Cerita Perjalanan Umroh Part 4-Habis: Days in Mecca :)

Di post sebelumnya aku menceritakan tentang pengalamanku untuk pertama kalinya melihat Ka’bah sekaligus menjalankan rukun umroh. Kali ini aku akan bercerita hari hari sisanya di Mekkah yang diisi dengan memperbanyak ibadah saja di Masjidil Haram dan kejadian unik lainnya

Menyentuh Ka’bah

Sepulang umroh, banyak yang bertanya, “Sempat nyium hajar aswad ngga?” . Alhamdulillah…belum sempat..hehehe. Untuk mencium hajar aswad kuakui sangat sulit. Ustadz pembimbing rombonganku sejak awal juga sudah mewanti wanti: jangan memaksakan diri untuk mencium hajar aswad, hukumnya sunnah, jadi tidak perlu sampai ngotot mau menciumnya. Semula aku cukup optimis untuk mencoba mencium hajar aswad, eh ternyata…memang sesulit itu. Hehe. Rameee banget,hingga setiap thawaf pasti tersendat di sudut hajar aswad ini karena orang orang berusaha ke hajar aswad atau multazam (area antara hajar aswad dan pintu Ka’bah,konon sebagai tempat mustajab berdoa).

Kuperhatikan, kebanyakan yang berhasil sampai ke hajar aswad adalah orang orang negro yang tubuhnya besar-besar. Dan mereka ini kalau sudah mencium,eh mau terus terusan lama disitu dan pilih pilih kawannya untuk mencium hajar aswad. Heran juga sih kenapa askarnya gak bertindak. Cerita lainnya adalah dari ibu-ibu serombongan yang sudah pernah haji. Sewaktu ia haji, ketika dia mencoba mendekati hajar aswad, pakaiannya tiba tiba terciprat darah, rupanya dari orang yang berebut ingin mencium hajar aswad, gak tau deh apakah sikut ikutan sampai terluka atau apa. Ada pula, ibu dari rombongan sebelah yang berhasil mencium hajar aswad karena dituntun oleh seorang ibu bertubuh besar asal Indonesia juga. Eh, gak taunya setelah mencium hajar aswad, si ibu dipalak 50 riyal. Gak habis pikir kan? Nah maka dari itu, optimis boleh, dapat sih syukur..engga ya gapapa. 🙂

Meski gak bisa mencium hajar aswad, alhamdulillah, aku bisa menyentuh Ka’bah beberapa kali. Tips nya apa? Ya sabar aja tunggu orang orang gantian menyentuh Ka’bah. Memang sih kadang agak lebay juga sampai meratap ratap gitu ke dinding Ka’bah, tapi ya tungguin aja..toh kita gak lagi buru buru dan gak selamanya mereka bakalan ngejedok disitu hehe (duh bahasanyeee). Dan harus tau diri juga, jangan kelamaan, kasih orang lain lagi. Sisi Ka’bah yang menurutku paling longgar untuk didekati adalah sisi sebelum rukun yamani (yang mana rukun yamani? Nanti kalau umroh juga paham hehe)

Pengalaman pertama bisa menyentuh Ka’bah…luar biasa. Tanpa terasa air mataku menitik karena haru. Ka’bah yang selama ini hanya bisa kulihat di televisi, di internet, di sajadah…kini aku tak lagi berjarak pada rumah mulia ini. Seakan akan semua keindahan dunia yang pernah kualami seketika lenyap, jauh tertinggal, dan tak ada apa apanya dibandingkan kenikmatan bersandar pada dinding Ka’bah. Alhamdulillah selama di Mekkah aku bisa menyentuh Ka’bah beberapa kali tanpa halangan. Dimudahkan aja gitu tanpa bantuan siapa siapa kecuali Allah Ta’ala. Ya Allah, undang Sarah kesana lagi..memeluk Ka’bah lagi.. 🙂

