Memantapkan Diri untuk S2

Halo!

Pertama-tama, karena masih suasana Idul Fitri, saya mohon maaf lahir bathin yaa, wabilkhusus, pada teman-teman yang mengunjungi blog ini kemudian meninggalkan komentar berupa pertanyaan atau mengontak saya langsung via email. Mohon maaf karena kealpaan saya, saya sering lupa balas. Atau karena yang ditanyakan sudah berkali-kali ditanya, atau saya sudah tidak capable lagi untuk menjawab (contoh bertanya seputar pengalaman kerja saya di kantor-kantor sebelumnya), saya jadi menunda untuk menjawab, trus lama-lama….kelupaan deh. Hehehe. Mohon dimaafkan yaa. 🙂

Salam lebaran dari Ayana Moon KW super. Hehehe.

Anyway, bagaimana Ramadan-nya? Saya biasanya malas bertanya tentang ‘lebaran-nya’ karena rata-rata jawabannya sama di antara dua ini: mudik atau gak kemana-mana. Dan saya termasuk kelompok yang boring, alias ‘anti mudik mudik club’. Menurut saya ketika di hari kemenangan lebih berfaedah bertanya “bagaimana Ramadan-nya?” bukan “kapan nikah?” …betul?

Jika bertanya pada saya, maka saya merasa Ramadan ini kesannya adalah sungguh menyedihkan. Kenapa? Banyak kejadian pahit tak terduga yang tiba-tiba ‘menubruk’ saya. Hikmahnya, di akhir Ramadan ini saya akhirnya mencapai satu titik balik, untuk kemudian menemukan lagi bagian dari diri saya yang sempat hilang #hasik

Apakah itu? Semangat belajar. Bukan, bukan belajar tentang kehidupan ya. Itu sih nggak akan pernah berhenti. Belajar disini dalam artian menempuh pendidikan formal. Sebenarnya sejak lulus S1 pada awal 2015, saya sudah berencana untuk kuliah S2 suatu hari nanti. Ya, masih dilabeli ‘someday’. Hingga kini hampir 4 tahun bekerja (wew!), baru sekarang saya akhirnya bisa terlepas dari belenggu kata ‘someday’ tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa untuk melanjutkan pendidikan tertahan lama (bagi saya ini agak terlambat ya…karena teman-teman seangkatan saya sudah banyak yang ambil S2 hiks). Pertama, sebagai tulang punggung keluarga saya berpikir kalau saya kembali kuliah, siapa yang bekerja untuk menafkahi keluarga saya? Sementara untuk mengambil kelas S2 program eksekutif (kelas karyawan) yang rata rata mahal, saya tidak mampu. Jika dengan beasiswa, maka saya hanya bisa fokus kuliah tanpa bekerja karena rata-rata beasiswa tidak ditawarkan untuk program eksekutif. Itu block pertama dalam otak saya.

Block kedua, anjuran Ibu saya untuk menikah dulu. Ibu saya khawatir laki-laki akan minder untuk bersanding dengan saya jika saya sudah bergelar master. Saya sebenarnya tidak ingin percaya pikiran semacam ini, tapi beberapa kejadian pernah seakan mengamini anggapan ini.

Di sisi lain, motivasi saya untuk S2 semakin tahun semakin kuat. Saya menyadari, background pendidikan saya yang jauuuh dari bidang pekerjaan saya saat ini ‘agak’ memberi gap bagi saya untuk bisa maksimal meningkatkan karier. Terkadang saya merasa kurang percaya diri di antara kolega yang berada di ranah yang sama dengan saya dan berasal dari jurusan yang sesuai-jurusan beken macam Ekonomi, Manajemen, dll. Memang, background pendidikan tidak menentukan suksesnya karier, saat ini pun alhamdulillah saya sudah naik jenjang sebagai supervisor dibandingkan dulu saat masih entry level (tapi antara dulu dan sekarang sih masih sama-sama cungpret hehehe). Namun kata Jouska (itu lho, akun konsultan keuangan yang popular di Instagram), bahwa diri kita adalah investasi terbaik untuk membuat kita survive di tengah kompetisi yang makin lama tentu gak makin mudah. Sekarang saya baru akan 25, tergolong masih muda dan segar di dunia kerja…but eits, jangan salah, dedek-dedek yang usia 21, 22, 23 makin banyak bermunculan dengan semangat oke dan otak yang encer-encer.

So, gimana cara menginvestasikan diri? Salah satunya melalui pendidikan. Terus, gimana dengan block-block di atas yang sebelumnya sering membayangi saya?

Erin yang berbaju kuning. Insya Allah high quality jomblo. Hahaha. Nah, makanya biar manfaat, bukber itu jangan cuma wakanda, eh, wacana.

Alhamdulillah, seperti yang saya katakan, di Ramadan ini saya menemukan titik balik: sebuah pencerahan dari salah satu teman saya di Rumbel BEM UI dulu saat kami bertemu dalam acara buka bersama. Teman saya namanya Erin, baru saja diterima untuk melanjutkan S2 dengan beasiswa full dari Stuned ke Belanda (tepatnya University of Groningen) dan akan berangkat September tahun ini. Wow. Ngobrol dengan Erin sebentar, membuka mata saya bahwa pilihan bagi saya gak sesulit itu kok. Gak sesulit ‘S2’ atau ‘kerja’ karena jika saya mau berjuang, biasanya biaya hidup yang diberikan lembaga beasiswa pada umumnya berlebih, dan dengan sedikit kerja keras (mencari tambahan kerja part time misalnya) masih tetap memungkinkan untuk mengirim uang ke orang tua. Lagipula, jika saya benar-benar niat, saya bisa jual ‘aset’ yang selama ini saya miliki agar lega meninggalkan orang tua dengan simpanan yang insya Allah mencukupi selama saya merantau.

Gimana dengan block kedua? Well, dulu saya berkeinginan menikah maksimal di usia 25. Kenyataannya, sekitar 2 bulan lagi saya akan berusia 25 tahun dan masih belum ada pasangan apalagi rencana menikah. Jadi, mengapa saya tidak fokus dulu pada apa yang di depan mata yang masih sangat mungkin saya perjuangkan? Kalau kata Vira Cania Arman, salah satu vlogger inspiratif yang melanjutkan S2 di luar dengan beasiswa, “Jangan mengkompromikan mimpimu dengan suatu hal yang belum pasti seperti pernikahan”. Yes, insya Allah akan, tapi statusnya saat ini belum pasti kan?:D

Setelah melalui shalat istikharah yang panjang dan minta doa restu orang tua, akhirnya saya mantap untuk mengatakan target saya terdekat saat ini adalah memperjuangkan S2. Inilah saatnya. Katanya Idul Fitri itu adalah lahir kembali, seperti itulah yang saya rasakan: ada semangat yang lahir kembali. Tahu-tahu, saya sudah membuka buku belajar lagi, sibuk browsing dan tanya sana-sini, merancang study plan, dsb. Insya Allah, sebelum saya menginjak 30 tahun, saya sudah menyelesaikan S2. Boleh minta aamiin? Aamiin ya Allah… 🙂

Advertisements

The Last Ten Nights

Assalamualaikum 🙂

Tidak terasa Ramadan tahun ini sudah memasuki 10 malam terakhir. Alhamdulillah. Adakah di antara kita yang sudah berguguran? Baik dari semangat ibadahnya atau berguguran selama-lamanya alias berpulang pada Allah. Ya, saya yakin ada saja dari kita mendengar berita orang meninggal di Ramadan ini. Saya sendiri merasa sudah mendengar banyak berita duka. Terakhir, teman kantor saya-beda divisi, secara personal saya tidak kenal-meninggal kemarin padahal terakhir saya lihat masih sehat sehat saja dan bisa merokok sambil bercanda di kantor. Usia tidak ada yang tahu.

