan berkali-kali aku mengucap syukur, dikaruniai Allah bakat mengajar yang mungkin tak semua orang miliki, dikaruniai kesempatan dan tentunya ilmu. Ilmu, dalam Islam, menempati kedudukan terhormat yang bisa menjadi amal jariyah jika bermanfaat bagi orang lain. Pahalanya akan ngalir terus, unlimited, bahkan setelah kita mati. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, kurang lebih begini (maaf pembendaharaan katanya agak beda) “Ajaibnya ilmu, ilmu tidak seperti harta. Kalau harta, kita yang jaga harta. Sebaliknya kalau ilmu, ilmu yang jaga kita. Harta jika dibagikan semakin berkurang. Sebaliknya, ilmu jika dibagikan semakin bertambah”.

Aku tidak akan pernah lupa bagaimana ekspresi murid-muridku berkata ‘Terimakasih’. Bukan kata terimakasih nya, tapi pancaran mata mereka yang selalu penuh harap. Aku tidak akan lupa ketika membaca kertas kesan pesan dari mereka (kapan-kapan aku posting disini ya), dihadiahi oleh-oleh dan snack, disuruh untuk istirahat, senangnya mengetahui mereka lulus UN, dan banyak kenangan lainnya. Mendidik selalu melecutku untuk lebih semangat, membuatku lebih hidup, membuatku merasa berharga, membuatku merasa lebih layak sebagai manusia, membuat diriku menjadi utuh…saat ngetik ini, tanpa terasa kok aku nangis, hehehe :’)

Mendidik adalah cinta. Dan cinta, meminta segalanya darimu. Energimu, dedikasimu, kesabaranmu, semangatmu, semuanya. Dan cinta, semestinya dilalui penuh kesukaran. Kesukaran yang karenanya Allah ridha, lebih baik daripada kesenangan yang karenanya Allah murka.

Advertisements

2 thoughts on “Rumbel, Cinta Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s