Pengalaman spiritual

Waduuuh bahasanya udah kayak acara televisi yang klenik klenik gitu ya. Hehehe. Tapi serius, ada yang nanya sama aku gini ,”ada ngga pengalaman spiritual yang ajaib dan aneh gitu disana?”. Aku jawab ,”Nggak ada tuh”. Trus yang nanya malah keheranan. Lho bukannya biasanya ada pengalaman ajaib gitu kayak cerita orang orang? Hehehe. Tapi asli deh, aku memang ga mengalami pengalaman yang aneh aneh. Gak ada tuh cerita kesasar muter muter 3 hari gak bisa keluar dari masjidil haram. Atau ditolong sama siapaaa gitu. Biasa aja, lancar lancar aja alhamdulillah. Memang, banyak yang bilang segala yang kita perbuat dan kita pikirkan biasanya dibalas kontan disana. Maka setiap kali berpikiran buruk atau mulai emosi karena suatu hal buru buru aku istighfar. Ya pokoknya banyak banyakin istighfar ajalah. 

Pernah suatu kali aku shalat, seorang ibu ibu mengambil Quran milik masjid yang sudah kutaruh di atas sajadah. Maksudnya habis shalat aku mau ngaji gitu. Dalam hatiku “yaudah ikhlasin aja deh”. Eh gak berapa lama setelah shalat..tiba tiba ada yang datang memberikanku Quran masjid padahal aku sudah mau bergegas untuk mengambil Quran di rak. Alhamdulillah..hehehe. 

Pengalaman unik lainnya adalah gatal gatal. Kaki tanganku gatal-gatal sejak di Madinah karena cuaca dingin yang kering. Padahal selama hidup aku ga punta alergi apa apa lho. Sesama jamaah lainnya pun banyak yang kulitnya kaget dan gatal gatal. Untuk mengatasinya aku gunakan vaseline petrolatum, bedak salicyl, minyak zaitun…duh ga ada yang tahan lama. Beberapa jam kemudian pasti mulai gatal lagi. Akhirnya aku pun pasrah, kemudian menuruti tausyiah ustadz untuk minum air zam zam sambil berdoa diniatkan untuk kesehatan kita. Aku niatkan doa dalam hati “Ya Allah hilangkanlah gatal gatal di tubuhku”. Doaku tidak terjawab begitu saja. Aku masih terus mengalami gatal gatal di Mekkah sampai kemudian suatu kali aku shalat di masjidil haram, di sebelahku ada seorang ibu ibu Turki yang ramah mengajak ngobrol. Ibu itu cuma bisa sedikit sedikit berbahasa Inggris, sisanya bahasa tubuh yang “iya iya” aja aku mengerti hehehe. 

Pas gatal-gatalku mulai timbul dan aku menggaruk kakiku lagi, ibu itu tiba tiba mengisyaratkan agar aku buka kaos kaki. Kubuka kaos kakiku, eh kakiku dipijat dong dengan lembut. Dia usap-usap gitu. Gak berapa lama, lho, gatal gatalku ilang! Nah lho…padahal si ibu cuma usap usap aja gak pakai minyak/lotion. Dan teruuus sampai pulang aku gak gatal gatal lagi. Gak tahu deh ini beneran karena usapan si ibu atau apa:)

Cerita akan ‘hati-hati sama yang dipikirkan hati’ kembali berlanjut. Suatu ketika aku keluar masjidil haram, aku sempat berpikir, “Ini perasaan yang kesini orang Melayu, orang Arab, India dan sebangsanya aja. Kok ga ada ya bule sama orang yang sipit-sipit”. Eeeeh, berapa detik kemudian tiba-tiba saja dari jauh aku melihat 4 cowok Korea memakai pakaian ihram. Eh asliii, ganteng ganteng Ceu, kayak di drakor-drakor (drakor=drama korea). Keempatnya tinggi-tinggi, gak kayak orang Korea biasa yang umumnya pendek kayak orang kita. Beneran deh kayak artis. Aku serasa melihat sesuatu yang…cliiing…sbenernya sih udah banyak banget ngelihat cowok ganteng di sini yang mukanya Arab semua sampai ada yang mirip Zayn Malik juga…tapi yang ini cita rasa berbeda. Astaghfirullah….mata woy mataaaa. Sayang, 4 cowok Korea itu berlalu begitu saja. Udah khusyuk banget kayaknya mau umroh sampai gak peduli sama sekitar. Senyumnya manis-manis banget padahal. Oppaaaa! ❤ *yee ini mah pengalaman spiritual apaan yak haha