Berita duka yang lebih besar, dan membuat saya-dan mungkin sebagian besar umat Islam- terpukul adalah tewasnya Razan Najjar, paramedis Palestina yang ditembak sniper Israel saat sedang bertugas menyelamatkan korban. Mengikuti berita Razan ini, air mata saya terus tumpah. Awalnya iri, sedih, duka, lalu menjadi geram, marah dan sakit hati. Geram, karena dunia seakan menutup mata. International Criminal Court pun diam, padahal ini adalah kejahatan perang yang sangat berat. Marah, pada Israel dan Amerika yang begitu biadabnya melakukan hal ini, di saat bulan suci Ramadan. Sakit hati, karena saya tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan Razan Najjar yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Barangkali terbalik, almarhumah lah yang mendoakan saya, dan kita semua, yang masih terpenjara di dunia yang fana ini sementara kepulangannya sebagai martir di hari Jumat bulan Ramadan sudah lebih dari cukup menjadi alasan bagi Allah memasukkannya ke dalam surgaNya. Saya, dan saya harap kita semua, tidak akan pernah melupakan kejadian ini, mengenang saudari kita seiman sebagaimana yang dilukiskan dalam firman Allah dengan begitu indahnya.

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Hal lainnya yang membuat saya menangis (entah,saya jadi mudah sekali menangis di Ramadan kali ini) adalah kepulangan saudara kita seiman yang juga viral di media sosial bernama Ali Banat. Saya tidak akan menjelaskan siapa Ali Banat ini dan bagaimana kisahnya, karena Google sepertinya lebih lengkap ya hehehe. Sudah lihat video final message nya Ali Banat? Kalau belum, saya lampirkan di bawah ini ya.

Bagian dari video ini yang sukses membuat air mata saya tumpah adalah ketika Ali Banat merasa mengetahui kapan ia mati-setidaknya, tahu penyakitnya itu akan mematikannya-membuat ia jadi terpacu untuk berbuat kebaikan sebanyak banyaknya semampu yang ia bisa. Dan ia bersyukur tidak mati secara tiba tiba sehingga belum sempat bertaubat. Logikanya sih, sebenarnya tanpa harus divonis kanker pun kita-kita keadaannya sama seperti Ali Banat. Tahu sih tahu bakal mati, tapi tingkahnya kayak hidup selama-lamanya. Yuk, perbaiki lagi bekal kita :’)

***

Oke, sudahi dulu sedih-sedihnya ya 😀

Kalau baca judul posting ini, berasa kayak judul film adventure atau sejarah gitu gak sih? Hahaha. Keren gitu ya. The Last Ten Nights *apa sih Sar

Tak sengaja ketika sedang scroll home Facebook, saya melihat sebuah quotes bagus tentang 10 malam terakhir Ramadan. Karena saya baik hati dan tidak sombong, saya share disini juga ya. Hehehe.

Membaca quotes ini, saya yang semula merasa doa saya kering selama ini, jadi menemukan arti doa sesungguhnya. Saya,dan mungkin kamu juga mengalaminya, dalam berdoa kita cenderung meminta. Minta ini itu…minta, minta dan minta. Tapi kita lupa satu hal, yaitu ‘bercerita’. Ibaratnya ketika kita minta pertolongan seorang dokter, tentu kita harus cerita dulu apa saja keluhan yang dirasakan. Dengan bercerita, dokter menjadi tahu apa penanganan yang tepat untuk kita.

Namun dalam berdoa, kita seolah terburu-buru. Bahasa Sunda nya, ujug ujug minta. Memang, tanpa kita cerita, Allah Maha Tahu keadaan kita. Tapi bukankah sebenarnya Allah juga Maha Tahu apa yang kita butuhkan tetapi Allah tetap menyuruh kita meminta?

Selama ini, kepada siapa kita bercerita tentang perasaan kita, apa yang kita alami, dan keadaan kita saat ini. Ada yang bercerita pada orang tua, ada juga yang pada teman atau pasangan. Tidak salah sih, tapi, lagi lagi..kita minta nya sama siapa? Kebayang nggak sikap kita dalam berdoa ke Allah seperti kita curhat sama satu teman, tapi endingnya ngerepotin teman lain yang tidak tahu-menahu awalnya masalah kita.

“Ceritanya ke yang lain, terus minta tolongnya ke gue gitu?”

Pas sahur tadi, saya mencoba praktekkan apa yang quote tadi sarankan. Saya ceritakan apa saja keadaan yang sudah saya lalui, apa yang masih mengganjal dalam benak saya dan bagaimana keadaan saya saat ini. Kemudian disambung doa berisikan permintaan dan harapan saya. Sebagai penutup, saya enclose dengan doa yang mungkin sudah cukup sering didengar, yaitu

“Wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

Seusai menutup muka dengan kedua telapak tangan, saya merasa beban saya sedikit terangkat. Saya merasa lega sudah bercerita pada Zat yang selama ini memang mengawasi gerak gerik saya. Begini lho ya Rabb, saya itu bla bla bla…baru curhat sedikit saja saya sudah merasa hidup saya jadi terpetakan dengan lebih jelas. Apa sih yang saya mau sebenarnya, apa yang saya butuhkan dan yang terpenting: apa doa yang saya harus panjatkan untuk melengkapi ikhtiar saya selama ini. Curhat dulu,baru doa. Sesimpel itu. Wah kemana saja ya saya selama ini!

Sekian sharing saya. Saya berharap teman teman juga bisa menemukan ‘sesuatu’ di 10 malam terakhir ini. Terutama goal yang kita kejar banget yaitu malam LailatuL Qadr. Jangan kasih kendor! 😀

Ramadan Malam ke-23

Rumah Idaman

Alhamdulillah, akhirnya proyek renovasi rumah orang tua saya akan segera rampung. Ya, selama kurang lebih 2 bulan terakhir, rumah kami ditingkat menjadi 2 lantai. Secara historis, saya belum pernah merasakan tinggal di rumah tingkat sebelumnya. Jadi, hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk saya.

Mengapa merenovasi rumah? Alasan pertama dan terutama, karena di bulan Februari akhir lalu, saya baru saja tukar tambah mobil menjadi Nissan Evalia dari sebelumnya Toyota Agya. Dengan body mobil yang jauh lebih besar membuat garasi rumah kami tak lagi muat sehingga terpaksa parkir mobil di jalan depan rumah tetangga (yang sudah sepas-pasnya). FYI, rumah saya adalah rumah kavling bersama 4 rumah lainnya dengan jalan mobil yang ngepas. Kami nggak mau terus terusan parkir di jalan tetangga meskipun mereka semua pada dasarnya ya boleh boleh saja.

Rencana awalnya, hanya memindahkan kamar saya ke atas. Namun di tengah perjalanan, ikut memindahkan kamar Mama ke atas sehingga ruang tamu menjadi lebih besar. Perubahan rencana ini karena saya berpikir ke depannya keluarga ini akan bertumbuh setelah saya berkeluarga. Akan ada suami dan anak anak yang ikut meramaikan rumah ini. Jika pun saya harus tinggal terpisah setelah berkeluarga, setidaknya keluarga kecil saya akan merasa nyaman mendatangi rumah orang tua saya di akhir pekan 🙂

Kata orang, merenovasi rumah bisa jadi lebih mahal daripada membangun rumah dari awal. Kata orang juga, meningkat rumah bisa menghabiskan biaya seperti membangun rumah. Tapi daripada dengar sana sini “katanya”, yasudah niatkan saja, bismillah, dimulailah renovasi rumah sejak awal Maret.

Dalam pengerjaan renovasi ini, saya berperan sebagai funding, sedangkan Mama sebagai eksekutor alias mandor. Hehehe. Saya serahkan sepenuhnya pengerjaan pada Mama. Hanya beberapa hal terkait desain Mama komunikasikan dengan saya. Alhamdulillah, saat ini pengerjaan sudah 90% menuju selesai.

Bisa dibilang, pengorbanan untuk renovasi ini secara materi cukup besar. Tabungan saya terkuras habis, gaji setiap bulan pun sebagian besar kesana. Bahkan untuk mengencangkan ikat pinggang, saya terpaksa berubah jadi #bekalsquad di kantor. Hahaha. Syukur, saya dan Mama terlepas dari godaan untuk meminjam uang pada bank (serius, godaan ini besar sekali).

Rumah saya sekarang. Finishing luar insya Allah dilanjutkan setelah lebaran.

Hikmahnya, saya jadi lebih memahami makna pengorbanan untuk mendapatkan rumah idaman. Dan bagi setiap orang berbeda beda tingkat kesulitan dan jalan yang ditempuh. Ada sebagian orang yang bekerja keras dari pagi sampai malam untuk melunasi cicilan rumah. Ada pula yang memiliki rumah begitu mudahnya bahkan bisa memiliki beberapa sekaligus. Ada juga yang tak punya cukup uang sehingga terpaksa tinggal di bantaran sungai atau di pemukiman kumuh. Nah, itu hanya pengorbanan untuk mendapatkan sebuah rumah di dunia…gimana mendapatkan sebuah rumah di surga? 🙂

“Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”.(QS. At Tahrim:11, doa Asiyah istri Firaun)

Rumah di surga adalah hal yang diidamkan Asiyah istri Firaun. Sebagai istri dari seorang raja yang sudah tentu tinggal di istana mewah, Asiyah masih menginginkan sebuah rumah lagi…tak tanggung-tanggung…di surga! Apakah Asiyah kurang bersyukur? Tidak. Tetapi Asiyah menurut saya adalah manusia yang benar benar memahami perbedaan ‘house’ dan ‘home’. Istana Firaun dengan segala kemewahannya adalah ‘house’. Namun definisi ‘home’ juga bukanlah ‘rumah yang hangat dengan suami yang penuh kasih sayang dan anak anak yang lucu lalu mereka bercengkrama bersama ditemani teh manis dan biskuit’. Standar ‘home’ bagi Asiyah jauuuh melampaui itu semua. ‘Home’ yang hakiki, yang kekal, dimana kebahagiaan akhirnya menjadi tiada akhir. Sebuah rumah di surga.

Jadi, bagaimana dengan rumah idamanmu?

Gampang Curhat

Apakah kamu punya teman yang berkarakter “senggol curhat”? Gak bisa ‘kesenggol’ dikit soal masalah yang dialaminya…ia langsung curhat panjang lebar. Padahal kamu pun gak begitu minat mendengar kisahnya. Adakah temanmu yang begitu? Saya juga kenal orang seperti ini..tidak jauh jauh, saya sendiri orangnya 🙂

Saya menyadari kebiasaan gampang curhat ini barangkali berangkat dari pribadi saya yang ekstrovert, juga tidak lepas dari latar belakang saya sebagai anak tunggal. Saya tidak punya kakak atau adik yang bisa dijadikan tempat curhat, akhirnya lari ke teman. Dan karena saya orangnya tergolong supel (cieee),jadilah saya cukup punya banyak teman sejak sekolah sampai sekarang. Nah, filter saya untuk teman curhat tergolong longgar. Hanya kalau sudah ketemu teman yang ‘nyambung’ diajak ngobrol…suatu hari pasti kapan-kapan saya curhat. Husnudzon saja semua orang peduli pada curhatan saya hahaha. Tidak seperti orang orang yang untuk sampai tahap curhat saja paling tidak harus memenuhi sekian waktu pertemanan, harus bisa dipercaya dulu, harus satu inner circle, satu sosialita, dan sebagainya. Monmaap, memang standar pertemanan saya ini agak receh saudara-saudara :’)

Parahnya, kebiasaan gampang curhat ini tak hanya di kehidupan nyata, tapi suka terseret ke dunia maya. Memang sih, saya tidak sampai menceritakan secara gamblang apa yang terjadi, tapi update status, caption dan stories cukup menyiratkan. Begitu juga blog ini. Apalagi di blog yang ibaratnya adalah ruang setiap orang untuk menuangkan pikirannya…saya bisa curhat dengan jor-joran. Meski saya tidak secara jelas menyebutkan siapa saja tokoh yang terlibat dalam curhat saya, tapi tetap saja judulnya…curhat.

Segala sesuatu yang berlebihan tentunya tidak baik. Saya sadari itu. Setelah beberapa kali ter-encourage dari kajian Ustadz Khalid Basalamah mengenai penting tidaknya menceritakan atau berbagi masalah pada orang lain, saya pun berniat untuk pelan-pelan mengurangi kebiasaan ini. Bagi kalian yang juga ingin mengurangi kebiasaan ini, saya ingin berbagi alasan saya yang mudah-mudahan bisa jadi motivasi kita-saya dan kalian-untuk berhenti gampang curhat.

Alasan pertama, saya merasa semakin berjalannya waktu, teman teman yang bisa saya curhati pun semakin sedikit. Mereka juga memiliki kehidupan sendiri dengan masalah mereka sendiri-sendiri. Saat ini, masalah saya mungkin bisa didengarkan. Tapi pada akhirnya, mereka hanya akan benar benar peduli pada masalah mereka sendiri.

Kedua, mungkin, agar sajadah saya bisa lebih lembab dari biasanya karena tumpahan air mata sewaktu sujud. Tsaahhh…jadi lembab atau apek Sar? 😀 Saya bisa lebih serius benar benar menjadikan Allah sebagai tempat mengadu dan bergantung. Dan, bukankah tak ada yang bisa memberikan solusi terbaik untuk semua permasalahan hidup selain Allah?

Ketiga, pentingnya menjaga nama baik diri. Saya memang belum pernah merasakan pengkhianatan semacam kisah pribadi saya diumbar oleh pihak lain dan dijadikan bahan nyinyir. Tapi sebelum sampai kejadian, tidak gampang curhat adalah langkah preventif yang sangat baik untuk menghindari drama pertemanan.

Jadi ketika menuliskan ini, saya sudah memindahkan banyak konten blog ini yang berisi curhat tidak berfaedah ke dalam folder trash. Begitu juga aktivitas di social media mulai dibatasi. Semoga ke depannya blog yang sudah saya tulis sejak beberapa tahun lalu ini bisa menuliskan sesuatu yang lebih bermanfaat 🙂

Akhir Pekan

Assalamualaikum.

Setelah sekian lama, nama blog ini berubah menjadi Akhir Pekan, bukan lagi Annisarah 🙂 Saya menyadari banyak inspirasi yang muncul di kepala saya ketika akhir pekan tiba. Akhir pekan adalah saat yang selalu saya tunggu tunggu, bukan karena saya benci bekerja pada weekday ya. Tapi lebih karena di akhir pekan lah saya bisa lebih leluasa berkumpul dengan keluarga,teman teman, menjalankan bisnis yang merupakan hobi saya, bersantai, dan entah kenapa, makan lebih banyak (dan enak-karena wisata kuliner) dari hari biasanya. Hahaha.