Trus kalau ditanya ada pengalaman spiritual apa selama disana? Yaaa umroh sendiri itu udah pengalaman spiritual kaleee! Hehehe.

Nikmatnya es krim Alasema di Masjidil Haram

Pertama kali pulang shalat zuhur dari masjid, cuaca agak mulai terik seperti di Jakarta. Tanpa sengaja mataku tertarik dengan antrean cukup ramai di suatu toko. Ooo rupanya toko es krim bernama Alasema. Huaaa kayak oase gitu yah nemu eskrim di tengah keringnya cuaca Mekkah. Aku dan Mama pun membeli es krim disitu dan ternyata enyaaaakk. Harganya 10 real kalau ga salah ya (setara Rp35,000, kalau di Indo udah dapet es krim mangkok set yg gede ya. Hehe). Es krim ini ternyata lumayan ngehits juga disini. Buktinya ada beberapa remaja arab yang foto fotoin nih es krim sebelum dimakan ,gak beda lah dari ABG gahul disini..termasuk aku. Hehehe.

Askar oh Askar

Yang menarik perhatin kami lainnya adalah askar askar atau petugas yang menjaga keamanan dan ketertiban masjid. Dari sejak di Masjid Nabawi, askar askar ini terlihat menonjol dalam pengaturan jamaah terutama saat mengantre ke raudhah, masih terngiang suara-suara mereka berbahasa Indonesia dengan logat yang lucu “Dhudhuk Ibu dhudhuk! ” Maksudnya ‘duduk’). Di masjidil haram pun sama, ada askar perempuan yang mengecek tas kita setiap kali kita masuk masjid. Biasanya dengan ramah mereka menyapa, “Assalamualaikum apa kabar Indonesie?”

Kalau di Nabawi masjid perempuan dan laki laki terpisah, tidak demikian di Masjidil Haram. Semuanya campur, hanya shaf solat yang terpisah. Oleh karena itu askar yang bertugas lebih banyak laki laki dan askar perempuan di Mekkah niqab atau cadarnya agak lebih rapat daripada askar perempuan di Madinah. Mungkin karena mereka bekerja bercampur sama askar laki laki juga kali yah. Eh cadar itu bukannya jenis keju ya? Itu cheddaaar woy. Hehehe *maklum pengusaha keju

Nah askar-asar ini paling sering ‘adu bacot’ sama orang Turki. Emang ya, kalau diperhatiin orang Turki ini ‘ngeyel’ dan keras gitu. Kalau muka-muka Melayu mah dibilangin “lewat sana ya” yaudah nurut aja gitu…kalau orang Turki? Disuruh lewat sana, pasti dia debat dulu si askar. ‘Kenapa sih gak boleh lewat sini bla bla’ gitu kali ya translate nya. Hehehe. Padahal yaudah sih…tinggal jalan dikit lewat sana. Sampai si askar pun geleng-geleng kepala sembari ngomong ke arahku ,”Astaghfirullah…Turkish!”.

Gambar terkait

Sumber: Google. Mayan juga nih askar tampangnya haha

Selama jam-jam mau solat, suara-suara askar ini pasti terdengar dimana-mana. Sampe bikin pengang sendiri. Segitu ribetnya mereka ngatur shaf shalat jutaan orang. Ohya, jika ada orang yang tersesat dan gak bisa pulang ke hotel sebenarnya bisa tinggal minta tolong aja ke askar dengan menunjukkan kartu hotel (kalau aku sih dikasih ya), nanti pasti dianterin langsung ke hotel.