Sebenarnya posting ini bukanlah yang pertama sejak terakhir saya bercerita pengalaman umroh. Di bulan Januari 2018, saya sempat membuat membuat posting yang bercerita kemana saja saya selama ‘menghilang’ dari blog ini. Semacam kaleidoskop yang saya rasa kurang bermanfaat untuk dibaca orang lain. Terutama sebagian besar isinya berupa curhat. Jadi, saya memutuskan untuk menghapusnya 🙂

Akhir Pekan selain sebagai nama baru (pertama kali ganti nama sejak saya menulis blog ini di tahun 2013), juga menjadi warna baru bagi blog ini agar isinya lebih bermanfaat, mature dan sebisa mungkin keep on positive vibes.

Selamat membaca.

Cerita Perjalanan Umroh Part 4-Habis: Days in Mecca :)

Di post sebelumnya aku menceritakan tentang pengalamanku untuk pertama kalinya melihat Ka’bah sekaligus menjalankan rukun umroh. Kali ini aku akan bercerita hari hari sisanya di Mekkah yang diisi dengan memperbanyak ibadah saja di Masjidil Haram dan kejadian unik lainnya

Menyentuh Ka’bah

Sepulang umroh, banyak yang bertanya, “Sempat nyium hajar aswad ngga?” . Alhamdulillah…belum sempat..hehehe. Untuk mencium hajar aswad kuakui sangat sulit. Ustadz pembimbing rombonganku sejak awal juga sudah mewanti wanti: jangan memaksakan diri untuk mencium hajar aswad, hukumnya sunnah, jadi tidak perlu sampai ngotot mau menciumnya. Semula aku cukup optimis untuk mencoba mencium hajar aswad, eh ternyata…memang sesulit itu. Hehe. Rameee banget,hingga setiap thawaf pasti tersendat di sudut hajar aswad ini karena orang orang berusaha ke hajar aswad atau multazam (area antara hajar aswad dan pintu Ka’bah,konon sebagai tempat mustajab berdoa).

Kuperhatikan, kebanyakan yang berhasil sampai ke hajar aswad adalah orang orang negro yang tubuhnya besar-besar. Dan mereka ini kalau sudah mencium,eh mau terus terusan lama disitu dan pilih pilih kawannya untuk mencium hajar aswad. Heran juga sih kenapa askarnya gak bertindak. Cerita lainnya adalah dari ibu-ibu serombongan yang sudah pernah haji. Sewaktu ia haji, ketika dia mencoba mendekati hajar aswad, pakaiannya tiba tiba terciprat darah, rupanya dari orang yang berebut ingin mencium hajar aswad, gak tau deh apakah sikut ikutan sampai terluka atau apa. Ada pula, ibu dari rombongan sebelah yang berhasil mencium hajar aswad karena dituntun oleh seorang ibu bertubuh besar asal Indonesia juga. Eh, gak taunya setelah mencium hajar aswad, si ibu dipalak 50 riyal. Gak habis pikir kan? Nah maka dari itu, optimis boleh, dapat sih syukur..engga ya gapapa. 🙂

Meski gak bisa mencium hajar aswad, alhamdulillah, aku bisa menyentuh Ka’bah beberapa kali. Tips nya apa? Ya sabar aja tunggu orang orang gantian menyentuh Ka’bah. Memang sih kadang agak lebay juga sampai meratap ratap gitu ke dinding Ka’bah, tapi ya tungguin aja..toh kita gak lagi buru buru dan gak selamanya mereka bakalan ngejedok disitu hehe (duh bahasanyeee). Dan harus tau diri juga, jangan kelamaan, kasih orang lain lagi. Sisi Ka’bah yang menurutku paling longgar untuk didekati adalah sisi sebelum rukun yamani (yang mana rukun yamani? Nanti kalau umroh juga paham hehe)

Pengalaman pertama bisa menyentuh Ka’bah…luar biasa. Tanpa terasa air mataku menitik karena haru. Ka’bah yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi, di internet, di sajadah…kini aku tak lagi berjarak pada rumah mulia ini. Seakan akan semua keindahan dunia yang pernah kualami seketika lenyap, jauh tertinggal, dan tak ada apa apanya dibandingkan kenikmatan bersandar pada dinding Ka’bah. Alhamdulillah selama di Mekkah aku bisa menyentuh Ka’bah beberapa kali tanpa halangan. Dimudahkan aja gitu tanpa bantuan siapa siapa kecuali Allah Ta’ala. Ya Allah, undang Sarah kesana lagi..memeluk Ka’bah lagi.. 🙂

Pengalaman spiritual

Waduuuh bahasanya udah kayak acara televisi yang klenik klenik gitu ya. Hehehe. Tapi serius, ada yang nanya sama aku gini ,”ada ngga pengalaman spiritual yang ajaib dan aneh gitu disana?”. Aku jawab ,”Nggak ada tuh”. Trus yang nanya malah keheranan. Lho bukannya biasanya ada pengalaman ajaib gitu kayak cerita orang orang? Hehehe. Tapi asli deh, aku memang ga mengalami pengalaman yang aneh aneh. Gak ada tuh cerita kesasar muter muter 3 hari gak bisa keluar dari masjidil haram. Atau ditolong sama siapaaa gitu. Biasa aja, lancar lancar aja alhamdulillah. Memang, banyak yang bilang segala yang kita perbuat dan kita pikirkan biasanya dibalas kontan disana. Maka setiap kali berpikiran buruk atau mulai emosi karena suatu hal buru buru aku istighfar. Ya pokoknya banyak banyakin istighfar ajalah. 

Pernah suatu kali aku shalat, seorang ibu ibu mengambil Quran milik masjid yang sudah kutaruh di atas sajadah. Maksudnya habis shalat aku mau ngaji gitu. Dalam hatiku “yaudah ikhlasin aja deh”. Eh gak berapa lama setelah shalat..tiba tiba ada yang datang memberikanku Quran masjid padahal aku sudah mau bergegas untuk mengambil Quran di rak. Alhamdulillah..hehehe. 

Pengalaman unik lainnya adalah gatal gatal. Kaki tanganku gatal-gatal sejak di Madinah karena cuaca dingin yang kering. Padahal selama hidup aku ga punta alergi apa apa lho. Sesama jamaah lainnya pun banyak yang kulitnya kaget dan gatal gatal. Untuk mengatasinya aku gunakan vaseline petrolatum, bedak salicyl, minyak zaitun…duh ga ada yang tahan lama. Beberapa jam kemudian pasti mulai gatal lagi. Akhirnya aku pun pasrah, kemudian menuruti tausyiah ustadz untuk minum air zam zam sambil berdoa diniatkan untuk kesehatan kita. Aku niatkan doa dalam hati “Ya Allah hilangkanlah gatal gatal di tubuhku”. Doaku tidak terjawab begitu saja. Aku masih terus mengalami gatal gatal di Mekkah sampai kemudian suatu kali aku shalat di masjidil haram, di sebelahku ada seorang ibu ibu Turki yang ramah mengajak ngobrol. Ibu itu cuma bisa sedikit sedikit berbahasa Inggris, sisanya bahasa tubuh yang “iya iya” aja aku mengerti hehehe. 

Pas gatal-gatalku mulai timbul dan aku menggaruk kakiku lagi, ibu itu tiba tiba mengisyaratkan agar aku buka kaos kaki. Kubuka kaos kakiku, eh kakiku dipijat dong dengan lembut. Dia usap-usap gitu. Gak berapa lama, lho, gatal gatalku ilang! Nah lho…padahal si ibu cuma usap usap aja gak pakai minyak/lotion. Dan teruuus sampai pulang aku gak gatal gatal lagi. Gak tahu deh ini beneran karena usapan si ibu atau apa:)

Cerita akan ‘hati-hati sama yang dipikirkan hati’ kembali berlanjut. Suatu ketika aku keluar masjidil haram, aku sempat berpikir, “Ini perasaan yang kesini orang Melayu, orang Arab, India dan sebangsanya aja. Kok ga ada ya bule sama orang yang sipit-sipit”. Eeeeh, berapa detik kemudian tiba-tiba saja dari jauh aku melihat 4 cowok Korea memakai pakaian ihram. Eh asliii, ganteng ganteng Ceu, kayak di drakor-drakor (drakor=drama korea). Keempatnya tinggi-tinggi, gak kayak orang Korea biasa yang umumnya pendek kayak orang kita. Beneran deh kayak artis. Aku serasa melihat sesuatu yang…cliiing…sbenernya sih udah banyak banget ngelihat cowok ganteng di sini yang mukanya Arab semua sampai ada yang mirip Zayn Malik juga…tapi yang ini cita rasa berbeda. Astaghfirullah….mata woy mataaaa. Sayang, 4 cowok Korea itu berlalu begitu saja. Udah khusyuk banget kayaknya mau umroh sampai gak peduli sama sekitar. Senyumnya manis-manis banget padahal. Oppaaaa! ❤ *yee ini mah pengalaman spiritual apaan yak haha

Trus kalau ditanya ada pengalaman spiritual apa selama disana? Yaaa umroh sendiri itu udah pengalaman spiritual kaleee! Hehehe.

Nikmatnya es krim Alasema di Masjidil Haram

Pertama kali pulang shalat zuhur dari masjid, cuaca agak mulai terik seperti di Jakarta. Tanpa sengaja mataku tertarik dengan antrean cukup ramai di suatu toko. Ooo rupanya toko es krim bernama Alasema. Huaaa kayak oase gitu yah nemu eskrim di tengah keringnya cuaca Mekkah. Aku dan Mama pun membeli es krim disitu dan ternyata enyaaaakk. Harganya 10 real kalau ga salah ya (setara Rp35,000, kalau di Indo udah dapet es krim mangkok set yg gede ya. Hehe). Es krim ini ternyata lumayan ngehits juga disini. Buktinya ada beberapa remaja arab yang foto fotoin nih es krim sebelum dimakan ,gak beda lah dari ABG gahul disini..termasuk aku. Hehehe.

Askar oh Askar

Yang menarik perhatin kami lainnya adalah askar askar atau petugas yang menjaga keamanan dan ketertiban masjid. Dari sejak di Masjid Nabawi, askar askar ini terlihat menonjol dalam pengaturan jamaah terutama saat mengantre ke raudhah, masih terngiang suara-suara mereka berbahasa Indonesia dengan logat yang lucu “Dhudhuk Ibu dhudhuk! ” Maksudnya ‘duduk’). Di masjidil haram pun sama, ada askar perempuan yang mengecek tas kita setiap kali kita masuk masjid. Biasanya dengan ramah mereka menyapa, “Assalamualaikum apa kabar Indonesie?”

Kalau di Nabawi masjid perempuan dan laki laki terpisah, tidak demikian di Masjidil Haram. Semuanya campur, hanya shaf solat yang terpisah. Oleh karena itu askar yang bertugas lebih banyak laki laki dan askar perempuan di Mekkah niqab atau cadarnya agak lebih rapat daripada askar perempuan di Madinah. Mungkin karena mereka bekerja bercampur sama askar laki laki juga kali yah. Eh cadar itu bukannya jenis keju ya? Itu cheddaaar woy. Hehehe *maklum pengusaha keju

Nah askar-asar ini paling sering ‘adu bacot’ sama orang Turki. Emang ya, kalau diperhatiin orang Turki ini ‘ngeyel’ dan keras gitu. Kalau muka-muka Melayu mah dibilangin “lewat sana ya” yaudah nurut aja gitu…kalau orang Turki? Disuruh lewat sana, pasti dia debat dulu si askar. ‘Kenapa sih gak boleh lewat sini bla bla’ gitu kali ya translate nya. Hehehe. Padahal yaudah sih…tinggal jalan dikit lewat sana. Sampai si askar pun geleng-geleng kepala sembari ngomong ke arahku ,”Astaghfirullah…Turkish!”.

Gambar terkait

Sumber: Google. Mayan juga nih askar tampangnya haha

Selama jam-jam mau solat, suara-suara askar ini pasti terdengar dimana-mana. Sampe bikin pengang sendiri. Segitu ribetnya mereka ngatur shaf shalat jutaan orang. Ohya, jika ada orang yang tersesat dan gak bisa pulang ke hotel sebenarnya bisa tinggal minta tolong aja ke askar dengan menunjukkan kartu hotel (kalau aku sih dikasih ya), nanti pasti dianterin langsung ke hotel.

Selain askar, ada juga polisi yang bertindak menertibkan PKL. Disini PKL biasanya didominasi oleh imigran, bukan warga negara Arab. Meskipun tampang sangar, tapi menurutku cara mereka mengusir PKL mereka gak sesangar Satpol PP kita lho. Gak ada banting-banting barang dagangan, gak ada bentak-bentak atau tendang-tendang, cuma mengusir secara tegas aja sambil berkali-kali istighfar. Dan biasanya PKL nya melihat polisi dari jarak berapa ratus meter saja udah lari tunggang langgang. Kenceng banget larinya, Ceu.

Joroknya di Arab

WC di Arab itu terkenal jorok? Iyuuuhh itu sudah jadi rahasia umum. Gak cuma sekali lho aku mergokin WC yang ada ‘bom’ nya. Mending kalau cuma gak disiram, ini kadang sampe belepotan dimana-mana. Idiiih. Gak paham sumpah gimana cara mereka gunainnya. Duh kasian banget petugas kebersihan disini. Tapi ya, sebenernya lebih sering jarang petugas kebersihan. Hasil pengamatanku  selama beberapa hari di sana, suspect pelaku-pelaku kejahatan toilet ini adalah: orang India, orang Bangladesh, Pakistan dan sebangsanya, orang Arab dan Turki. Orang Melayu mah relatif bersih-bersih.

Gak cuma toilet, fasilitas umum di Arab minim banget, Ceu. Kalau di post-post kemarin aku cerita tentang bagusnya suasana dan orang-orang Arab, sekarang cerita bagian yang jelek-jeleknya ya. Kayaknya pemerintah Arab cuma sibuk peruasan dan perbaikan dua masjid doang, tapi fasilitas umum bener-bener jelek banget. Rest area di jalan antara Jeddah-Madinah, Madinah-Mekkah duuuuh jelek banget. Toilet kotor, mushala bener-bener seadanya, tempat makan gak jelas…pokoknya jauuuuhhh lebih bagus rest area di tol kita kemana-mana deh.