Selain askar, ada juga polisi yang bertindak menertibkan PKL. Disini PKL biasanya didominasi oleh imigran, bukan warga negara Arab. Meskipun tampang sangar, tapi menurutku cara mereka mengusir PKL mereka gak sesangar Satpol PP kita lho. Gak ada banting-banting barang dagangan, gak ada bentak-bentak atau tendang-tendang, cuma mengusir secara tegas aja sambil berkali-kali istighfar. Dan biasanya PKL nya melihat polisi dari jarak berapa ratus meter saja udah lari tunggang langgang. Kenceng banget larinya, Ceu.

Joroknya di Arab

WC di Arab itu terkenal jorok? Iyuuuhh itu sudah jadi rahasia umum. Gak cuma sekali lho aku mergokin WC yang ada ‘bom’ nya. Mending kalau cuma gak disiram, ini kadang sampe belepotan dimana-mana. Idiiih. Gak paham sumpah gimana cara mereka gunainnya. Duh kasian banget petugas kebersihan disini. Tapi ya, sebenernya lebih sering jarang petugas kebersihan. Hasil pengamatanku  selama beberapa hari di sana, suspect pelaku-pelaku kejahatan toilet ini adalah: orang India, orang Bangladesh, Pakistan dan sebangsanya, orang Arab dan Turki. Orang Melayu mah relatif bersih-bersih.

Gak cuma toilet, fasilitas umum di Arab minim banget, Ceu. Kalau di post-post kemarin aku cerita tentang bagusnya suasana dan orang-orang Arab, sekarang cerita bagian yang jelek-jeleknya ya. Kayaknya pemerintah Arab cuma sibuk peruasan dan perbaikan dua masjid doang, tapi fasilitas umum bener-bener jelek banget. Rest area di jalan antara Jeddah-Madinah, Madinah-Mekkah duuuuh jelek banget. Toilet kotor, mushala bener-bener seadanya, tempat makan gak jelas…pokoknya jauuuuhhh lebih bagus rest area di tol kita kemana-mana deh.

Sepanjang jalan antar kota, kita bisa lihat banyak area pemukiman kosong tak bertuan yang terbengkalai, kayak kota yang abis ditinggal warganya seperti di film zombie…kota mati gitu. Gak tahu memang dulunya ada pemukiman atau gimana. Aku pun mikir, emang gak bisa ya jalan antara kota-kota yang sering dilalui jamaah haji dan umroh seperti Mekkah, Madinah, Jeddah dibikin rel kereta api, atau MRT kek sekalian biar mobilisasinya lebih cepat, gak perlu pake bus selama 5 jam. Katanya negara kaya? Hehehe. Masih buanyaaak banget gurun kosong yang luasnya berhekatar-hektar di sepanjang jalan itu. Eh gurun bisa gak ya dibikin rel kereta apI? Dulu sih nonton James Bond kayaknya pernah Mas Bond berantem di atas kereta api yang lagi melintas gurun *korban film

Kondisi bandara pun setali tiga uang. Contohnya bandara King Abdul Aziz di Jeddah…kirain mah megah gitu kayak bandara di Abu Dhabi..eh pas liat, kok kecil amat? Kok kotor amat? Kok fasilitasnya gitu amat? Gak kebayang deh pas musim haji gimana bandara ini melayani jutaan jamaah haji…lha wong bandaranya kayak cuma seluas bandara Polonia Medan dulu sebelum jadi bandara Kualanamu. Saran banget deh untuk pemerintah Arab tolong diperbaiki juga fasilitas pendukung kayak gini, bukan cuma area masjid saja (kayak dibaca aja yee saranku hehehe).

Jangan Baper, Ya 😛

Kalau kamu pergi umroh dalam keadaan masih jombo alias belum punya pasangan halal, pasti baper deh liat pasangan suami istri yang kesini dengan anak-anak mereka. Apalagi pas thawaf, ada aja pasangan yang lagi thawaf, si suami menggendong anak mereka di bahunya. Trus thawaf sambil berdoa dan senyum-senyum mesra. Uuuugghh…(dalam hati menjerit “Pengeeeen!”)