Sepanjang jalan antar kota, kita bisa lihat banyak area pemukiman kosong tak bertuan yang terbengkalai, kayak kota yang abis ditinggal warganya seperti di film zombie…kota mati gitu. Gak tahu memang dulunya ada pemukiman atau gimana. Aku pun mikir, emang gak bisa ya jalan antara kota-kota yang sering dilalui jamaah haji dan umroh seperti Mekkah, Madinah, Jeddah dibikin rel kereta api, atau MRT kek sekalian biar mobilisasinya lebih cepat, gak perlu pake bus selama 5 jam. Katanya negara kaya? Hehehe. Masih buanyaaak banget gurun kosong yang luasnya berhekatar-hektar di sepanjang jalan itu. Eh gurun bisa gak ya dibikin rel kereta apI? Dulu sih nonton James Bond kayaknya pernah Mas Bond berantem di atas kereta api yang lagi melintas gurun *korban film

Kondisi bandara pun setali tiga uang. Contohnya bandara King Abdul Aziz di Jeddah…kirain mah megah gitu kayak bandara di Abu Dhabi..eh pas liat, kok kecil amat? Kok kotor amat? Kok fasilitasnya gitu amat? Gak kebayang deh pas musim haji gimana bandara ini melayani jutaan jamaah haji…lha wong bandaranya kayak cuma seluas bandara Polonia Medan dulu sebelum jadi bandara Kualanamu. Saran banget deh untuk pemerintah Arab tolong diperbaiki juga fasilitas pendukung kayak gini, bukan cuma area masjid saja (kayak dibaca aja yee saranku hehehe).

Jangan Baper, Ya 😛

Kalau kamu pergi umroh dalam keadaan masih jombo alias belum punya pasangan halal, pasti baper deh liat pasangan suami istri yang kesini dengan anak-anak mereka. Apalagi pas thawaf, ada aja pasangan yang lagi thawaf, si suami menggendong anak mereka di bahunya. Trus thawaf sambil berdoa dan senyum-senyum mesra. Uuuugghh…(dalam hati menjerit “Pengeeeen!”)

Hasil gambar untuk moslem couple romantic masjidil haram

Sumber: Pinterest. Yang model-model begini nih banyak bersileweran…siapa yang gak baper coba 😦

Namanya anak-anak, dimana-mana selalu terlihat lucu dan menggemaskan. Disini dengan mudah kita temui anak-anak lucu, terutama yang matanya belo-belo turunan Arab. Hmm, jadi pengen deeeh umroh bareng si kecil….si kecil sahaaaa? *baper lagi

Atas: Mama asik tilawah, langit-langit masjidil haram yang megah Bawah: anak-anak di masjidil haram yang menggemaskan…eh itu yang lagi selfie menggemaskan juga ngga?hehehe

City Tour Mekkah

Hari ketiga di Mekkah, rombonganku melaskanakan city tour di sekitar Mekkah: Jabal Rahmah, Jabal Nur, Jabal Tsur, Arafah dan Mina. Biasanya para jomblo paling antusias nih ke Jabal Rahmah..hehe. Karena apa? Jabal Rahmah konon diyakini sebagai tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah mereka diturunkan dari surga (jadi diturunkannya itu terpisah, Ceu). Sehingga orang-orang pun sering berdoa meminta jodoh disini. Ustadz pembimbing bercerita, Nabi Adam diturunkan di tanah sekitar India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah (itu mengapa Kota tersebut dinamakan Jeddah, Jeddah=nenek tua). Nah, saling mencari deh tuh mereka berdua dengan mengandalkan intuisi saja. Ya kali pake Google Maps. Hehehe. Sampai akhirnya mereka berdua pin bertemu di Jabal Rahmah ini. Kalau menurut Ustadz, itulah fitrah manusia untuk saling mencintai dan dicintai serta hidup bersama pendamping. Cieee. Dan, sebagaimana Adam yang lokasinya lebih jauh dari titik pertemuan di Jabal Rahmah, menandakan memang sudah kodratnya laki laki effortnya lebih besar daripada perempuan dalam memperjuangkan pernikahan (tuh dengerin, Gan!).

Sampai di Jabal Rahmah, aku sebenernya gak gitu tertarik untuk mendaki bukit Jabal Rahmah atau sampai berusaha menyentuh tugu di atas bukit yang dipercaya adalah titik temu Adam dan Hawa. Selain capek dan panas, yaa…buat apa juga. Hehehe. Banyak lho yang segala menuliskan namanya dan (calon) pasangannya di tugu atau di bebatuan bukit Jabal Rahmah. Padahal sih menurutku jodoh udah ada yang tulis, tuh disana tuuuh…di lauh mahfudz. *sok bijak hehe

Di Jabal Rahmah aku cuma berdoa sebentar, tapi gak naik bukit (doa apa? Ya jodohlaaah hehe) dan kemudian asik foto-foto. Di rombonganku, ada seorang ‘Aki-Aki ‘ yang dipanggil Pak Dadang yang jadi bahan candaan mulu. “Waah, Pak Dadang mau cari jodoooh”. Hahaha.

Kelar dari Jabal Rahmah, kami pun berkunjung ke Jabal Nur dan Jabal Tsur. Jabal Nur adalah bukit dimana terdapat Gua Hira, tempat dimana Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali sedangkan Jabal Tsur adalah tempat Rasul SAW bersembunyi bersama Abu Bakar menghindari kejaran Kaum musyrik Quraisy ketika hendak hijrah ke Madinah. Di kedua tempat ini kami cuma berhenti sebentar dan foto-foto.

Kalau lihat kedua bukit ini, gak kebayang gimana perjuangan Rasul SAW. Terutama Jabal Nur tempat Rasulullah SAW ber-uzlah (merenung) untuk mencari jawaban atas semua kegundahan yang ia rasakan terhadap kehidupan masyarakat di Mekkah yang jauh dari beradab. Hampir setiap hari ke Jabal Nur yang letaknya jauh dari kota Mekkah, trus mendaki bukit tinggi pula. Mungkin bagi orang awam, ngapain sih capek-capek naik bukit untuk merenung? Kenapa nggak asik nyari duit aja dan nikmatin kenyamanan hidup yang ada? Namun seperti itulah karakter seorang nabi/rasul. Seorang rasul tidak akan tinggal diam dengan kenyamanan hidup atau kebobrokan orang-orang di sekitarnya. Trus, kapan dong kita meneladani rasul? #notetomyself

Terakhir, rangkaian city tour kita adalah mengunjungi Padang Arafah, Mina dan Muzdalifah. Tapi disini kami nggak turun, cuma di dalam bus saja. Di Padang Arafah inilah setiap tahun jamaah haji berkumpul disini melaksanakan wukuf. Bayangin yah…jutaan manusia berkumpul disini dan merasakan wukuf di bawah teriknya matahari seperti simulasi kelak ketika manusia dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Di Mina, terdapat ribuan (atau mungkin ratusan ribu) tenda kosong yang nantinya akan diisi oleh jamaah haji sebelum melempar jumrah. Menurut Ustadz pembimbing, puncaknya ibadah haji justru disini: yang benar-benar berat dan melelahkan. Banyak orang tersesat di Mina ini, banyak juga yang jadi jatuh sakit dan berguguran meninggal dunia.  Makanya alangkah menyenangkan sebenarnya jika pergi haji di usia muda di saat masih kuat fisik. Lagi-lagi kupanjatkan doa agar bisa berhaji bersama suamiku kelak dan orang tua, targetku sepuluh tahun lagi. Aamiin.

Tenda-tenda di Mina

Kemudahan yang dirasakan

Alhamdulillah, seluruh rangkaian perjalanan umroh yang kualami bersama Mama, semuanya dimudahkan. Dari mulai pergi sampai kembali ke rumah. Meskipun ketika pergi ada masalah dengan travel (travel kami baru mengeluarkan informasi kepastian berangkat H-3, itu juga harus petektokan dulu sama orang marketingnya), namun hingga akhirnya kami berangkat, alhamdulillah semuanya benar-benar dilancarkan. Salah satu yang paling nikmat adalah kesehatan kami yang terus terjaga. Yang biasanya di tanah air betisku suka mengalami kram saat bangun tidur (biasanya karena kecapekan kerja trus desak-desakkan di kereta), eh disana sama sekali enggak tuh…padahal bolak-baik ke mesjid plus thawaf berkai-kali lumayan banget tuh bikin kaki gempor. Mamaku yang punya asma dingin (maksudnya asmanya sering kumat ketika hawa dingin), alhamdulillah selama disana gak kumat sama sekali menghadapi cuaca dingin yang ekstrem. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan seumur hidup kami, sungguh perjalanan yang indah.

Saat aku akhirnya bisa mengakhiri cerita yang panjang ini, aku terkenang lagi pada jalan-jalan yang kami susuri saat pergi ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sujud-sujud yang meneduhkan di lantai kedua masjid suci tersebut, udara Arab yang terasa berbeda kuhirup…ahh, aku ingin kembai lagi. Suatu saat nanti, kelak kami pasti akan kesana lagi. Insya Allah. Ya Allah, izinkanlah…

Cerita Umroh Part 3: Di Bawah Lindungan Ka’bah

Kami meninggalkan Madinah sekitar pukul 2 siang menggunakan bus menuju kota Mekkah. Kali ini perjalanan kami tidak terlalu ‘ramai’, terasa hening. Hanya terdengar suara Ustadz yang memberikan tausyiah sampai air matanya bercucuran.  Semalam sebelumnya, travel kami mengadakan ta’lim bersama yang berisi pemantapan hati dan ilmu untuk menjalankan ibadah umroh. Apa tujuan kami berumroh? Apa yang menyebabkan kami bisa sampai kesini? Seperti apa diri kami di tanah air sebelum kami sampai disini? Sungguh hatiku tergetar. Mengingat banyaknya dosa yang telah kuperbuat, mengingat masih banyaknya kekuranganku dalam beribadah…mengapa Allah mengundangku untuk berumroh? Mengapa bukan orang lain yang ibadahnya jauh lebih shalih? Apakah hatiku masih tetap terjaga dengan tujuan umroh sebenarnya?

Antara kebahagiaan, haru dan rasa gelisah bercampur aduk di benakku. Tak ada yang kulakukan di bus selain sibuk berdzikir dan beristighfar sembari menatap gunung pasir yang berderet di sepanjang tepi jalan tol yang bus kami lalui. Pasir, gersang, kering…betapa bumi Arab ini tak ada apa-apanya jika tak ada kehadiran dua masjid suci. Dan betapa perjalanan kami ini tak ada apa-apanya jika tak ada rahmat dan kemurahan Allah Ta’ala. Di sepanjang jalan, Ustadz pun beberapa kali kembali mengingatkan rukum umroh yang akan kami lakukan dan pantangan ketika sudah berihram. Sejak awal naik bus kami memang sudah mengenakan pakaian ihram lengkap: yang laki-laki mengenakan dua kain tak berjahit, yang perempuan mengenakan mukena (untuk perempuan yang penting menutup aurat seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, tidak boleh memakai cadar). Meski sudah mengenakan pakaian ihram, seluruh pantangan selama berihram baru akan berlaku ketika kami sudah mengambil miqot di Bir Ali, meniatkan ihram dan disarankan melakukan shalat sunah 2 rakaat ihram. Apa aja pantangannya? Banyak hehehe. Nanti insya Allah jika pembaca berkesempatan pergi umroh, pasti tahu tentang pantangannya. Kepanjangan kalau ditulis disini. Hehehe.

Bir Ali terletak tidak jauh dari Madinah, merupakan tempat mengambil miqot bagi orang yang mau berumroh dari Madinah. Miqot tuh apa sih? Gampangnya adalah tempat memulai ihram, kayak garis start nya umroh. Jadi ketika sudah mengambil miqot di Bir Ali, artinya kami sudah mulai mengerjakan rukun pertama umroh, yaitu ihram. Setelah pake baju ihram, bersuci, masih boleh ke toilet gak? Ya bolehlaaah, perjalanan kan’ masih berjam-jam jauhnya. Begitu selesai buang air, langsung deh wudhu lagi. Tapi yang gak boleh adalah memakai sabun, karena sabun mengandung wewangian sedangkan memakai wewangian adalah pantangan dalam ihram. Termasuk juga pakai tissue basah, mending pakai tissue kering non perfurmed.

phbx02501

Oh ya, Bir Ali itu kayak apa sih? Ya kayak masjid. Hehehe. Masjidnya lumayan luas dan desainnya kental dengan nuansa gurun. Disini kita bertemu dengan banyak rombongan lain yang mengambil miqot. Ada juga yang benar-benar baru mengenakan pakaian umrohnya disini, sehingga di sekitar masjid terdapat pertokoan yang menjual pakaian ihram. Sebenarnya miqot sendiri tidak hanya di Bir Ali. Rasulullah SAW sendiri sudah menetapkan tempat miqot berdasarkan di area mana kita tinggal. Karena kami sudah tinggal di Madinah selama 3 hari, sudah dianggap sebagai penduduk Madinah, sehingga miqotnya dari Bir Ali ini. Googling sendiri ya tentang pengetahuan lebih lanjut mengenai miqot ini 🙂

Selesai melaksanakan shalat 2 rakaat di Bir Ali, kami langsung kembali menuju bus. Persis ketika bus distarter, kami pun melafalkan niat berihram (gak tahu sih kenapa Ustadnya pengen dilafalin pas bus distarter..biar agak dramatis mungkin hehe). Maka detik itu, kami disebut muhrim atau orang yang berihram. Pengertian muhrim ini salah kaprah ya kalau di Indonesia…harusnya orang yang haram dinikahi atau pasangan sah disebutnya mahram, bukan muhrim.

5 jam perjalanan yang melelahkan dari Madinah ke Mekkah. Hingga akhirnya sekitar pukul 8 malam, sampailah juga kami perbatasan masuk kota Mekkah. Merinding rasanya membaca doa masuk kota Mekkah:

“Ya Allah, kota ini adalah tanah haram-Mu dan tempat amanMu, maka hindarkanlah daging, darah, rambut dan kulitku dari neraka..”

Hanya sesaat kami di kamar hotel, cuma sempat untuk buang air kecil dan wudhu, bahkan kami belum bertemu dengan koper bawaan dari Madinah, kami pun langsung turun ke restoran hotel untuk makan malam. Usai makan malam di hotel, kami pun beranjak menuju Masjidil Haram. Bismillah, bergetar jiwa ragaku mendengar lantunan kalimat talbiyah yang kami kumandangkan sepanjang jalan. Belum-belum,mataku sudah berkaca kaca.

“Labaikallalahuma labbaik..labaikkala syarikalaka labbaik..innal hamda wani’mata laka wal mulk..lasyarikalak..”

Aku datang memnuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagiMu. Aku datang memnuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Kami masuk melalui gate 89, persis langsung di luarnya ada Zam Zam Tower,menara jam yang menyaingi Big Ben. Pintu 89,90 dan 91 inilah yang jadi patokanku selama keluar masuk Masjidil Haram.

Semakin mendekati Ka’bah, aku semakin deg degan dan gak sabar. Setelah sekian lama merindu…huhuhu. Ketika rombongan kami menuruni eskalator menuju area Ka’bah (disebutnya Manaf di papan petunjuk arah) melalui gate King Fahd, aku melihat Ka’bah sedikit di antara sela sela tiang proyek pembangunan.