Hasil gambar untuk moslem couple romantic masjidil haram

Sumber: Pinterest. Yang model-model begini nih banyak bersileweran…siapa yang gak baper coba 😦

Namanya anak-anak, dimana-mana selalu terlihat lucu dan menggemaskan. Disini dengan mudah kita temui anak-anak lucu, terutama yang matanya belo-belo turunan Arab. Hmm, jadi pengen deeeh umroh bareng si kecil….si kecil sahaaaa? *baper lagi

Atas: Mama asik tilawah, langit-langit masjidil haram yang megah Bawah: anak-anak di masjidil haram yang menggemaskan…eh itu yang lagi selfie menggemaskan juga ngga?hehehe

City Tour Mekkah

Hari ketiga di Mekkah, rombonganku melaskanakan city tour di sekitar Mekkah: Jabal Rahmah, Jabal Nur, Jabal Tsur, Arafah dan Mina. Biasanya para jomblo paling antusias nih ke Jabal Rahmah..hehe. Karena apa? Jabal Rahmah konon diyakini sebagai tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah mereka diturunkan dari surga (jadi diturunkannya itu terpisah, Ceu). Sehingga orang-orang pun sering berdoa meminta jodoh disini. Ustadz pembimbing bercerita, Nabi Adam diturunkan di tanah sekitar India, sedangkan Hawa diturunkan di Jeddah (itu mengapa Kota tersebut dinamakan Jeddah, Jeddah=nenek tua). Nah, saling mencari deh tuh mereka berdua dengan mengandalkan intuisi saja. Ya kali pake Google Maps. Hehehe. Sampai akhirnya mereka berdua pin bertemu di Jabal Rahmah ini. Kalau menurut Ustadz, itulah fitrah manusia untuk saling mencintai dan dicintai serta hidup bersama pendamping. Cieee. Dan, sebagaimana Adam yang lokasinya lebih jauh dari titik pertemuan di Jabal Rahmah, menandakan memang sudah kodratnya laki laki effortnya lebih besar daripada perempuan dalam memperjuangkan pernikahan (tuh dengerin, Gan!).

Sampai di Jabal Rahmah, aku sebenernya gak gitu tertarik untuk mendaki bukit Jabal Rahmah atau sampai berusaha menyentuh tugu di atas bukit yang dipercaya adalah titik temu Adam dan Hawa. Selain capek dan panas, yaa…buat apa juga. Hehehe. Banyak lho yang segala menuliskan namanya dan (calon) pasangannya di tugu atau di bebatuan bukit Jabal Rahmah. Padahal sih menurutku jodoh udah ada yang tulis, tuh disana tuuuh…di lauh mahfudz. *sok bijak hehe

Di Jabal Rahmah aku cuma berdoa sebentar, tapi gak naik bukit (doa apa? Ya jodohlaaah hehe) dan kemudian asik foto-foto. Di rombonganku, ada seorang ‘Aki-Aki ‘ yang dipanggil Pak Dadang yang jadi bahan candaan mulu. “Waah, Pak Dadang mau cari jodoooh”. Hahaha.

Kelar dari Jabal Rahmah, kami pun berkunjung ke Jabal Nur dan Jabal Tsur. Jabal Nur adalah bukit dimana terdapat Gua Hira, tempat dimana Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali sedangkan Jabal Tsur adalah tempat Rasul SAW bersembunyi bersama Abu Bakar menghindari kejaran Kaum musyrik Quraisy ketika hendak hijrah ke Madinah. Di kedua tempat ini kami cuma berhenti sebentar dan foto-foto.