“Ma, itu Ka’bah, Ma!” spontan aku memekik senang.

“Wah mana mana?” Mama ikutan heboh.

Masya Allah..jantungku serasa lompat lompat. Bahagia dan gembira. Sampai akhirnya kami benar benar memasuki area Manaf…terlihat jelaslah di depan mata kami Kabah yang luar biasa indah dan gagah..

“Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada bait (Ka’bah) ini. Dan tambahkan pula pada orang -orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan”

Kulantunkan doa dan takbir dengan air mata berlinang tak terasa. Sungguh perasaan yang luar biasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Keharuan seorang hamba, rasa syukur tak terperi, dan rindu yang meluap dan akhirnya dapat dilepaskan. Ya Allah, memandang Ka’bah-Mu saja sudah sebegini nikmatnya..apalagi memandang Wajah-Mu?

Ketika langkah kaki kami semakin mendekat, berbagai kenangan di muncul di kepalaku seperti flashback. Kenangan perjuangan mengumpulkan dana agar sampai kesini, mimpi yang aku dan ibuku cita citakan sejak aku masih SD,cobaan cobaan yang pernah kami lalui, hingga tiba tiba saja teringat jelas tahajud dan doa doa yang kupanjatkan. Tentu itu semua hanyalah secuil hal yang bisa membawaku sampai kesini sebab semuanya adalah karena rahmat dan rahman-Nya.

img_36911

Foto ini diambil keesokan harinya setelah menunaikan rukun umroh.

Foto ini diambil keesokan harinya sesudah menunaikan rukun umroh.

Kami langsung mengerjakan rukun umroh yang kedua, yaitu Tawaf. Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah 7 putaran, start nya dimulai dari sudut dimana hajar aswad berada. Agar jelas, sudah ada penanda sudut di seberang dekat gate King Abdul Aziz (kalau gak salah) berupa lampu hijau. Dari sudut hajar aswad sampai balik lagi ke sudut tsb dihitung satu putaran dan setiap kali melewati sudut hajar aswad kami melambai pada hajar aswad seraya mengucapkan “Bismillahi Allahuakbar”

hsxh52341

1. Foto rombongan sesudah tuntas menunaikan rukun umroh 2. Perjalanan dari Madinah ke Mekkah 3. Muka lelah dan bahagia setelah rukun umroh

Selama tawaf, ustadz menyarankan agar kami tidak perlu membaca buku doa yang sudah disediakan travel karena memang panjang panjang doanya, dikhawatirkan konsentrasi kami terganggu antara membaca dan berjalan di tengah kerumunan manusia yang berdesakkan. Cukup ustadz yang membaca, kami mengaminkan dan membaca doa doa pribadi. Aku langsung mengeluarkan secarik kertas yang sudah kutulis doa doaku. Doanya apa? Ada deeh hehe. Panjaaaang doanya, sampai cukup tuh buat 7 kali putaran hehehe. Di antara rukun yamani (sudut sebelum sudut hajar aswad) sampai hajar aswad kami membaca doa kebaikan dunia akhirat (kalau kata orang jaman dulu namanya doa sapujagat, sekali doa langsung disapu semua jagat dunia akhirat. Gitu kali ya maksudnya hehe)

“Rabbana atiina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, wa qina adzabannar”

Tak terasa, tujuh putaran kami lalui. Tawaf pun kami tutup dengan mendirikan shalat sunnah 2 rakaat di belakang maqam ibrahim. Selanjutnya adalah rukun umroh ketiga,yaitu sa’i antara Shafa dan Marwah. Sebelum lanjut ke rukun sa’i, kami menyempatkan minum zam zam dulu untuk memulihkan tenaga.

Sa’i adalah berlari lari kecil (sebenernya sih berjalan juga gak papa) antara Bukit Shafa dan Marwah sebagai bentuk meneladani perjuangan Siti Hajar,istri Nabi Ibrahim AS mencarikan air untuk Ismail putranya. Ketika Siti Hajar berada di bukit Shafa, tiba tiba beliau seperti melihat air di bukit Marwah, eh..rupanya cuma fatamorgana. Kemudian pas di bukit Marwah, Siti Hajar seperti melihat air di bukit Shafa di kejauhan. Capek deeeh. Begitu terus sampai bolak balik 7 kali dan akhirnya air tersebut justru keluar di bekas pijakan kaki Ismail, mengucur deras sampai sekarang berupa air zam zam yang tak ada habisnya dan telah diminum oleh jutaan umat manusia hingga sekarang. Tulisan tentang renungan sa’i pernah kutulis disini.

Bukit Shafa dan Marwah sendiri bentuknya bukan seperti bukit lagi, tapi berupa tanjakan landai. Hanya tersisa replika bukitnya saja.

Sumber: Pinterest

Sumber: Pinterest

Jalur sa’i sendiri kini ada 2 lantai kalau gak salah. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali bolak balik, start di Shafa. Shafa ke Marwah dihitung sekali, dari Marwah ke Shafa dihitung sekali, jadi sa’i akan berakhir di bukit Marwah. Setiap kali menaiki ‘bukit’, kami membaca doa sa’i dan setiap melewati pilar hijau (terlihat jelas di area ini dipasangi lampu hijau), kami membaca

“Ya Allah ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah, dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah”

Jujur saja kakiku baru terasa pegalnya ketika sa’i. Padahal pakai jalan kaki aja, sama sekali nggak lari. Waktu thawaf sih nggak kerasa. Oh ya,hati hati ya di sa’i ini banyak yang menjalaninya sambil lari beneran, kuenceng kuenceng pula..biasanya orang Negro atau Turki.  Hati hati keseruduk!

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf 2. menunggu ditahalul

1. Rombongan setelah menyelesaikan tawaf
2. menunggu dihalalkan, eh, ditahalulkan hehe

Sa’i selesai, sampailah kami di rukun terakhir yaitu tahalul atau menggunting rambut. Untuk laki laki biasanya dicukur botak, untuk perempuan cukup dipotong 3 helai dari seluruh ujung rambut. Rambut kita ditahalul/dicukur oleh orang yang sudah ditahalul. Jadi estafet gitu. Dari rombongan kami para lelaki minta tolong ditahalul oleh rombongan lain yang sudah tahalul, trus dari salah satu jamaah laki laki nyambung ke perempuan (istrinya), trus nyambung lagi deh kemana mana. Aku sendiri ditahalul oleh seorang ibu ibu yang susah ditahalul suaminya dan aku pun mentahalul ibuku serta beberapa jamaah lain dari Turki.

Alhamdulillah..selesailah sudah semua rukun umroh yang kami lakukan. Durasi pengerjaan dari pukul 9 malam sampai jam 2 pagi. Yaa sekitar 5 jam lah ya. Udah selesai umrohnya? Yaaa sudah! Hehehe. Memang di pikiran orang pada umumnya yang belum berumroh adalah umroh dilakukan berhari hari. Sebenarnya tidak, rukun umroh bisa selesai dalam 5 jam saja. Jadi hanya sehari dua hari pun kita di Saudi Arabia juga sudah bisa berumroh. Tapiii ya masa datang jauh jauh cuma sehari dua hari hehehe. Apalagi berlimpah berkah yang bisa kita dapatkan dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di luar rukun umroh, sisanya adalah memperbanyak ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Ibadah lho ya,jangan kebanyakan belanjaaa hehehe.

Sekian dulu, nyambung ke post berikutnya ya..

Bersambung