Kalau lihat kedua bukit ini, gak kebayang gimana perjuangan Rasul SAW. Terutama Jabal Nur tempat Rasulullah SAW ber-uzlah (merenung) untuk mencari jawaban atas semua kegundahan yang ia rasakan terhadap kehidupan masyarakat di Mekkah yang jauh dari beradab. Hampir setiap hari ke Jabal Nur yang letaknya jauh dari kota Mekkah, trus mendaki bukit tinggi pula. Mungkin bagi orang awam, ngapain sih capek-capek naik bukit untuk merenung? Kenapa nggak asik nyari duit aja dan nikmatin kenyamanan hidup yang ada? Namun seperti itulah karakter seorang nabi/rasul. Seorang rasul tidak akan tinggal diam dengan kenyamanan hidup atau kebobrokan orang-orang di sekitarnya. Trus, kapan dong kita meneladani rasul? #notetomyself

Terakhir, rangkaian city tour kita adalah mengunjungi Padang Arafah, Mina dan Muzdalifah. Tapi disini kami nggak turun, cuma di dalam bus saja. Di Padang Arafah inilah setiap tahun jamaah haji berkumpul disini melaksanakan wukuf. Bayangin yah…jutaan manusia berkumpul disini dan merasakan wukuf di bawah teriknya matahari seperti simulasi kelak ketika manusia dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Di Mina, terdapat ribuan (atau mungkin ratusan ribu) tenda kosong yang nantinya akan diisi oleh jamaah haji sebelum melempar jumrah. Menurut Ustadz pembimbing, puncaknya ibadah haji justru disini: yang benar-benar berat dan melelahkan. Banyak orang tersesat di Mina ini, banyak juga yang jadi jatuh sakit dan berguguran meninggal dunia.  Makanya alangkah menyenangkan sebenarnya jika pergi haji di usia muda di saat masih kuat fisik. Lagi-lagi kupanjatkan doa agar bisa berhaji bersama suamiku kelak dan orang tua, targetku sepuluh tahun lagi. Aamiin.

Tenda-tenda di Mina

Kemudahan yang dirasakan

Alhamdulillah, seluruh rangkaian perjalanan umroh yang kualami bersama Mama, semuanya dimudahkan. Dari mulai pergi sampai kembali ke rumah. Meskipun ketika pergi ada masalah dengan travel (travel kami baru mengeluarkan informasi kepastian berangkat H-3, itu juga harus petektokan dulu sama orang marketingnya), namun hingga akhirnya kami berangkat, alhamdulillah semuanya benar-benar dilancarkan. Salah satu yang paling nikmat adalah kesehatan kami yang terus terjaga. Yang biasanya di tanah air betisku suka mengalami kram saat bangun tidur (biasanya karena kecapekan kerja trus desak-desakkan di kereta), eh disana sama sekali enggak tuh…padahal bolak-baik ke mesjid plus thawaf berkai-kali lumayan banget tuh bikin kaki gempor. Mamaku yang punya asma dingin (maksudnya asmanya sering kumat ketika hawa dingin), alhamdulillah selama disana gak kumat sama sekali menghadapi cuaca dingin yang ekstrem. Sungguh perjalanan yang tak terlupakan seumur hidup kami, sungguh perjalanan yang indah.

Saat aku akhirnya bisa mengakhiri cerita yang panjang ini, aku terkenang lagi pada jalan-jalan yang kami susuri saat pergi ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sujud-sujud yang meneduhkan di lantai kedua masjid suci tersebut, udara Arab yang terasa berbeda kuhirup…ahh, aku ingin kembai lagi. Suatu saat nanti, kelak kami pasti akan kesana lagi. Insya Allah. Ya Allah, izinkanlah…

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Perjalanan Umroh Part 4-Habis: Days in Mecca :)

  1. ya Allaaah aku ketawa-ketawa bacanya mostly karena celetukan tanda bintangmu Sar, hahaha XD
    masyaAllah seru banget, semoga aku dan keluarga bisa menyusul berangkat umrah/haji, shalat dan berdoa di depan Ka’bah..

    what a looong post tapi informatif banget sekaligus menghibur 😀 semoga Allah kabulkan keinginanmu berhaji bersama orangtua ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s